Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 33


__ADS_3

Leonel merasa kesal karena Leandra seakan tidak ada takutnya sama sekali terhadap dirinya, gadis itu benar-benar nakal, pikirnya.


Namun, walaupun seperti itu dia tidak bisa mengatakan apa pun. Karena dia tidak enak hati jika terus berdebat dengan Leandra di depan tuan Leonard.


Pada akhirnya meeting pun dimulai, selama meeting berlangsung bibir Leandra terus saja mengerucut. Dia benar-benar kesal karena Leonel tidak mengizinkan dirinya untuk tidak mengikuti meeting yang dilaksanakan.


Leandra sempat berkata jika dirinya tidak mengikuti meeting pun tidak apa, karena dia tidak akan melakukan apa pun di sana.


Namun, tanpa Leandra duga Leonel malah memberikan sebuah kertas kosong dan juga bolpoin. Dia meminta Leandra untuk mencatat poin-poin penting yang diucapkan oleh tuan Leonardo.


Alhasil, selama meeting berlangsung Leandra menampilkan wajah kesalnya terhadap Lionel. Jika saja Leonel bukan sedang bertemu dengan klien, sudah dapat dipastikan jika Leandra akan melayangkan protesnya.


'Ini sangat menyebalkan, lihat saja tuan Leonel yang terhormat. Aku pasti akan mengerjaimu lagi,' kesal Leandra di dalam hati.


**


Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang, akhirnya kesepakatan pun terjadi di antara Leonel dan juga tuan Leonardo. Keduanya memutuskan untuk bekerja sama dan langsung menandatangani berkas kerjasama tersebut.


"Terima kasih karena anda sudah mau bekerja sama dengan perusahaan saya," ucap Tuan Leonardo seraya mengulurkan tangannya.


Leonel nampak tersenyum ke arah pria paruh baya itu, lalu dia pun berkata.


"Sama-sama, Tuan," jawab Leonel seraya membalas uluran tangan dari tuan Leonardo.


Project kerjasama yang akan mereka lakukan memberikan keuntungan yang begitu besar untuk kedua belah pihak, maka dari itu Leonel menyetujuinya.


"Kalau begitu saya pergi duluan, karena masih ada sesuatu hal yang harus saya kerjakan. Oh iya, Tuan Leonel, tawaran saya tadi masih berlaku loh. Kalau kamu sudah siap untuk menjalin hubungan dengan seorang perempuan, datang saja ke rumah. Karena di rumah ada Liliu, putri saya."


Tuan Leonardo masih berusaha untuk menawarkan putri cantiknya kepada Leonel, sayangnya Leonel yang tidak tertarik hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.


Setelah berpamitan kepada Leonel, akhirnya tuan Leonardo pergi meninggalkan Resto tersebut. Begitupun dengan Leonel, dia langsung meminta Lucky untuk mengantarkan dirinya pulang ke kediaman Harold.

__ADS_1


Dia sudah merasa malas untuk pergi ke mana pun, rasanya dia ingin istirahat saja. Dia ingin merenung tentang apa yang sebenarnya terjadi terhadap dirinya, kenapa dia bisa melihat Leana di dalam diri Leandra.


Sepanjang perjalanan pulang, Leonel terus saja menolehkan wajahnya ke arah jalanan. Dia seolah tidak berani untuk bersitatap mata dengan Leandra.


"Sudah sampai, Tuan." Pak sopir membuka pintu mobil untuk Leonel.


Leonel yang sedang aktif dalam lamunannya seolah tertarik kembali ke alam nyata, dia langsung menolehkan wajahnya ke arah pak sopir lalu menganggukkan kepalanya.


"Oh iya, Pak. Terima kasih," ucap Leonel seraya turun dari dalam mobil tersebut.


Setelah mengatakan hal itu Leonel menolehkan wajahnya ke arah Lucky, lalu dia pun berpesan kepada asisten pribadi tersebut.


"Lucky, aku tidak akan kembali ke kantor. Jemput aku pukul 7 malam,'' pinta Leonel.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Lucky menjadi khawatir. Dia bisa melihat jika keadaan Leonel tidak baik-baik saja.


