Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin

Gadis Nakal Kesayangan Pria Dingin
Bab 47


__ADS_3

Saat tuan Lincoln tersadar, dia terlihat begitu kaget. Karena di sampingnya ada seorang wanita yang sedang memeluk dirinya dengan begitu posesif.


Seingatnya, Lili sedang bekerja seperti biasanya. Rasanya tidak mungkin jika mereka tertidur di jam seperti ini.


Lagi pula, saat tuan Lincoln perhatikan, tubuh wanita yang sedang memeluknya lebih berisi dari Lili. Kulitnya lebih putih, tidak seperti Lili yang memiliki warna kulit kuning langsat.


Satu hal yang membuat tuan Lincoln tidak percaya, wanita itu tidak memakai sehelai benang pun. Saat tuan Lincoln menunduk untuk menatap dengan jelas wajah wanita itu, rasanya jantungnya seakan berhenti berdetak.


"Lindsay!" pekiknya.


Tuan Lincoln berusaha untuk bangun dan turun dari tempat tidur, tapi gerakkannya terhenti ketika dia melihat bercak darah di atas sprei.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin melakukan hal sebodoh ini. Ini pasti--"


Tuan Lincoln tidak meneruskan ucapannya, dia malah teringat akan kedatangan ayahnya yang berkata ingin mengajak dirinya untuk berdamai.


Dengan cepat dia memakai bajunya dan berlari untuk menemui ayahnya, sayangnya di sana tidak ada sang ayah.


"Sialan! Ini pasti ulah pria tua berengsek itu," kesalnya.


Tuan Lincoln berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah itu, sayanganya ayahnya itu tidak ada di mana pun.


"Brengsekk!" makinya ketika dirinya sadar telah dijebak.


Tuan Lincoln masuk kembali ke dalam kamarnya, dia berniat ingin membangunkan Lindsay dan menanyakan semuanya kepada wanita itu.


Namun, niatnya dia urungkan ketika melihat sebuah kotak yang tergeletak di depan pintu. Dengan cepat dia membukanya dan melihat apa isinya.


Dia begitu terkejut, kala melihat foto USG dan juga hasil pemeriksaan yang menyatakan jika istrinya tengah hamil dengan usia kandungan 8 minggu.


"Lili? Kamu hamil, Sayang? Tapi--"


Tuan Lincoln langsung terdiam, dia jadi berpikir jika istrinya pasti sudah mengetahui semuanya.


"Lili! Aku tidak melakukan ini, aku--"


Emosi tuan Lincoln memuncak, dia tatap tubuh Lindsay yang tertidur di atas ranjang. Tuan Lincoln yang sedang berdiri di ambang pintu terlihat menatap wanita itu dengan tatapan penuh amarah.


Dengan cepat dia masuk ke dalam kamar dan menarik tubuh Lindsay sampai tersungkur ke atas lantai. Lindsay memekik kesakitan dan berusaha untuk menarik selimut agar menutupi tubuh polosnya.


"Tidak usah kamu tutupi tubuh kamu itu, mau kamu telanjang bulat pun aku tidak akan tergoda. Sekarang jelaskan kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi?" teriak Tuan Lincoln dengan wajahnya yang terlihat sangat murka.


"Aku, aku tidak tahu. Aku, aku--"

__ADS_1


Lindsay kebingungan, dia tidak tahu harus berkata apa. Karena melihat kemarahan yang begitu besar di wajah tuan Lincoln, Lindsay memutuskan untuk segera mengambil bajunya dan memakainya dengan cepat.


Tanpa banyak bicara, dia meninggalkan tuan Lincoln yang sedang meluapkan emosinya dengan melemparkan setiap barang yang ada di dekat dirinya.


"Sialan! Kurang ajar, dasar tua bangka sialan. Lili pasti akan menyangka jika aku orang yang tidak baik dan sudah menghianati dirinya," ucap Tuan Lincoln putus asa.


Setelah puas meluapkan emosinya, tuan Lincoln memutuskan untuk pulang ke kediaman Axton. Dia bertanya secara baik-baik kepada ayahnya tersebut.


Walaupun emosinya begitu memuncak, tapi dia begitu menahannya. Karena dia masih menghormati tuan Luke sebagai orang tuanya.


Awalnya tuan Luke bersikukuh jika dirinya tidak merencanakan hal yang jahat terhadap putranya, tapi setelah tuan Lincoln mengamuk, akhirnya tuan Luke mengakui rencana liciknya.


Tuan Lincoln begitu marah dan dia terlihat hendak pergi dari kediaman Axton, dia berkata jika dirinya tidak akan kembali lagi ke rumah besar itu.


Melihat kemarahan yang begitu besar di mata putranya, tuan Luke yang ketakutan malah mengalami serangan jantung mendadak. Dia langsung jatuh tersungkur ke atas lantai seraya memegangi dadanya yang terasa begitu sesak.


Tuan Lincoln mengurungkan niatnya untuk pergi dari kediaman Axton, karena tidak tega melihat keadaan ayahnya.


"Jangan pernah pergi, maafkan kesalahan Daddy, satu hal yang Daddy harap dari kamu. Menikahlah dengan Lindsay, karena walau bagaimanapun juga dia sudah kamu tiduri," pesan Tuan Luke sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


Sampai hembusan napas terakhirnya, tuan Luke masih saja berbohong. Padahal dia dan juga Lindsay yang sudah merencanakan penjebakan tersebut, bahkan setelah tuan Lincoln tertidur, Lindsay dengan teganya menyayat tangannya agar tuan Lincoln menyangka jika pria itu sudah memerawani dirinya.


Tuan Lincoln menghembuskan napas berat setelah menceritakan semuanya kapada Leandra, tentunya Leonel, Lindsay dan juga Lili ikut mendengarkan.


