
Suara deru motor saling bersautan. Ternyata Sam pergi ke lokasi balap motor dengan kedua sahabat dan geng motornya. Mereka lebih memilih berkumpul di sana.
“Sam lo ikut daftar aja. Hadiahnya 8 juta , Bro!” ucap Alex yang merangkul pundak Sam.
“Gue nggak ada persiapan apa-apa. Kalian aja deh. Gue cukup nonton dan dukung.” Tolak Sam sehalus mungkin.
“Udah Sam ambil aja. Hitung-hitung pemanasan karena udah lama ‘kan lo nggak ikut pertandingan kayak gini?” Emran ikut mengkompor-kompori.
“Mbak, tulis nama Abrisam!” Alex berbicara pada wanita yang menjaga tempat pendaftaran.
“Ta-tapi?”
Alex si ketua geng motor ini menepuk dada Sam berkali-kali. “Udah nggak apa-apa.”
Pertandingan akan siap di mulai ada 10 peserta di sana dengan motor mereka masing-masing berdiri di garis start, termasuk Abrisam. Ia yang dipinjamkan baju balap oleh teman-temannya ini sekarang sedang fokus pada jalanan yang akan ia lalui.
Sam juga ikut setuju untuk mengikuti lomba ini sekalian ingin mengilangkan penatnya dari semua masalah yang sedang ia hadapi. Aba-aba sudah muncul dari gadis cantik pemegang bendera.
Ketika bendera dinaikan semua motor melaju dengan kecepatan penuh.
“Ayo Sam! Sam....!”
Teman-teman Sam yang menonton di pinggir saling bergantian menyemangati pemuda itu.
Semua penonton tampak tegang menyasikkan perlombaan itu. Motor saling susul-menyusul untuk menempati posisi pertama. Sekarang Sam masih ada di barisan ke tiga.
Suara bisik dari motor sangat dinikmati semua yang hadir di sana. Komentator acara terus memberitahu siapa yang ada di posisi pertama.
“Ferdinan bersama si biru kesayangannya masih ada di urutan pertama. Oh tidak, tiba-tiba motor milik Abrisam menyusulnya!”
Manha yang sangat gemas oleh pertandingan ini sampai menarik-narik jaket Emran yang berdiri disampingnya.
“Tinggal satu putaran lagi. Siapakah yang akan memenangkan perlombaan? Sedangkan Sam dan Ferdinan masih berusaha saling merebut posisi depan. Dan...
“Yaaaa...” Sang komentator berteriak keras, “Abrisamlah pemenang dari perlombaan ini! Bisa kita lihat sama-sama penonton Sam barusan saja menginjak garis finish. Jaraknya sangat tipis dengan Ferdinan. Selamat untuk Abrisam!”
Sam membuka helmnya. Ia tertawa tidak menyangka akan menang. Semua temannya turun dari tribun penonton dan menghapirinya. Mereka bergantian mengucapkan selamat.
Alex yang juga ikut di dalam lomba yang saam tidak segan-segan mengucapkan selamat pada temannya ini. Hadiah 8 juta itu berhasil Abrisam bawa pulang.
•••
Selesai balapan Abrisam dan semua temannya pergi ke sebuah kafe untuk merayakan kemenangan pemuda itu. Hari ini cukup menghibur untuk lelaki ini. Sekarang ia sedang ada di perjalanan pulang.
Sam menghentikan laju motornya ketika lampu lalu lintas berubah merah. Tidak sengaja dari balik kaca helmnya lelaki ini melihat seorang wanita dengan pakaian bergaya seperti Tania saat bekerja di club malam, berjalan di atas trotoar.
Ia jadi teringat gadis itu. Apa kabar dia sekarang? Selama ditinggal oleh Sam apa yang ia lakukan? Abrisam jadi kepikiran bagaimana uang hasil perlombaannya diberikan pada Tania. Gadis itu lebih membutuhkan dari pada dirinya.
Lampu sudah hijau kembali. Itu tandanya Sam harus menjalankan motornya lagi. Pemuda itu berbelok ke arah lain. Ia melaju ke arah rumah Tania.
Sam memarkirkan motornya di halaman rumah Tania. Suasananya sepi, tetapi pemuda ini tetap melangkah mendekati pintu. Ia mengetuk beberapa kali pada pintu kaca dan mengucapkan salam. Namun, tidak ada yang menyahuti.
__ADS_1
“Ada orangnya nggak sih?” gumam Sam yang berusaha mengintip ke dalam.
“Sam!” sorak seorang gadis membuat Abrisam menoleh.
Ia tersenyum saat melihat Tania berdiri di depan pagar rumah. Gadis itu berjalan menghampiri Sam.
“Lo udah pulang dari Australia? Cepat amat?”
Abrisam menghela napas saat pertanyaan yang sama dilontarkan orang-orang.
“Lo orang ke 1234 yang menanyakan itu pada gue.”
Tania tertawa dan menepuk lengan cowok yang berdiri di hadapannya ini, “lebay lo!”
“Habisnya dari kemarin pertanyaannya itu terus. Gue ‘kan bosan.”
“Aneh aja sih, lo bilang mau pergi dua minggu, tapi belum ada seminggu udah balik aja. Ada masalah?” gadis yang mendongakkan kepalanya ini untuk menatap Sam kembali bertanya.
“Ada sedikit.” Sam mengibaskan tangannya. Menganggap enteng masalah yang ia punya, “ya sudahlah. Gue bukan mau curhat ke sini, tapi mau ngasih ini ke lo.”
