He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 74


__ADS_3

“Ma sanggulnya jangan gede-gede. Udah kayak mau nyinden aja.”


Sudah 15 menit Adira duduk di depan meja riasnya. Winda yang bukan profesional make over cukup kesulitan mendandani anak perempuannya itu.


“Ini nggak gede, Dir.” Wanita itu masih serius menyanggul rambut, “kamu diam aja. Jangan banyak gerak! Susah mama buat menatanya.”


“Mama sih nggak mau ke salon aja.”


“Ngapain sih ke salon, Ra. Kalau mamamu ini bisa make up-in kamu. Buang-buang uang tahu. Mending uangnya buat kamu kuliah.”


“Tapi jangan kayak acara kartini-an juga. Ini perpisahan, Ma.” Rengek Dira yang pasrah menatap cermin di depannya.


“Iya, iya mama tahu kok.” Winda menyelesaikan jepitan terakhir, “selesai. Boleh tanya Kakakmu. Kalau hari ini kamu cantik banget.”


Adira berdiri dari duduknya. Memutar tubuh dengan menatap cermin, mengecek penampilannya.


“Bagaimana?” tanya Winda sambil tersenyum.


“Cantik, Ma.” Dira memegang kedua pundak ibunya, “makasih ya.” Lalu ia mengecup sebelah pipi Winda sebelum berlalu keluar dari kamar.


“Dira!” geram Winda membersihkan pipinya yang menempel cap bibir Adira.


Gadis itu menghampiri Dimas yang sedang rebahan di sofa sambil menonton kartun favoritnya. Biasa kalau libur kuliah Dimas memang banyak jadi kaum rebahan.


“Kak!” panggilan Adira membuat cowok yang dipanggil itu menoleh, “cantik nggak?”


Dimas yang sedang bermalas-malas ini seketika duduk melihat penampilan Dira yang sangat jauh berbeda.


“Mama pintar juga dandanin lo. Lo yang kelihatan kayak babu bisa seperti princess gini,” ucap Dimas disertai ejekannya untuk sang adik.


“Ih, Kak Dimas! Bacotnya nggak dijaga. Dira itu emang cantik. Tambah pakai make up tambah cantik,” balas Dira yang nggak terima atas hinaan cowok bertubuh kurus itu.


“Cantik ya, Dim?” tanya Winda yang tiba-tiba bergabung.


“Cantik, Ma.” Dimas mengacungkan dua jempolnya, “Mama emang top markotop.”


Winda tersenyum pada Dira.


“Mama aja dipuji. Adiknya sendiri diejekin terus.” Dira memajukan bibirnya, merajuk.


Sedangkan kakaknya itu tertawa puas berhasil menjaili Dira.


“Udah nggak usah manyun. Kamu mau berangkat jam berapa?”


Adira menepuk dahinya, lalu melihat ke jam, “astaga udah kamu setengah delapan. Acaranya jam delapan, Ma. Mampus Dira disuruh kumpul setengah delapan, tapi masih ada di rumah.”


Ia segera masuk ke kamar lagi.


“Ya sudah cepat pergi! Ngapain lagi masuk kamar?” tanya Winda sedikit mengeraskan suaranya.


“Ambil tas dulu, Ma.” Adira keluar kembali dari kamarnya dan bersaliman pada sang ibu.


“Mau Kakak anter?” tawar Dimas.

__ADS_1


“Naik motor?”


“Ya iya, gue ‘kan cuma punya motor. Mau nggak?” tanya Dimas lagi.


“Masa gue yang udah cantik pari purna ini harus naik motor. Yang ada acakan lagi ini rambut.”


“Terus kamu naik apa? Udah mau telat juga?” kali ini Winda yang bertanya.


“Taksi online, Ma. Dira juga udah pesan nih. Dira berangkat ya, bye.”


Adira melambaikan tangannya dan perlahan pergi dengan kebaya modern yang digunakan.



Sekolah begitu ramai dari biasanya. Karena kalau ada acara begini alumni itu suka datang. Makanya jumlah orang yang ada di sekolah meningkat.


“Adira!”


Gadis itu di sambut dengan ketiga teman sekelasnya.


“Kamu cantik banget Dira.” pujian itu berasal dari Kanaya.


“Makasih.” Dira tersenyum manis, “kamu juga cakep kok, Nay.”


”Udah nggak usah saling puji. Ayo gabung ke barisan! Sebentar lagi kita di suruh masuk ke tempat acaranya.” Kali ini ajakan datang dari Violet.


Adira, Kanaya, dan Yara mengangguk. Mereka mengikuti langkah Violet.


Pandangan Adira tertuju pada orang di sebelahnya saat masuk ke barisan.


“Aku udah sembuh, Dir. Lagi pula perpisahan hanya sekali. Aku nggak mau kehilangan moment ini,” jawab Sam disertai senyuman.


“Ya sudah, kalau perlu bantuan bilang aku, ya!”


Sam menganggukan kepalanya, “btw, kamu cantik banget pakai kebaya itu.”


