
"Ya ampun, Tante. Ini seperti tanda cinta dari seorang suami untuk istrinya, atau--"
Lili dengan cepat memotong ucapan dari Leandra, karena itu adalah hal yang tidak pantas untuk di bahas.
Lagi pula siapa yang mau memberikan tanda cinta padanya, selama ini suami saja dikuasai oleh wanita lain, pikirnya.
"Ck! Kamu tuh aneh, masa tanda cinta dari suaminya. Bagaimana sih?" tanya Lili.
Leandra memonyongkan bibirnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Lili, karena kenyataannya tuan Lincoln memang selama ini ada bersama dengan ibunya.
"Haish! Tante ngga percayaan banget," keluh Leandra.
"Tentu saja Tante ngga percaya, soalnya yang ngomong anak kecil kaya kamu," ucap Lili seraya terkekeh.
"Anak kecil, tapi aku juga bisa bertingkah seperti orang dewasa." Leandra bergumam seraya menahan malu, karena teringat akan apa yang sudah dia lakukan terhadap Leonel.
Sebenarnya Lili tidak paham dengan apa yang ditanyakan oleh Leandra, apalagi ketika Leandra tiba-tiba saja mengusap cerukan lehernya.
Rasanya Leandra itu sangat tidak sopan, karena sudah mengusap cerukan lehernya tanpa permisi lalu menuduh dirinya mendapatkan tanda cinta di lehernya.
Leandra berkata jika di cerukan lehernya ada tanda merah keunguan, bekas apa pikirnya. Karena di dalam kamarnya tidak ada nyamuk atau binatang berbahaya yang bisa menggigit lehernya.
Lagi pula, jika memang ada bekas nyamuk, rasanya tidak akan tanda merah berwarna keunguan.
Namun, hanya akan ada warna merah saja. Atau mungkin sejenis bentol yang menyebabkan kulit gatal, karena merasa penasaran akhirnya Lili terlihat melangkahkan kakinya menuju cermin kecil yang berada di dekat lemari.
"Hastaga! Apa ini?" tanya Lili dengan kaget. Dia bahkan terlihat mengusap-usap tanda merah itu.
Melihat reaksi Lili, Leandra terlihat mengernyitkan dahinya. Ada tanda kemerahan yang cukup besar tapi Lili tidak tahu, itu adalah hal yang sangat aneh, menurutnya.
"Tante, apa benar Tante tidak tahu itu bekas apa?" tanya Leandra. Leandra menghampiri Lili, lalu dia mengusap lengan Lili dengan lembaut.
"Iya, Tante tidak paham ini bekas apa," jawab Lili.
Lili menghela napas berat melihat hal aneh ini, dulu dia sering mendapatkan tanda seperti ini. Kala dirinya tinggal satu rumah dengan tuan Lincoln, rasanya itu sangat wajar terjadi.
Namun, saat ini terasa sangat aneh jika itu terjadi. Karena dia selalu tidur sendiri, tidak ada suami atau seorang kekasih. Melihat Lili yang malah terdiam, Leandra kembali bersuara.
"Aneh, ini sangat aneh. Aku sempat beberapa kali melihat tanda seperti ini saat--''
Leandra tidak meneruskan ucapannya, karena tidak mungkin dia memberitahukan kepada Lili jika dia sempat melihat temannya memiliki tanda seperti itu.
__ADS_1
Temannya itu memang terkenal sebagai simpanan seorang pengusaha, dia rela menjual tubuhnya untuk membiayai kehidupannya.
"Saat apa? Maksudnya bagaimana?" tanya Lili kebingungan.
Lili benar-benar merasa tidak paham kenapa bisa ada tanda seperti itu dicerukan lehernya, seingatnya dia tidak melakukan apa-apa lalu bagaimana bisa tanda itu ada di sana.
Lalu, kini Leandra seakan memojokan dirinya dan menuduh dia mendapatkan tanda cinta. Dari siapa, pikirnya.
Sebenarnya Leandra curiga jika ayahnya tidur bersama dengan Lili, tetapi ketika Leandra mengingat ayahnya yang berada di dalam kamarnya, dia mematahkan praduganya sendiri.
Rasanya sangat tidak mungkin, jika itu adalah perbuatan dari ayahnya. Mana mungkin berbeda kamar tapi bisa melakukan hal tersebut, pikirnya.
''Ehm! Tante, tadi malam Tante beneran tidur sendiri, kan?" tanya Leandra.
"Ya, aku tidur sendiri seperti biasanya. Hanya saja malam ini aku tidur dengan sangat pulas," jawab Lili jujur.
Leandra terlihat mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti, karena itu artinya Lili tidur sendirian. Karena dia berkata jika dirinya tidur dengan sangat mudah dan pulas.
Jika Lili tidur dengan orang lain atau dengan ayahnya, tentu saja dia tidak akan tidur dengan pulas. Karena sudah tentu Lili akan mendapatkan gangguan dari ayahnya.