Terlebih lagi saat dia tahu jika Leonel minta di jemput pukul 7 karena ingin bertemu dengan sahabatnya, hal itu membuat Lucky khawatir.


Sahabat dari bosnya itu seakan tidak rela jika Leonel sering berduaan dengan Lyra, dia seperti memendam perasaan terhadap kekasih dari bosnya itu.


"Apakah anda akan pergi ke Kafe untuk menemui tuan Lukas?" tanya Lucky.


Leonel memang sempat berkata jika dirinya akan bertemu dengan sahabatnya, tapi dia tidak berkata kepada Lucky jika dirinya akan bertemu dengan Lukas.


Namun, tanpa Leonel berkata secara gamblang pun Lucky nampaknya sudah sangat paham dengan siapa yang akan dia temui.


"Hem, aku ingin menemuinya," jawab Leonel.


Lukas adalah teman masa kecil Leonel, mereka begitu dekat. Tidak ada apa pun yang dia sembunyikan dari sahabatnya itu.


Namun, dua tahun yang lalu tiba-tiba saja dia datang dan berpamitan untuk pergi ke luar negeri. Dia berkata akan bekerja di sana, padahal ayahnya mempunyai perusahaan yang harusnya dia garap.

__ADS_1


Akan tetapi, saat Leonel bertanya tentang apa alasan dari sahabatnya itu pergi, Lukas hanya menjawab jika dia ingin bekerja di perusahaan orang lain untuk pembelajaran sebelum dia memimpin perusahaan milik ayahnya.


"Tapi, Tuan. Maaf kalau saya lancang, saya merasa jika Tuan Lucas sudah berubah. Anda harus waspada,'' jelas Lucky mengingatkan.


Setelah mengatakan hal itu, Lucki nampak menundukkan wajahnya. Dia takut jika Leonel akan marah terhadap dirinya, karena dia sudah berprasangka buruk terhadap sahabatnya.


"Ya, aku tahu," Jawab Leonel. "Sekarang berangkatlah ke kantor," titahnya penuh perintah.


"Iya, Tuan."


Setelah mengatakan hal itu, Lucky memberikan tas kerja milik Leonel kepada sang pemilik. Lalu, dia pergi dari sana.


Setelah kepergian Lucky, Leonel menolehkan wajahnya ke arah Leandra. Dia tatap wajah Leandra dengan tatapan dinginnya lalu berkata.


"Aku akan beristirahat, jika kamu butuh sesuatu minta saja sama pelayan." Leonel melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah, Leandra menyusul dan mencekal pergelangan tangan Leonel.


Untuk sesaat Leonel terdiam seraya menatap ke arah tangannya, Leandra seakan paham dengan kesalahan yang sudah dia lakukan. Dia tersenyum kaku, lalu melepaskan cekalan tangannya.


"Maaf, Tuan. Apakah anda memerlukan bantuan aku?" tanya Leandra.


Leandra merasa heran karena Leonel menyuruh dirinya untuk beristirahat, padahal pada perjanjian awalnya Leonel membawa dirinya untuk merawat Leonel yang masih kurang sehat.


"Tidak! Aku hanya ingin beristirahat, lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan. Nanti malam jangan lupa bersiap untuk pergi ke Kafe," jawab Leonel.


Walaupun merasa bingung, Leandra tetap menganggukkan kepalanya. Dia tidak ingin membantah dan membuat Leonel menjadi kesal.


"Ah! Iya, Tuan." Bibir Leandra nampak tersenyum, tapi di dalam pikirannya dia menjadi bertanya-tanya dengan perubahan sikap dari Leonel.


Setelah mengatakan hal itu Leonel nampak masuk ke dalam kamarnya, pria dewasa itu tidak menolehkan wajahnya sama sekali ke arah Leandra.


Leandra mengerutkan dahinya seraya menatap kepergian pria dewasa itu, dia benar-benar merasa bingung karena Leonel benar-benar sangat aneh, pikirnya.

__ADS_1


"Dia itu sebenernya kenapa sih?" tanya Leandra seraya menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa sangat gatal.


__ADS_2