Sam mengeluarkan amplop coklat yang ia selipkan di saku belakang celananya. Kening Tania berkerut melihatnya.
“Apa ini?” tanya gadis itu menatap Sam lagi.
“Ini bon utang lo ke gue.” Sekarang alis gadis itu pun ikut menyatu, “bercanda, ini uang buat lo. Tadi iseng ikut lomba. Gue pikir lo lebih membutuhkan dari gue. Jadi terima ya!”
Tania mendorong amplop itu kembali, “gue nggak bisa terima. Maaf bukannya nggak bersyukur dapat rezeki, tapi lo udah banyak bantu gue dan keluarga. Gue takut nggak bisa balas budi lo.”
Tania tertawa mendengar penuturan lelaki itu. Ia menarik kembali tangannya yang dipegang Sam.
“Terima kasih, gue terima uangnya. Lain kali jangan balapan ya! Bahaya tahu.”
“Cerewet lo, suka-suka gue dong.”
Tania menatap Sam jengkel. Ia memukul Sam dengan amplop tebal itu. Lelaki ini tidak marah. Ia tertawa. Semua ia anggap hanya sekedar gurauan.
Sam celingak-celinguk memperhatikan rumah teman perempuannya ini.
“Kok rumah lo sepi? Ibu ke mana?”
Pertanyaan Sam membuat Tania menjadi murung. Lelaki itu menggigit bibir bawahnya ia jadi menyesal bertanya.
“Lo kenapa?”
“Keadaan Ibu makin parah, Sam. Semalam terpaksa dibawa ke rumah sakit. Ini aja gue dari rumah sakit. Pulang sebentar buat bersih-bersih.”
“Astaga, maaf gue nggak tahu.”
Tania mengangguk lemas, “gue udah ikhlas Sam apa yang terjadi sama Ibu ke depannya. Kasihan Ibu tersiksa sama penyakitnya.”
“Udah lo nggak usah sedih.” Sam menepuk-nepuk pelan bahu Tania, “lo mau ke rumah sakit lagi ‘kan? Gue ikut ya.”
__ADS_1
“Gue mau mandi sama masak dulu.”
“Ya sudah gue tungguin.”
“Mau minum?”
“Nggak usah repot-repot! Es Teh aja.”
Tania mencubit gemas pinggang Sam hingga lelaki itu meringis kesakitan. “kebiasaan!”
Sam tertawa melihat reaksi gadis itu. Tania tersenyum dan mengeluarkan kunci rumah dari waist bag yang ia pakai, lalu masuk ke dalam rumahnya.
Abrisam melipir ke kursi yang tersedia di teras rumah. Ia duduk di sana sambil menunggu Tania.
•••
Banyak orang berpakaian serba putih mengerubungi pusara. Tania menangis di depan nisan yang sudah tertancap itu. Sam yang turut berbela sungkawa itu datang ke pemakaman Kasih, ibu kadung dari Tania. Tidak hanya Sam, teman-teman kampus, dosen yang mengetahui ini juga datang. Termasuk kedua sahabat Sam, Emran dan Manha.
Sandaran Tania yang paling kuat sudah pergi dijemput sang pencipta. Bagaimanapun gadis itu harus berusaha mengikhlaskannya.
Sam yang memperhatikan Tania yang sedari tadi menangis turut simpati dengan gadis itu. Cowok ini juga tidak menyangka kalau Kasih harus pergi secapat ini. Padahal baru dua hari yang lalu Sam menjenguknya.
Sekarang tugas Sam menjalankan amanah yang dititipka Kasih. Wanita itu menyuruh Sam untuk memperhatikan dan menjaga Tania. Karena gadis itu hanya hidup sebatang kara saat ini. Tania pernah bercerita pada Sam kalau ia masih mempunyai satu paman. Namun, pamannya tidak perduli pada ibu dan dirinya.
Selesai Pak Ustad berdoa semua peziarah satu-persatu membubarkan diri.
“Ayo Sam balik!” ajak Manha.
Abrisam memperhatikan Tania yang masih menangis. Ia menggeleng pada Manha, “kalian duluan aja!”
Sekarang tinggal Sam dan Tania saja di sana. Lelaki itu ikut berjongkok di dekat Tania. Tangannya merangkul gadis itu.
“Lo jangan sedih lagi! Sekarang Tante Kasih udah tenang. Dia udah nggak ngerasain sakit lagi. Kita pulang ya?”
Tania menggeleng, “cuma Ibu yang gue punya, Sam. Sekarang gue nggak punya siapa-siapa lagi.”
“Siapa bilang lo nggak punya siapa-siapa?” Tania menoleh dengan matanya yang sembab, “lo masih punya gue. Gue akan selalu jadi sahabat lo yang terus ada saat lo susah atau pun senang. Kalau perlu lo anggap gue ini saudara lo!”
Tidak tahu mengapa Sam jadi merasa ingin melindungi gadis ini. Ia baru kali ini melihat Tania menangis sesedih itu. Biasanya sahabatnya itu selalu ceria.
“Makasih, Sam.” Tania mengusap wajahnya yang berair.
Sam tersenyum dan membantu mengapus air mata Tania, “jangan sedih lagi! Nanti Tante Kasih di surga ikut sedih.”
Tania menganggukan kepalanya. Ia tersenyum di depan Sam. Lelaki ini tahu kalau gadis itu sedang berusaha memperlihatkan dirinya yang baik-baik saja.
“Ayo pulang!”
Perlahan Tania dan Abrisam meninggalkan pemakaman.
•••
__ADS_1