
Tuan Lincoln benar-benar tidak menyangka jika kini Leandra sedang tertidur dengan sangat pulas di atas tubuh Leonel, kedua insan rupawan berbeda jenis kelamin itu terlihat saling memeluk dengan rasa nyaman.
Sungguh dia tidak menyangka jika Leandra, putri yang dia sayangi, dia cintai dan dia sangat banggakan kini malah melakukan hal yang tidak pantas, menurutnya.
Rasa kecewa, marah dan benci bercampur aduk menjadi satu. Rasa-rasanya dia sangat ingin mengeluarkan unek-uneknya dengan kata-kata makian.
Bahkan, rasanya tuan Lincoln ingin menarik tubuh Leonel dan memukuli wajah tampannya itu sehingga tidak terbentuk.
Namun, sebelum dia masuk ke dalam kamar Leonel, Lucky terlebih dahulu memperlihatkan rekaman cctv saat Leonel dan juga Leandra saat berada di dalam kolam renang.
Sungguh dia tidak menyangka jika putri cantiknya ternyata sangat nakal, bahkan sudah dua kali Leandra membahayakan nyawa Leonel.
Namun, yang dia kesalkan. Lucky tidak bisa memberikan rekaman cctv kegiatan yang dilakukan oleh Leandra dan juga Leonel saat berada di dalam kamar utama.
Karena memang, kamar utama adalah ruangan pribadi. Leonel selalu menjaga kamarnya dari apa pun yang berhubungan dengan orang lain, kamarnya adalah privasinya.
"Leandra!" seru Tuan Lincoln dengan suara yang menggelegar.
Mendengar teriakan yang begitu keras dari tuan Lincoln, Leandra dan juga Leonel langsung menggeliatkan tubuhnya.
Mereka berusaha untuk membuka matanya yang terasa sangat berat, tidak lama kemudian kedua insan rupawan itu saling berteriak karena kaget.
"Aaaargh! Leandra, apa yang kamu lakukan? Apakah kamu memerkosaku?" tanya Leonel seraya mendorong tubuh Leandra agar menyingkir dari atas tubuhnya.
Leandra benar-benar kaget dengan apa yang dilakukan oleh Leonel, sungguh pria itu begitu tega mendorong dirinya dengan begitu kencang sampai tubuhnya terhempas ke atas tempat tidur yang berada di samping Leonel.
"Aduh!" keluh Leandra yang merasakan tubuhnya terpental karena dorongan kuat dari Leonel.
Leonel sempat kaget melihat Leandra yang memekik kesakitan, tetapi dia lebih mementingkan menutupi tubuh polosnya dari pada membantu Leandra.
Leonel beringsut, lalu dia menarik selimut sampai sebatas dada. Lalu menatap Leandra yang sedang berusaha untuk menutupi tubuhnya dengan bantal.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan Leandra?" tanya Leonel yang masih kebingungan.
Pria itu belum sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia belum mengingat jika dirinya jatuh pingsan saat di dalam kolam renang.
__ADS_1
Berbeda dengan Leandra, gadis itu menatap Leonel dengan tatapan kesalnya. Dia melakukan hal itu tentu saja agar Leonel cepat sembuh, bukan sedang berniat untuk memerkosa lelaki itu
"Aku hanya menghangatkan tubuhmu yang terus saja menggigil, aku juga berusaha untuk menolongmu agar kamu tidak demam." Leandra menatap Leonel dengan tatapan kesalnya.
"Menolong katamu? Menolong bukan berarti harus melepaskan baju seperti itu, Leandra!" seru Leonel.
Leandra benar-benar merasa kesal dengan apa yang dikatakan oleh Leonel, dia begitu Ingin membalas ucapan yang dilontarkan oleh pria dewasa itu.
Akan tetapi, ketika dia melihat kedua orang tuanya yang juga ada di sana, dia tidak berani berucap apalagi menatap wajah ayahnya yang terlihat begitu marah terhadap dirinya.
Berbeda dengan Leonel yang belum menyadari keadaan di sekitarnya, pria dewasa itu belum menyadari kehadiran orang lain selain mereka berdua.
"Seharusnya kamu berpikir dengan logis, Leandra. Ak--"
Tuan Lincoln merasa sangat kesal karena Leonel malah terus saja berucap, padahal di sana ada dirinya dan juga orang lain yang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Berhenti berbicara, Leon. Walau bagaimanapun juga kalian sudah tidur bersama dalam keadaan polos, melakukan hal yang tidak seharusnya atau tidak kamu harus bertanggung jawab terhadap putriku!" tegas Tuan Lincoln.