"Kamu itu kenapa sih? Kok nanya aneh-aneh kaya gitu?" tanya Lili.
"Ah, tidak apa-apa. Ayo kita masak, takutnya malah keasikan ngobrol," ajak Leandra.
"Oke, kalau gitu kita bikin sarapan saja," ajak Lili.
Akhirnya Lili dan juga Leandra memutuskan untuk tidak membahas masalah itu lagi, mereka berdua terlihat memasak dibantu dengan bibi.
Satu jam kemudian, semua masakan sudah terlihat matang. Lili dan juga Leandra menata makanan tersebut di atas meja makan.
"Aku mau ke kamar daddy dulu, mau bangunin daddy biar bisa sarapan bersama," ucap Leandra berpamitan kepada Lili.
Lili tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Leandra, dia malah teringat kala dirinya masih tinggal satu rumah dengan tuan Lincoln.
Selepas membuatkan sarapan, dia akan membangunkan tuan Lincoln dengan kecupan mesra di bibir sang suami.
Tidak jarang apa yang dia lakukan, malah memancing suaminya untuk melakukan hal yang lebih. Tuan Lincoln akan menarik dirinya ke atas tempat tidur dan berkata jika dirinya akan sarapan dengan menu pembuka terlebih dahulu.
Setelah itu, tuan Lincoln akan membuka bajunya dan mulai mengecupi bibir Lili dan juga setiap inci tubuhnya.
"Tante!" tegur Leandra yang melihat Lili diam saja.
__ADS_1
"Ya," jawab Lili.
"Kenapa Tante malah diam saja?" tanya Leandra.
"Ah, tidak apa-apa. Kamu pergilah, aku juga akan memanggil Leon agar kita bisa sarapan bersama," ucap Lili seraya tersenyum hangat.
"Oke, sekalian aku juga mau manggil mom," imbuh Leandra.
Setelah mengatakan hal itu, Lili terlihat masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh tuan Lincoln. Setelah itu, dia membangunkan ayahnya yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Ya ampun, Dad. Kamu belum mau bangun juga?" tanya Leandra seraya menggoyang-goyangkannya lengan daddynya.
Padahal, selama ini ayahnya adalah pria yang begitu rajin. Leandra tidak pernah melihat tuan Lincoln terbangun di saat siang tiba, pria paruh baya itu selalu saja bangun pagi-pagi.
Setelah selesai mandi, pria itu akan langsung berolahraga sebelum melaksanakan sarapan paginya. Tuan Lincoln adalah contoh pria yang selalu menjaga pola hidup sehat.
"Enghh! Maaf, Dad sangat ngantuk," jawab Tuan Lincoln seraya turun dari tempat tidur.
Leandra menggelengkan kepalanya, karena ayahnya itu masih memejamkan matanya, walaupun bibirnya sudah mengeluarkan suara.
"Aku tunggu di ruang makan," ucap Leandra seraya berlalu.
Tuan Lincoln hanya menganggukan kepalanya, setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia ingin mandi agar tubuhnya terasa lebih segar.
Beberapa saat kemudian.
Semuanya sudah duduk di ruang makan, mereka sedang melaksanakan sarapan paginya. Leandra, Leonel dan juga Lili sarapan dengan tenang.
Berbeda dengan tuan Lincoln, pria paruh baya itu malah asik memperhatikan wajah Lili. Wajah wanita yang sangat dia cintai, sesekali dia tersenyum saat mengingat kejadian tadi malam.
Dia begitu puas bisa menatap dan mendekap tubuh istirnya, walaupun tanpa melakukan hal yang sudah sangat lama dia inginkan.
Namun, dia merasa beruntung. Karena tadi malam dia bisa mengecup bibir Lili berkali-kali, bahkan tuan Lincoln hampir saja khilaf.
Setelah terbuai dengan bibir manis Lili, tuan Lincoln malah mengecupi leher jenjang Lili. Bahkan tanpa sadar dia menyesap cerukan leher istrinya dan juga menyesap dada Lili.
Beruntung wanita yang masih berstatus sebagai istrinya itu tidur dengan sangat pulas, jika tidak, sudah dapat dipastikan jika tuan Lincoln akan mendapatkan tamparan dari istrinya.
Begitupun dengan Lindsay, wanita itu nampak tidak tenang. Dia terus saja memperhatikan wajah suaminya yang nampak sumringah kala menatap wajah Lili.
Dia merasa sangat was-was, tapi di sisi lain dia juga merasa tenang. Apalagi ketika melihat wajah Lili yang nampak acuh.
__ADS_1
'Pantas saja Lili begitu dicintai oleh Alex, karena wanita itu begitu baik. Dia bahkan seakan tidak mau menggeser posisiku, padahal aku yang sudah membuat semuanya kacau sejak awal,' ucap Lindsay dalam hati.