
"Eh? Maaf, aku hanya aneh saja. Kenapa pipi anda terlihat begitu merah? Apa anda demam?" tanya Leandra.
Leandra mematikan laptopnya, lalu dia bangun dan menghampiri Leonel. Leonel langsung memundurkan langkahnya, lalu dia berkata.
"Jangan mendekat! Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ucap Leonel seraya mengusap-usap kedua pipinya yang terasa memanas.
Dia tidak mau jika Leandra menyadari sesuatu hal dengan apa yang terjadi terhadap dirinya, dia tidak demam. Namun, ada hal lain yang membuat pipinya memerah seperti memakai blush on.
"Oh, oke. Maaf," kata Leandra tidak enak hati karena Leonel terlihat tidak nyaman saat dia dekati.
Sebenarnya dia merasa aneh, kenapa Lionel bersikap lain terhadap dirinya. Hal itu membuat dirinya seakan begitu canggung saat berdekatan dengan Leonel.
Padahal, dia merasa jika Leonel biasanya akan sangat galak dan juga jahil. Namun, pria itu terkadang terkesan cuek dan juga acuh.
Namun, hari ini dia melihat Leonel yang berbeda. Entah karena apa dia benar-benar tidak paham. Dia benar-benar tidak tahu kenapa Leonel bersikap begitu berbeda.
Leonel yang mendapatkan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan dari Leandra terlihat memalingkan wajahnya, lalu pria itu berkata tanpa menolehkan wajahnya ke arah gadis itu.
"Hem, lebih baik kita pergi untuk makan siang saja. Sekalian meeting,'' ucap Leonel dengan cepat.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel, Leandra merasa sangat senang. Karena itu artinya sebentar lagi dia akan mengisi perutnya yang sejak tadi terasa keroncongan.
Dia merasa sangat lapar, tapi dia tidak berani berbicara kepada Lucky. Karena dia takut akan mengganggu pria itu saat bekerja.
"Boleh, aku memang sudah sangat lapar." Leandra mengelus lembut perutnya seraya tersenyum ke arah Leonel.
Leonel sempat menolehkan wajahnya ke arah Leandra, tapi tidak lama kemudian dia langsung menolehkan wajahnya ke arah Lucky.
"Ehm! Apakah berkasnya sudah siap semua, Lucky?" tanya Leonel.
Lucky langsung bangun dari duduknya, lalu dia mengambil berkas yang sudah dia siapkan sejak tadi.
"Sudah, Tuan. Mari kita pergi," ajak Lucky.
"Oke!" jawab Leonel.
Pada akhirnya, mereka bertiga pun keluar dari dalam ruangan Lucky untuk pergi ke sebuah Resto yang memang sudah mereka sepakati untuk janji temu.
Leonel akan makan siang bersama dengan klien, setelah itu barulah dia dan juga kliennya akan membahas kerjasama yang akan mereka lakukan.
__ADS_1
Setelah melakukan perjalanan selama lima belas menit yang penuh kecanggungan antara Leonel dan juga Leandra, akhirnya mereka tiba di tempat tujuan.
"Selamat siang, Tuan Leonardo." Leonel mengulurkan tangannya, tuan Leonardo dengan senang hati langsung menerima uluran tangan dari Leonel dengan senyum hangat di bibirnya.
Tuan Leonardo merasa sangat senang karena akhirnya dia bisa bertemu secara langsung dengan Leonel, bahkan mereka akan bekerja sama.
"Selamat siang juga, Tuan Leonel. Senang bisa bertemu langsung dengan anda, silakan duduk." Tuan Leonardo mempersilakan Leonel untuk duduk bersama dengan Lucky dan juga Leandra.
Setelah saling menegur, akhirnya mereka pun duduk dalam satu meja. Memesan makanan yang diinginkan dan pada akhirnya mereka pun makan siang bersama.
Sesekali Leonel dan juga Tuan Leonardo berbicara soal pekerjaan, tapi tidak lama kemudian tuan Leonardo malah menawarkan putrinya. Anak semata wayangnya.
"Ehm! Maaf, Tuan Leonel. Apakah anda belum ingin untuk menikah kembali?" tanya Tuan Leonardo.
Leonel nampak menghentikan kunyahannya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah pria paruh baya yang kini tepat berada di hadapannya itu.
"Maaf, Tuan. Saya belum ada niatan
untuk menikah kembali," jawab Leonel dengan sopan.
Tuan Leonardo yang mendengar jawaban dari Leonel nampak paham, karena dia sangat tahu jika pria yang kini tengah berada di hadapannya itu begitu mencintai istrinya.
"Tidak apa, saya paham. Namun, jika anda sudah siap untuk berkencan, ada putri saya Liliu. Dia sangat cantik dan juga manis, baru lulus kuliah," ucapnya dengan bangga.
"Mungkin lain waktu, Tuan," jawab Leonel seraya tersenyum hangat.
Melihat Leonel yang berbicara dengan tuan Leonardo, hal itu membuat Leandra merasa canggung berada di sana. Dia benar-benar merasa ingin memisahkan diri.
