Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 76


__ADS_3

"Jangan didorong, Leandra." Leonel mendongakkan wajahnya lalu dia menatap Leandra dengan lekat.


Leandra menjadi salah tingkah dibuatnya, dia benar-benar merasa jika dirinya kini menjadi orang bodoh yang tidak mampu berpikir dengan jernih.


Otaknya terasa linglung, tubuhnya bahkan seakan limbung. Dia tidak mampu melepaskan diri dari Leonel, karena dia takut terjatuh.


Apalagi ketika melihat tatapan mata dari Leonel, tatapan mata itu seakan langsung menembus ke dalam jantungnya dan memporak-porandakan perasaannya.


Melihat Leandra yang hanya diam saja, Leonel menarik lembut tengkuk leher istrinya. Lalu dia kecup hidung bangir Leandra.


Leandra seakan tersihir oleh apa yang sudah dilakukan oleh Leonel, dia bahkan tidak melakukan perlawanan apa pun. Dia hanya terdiam seraya menatap wajah tampan suaminya.


Leonel tersenyum, lalu dia usap pipi istrinya dengan begitu lembut. Dia merasa senang karena Leandra hanya diam saja tanpa berniat untuk menepis tangannya.


Dia merasa sangat sadar jika Leana dan juga Leandra adalah dua orang yang berbeda, mereka memiliki rupa yang hampir mirip. Namun, keduanya memiliki sifat yang berbeda.


Akan tetapi, Leonel merasa jika dirinya kini mulai menyukai sifat dari Leandra. Walaupun Leandra sering membuat dirinya kesal, tetapi dia menyukai sifat Leandra yang begitu bar-bar.


"Leandra, Sayang!" panggil Leonel.


Leandra mengerutkan keningnya, dia merasa tidak paham kenapa Leonel lebih sering memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


Dia memang belum mengetahui perasaannya terhadap Leonel, tetapi dia merasa nyaman ketika berdekatan dengan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.


"Ya," jawab Leandra.


Tangan Leonel mengusap pundak Leandra, lalu mengusap lengan Leandra dan tangan itu dia tautkan pada tangan Leandra.


"Maukah kita memulainya dari awal? Maksudku, maukah kamu menjadi istriku yang sesungguhnya? Kita akan berumah tangga layaknya pasangan suami istri lainnya, kamu mau, kan?" tanya Leonel.


"Hah?" tanya Leandra dengan kaget.


Dia seolah bingung mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Leonel, ini merupakan hal yang tidak terduga yang dia dengar dari suaminya tersebut.


Leandra bahkan pernah menyangka jika Leonel menikahi dirinya hanya karena bentuk dari tanggung jawab saja, setelah beberapa bulan kemudian Leonel akan menceraikan dirinya.


Namun, dugaannya salah. Justru Leonel malah mengajak dirinya untuk berumah tangga dengan benar layaknya pasangan suami istri lainnya.


"Mari kita berumah tangga dengan benar, aku melakukan peranku sebagai suami dan kamu melakukan peran kamu sebagai istri. Mau, kan?" tanya Leonel.


Untuk sesaat Leandra terdiam mendengar pertanyaan dari Leonel, tidak lama kemudian kedua tangan Leandra terulur untuk mengusap kening Leonel.


"Jidat Kakak enggak panas, berarti Kakak mengatakan hal ini dengan sadar," celetuk Leandra.


Leonel ingin sekali tertawa mendapatkan perlakuan seperti itu dari Leandra, karena menurutnya apa yang dilakukan oleh Leandra adalah hal yang sangat lucu.


"Sadar, Sayang. Sangat sadar, jadi... mau atau tidak?" tanya Leonel.


Leandra kembali terdiam, dia seolah sedang memikirkan jawaban apa yang harus dia lontarkan kepada Leonel.

__ADS_1


"Tapi, Kak. Kalau misalkan kita jadi suami istri sungguhan, apakah aku juga harus melayani Kakak di atas ranjang?" tanya Leandra dengan suara pelan.


Untuk urusan dapur, walaupun Leandra tidak bisa memasak, ada asisten rumah tangga yang bisa membuatkan masakan enak untuk Leonel dan juga Leandra.


Untuk urusan mencuci baju, Leandra juga tidak takut karena ada asisten rumah tangga yang mengerjakan hal tersebut.


Namun, untuk urusan ranjang tentu saja dia tidak bisa mengabaikannya. Walaupun dia belum pengalaman, tetapi jika untuk urusan di atas ranjang itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri.


Leonel tersenyum karena ternyata istri kecilnya itu sudah mulai pandai dalam menangkap maksud dari ucapannya, jika mereka menjalani rumah tangga dengan benar, tentu saja akan ada adegan ranjang di mana Leandra dan Leonel akan berlomba untuk mencapai pada sebuah titik kenikmatan.


"Iya, semuanya. Kita jalani semuanya dengan benar, termasuk yang satu itu." Leonel melepaskan tautan tangannya, lalu dia mengusap paha Leandra.


Leandra ingin menepis tangan Leonel yang mengusap pahanya, tetapi dia urungkan. Karena rasanya sangat aneh, tapi dia ingin terus disentuh. Dia suka.


"Tapi, kalau aku hamil bagaimana?" tanya Leandra.


Leonel tersenyum mendengar apa yang ditanyakan oleh Leandra, jika itu benar terjadi tentu saja dia akan merasa sangat senang.


Dia pernah kehilangan istri dan calon buah hatinya, tentu saja jika Leandra hamil, maka dia akan dengan senang hati menerimanya.


"Itu lebih baik, karena dengan seperti itu kita akan memiliki bayi yang lucu dan menggemaskan." Leonel mencubit hidung Leandra dengan gemas.


