Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 82


__ADS_3

"Apakah kamu tidak bisa meringankan hukumannya? Walaupun dia sudah berbuat jahat, tetapi dulu dia adalah wanita yang pernah menjadi sumber kebahagiaan untukmu. tidak bisakah kamu memaafkannya?" tanya Lukas.


Lukas benar-benar merasa tidak tega saat dia menemui Lyra, wanita itu benar-benar begitu kurus dan keadaannya benar-benar memprihatinkan.


Rasa cintanya yang sangat besar untuk wanita itu mampu membuat Lukas merendahkan dirinya di hadapan Leonel, demi mendapatkan sebuah pengampunan.


Melihat wajah Lukas yang mengiba, tentu saja hati Leonel merasa sangat sakit. Bisa-bisanya sahabatnya itu meminta hal yang tidak mungkin dia kabulkan.


"Bagaimana ya, bisa atau tidak, ya?" tanya Leonel seraya mengusap-usap dagunya dengan wajah yang terlihat menyebalkan di mata Lukas.


Lukas semakin mengiba, dia benar-benar mempertaruhkan harga dirinya untuk kebebasan Lyra. Hal itu membuat Leonel muak.


"Kumohon, Leon!" pinta Lukas mengiba.


Leonel menghentakkan kakinya, karena dia merasa tidak sudi Lukas memeluk kakinya dengan begitu erat. Tubuh Lukas sampai terpental dan jatuh terduduk.


"Dengar, Lukas! Aku pasti akan membebaskan Lyra, jika wanita itu bisa mengembalikan istri dan juga calon buah hatiku. Aku akan sangat bahagia dan berterima kasih jika dia bisa membangunkan Istriku yang sudah tertimbun dengan tumpukan tanah!"


Leonel berbicara dengan begitu tegas, bahkan Lukas dan juga Lucky sampai tidak bisa berkata-kata. Setelah mengatakan hal itu Leonel langsung pergi dari ruangan tersebut.


Karena ternyata datang ke kantor adalah hal yang salah, karena dia malah mendapatkan kekesalan yang luar biasa. Apalagi saat melihat cara Lukas yang begitu membela Lyra, hal itu membuat Leonel merasa muak.


Leonel memutuskan untuk pergi ke pusara terakhir Istrinya, menurutnya pergi ke makam Leana adalah hal yang terbaik saat ini.


Sebenarnya Leonel ingin sekali pergi ke kampus Leandra, tetapi dia takut jika Leandra akan marah dan mendiamkan dirinya. Terlebih lagi, tadi pagi saja saat dia kelepasan bicara Leandra terlihat sangat marah.


Di kampus.


Ternyata hari ini hanya ada kegiatan untuk mengelilingi kampus saja, setiap mahasiswa dan mahasiswi diwajibkan untuk menghapal denah lokasi kampus. Hal itu membuat Leandra bisa pulang sebelum waktu yang sudah ditentukan.


Saat Leandra tiba di depan gerbang kampus, dia sempat berpapasan dengan Liam. Namun, pria itu terlihat diam saja. Bahkan, dia seolah acuh kepada Leandra.

__ADS_1


Leandra hanya bisa menghela napas berat, lagi pula memang benar apa yang dikatakan oleh Leonel, jika dirinya adalah istri dari pria tersebut.


Dia merasa jika dirinya tidak perlu marah lagi kepada Leonel, saat ini yang perlu Leandra lakukan adalah menelepon pria itu untuk segera menjemputnya.


"Jangan marah-marah, Leandra. Ingat, dia adalah suamimu. Pria yang sudah menikahimu," ucap Leandra lirih.


Leandra mengambil ponsel miliknya, lalu dia mencari-cari nomor ponsel suaminya agar bisa menghubungi suaminya tersebut.


"Ya ampun, aku lupa belum meminta nomor ponsel suamiku. Kenapa aku bisa lupa, ya?" tanya Leandra seraya menggigit kuku jari telunjuknya.


Leandra terdiam, dia seolah sedang berpikir apa yang harus dia lakukan saat ini. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Leandra memutuskan untuk pergi ke ATM untuk mengambil uang dari kartu yang sudah diberikan oleh Leonel.


Dia ingin pulang dengan menggunakan taksi, oleh sebab itu dia membutuhkan uang cash untuk membayar taksi tersebut.