Leandra yang memang duduk tepat di samping Leonel mencondongkan tubuhnya, kemudian dia pun berbisik tepat di telinga Leonel.
"Ehm! Tuan, aku sudah selesai makannya. Aku mau menunggu anda di meja pojok sana saja," ucap Leandra seraya menunjuk meja yang ada di pojok ruangan Resto tersebut.
Leonel langsung mengikuti arah meja yang ditunjuk oleh Leandra, tidak lama kemudian dia nampak menggelengkan kepalanya.
Leonel seolah berkata jika dirinya berkata jangan, hanya saja bibirnya tidak berucap. Hanya berbicara lewat bahasa isyarat. Leandra nampak mengernyitkan dahinya, karena dia merasa bingung dengan respon dari Leonel.
Gadis itu terlihat mengerucutkan bibirnya, kemudian dia kembali berbisik tepat di telinga Leonel. Karena dia benar-benar merasa tidak nyaman.
"Tapi, Tuan. Aku merasa risih berada di sini, aku tidak paham dengan apa yang kalian bicarakan. Lebih baik aku memisahkan diri saja," ujar Leandra.
__ADS_1
Leonel tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, kemudian dia pun ikut mencondongkan tubuhnya ke arah Leandra dan berbisik tepat di telinga wanita tersebut.
"Sepertinya ada yang berkata jika kamu sedang menjadi baby sitter, maka dari itu... jadilah baby sitter yang baik." Leonel nampak mengangkat sebelah alisnya setelah dia mengatakan hal itu.
Leandra terlihat begitu kesal mendengar apa dikatakan oleh Leonel, dia adalah wanita yang cantik dan juga berbakat. Walaupun memang sedikit jahil, tapi untuk menjadi seorang baby sitter rasanya dia tidak akan mau.
"Haish! Aku bukan baby sitter, ibu mana yang mau memercayakan bayinya kepadaku!" keluh Leandra.
Untuk mengurus dirinya saja dia memerlukan banyak pelayan, bagaimana bisa dia mengurusi seorang bayi?
Mereka memang makhluk kecil yang begitu lucu dan juga menggemaskan, tapi mereka sangat merepotkan, pikir Leandra.
"Entahlah! Tapi, yang aku tahu kamu sedang menjadi baby sitter untuk baby gede. Maka dari itu kamu tidak boleh kemana-mana, takutnya nanti baby gedenya pipis di celana. Kamu harus bersiap untuk menggantikan popoknya," ucap Leonel.
Leandra mengerjap-ngerjapkan matanya dengan bibir yang menganga lebar, dia tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Leonel.
Jika pria itu berkata seperti itu, itu artinya pria dewasa itu sudah mengetahui isi chat yang dia kirimkan kepada Lana. Antara takut dan juga resah, itulah yang Leandra dirasakan saat ini.
Dia berusaha untuk tersenyum seraya menatap wajah Leonel dengan lekat, dia bahkan mengedip-ngedipkan matanya.
Lalu, dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada sebagai bentuk rasa permohonan maafnya. Leonel langsung memalingkan wajahnya dengan raut wajah datarnya.
Melihat akan hal itu, Leandra menjadi was-was. Dia menoel-noel lengan Leonel, lalu gadis nakal itu kembali berbisik.
"Maafkan aku, Tuan. Itu hanya bercandaan saja, jangan dimasukkan ke dalam hati. Kamu itu pria dewasa yang sangat tampan, pasti tidak akan marah. Nanti kamu kelihatan tidak berwibawa lagi kalau marah-marah."
Setelah mengatakan hal itu, Leandra menolehkan wajahnya ke arah lain. Lalu, dia berlaga seperti orang yang hendak muntah. Dia merasa geli sendiri dengan apa yang sudah dia katakan.
Melihat Leonel dan juga Leandra yang terus saja berbisik-bisik, hal itu membuat Lucky dan tuan Leonardo saling tatap. Kemudian tuan Leonardo pun mulai bersuara.
"Maaf, Tuan Leonel. Apakah meetingnya bisa segera dilaksnakan? Saya sudah kenyang, kalau anda sudah selesai makan lebih baik kita mulai saja meetingnya," tegur Tuan Leonardo.
Tuan Leonardo seakan tidak suka melihat kedekatan antara Leandra dan juga Leonel, dia merasa ada yang aneh di antara keduanya.
Padahal saat dia menawarkan putrinya, Leonel seakan tidak peduli. Namun, saat Leonel menatap wajah Leandra, seakan ada yang lain dari tatapan Leonel kepada Leandra.
"Eh? Iya, Tuan. Bisa, maaf." Leonel membungkukkan badannya beberapa kali, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Leandra. Lalu, dia memelototkan mata sipitnya ke arah Leandra.
Dia merasa kesal terhadap gadis itu, sayangnya... bukannya merasa takut tapi Leandra malah mengatupkan mulutnya untuk menahan tawa. Baginya hal itu terlihat begitu lucu, bukannya menyeramkan.
__ADS_1