"Jadi, Daddy masih bersetatus suami dari Tante Lili?" tanya Leandra.


Mendengar penuturan dari ayahnya, Leandra terlihat begitu sedih. Dia menolehkan wajahnya ke arah Lindsay dan juga Lili secara bergantian, matanya terlihat berkaca-kaca.


Dia begitu sedih mendapati kenyataan seperti ini, dia begitu bingung harus bersikap seperti apa kepada ibunya dan juga kepada Lili.


"Daddy, kenapa Daddy menikahi Mom jika Daddy tidak mencintainya?" tanya Leandra.


"Mom kamu yang memintanya, tentu Daddy mengabulkan. Tapi dengan satu syarat, Daddy akan meninggalkan Mom kamu jika Daddy sudah bertemu dengan istri Daddy!" jelas Tuan Lincoln.


Leandra terlihat kebingungan setiap kali tuan Lincoln berkata jika Lili adalah istrinya, lalu... bagaimana dengan ibunya?


Apakah ibunya itu bukan istrinya atau bagaimana, pikirannya. Karena begitu penasaran, akhirnya Leandra menanyakan hal tersebut kepada ayahnya.


"Daddy selalu berkata jika Tante Lili adalah istri Daddy, lalu... bagaimana dengan Mommy?" tanya Leandra.


Lindsay menundukkan kepalanya, dia merasa malu mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Leandra kepada tuan Lincoln.


Karena walau bagaimanapun juga, dia-lah yang bersalah. Dia yang sudah menjebak tuan Lincolin agar mau menikahi dirinya, dia juga yang merendahkan dirinya dihadapan pria yang kini sudah menjadi suaminya itu agar mau menikahi dirinya.

__ADS_1


"Dad hanya menikahi Mom kamu secara agama, kami hanya menikah di hadapan pendeta tanpa pergi ke pencatatan sipil. Dad kecewa, karena dulu Mom kamu juga ikut andil dalam menjauhkan Daddy dari Lili."


Leandra langsung menolehkan wajahnya ke arah Lindsay, dia menatap ibunya dengan tatapan penuh kekecewaan.


"Mom!"


"Sorry, Baby. Mom terlalu takut kehilangan Daddy kamu, jadi Mom--"


Lindsay tidak melanjutkan ucapannya, dia merasa sangat malu jika mengingat masa lalunya. Dia sudah mendapatkan ganjarannya, tuan Lincoln tidak pernah bersikap baik kepada Lindsay.


Tuan Lincoln selalu bersikap kasar terhadap Lindsay, hingga setelah empat tahun menikah barulah tuan Lincoln berdamai dengan Lindsay. Namun, tuan Lincoln berkata jika dirinya akan meninggalkan Lindsay jika dia sudah bertemu dengan Lili.


"Aku kecewa," ucap Leandra seraya mengeratkan pelukannya kepada sang ayah.


Tuan Lincoln membalas pelukan dari putrinya tersebut, tidak lama kemudian dia melerai pelukannya dan dia terlihat bangun untuk menghampiri Lili.


Dia duduk tepat di samping Lili, dia berusaha untuk memeluk wanita yang masih menjadi istrinya tersebut. Sayangnya Lili malah menghindar dari pria yang sampai saat ini masih dia cintai itu.


Dia merasa tidak enak hati saat melihat wajah Lindsay yang begitu ketakutan, dia juga wanita. Dia tidak ingin menyakiti wanita lain, walaupun memang hatinya terasa terluka.


"Kenapa kamu menghindar, hem? Apakah kamu tidak merindukanku? Dua puluh tiga tahun tidak bertemu rasanya aku begitu rindu padamu, aku benar-benar rindu. Oh iya, Lili. Di mana anak kita? Aku ingin bertemu," ucap Tuan Lincoln.


Mendengar pertanyaan dari tuan Lincoln, Leonel dan juga Lili langsung menatap tuan Lincoln dengan raut wajah sedih dan juga bingung.


Mereka tidak tahu harus mengatakan apa kepada tuan Lincoln, mereka tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakan apa yang sudah terjadi kepada Leana.


"Kenapa malah diam saja?" tanya Tuan Lincoln.


"Eh? Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Selamat atas kesuksesan yang sudah kamu capai," ucap Lili kikuk.


"Terima kasih, Lili. Kamu memang istriku yang cantik dan perhatian, lalu... di mana anak kita? Dia lelaki atau perempuan?" tanya Tuan Lincoln lagi.


"Ehm! Alex, aku mau bertanya. Kenapa kamu bisa tahu jika yang menjebak kamu adalah ayah kamu dan juga--"


Lili terlihat menolehkan wajahnya ke arah Lindsay, dia tersenyum getir jika mengingat bagaimana wanita itu datang menemui dirinya dan meminta Lili untuk melepaskan tuan Lincoln.


"Karena aku menyelidikinya, hanya satu yang aku bingung. Kenapa aku begitu sulit untuk menemukan kamu, Sayang?" tanya Tuan Lincoln.


"Aku meminta perlindungan pada nyonya Louisa," jawab Lili.


Leonel tersenyum kala nama ibunya disebutkan, wanita yang selalu berusaha bersikap dengan baik kepada siapa saja.


"Ck! Kamu curang, kamu bersembunyi di balik nama besar Harold." Tuan Lincoln menatap Lili dengan penuh kekecewaan.

__ADS_1


"Maaf, aku melakukan semua ini untuk masa depan kamu yang lebih cerah," ucap Lili penuh sesal.


"Haish! Kamu tuh ngomongnya gitu, oiya Lili. Dari tadi kamu tuh seakan mencari bahan untuk mengalihkan pembicaraan, sekarang jawab pertanyaan dariku. Di mana anak kita?"


__ADS_2