
"Kak, aku datang. Kakak tahu, Kak Leon jahat! Dia menghamili aku," adu Leandra dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Leonel hanya bisa mengerjapkan matanya dengan tidak percaya.
"Tuh tersangkanya, dia bikin aku hamil. Omelin dia, Kak! Dia udah bikin aku hamil, dia tuh nyebelin!" kesal Leandra seraya menunjuk wajah suaminya.
Wajah Leonel semakin murung mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, dia benar-benar tidak menyangka jika Leandra mengajak dirinya ke pemakaman hanya untuk mengadu kepada Leana.
"Yang, aku seneng banget loh kamu mengandung benihku. Memangnya kamu tidak senang kalau saat ini kamu hamil?" tanya Leonel.
Leonel langsung meluruhkan tubuhnya di atas tanah, lalu dia menggenggam kedua tangan istrinya. Sungguh dia ketakutan mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, dia takut jika Leandra akan menggugurkan kandungannya.
"Ck! Aku tidak bilang kalau aku tidak senang, tapi aku merasa kesel sama kamu. Kalau aku hamil saat ini, itu artinya aku tidak akan bisa kuliah lagi. Aku harus cuti, apa Kakak tidak dengar jika kandunganku lemah?" tanya Leandra.
Wajah Leonel yang tadinya murung kini berubah menjadi ceria kembali, itu artinya Leandra sama senangnya seperti dirinya. Hanya saja Leandra memang masih kekanak-kanakan, wajar jika dia mengeluhkan hal seperti itu.
"Aku mendengarnya, tapi kamu juga senang, kan, hamil anak aku?" tanya Leonel ingin memastikan.
"Tentu saja aku merasa sangat senang, karena akhirnya aku bisa memberikan keturunan untuk Kakak. Bukankah itu yang Kakak mau?" tanya Leandra.
Sebenarnya sebelum dia menikah dengan Leonel, Leandra sempat bermimpi bertemu dengan Leana. Wanita itu seolah menginginkan dirinya untuk menikah dengan Leonel, bahkan Leana mengelus lembut perut Leandra seraya tersenyum hangat.
Leana tidak mengatakan apa pun, bibirnya mengembangkan sebuah senyuman. Namun, air matanya terus saja mengalir di kedua pipinya.
Dia seolah meminta Leandra untuk bisa menikah dengan Leonel, membahagiakan pria itu dan memberikan keturunan untuk pria itu.
Maka dari itu, dari awal menikah dia tidak meminum pil kontrasepsi yang sudah disiapkan oleh suaminya. Namun, dia tidak menyangka jika dirinya akan hamil secepat itu.
Dia baru saja merasa nyaman bisa kuliah dan memiliki dua teman yang kocak, tetapi kini dia harus sering berada di dalam rumah karena harus menjaga kandungannya.
"Ya, Sayang. Aku mau Leonel dan Leandra Junior," ucap Leonel seraya mengusakkan wajahnya pada perut istrinya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, Leandra langsung menggeliat karena kegelian. Dia bahkan langsung mendorong wajah suaminya agar menjauh dari dirinya.
''Jangan melakukan hal itu, nanti aku pengen." Leandra menunduk malu setelah mengatakan hal itu, wajahnya bahkan langsung memerah.
Wanita yang sedang mengandung memang lebih cenderung memiliki hasrat yang lebih besar, sedangkan tadi dokter berkata jika kandungannya sangat lemah.
Itu artinya dia dan juga Leonel harus menjaga jarak aman, agar tidak kebablasan, pikir Leandra. Dia tidak mau terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap janin yang ada di dalam rahimnya.
__ADS_1
"Eh? Kamu mau itu?" tanya Leonel dengan kaget.
"Ck! Sudah jangan dibahas lagi, sekarang ayo kita pulang. Kak Leana sudah tahu jika aku hamil, sekarang aku mau pulang dan beristirahat," jawab Leandra.
"Oke,'' jawab Leonel.
Pada akhirnya, setelah berpamitan kepada Leana, Leandra dan juga Leonel langsung pulang ke kediaman Harold. Tidak lupa dia pun memberitahukan kabar bahagia ini kepada Lili, Lindsay dan juga tuan Lincoln.
Pria paruh baya itu begitu senang mendengar kehamilan putrinya, begitupun dengan Lindsay. Wanita itu bahkan berencana akan pulang ke tanah air, karena ingin mengucapkan selamat secara langsung kepada putrinya.
Besok akan menjadi ajang kumpul keluarga, dan mereka juga akan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas kehamilan Leandra.
Setelah mandi dan melaksanakan makan malam, Leonel dan Leandra memutuskan untuk tidur. Karena hari ini benar-benar melelahkan bagi mereka, mereka tertidur dengan saling memeluk.
Benar-benar pelukan hangat penuh cinta, tanpa ada niatan dari keduanya untuk berpeluh seperti biasanya. Karena keduanya sadar ada yang harus dijaga, benih yang kini sedang berkembang di dalam perut Leandra.
