Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 48


__ADS_3

"Ck! Kamu curang, kamu bersembunyi di balik nama besar Harold." Tuan Lincoln menatap Lili dengan penuh kekecewaan.


Pantas saja selama ini dia begitu sulit untuk menemukan istri tercintanya, karena ternyata demi melihat dia bahagia dan kembali ke kediaman Axton, Lili rela bersembunyi di balik nama besar Harold agar tidak ditemukan oleh dirinya.


"Maaf, aku melakukan semua ini untuk masa depan kamu yang lebih cerah," ucap Lili penuh sesal.


Beberapa kali dia bertemu dengan Lindsay, bukan hanya sekedar ucapan kasar yang pernah dia terima. Namun, umpatan, cacian dan juga makian yang pernah dia dengar dari mulut wanita itu.


Bahkan, Lindsay pernah mengancam dirinya jika dia tidak menjauh dari kehidupan tuan Lincoln, maka suaminya itu tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan dan perusahaan Axton akan dia hancurkan.


Maka dari itu, dia rela pergi tapi tidak pernah jauh. Dengan seperti itu, dia berharap bisa selalu merasakan kehadiran tuan Lincoln. Walaupun mereka berada di tempat yang berbeda.


"Haish! Kamu tuh ngomongnya gitu, oiya Lili. Dari tadi kamu tuh seakan mencari bahan untuk mengalihkan pembicaraan, sekarang jawab pertanyaan dariku. Di mana anak kita?"


Wajah Lili dan Leonel berubah sendu, mereka merasa sangat sedih mengingat tentang Leana yang meninggal dengan membawa janin di dalam perutnya.


Beruntung ini bukan film horor penuh misteri, jika iya, sudah dapat dipastikan jika Leana akan menjadi sundal bolong yang akan menuntut balas atas kematiannya kepada Lyra.


Leonel langsung memeluk Lili karena sedih, tuan Lincoln yang cemburu langsung menarik tubuh Leonel agar menjauh. Karena dia tidak mau pria lain menyentuh istrinya.


"Jangan peluk is--"


Ucapannya terhenti kala melihat Leonel yang sedang menangis, bahkan pipi Lili juga terlihat basah dengan air mata.


"Kalian kenapa?" tanya Tuan Lincoln.


Tuan Lincoln memang pernah mendengar jika Leonel belum lama menjadi duda, tapi dia tidak tahu jika istri dari Leonel adalah putrinya yang belum pernah dia temui sama sekali.


"Dua puluh dua tahun yang lalu aku melahirkan baby perempuan, dia sangat cantik dan juga mirip dengan kamu. Aku memberikan nama Leana, sesuai dengan yang kamu inginkan. Tapi--"


Akhirnya Lili menceritakan semuanya, dari mulai dia mengandung, melahirkan, masa kecil Leana, masa remajanya hingga saat Leana menikah dengan pria yang sangat dia suka dari Leana kecil.

__ADS_1


"Jadi, istri kamu yang sudah meninggal itu... adalah putriku?" tanya Tuan Lincoln dengan sedih.


Leonel langsung menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan ucapan dari tuan Lincoln, karena kenyataannya memang seperti itu.


"Ya, maaf karena aku tidak bisa menjaga putrimu dengan baik." Leonel tertunduk sedih.


Tuan Lincoln benar-benar merasa sedih, karena dia malah tidak pernah bisa menemui putrinya. Bahkan dia merasa kecewa karena tidak bisa melihat perut Lili yang membuncit kala mengandung buah hati mereka.


"Tidak apa-apa, ini bukan salah kamu sepenuhnya. Lalu, di mana wanita itu? Aku ingin memberikan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya!" geram Tuan Lincoln.


Kalau saja dia bertemu dengan Lyra, tuan Lincoln ingin sekali memberikan pelajaran yang tidak akan bisa dilupakan oleh wanita jahat itu.


"Dia berada di suatu tempat yang busuk, tempat yang sangat pantas untuknya," jawab Leonel.


