Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 83


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan Leandra pun sudah jadi. Leandra membayar pesanannya, bahkan memberikan uang yang lebih untuk Lana.


Walaupun pada awalnya Lana tidak menerimanya, tetapi setelah Leandra memaksa, akhirnya Lana pun menerima uang yang diberikan oleh Leandra.


Dia bahkan berterimakasih beberapa kali, pria itu benar-benar merasa bersalah karena sudah pernah berniat jahat terhadap Leandra.


Karena Leandra sama sekali tidak terlihat menyimpan dendam kepadanya, justru wanita itu nampak iba kepadanya.


"Ya Tuhan, miris sekali kehidupan Lana dan juga Lingga. Apakah semua ini ada hubungannya dengan Daddy?" tanya Leandra dengan bingung.


Karena tidak mau ambil pusing, Leandra memutuskan untuk pulang dengan menaiki taksi menuju rumah Leonel.


Dia ingin tidur saja, karena rasanya tubuhnya sangat lelah dan terasa sangat sakit karena ulah Leonel.


"Terima kasih, Pak." Leandra memberikan ongkos taksinya lalu turun dan segera masuk ke dalam kediaman Harold.


Melihat Leandra yang datang sendirian, bibi langsung menghampiri Leandra dan menyapa istri dari majikannya itu.


"Nyonya sudah pulang?" tanya Bibi.


Leandra menghentikan langkahnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah bibi. Dia tersenyum hangat, kemudian dia menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut.


"Sudah, aku mau tidur ya, Bi. Aku ngantuk," ucap Leandra seraya melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


"Bentar dulu, Nyonya. Tuan mana? Kok Nyonya pulang sendirian?" tanya Bibi.


Seingatnya Leonel berkata jika hari ini pria itu tidak akan pergi bekerja, dia akan menemani istrinya kemana pun wanita itu pergi.


"Tuan di kantor, nanti kalau dia pulang bilang saja aku tidur. Ngantuk banget, Bi. Sumpah!" ucap Leandra seraya menguap dengan lebar.


Bibi malah tersipu mendengar ucapan dari Leandra, dia sangat paham jika Leandra sangat mengantuk. Karena Leandra pasti sudah begadang tadi malam dengan Leonel.


Apalagi ketika bibi mengganti sprei di dalam kamar utama, dia melihat bercak darah yang sudah mengering. Bibi sangat paham bekas apa itu.


Bibi merasa senang karena Leonel mendapatkan istri yang masih perawan, walaupun Leandra terlihat begitu bar-bar, ternyata Leandra adalah wanita yang mampu menjaga kehormatannya.

__ADS_1


"Bibi, aku mau tidur. Kenapa Bibi malah tersenyum-senyum seperti itu?" tanya Leandra.


Menyadari jika apa yang dia lakukan terasa konyol, bibi tersenyum lalu berkata. "Tidak apa-apa, Non. Bibi ke dapur dulu," pamit Bibi seraya berlari.


Leandra langsung mengernyitkan dahinya melihat tingkah dari pelayan tersebut, menurutnya tingkat dari pelayan itu sangatlah aneh.


"Dia itu kenapa?" tanya Leandra.


Karena tidak mau ambil pusing, akhirnya Leandra memutuskan untuk segera masuk ke dalam kamar utama.


Dia langsung melemparkan tas selempang miliknya dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, lelah dan juga ingin segera memejamkan matanya, itulah yang Leandra inginkan.


"Oh, hastaga! Kenapa sangat gerah?" tanya Leandra dengan mata yang terpejam, karena dia merasa begitu lelah.


Leandra membuka baju yang dia pakai, lalu dia melemparkannya secara sembarang. Setelah itu, dia pun bisa tertidur dengan lelap.


Dia bahkan lupa untuk mencuci mukanya terlebih dahulu, padahal dia sudah beraktivitas di luar ruangan walaupun tidak terlalu lama.


Di lain tempat.


Sudah cukup lama Leonel duduk seraya menatap pusara terakhir mendiang istrinya, dia sudah puas bercerita tentang apa yang terjadi hari ini.


Leonel bahkan meminta agar Leana tidak cemburu kepada adiknya tersebut, sungguh lucu dengan apa yang diminta oleh Leonel.