Begitupun dengan Lucky dan juga Liliu, pasangan pengantin baru itu kini sedang saling memeluk dengan tubuh polos mereka yang saling menempel.
Setelah tadi pagi gagal dalam melakukan penyatuan negara, akhirnya sore sampai menjelang malam mereka pun bisa melakukan penyatuan sampai berkali-kali.
Liliu sampai mengeluh jika pangkal pahanya terasa begitu pegal, dia juga mengeluh jika area intinya sudah sakit. Maka dari itu Lucky pun menghentikan aktivitasnya.
"Makasih, Sayang. Kamu tuh bikin aku bahagia, makasih juga karena kamu sudah menjaga keperawanan kamu. Aku benar-benar bahagia," ucap Lucky.
"Aku pun bahagia, oiya, Sayang. Aku mau kita foto bareng," pinta Liliu.
''Malu ih, aku lagi ngga pake baju," tolak Lucky.
"Kan, ditutupin selimut." Liliu nyengir kuda.
"Baiklah!" jawab Lucky yang tidak mau mengecewakan istrinya.
Liliu terlihat begitu senang, dia langsung mengambil ponsel miliknya. Lalu, dia mengambil foto bersama dengan suaminya.
Banyak foto yang diambil bersama dengan suaminya, bahkan Liliu tanpa ragu mencium Lucky lalu mengambil foto mereka. Lucky sampai kaget dibuatnya, tetapi dia menyukai tingkah istrinya.
"Fotonya bagus, aku kirim ke ponsel kamu ya?" ucap Liliu.
Belum juga dia mendapatkan persetujuan dari suaminya, Liliu langsung mengirimkan foto-foto kebersamaan mereka. Liliu bahkan merekam dirinya dan juga Lucky yang sedang berciuman dengan mesra.
__ADS_1
"Bagus, kan?" tanya Liliu saat Lucky membuka foto-foto yang dikirimkan oleh dirinya.
Pria itu bahkan langsung tersenyum ketika melihat video yang dikirimkan oleh istrinya, Liliu begitu agresif. Dia bahkan sampai naik ke atas tubuhnya, lalu mencium dirinya dengan begitu mesra.
"Kamu tuh nakal banget, tapi akunya suka." Lucky langsung menarik lembut Liliu ke dalam pelukannya, lalu dia melabuhkan ciuman yang begitu mesra.
"Ehm! Sayang, aku mau mandi dulu." Liliu melerai pelukannya, lalu berusaha untuk turun dari tempat tidur.
Tubuhnya sudah terasa begitu lengket, dia ingin membersihkan tubuhnya dan ingin segera tidur. Dia sudah merasa begitu lelah dan juga cape.
"Biar aku bantu," ucap Lucky.
Belum juga Lucky turun dari tempat tidur, Liliu yang hendak turun, kakinya malah tersandung selimut. Alhasil, wanita itu langsung terjatuh. Kepalanya bahkan sampai membentur dinding kamar tersebut.
"Sayang!" teriak Lucky.
Dengan cepat dia turun dan membopong tubuh istrinya, lalu dia rebahkan tubuh istrinya di atas tempat tidur. Lucky begitu khawatir, terlebih lagi saat dia melihat darah dari kepala Liliu.
"Sayang, kita ke Rumah Sakit." Lucky dengan cepat memakai bajunya, dia juga memakaikan baju kepada istrinya.
Setelah itu, dia menggendong Liliu dan berlari untuk keluar dari apartemennya. Tentu saja tujuannya untuk pergi ke Rumah Sakit, karena dia merasa jika Liliu membutuhkan pertolongan dengan cepat.
"Tolong istri saya, Dok!" seru Liliu ketika dia tiba di ruang IGD.
"Kami akan segera melakukan pemeriksaan terhadap istri anda, silakan anda tunggu di luar," ucap dokter
Sebenarnya Lucky ingin sekali menemani istrinya, tetapi dia juga tidak mungkin mengabaikan permintaan dari dokter. Karena dokter membutuhkan konsentrasi yang tinggi dalam memeriksa kesehatan istrinya.
"Ya," jawab Lucky pada akhirnya.
Setelah mengatakan hal itu, Lucky keluar dari ruang IGD dan duduk di bangku tunggu yang ada di depan ruangan tersebut. Dia memejamkan matanya seraya menengadahkan wajahnya.
Dia berdo'a untuk keselamatan istrinya, sungguh dia tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan terhadap istrinya tersebut.
"Ya Tuhan! Semoga istriku cepat sadar dan sehat kembali," do'a Lucky.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit, pintu ruang IGD nampak terbuka. Dengan cepat Lucky menghampiri dokter dan menanyakan kondisi kesehatan dari istri.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dok?" tanya Lucky dengan khawatir.
__ADS_1
Melihat darah di kepala istrinya membuat dia menjadi khawatir, dia takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Liliu.
"Maaf, Tuan. Istri anda--"