Dia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, itu artinya Leonel tidak menyerahkan Lyra pada polisi. Melainkan ditempatkan di sebuah tempat yang akan menjadi mimpi buruk untuk Lyra dalam setiap harinya.


Menurut tuan Lincoln apa yang dilakukan oleh Leonel benar-benar adalah hal yang paling baik, dengan seperti itu Lyra tidak akan pernah merasakan kebahagiaan karena sudah membuat masalah dengan orang yang salah.


Setidaknya dia ingin berbicara dengan putrinya, walaupun hanya dengan melihat pusara terakhirnya saja.


Jika saja waktu bisa terulang kembali, dia ingin kembali ke masa lalu dan mengabaikan ajakan daddynya untuk berdamai.


Sayangnya, penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Dia hanya bisa menyesal dengan kecerobohan yang sudah dia lakukan.


"Besok aku akan mengantar anda, sekarang sudah sangat larut. Sebaiknya anda pulang saja," ingat Leonel.


Rasanya Leonel merasa tidak enak hati jika tuan Lincoln harus pulang sangat larut dari kediaman Harold, karena mereka bisa membicarakan masalah Leana esok hari lagi.


Lagi pula, jika tuan Lincoln terlalu lama di kediamannya, dia merasa tidak enak hati lagi terhadap Lindsay dan juga Leandra. Karena pasti mereka merasa tidak nyaman berada di dekat Lili.


"Tapi, aku ingin menginap di sini. Apa boleh?" tanya Tuan Lincoln penuh harap.

__ADS_1


Walaupun dia meminta izin kepada Leonel, tapi tatapan matanya tertuju kepada Lili. Dia seakan berkata jika dirinya ingin meluapkan rasa rindunya kepada istrinya.


Leonel ingin sekali tertawa mendengar permintaan dari tuan Lincoln, pria paruh baya itu seakan tidak ingat jika dia sudah tua, pikir Leonel.


Namun, jika mengingat berapa lama tuan Lincoln tidak bertemu dengan Lili, dia pun bisa mengerti kenapa tuan Lincoln meminta hal itu.


Dia pasti akan berusaha untuk bisa tetap tinggal di sana dan bisa tetap bersama dengan Lili, karena dirinya saja merasakan kerinduan yang teramat sangat kepada Leana. Padahal, Leana belum begitu lama meninggalkan dirinya.


"Untuk masalah itu, sepertinya anda harus meminta izin kepada 3 wanita yang saat ini sedang menatap anda," jawab Leonel.


Tuan Lincoln mengedarkan pandangannya, dia tertawa kala melihat Lili, Leandra dan Lindsay sedang menatap dirinya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.


Ketiga wanita cantik itu pastinya memiliki rasa takut yang sama, hanya saja Lili lebih bisa mengontrol dirinya.


"Lindsay, bolehkah aku menginap di kamar Lili? Ehm! Maksudku di rumah menantuku?" tanya Tuan Lincoln dengan ucapannya yang terdengar diralat.


Lindsay menghela napas berat karena baru kali ini dia mendengar tuan Lincoln meminta izin kepada dirinya, padahal selama ini tuan Lincoln selalu melakukan apa pun yang dia mau tanpa meminta izin atau meminta pendapatnya.


Tuan Lincoln selalu berbuat semaunya, dirinya bahkan terkadang terasa seperti patung hidup. Bisa bergerak tapi tidak pernah disentuh.


"Tidak usah bertanya kepadaku, karena aku tidak bisa membantah ucapan kamu," jawab Lindsay.


Tuan Lincoln tersenyum, karena Lindsay seperti biasanya. Tidak pernah membantah apa pun yang dia katakan.


Lalu, dia menolehkan wajahnya ke arah putrinya. Dia membutuhkan izin dari putri tercintanya itu.


"Leandra, Daddy boleh, kan, nginep di sini?"


Leandra kebingungan, haruskah dia memberi izin atau tidak. Tuan Lincoln menghela napas berat, kemudian dia berkata.


"Leandra, Sayang. Kamu sama Mom pulang aja ya, Daddy mau nginep di sini." Tuan Lincoln tersenyum hangat pada putrinya.

__ADS_1


__ADS_2