Akan tetapi, itulah permintaan dari pria itu kepada istrinya yang sudah tiada itu. Dia seperti berbicara dengan wanita yang masih ada di dunia ini.


"Sayang, aku pulang dulu. Aku juga mau jemput adik kamu, takutnya dia kelamaan menunggu. Titip salam buat buah hati kita," ucap Leonel seraya melirik jam tangan yang dia pakai.


Setelah berpamitan kepada mendiang istrinya, dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju kampus tempat di mana Leandra menimba ilmu.


"Tunggu aku, Leandra. Aku akan segera datang," ucap Leonel dengan mata yang fokus menatap jalanan.


Saat dia tiba di kampus, Leonel malah kebingungan. Karena keadaan kampus terlihat sudah sepi, dengan cepat dia turun dan menghampiri security yang berjaga di sana.


"Maaf, Pak. Aku mau bertanya, kok suasana kampus terasa sangat sepi ya?" tanya Leonel.

__ADS_1


Security tersebut nampak memperhatikan penampilan Leonel, tidak lama kemudian dia tersenyum dan berkata.


"Oh! Anak-anak sudah pulang lebih dari 1 jam yang lalu, soalnya hari ini mereka hanya mengelilingi kampus dan menghapal denah lokasi kampus saja," jawab security itu.


"Ya ampun, jadi istriku sudah pulang ya? kenapa dia tidak menelponku?" tanya Leonel dengan suara pelan, tapi security itu masih mampu mendengar apa yang dikatakan oleh Leonel.


Security tersebut nampak menggelengkan kepalanya seraya memutarkan bola matanya dengan malas, pria yang ada di hadapannya adalah suami dari wanita yang dia cari, kenapa juga malah menanyakan kepada dirinya, pikirnya.


"Mana saya tahu, Tuan," jawab security tersebut yang terdengar menyebalkan di telinganya.


Leonel langsung mencebikkan bibirnya ketika mendengar jawaban yang dilontarkan oleh security tersebut, tanpa banyak bicara dia langsung berlalu dan masuk ke dalam mobilnya.


Dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi nomor Leandra, sayangnya berulang kali dia mencoba menelpon istrinya tersebut, dia tidak juga mendapatkan jawaban.


"Ke mana dia?"


Leonel nampak khawatir, ponsel istrinya berdering, tetapi Leandra tidak mengangkat panggilan telpon darinya.


"Bibi! Sepertinya aku harus menelpon bibi saja, siapa tahu Leandra sudah pulang ke rumah tapi dia tidak sedang bermain ponsel," ucap Leonel dengan khawatir.


Akhirnya Leonel pun dengan cepat menelpon salah satu pelayan yang ada di kediaman Harold, ternyata benar jika Leandra sudah pulang. Leonel bisa bernapas lega dan dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju kediaman Harold.


"Di mana istriku?" tanya Leonel ketika dia sampai di kediaman Harold.


"Tadi masuk ke dalam, Tuan. Mungkin sedang beristirahat," jawab security yang berjaga di sana.


"Oh! Oke, Pak. Terima kasih," jawab Leonel seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar utama.


Dia berjalan dengan tergesa, karena dia merasa tidak sabar untuk segera bertemu dengan istrinya. Saat dia masuk ke dalam kamar utama, Leonel tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


Saat ini dia melihat Leandra sedang tertidur dengan begitu lelap, dia hanya menggunakan bra dan juga kain segitiga pengamannya saja.


Sungguh menurut Leonel jika istrinya itu mempunyai kebiasaan yang begitu unik, tidur tanpa memakai baju.


"Kamu itu selalu saja berusaha untuk menggodaku," ucap Leonel seraya merebahkan tubuhnya di samping Leandra.

__ADS_1


Tanpa dia duga Leandra langsung memeluk dirinya dan mengusakkan wajahnya pada dada bidang Leonel, pria itu terkekeh dan menarik lembut Leandra ke dalam dekapan hangatnya.


"Kamu tuh kebiasaan kalau tidur suka kaya gini, kalau aku khilaf bagaimana?" tanya Leonel seraya terkekeh.


__ADS_2