Berbeda dengan Leandra, Gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya. Dia belum siap hamil, kuliah saja baru masuk, pikirnya.


"Tapi, Kak. Aku belum mau hamil, setidaknya hamilnya nanti saja kalau kita sudah mendaftarkan pernikahan kita secara resmi," jujur Leandra.


"Begitu ya,? Kalau begitu pilihannya cuma satu, salah satu di antara kita harus ada yang mengalah," ucap Leonel.


"Kamu bilang belum mau hamil, itu artinya kamu harus meminum pil kontrasepsi. Kalau kamu memang tidak mau mengkonsumsi pil kontrasepsi, itu artinya aku yang pakai alat kontrasepsi," jelas Leonel.


"Maksudnya Kakak mau merawani aku pake balon?" tanya Leandra.


"Ck! Maunya ngga pake balon, ngga enak tau. Lagi pula, memangnya kamu mau diperawani pake balon?" tanya Leonel.


"Ngga mau ih, lagian siapa juga yang mau itu. Aku takut ah, katanya kalau pertama sakit." Leandra bergidik karena membayangkan betapa sakitnya kali diperawani.


"Sakitnya hanya sebentar, mau dibuktikan tidak?" tanya Leonel.


"Itu sih maunya Kakak!" ucap Leandra dengan bibir yang mengerucut.


"Aih! Kamu juga pasti penasaran, kan? Daripada kamu nanti mati penasaran, mending kita coba nanti malam. Mau tidak?" tanya Leonel.


"Hem, aku memang penasaran rasanya seperti apa. Tapi, Kakak harus beliin aku pil kontrasepsinya. Kalau aku hamil sekarang bakalan bahaya," ucap Leandra menyetujui.


Dia tidak mau hamil, setidaknya satu tahun pertama dalam pernikahan dia tidak mau hamil terlebih dahulu.


"Okeh!" jawab Leonel senang.


Leonel mengambil ponselnya, lalu dia mengirimkan pesan chat kepada Lucky. Tentu saja dia meminta asisten pribadinya itu untuk membelikan pil kontrasepsi untuk istrinya.

__ADS_1


"Jadi, mulai saat ini kita sepakat untuk berumah tangga dengan baik, kan?" tanya Leonel memastikan.


Leandra mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju, berumah tangga dengan Leonel tentu saja bukan hal yang merugikan bagi dirinya.


Leonel adalah pria yang kaya raya dan juga tampan, pria dewasa itu bahkan terasa begitu pengertian dan perhatian walaupun kadang menyebalkan.


"Hem, benar kata Kakak. Kalau pernikahan adalah hal yang sakral, jadi... mari kita coba." Leandra menatap wajah Leonel lalu tertawa.


Leonel langsung mengerucutkan bibirnya, karena dia merasa tidak suka saat melihat Leandra yang malah tertawa.


"Jangan tertawa, sekarang aku mau--"


Leonel tidak meneruskan ucapannya, dia langsung mengangkat tubuh Leandra. Gadis nakal itu langsung memekik kaget seraya memeluk Leonel dengan erat.


"Kakak mau ngapain?" tanya Leandra.


Leonel merebahkan tubuh Leandra di atas tempat tidur, lalu dia mengungkung pergerakan dari Istrinya tersebut.


"Mau---"


Leonel menunduk lalu mengecupi setiap inci wajah Leandra, tidak lama kemudian Leonel langsung menyatukan bibir mereka.


Dia melakukannya dengan begitu lembut, hal itu membuat Leandra terbuai dengan apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut.


Tangan kanan Leandra terulur untuk mengusap tengkuk leher Leonel, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk mengusap dada Leonel karena kemeja yang Leonel pakai sudah terbuka.


"Emph!" suara erangan tertahan keluar dari bibir Leandra.


Leonel tersenyum senang, karena Leandra menikmati apa yang dia lakukan terhadap istrinya tersebut.


Dia berharap jika nanti malam dia melakukannya, maka Leandra tidak akan merasa kaget lagi. Ini adalah awal, pikirnya. Nanti malam adalah waktunya untuk melahap menu utama.


"Kakak mau ke mana?" tanya Leandra ketika Leonel melepaskan pagutannya, lalu dia bangun dan turun dari tempat tidur.


Leonel membuka kemeja yang dia pakai, lalu melemparkannya ke keranjang cucian. Dia juga membuka celana panjangnya dan hanya menyisakan celana boxer saja.


Dia melakukan hal tersebut seraya memunggungi Leandra, hal itu dia lakukan bukan karena tidak suka kepada istrinya tersebut.


Namun, dia sangat takut jika Leandra akan menyadari jika miliknya kini sudah berdiri dengan begitu tegak.


"Mau mandi, sudah sore,'' jawab Leonel dengan cepat.


Padahal, pada kenyataannya bukan seperti itu. Leonel merasakan jika miliknya sudah menegang dengan sempurna. Dia takut khilaf dan langsung menjebol benteng pertahanan milik Leandra.


Dia takut jika Leandra belum siap, lagi pula pil kontrasepsi yang Leonel pesan belum datang. Takutnya, nanti kalau dia melakukannya dengan Leandra, maka istrinya akan hamil.


"Oh, iya. Aku juga mau mandi, nanti aku akan mandi setelah Kakak."


Leandra menatap kepergian Leonel ke dalam kamar mandi dengan wajah sedih, dia baru saja merasakan kenikmatan yang luar biasa walaupun hanya dengan ciuman saja. Leandra ingin merasakan lebih, tetapi Leonel malah meninggalkan dirinya begitu saja.

__ADS_1


"Tadi dia yang memulainya, kenapa sekarang dia yang meninggal aku?" tanya Leandra dengan tidak rela.


__ADS_2