Mendengar tuan Lincoln berteriak, barulah Lionel menyadari jika di dalam kamarnya bukan hanya ada dirinya dan juga Leandra.
"Aku tidak melakukan apa pun, lalu aku harus bertanggung jawab atas dasar apa?" tanya Leonel.
Mendengar ungkapan protes dari Leonel, Leandra menolehkan wajahnya ke arah tuan Lincoln. Lalu, dia pun berkata.
"What? Tanggung jawab apa, Dad? Di sini aku yang salah aku sudah membuat Kak Leon hampir celaka, aku--"
''Stop, Lea! Tidak usah banyak bicara, aku mau kalian menikah secepatnya!" putus Tuan Lincoln dengan cepat.
Baik Leonel ataupun Leandra begitu kaget mendengar keputusan dari tuan Lincoln, mereka tidak menyangka jika pria paruh baya itu akan memutuskan hal sepenting ini secara sepihak.
Leonel seakan paham dengan kegundahan yang dirasakan oleh tuan Lincoln, maka dari itu pria dewasa itu terdiam ketika mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Lincoln.
Berbeda dengan Leandra, gadis nakal itu nampak tidak setuju dengan keputusan dari ayahnya tersebut. Dia menatap ayahnya dan ingin mengutarakan isi hatinya.
"Tapi, Dad. Aku--"
__ADS_1
Leandra masih mencoba untuk membela diri, sayangnya tuan Lincoln seakan tidak mau lagi mendengarkan apa pun yang akan Leandra jelaskan. Dengan cepat pria paruh baya itu pun berkata.
"Stop Lea, jangan bicara lagi."
Setelah mengatakan hal itu, tuan Lincoln langsung menolehkan wajahnya ke arah Leonel. Dia menatap wajah Leonel seolah menantang pria dewasa itu untuk menjelaskan atau lebih tepatnya bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi.
"Mau mencoba menjelaskan atau mau bertanggung jawab?" tanya Tuan Lincoln.
Leonel mendessah pasrah mendengar pertanyaan dari tuan Lincoln, karena dia sudah paham dengan tujuan dari tuan Lincoln bertanya seperti itu kepada dirinya.
"Ck! Kalaupun aku menjelaskan, anda pasti tidak akan mau mendengarkan. Karena anda hanya ingin saya bertanggung jawab karena saya sudah tidur bersama dengan puteri anda, bukan?" tanya Leonel.
Tuan Lincoln langsung menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ke arah Leonel, karena yang dikatakan oleh Leonel adalah benar adanya.
"Hem, jika kamu memang lelaki. Aku harap kamu bisa bertanggung jawab," ucap Tuan Lincoln.
Tuan Lincoln seakan menantang pria dewasa itu untuk bertanggung jawab, dia seolah tidak mau mendengarkan apa pun lagi.
Leonel tersenyum sinis mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Lincoln, jika memang itu yang diinginkan oleh mertuanya itu maka dia akan melakukannya.
Walaupun pada kenyataannya dia tidak melakukan apa pun terhadap Leandra, tetapi dia memang sudah melihat tubuh polos Leandra.
"Ya, aku akan bertanggung jawab. Besok aku akan menikahi putrimu," jelas Leonel.
Tuan Lincoln tersenyum dengan sangat lebar mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, berbeda dengan Leandra, gadis nakal itu langsung menatap Leonel dengan tatapan penuh kekesalan.
Bisa-bisanya pria itu dengan mudahnya mau menikahi dirinya, padahal tidak ada cinta di antara mereka. Tidak ada rasa apapun di antara keduanya, lagi pula Leonel adalah kakak Iparnya.
Rasanya sangat tidak lucu jika Leandra menikah dengan pria itu, Leandra bahkan masih ingin melanjutkan pendidikannya.
Dia sangat tidak mau kata pernikahan menghambat cita-citanya, menghambat aktivitasnya. Bahkan menghambat kehidupannya.
Terlebih lagi dia harus menikah dengan Leonel, rasanya itu adalah hal yang tidak mungkin. Karena pada kenyataannya Leonel adalah kakak iparnya sendiri, suami dari Leana.
"Tidak mau, enak saja. Aku tidak mau menikah dengan Kakak iparku sendiri, aneh banget. Kaya ngga ada lelaki lain aja, lagi pula aku akan kuliah. Tidak mau menikah dulu," tolak Leandra seraya memukul Leonel dengan bantal yang dia pakai untuk menutupi tubuhnya.
__ADS_1