"Uang sudah di tangan, mau pulang tapi haus banget. Mampir dulu ah ke Kafe," ucap Leandra seraya berjalan menuju Kafe yang tidak jauh dari ATM.


Saat Leandra duduk di salah satu kursi yang ada di sana, tanpa sengaja tatapan matanya bertemu pandang dengan Lana.


Pria yang sudah lama menjadi sahabatnya itu bukan sedang berkunjung di Kafe itu, melainkan sedang mengantarkan minuman untuk pelanggan.


Lana memakai baju pelayan dan memakai celemek berwarna hitam dengan logo Kafe tersebut, sungguh dia merasa miris melihat akan hal itu.


Padahal, selama ini Lana adalah anak yang manja. Dia tidak pernah bekerja sekalipun, dia hanya menikmati harta kedua orang tuanya tanpa ragu.


"Lana, elu gawe di mari?" tanya Leandra.


Mendapatkan teguran dari Leandra, Lana menjadi salah tingkah. Padahal, dia menyangka jika Leandra tidak akan pernah menegur dirinya lagi. Karena dia sudah melakukan kesalahan terhadap gadis itu.


Namun, praduganya salah. Ternyata Leandra malah menghampiri dirinya dan menegurnya secara langsung.


"Iya, perusahaan bokap gue bangkrut. Jadinya gue memutuskan untuk bekerja, gue--"

__ADS_1


"Ya ampun, kenapa bisa seperti itu?" tanya Leandra dengan rasa iba. Padahal Lana belum menyelesaikan ucapannya, tetapi Leandra seakan tidak sabar untuk berbicara.


Lana tersenyum kecut, karena Leandra masih saja peduli dengan dirinya dan juga Lingga. Padahal, dia sudah menghancurkan kepercayaan dari Leandra.


"Bokap gue ketahuan korupsi, jadinya... ya gitu deh. Oiya, Lea. Gue minta maaf," ucap Lana dengan lesu.


Dia benar-benar berharap, jika Leandra mau memaafkan dirinya atas kesalahan yang sudah dia lakukan kepada wanita yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil itu


"Its oke, gue udah maafin elu. Gue harap ada hikmah dibalik kejadian ini, oh ya, Lana. Gue pesan 1 kopi latte dingin, bungkus aja," pinta Leandra.


Awalnya Leandra ingin sekali duduk di sana dan meminum kopi dingin kesukaannya tersebut, tetapi dia merasa tidak tega saat melihat Lana ada di sana. Rasanya dia malah ingin cepat pulang saja.


"Oke, gue buatin. Elu tunggu sebentar,'' ucap Lana.


Sebenarnya dia begitu rindu dengan Leandra, tetapi semakin lama dia berbicara dengan Leandra, rasanya dia benar-benar sangat malu.


"He'em, oiya. Lingga di mana? Gue ngga denger kabar dia," ucap Leandra.


Biasanya di mana ada Lana, di situ ada Lingga. Kedua sahabatnya itu tidak pernah terpisahkan, mereka satu jenis kelamin yang sama, tetapi sudah seperti sepasang kekasih saja.


"Dia dikirim ke kampung momnya, perusahaan bokapnya lagi ada masalah," jelas Lana.


Leandra terlihat sedih, karena setahunya Lingga tidak pernah mau pulang kampung. Dia berkata jika di kampungnya itu tidak menyenangkan.


"Oh, gue turut perihatin." Leandra kebingungan, dia merasa jika semua ini pasti ada campur tangan dari daddynya.


Tidak mungkin usaha bokap Lana dan juga Lingga bisa tiba-tiba bermasalah, karena setahunya kedua perusahaan itu adalah perusahaan besar.


"Hem, gue buatin pesenan elu dulu," ucap Lana yang seakan malu jika terlalu lama berbicara dengan Leandra.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan Leandra pun sudah jadi. Leandra membayar pesanannya, bahkan memberikan uang yang lebih untuk Lana.

__ADS_1


Walaupun pada awalnya Lana tidak menerimanya, tetapi setelah Leandra memaksa, akhirnya Lana pun menerima uang yang diberikan oleh Leandra.


"Ya Tuhan, miris sekali kehidupan Lana dan juga Lingga. Apakah semua ini ada hubungannya dengan Daddy?" tanya Leandra dengan bingung.


__ADS_2