Adira menunduk, memperhatikan pakaiannya. Wajahnya tersipu malu sampai pipi terasa panas.


“Makasih,” katanya dengan wajah melihat ke arah lain.


Sam jadi tertawa tanpa suara melihat Adira yang salah tingkah.


Satu persatu kelas 12 diperkenalkan perkelasnya. Dari IPA 1 sampai ke kelas bahasa serta kesan dari wali kelas yang mengajar mereka terakhir kali.


Tawa dan senyum siswa-siswi yang mendengar kesan dari guru mereka membuat suasana perpisahan itu jadi ramai dan bahagia.


Sekarang semua telah duduk di tempatnya masing-masing. Namun, sebelum sambutan dari kepala sekolah dimulai. Pak Yuhdi mempersilakan dua sampai tiga anak yang ingin menyampaikan kesan selama bersekolah di SMA Nusa Bangsa.


“Saya, Pak!” Dira mengangkat sebelah tangannya.


Abrisam yang duduk di sebelah Adira menoleh pada gadis itu.


“Oh, Adira? Silakan maju ke depan, Nak!” Pak Yuhdi menyuruh gadis itu naik ke atas panggung menggunakan pengeras suaranya.

__ADS_1


Dira tersenyum pada Sam sebelum melangkah ke depan. Ia menerima mikrofon dari Pak Yuhdi dan mulai menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara.


“Pagi teman-teman dan para staff guru. Saya Adira dari kelas 12 IPS 1. Nggak banyak yang akan saya sampaikan cuma mau berbagi pengalaman selama 3 tahun ada di sekolah ini.”


Sam dengan serius memperhatikan ke depan. Begitu juga dengan tiga sahabat perempuan Dira. Mereka begitu antusias melihat gadis itu ada di atas panggung.


“Saya pikir dulu perjalanan masa sekolah itu cukup mematuhi apa yang guru perintahkan, belajar yang rajin, jadi siswi teladan dan lulus dari sini. Nggak kepikiran bakal lebih susah dari itu sampai saya mengenal Abrisam pradipta.”


Sam menoleh ke kanan dan kiri saat banyak mata menatap dirinya. Namun, setelahnya ia tidak pedulikan.


“Orang yang banyak memberi saya pelajaran hidup. Membuka mata kalau kita tidak boleh menilai orang lain dari penampilan luarnya saja. Dia adalah Sam. Makasih Pak Yuhdi sudah memberi saya tugas untuk merubah sikap buruk Sam. Hingga saya tahu tidakkan yang Sam lakukan semuanya punya alasan kuat. Sam tidak seburuk apa yang kalian lihat selama ini. Bahkan bisa dibilang dia lebih baik dari saya. Ia punya hati yang tulus untuk keluarga mau pun orang diluar yang membutuhkannya. Sam, aku tidak pernah menyesal kalau perjalanan masa SMA ini berubah dari yang aku tentukan. Aku bangga bisa mengenalmu.”


Semua orang bertepuk tangan saat Adira mengembalikan mikrofon yang ia pengang ke tangan Pak Yuhdi yang ada tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Karena tidak ada lagi yang ingin maju ke depan untuk menyampaikan kesannya. Pak Yuhdi menyerahkan acara dengan MC yang sebenarnya. Acara pun berjalan dengan kepala sekolah memberikan sambutannya.



“Kamu benaran bangga punya aku?”


Adira terperanjat saat suara yang tidak asing di telinganya mengejutkan.


“Kamu.” Dira mendongak menatap Sam yang sedang berdiri, “kaget aku.”


Sam tertawa pelan dan mengambil posisi duduk di sebleah Adira.


“Aku cariin kamu di kelas. Tahunya malah makan di sini. Mojok sendirian lagi.”


Adira tersenyum sampai giginya terlihat, “enak di sini adem.”


“Kamu belum jawab pertanyaanku.”


Gadis yang asyik mengabiskan nasi kotaknya itu menoleh pada Sam.


“Pertanyaan yang mana?”


“Kamu beneran bangga bisa kenal aku?” tanya Sam lagi sambil memegangi tongkatnya.


Dira berhenti makan dan menghadap ke Sam, “aku nggak pernah bercanda soal itu.” Ia mengedipkan sebelah matanya.


“Genit ya sekarang.” Sam mencubit gemas pipi Dira.


Karena cubitan itu tidak kuat Adira cuma tertawa saja. Kemudian lanjut makan setelah Abrisam melepas tangannya dari pipi.


“Mentang-mentang sudah perpisahan. Pacaran bebas di mana aja.” Celoteh Manha yang bergabung dengan Sam dan Dira di tenda acara. Ia datang bersama Emran.


“Kalian ngapain sih ke sini?” kepala Sam mendongak menatap kedua temannya, “ganggu aja tahu.”


“Yeee, siapa yang mau gangguin kalian pacaran. Gue mau liat musiknya.” Tunjuk Emran pada acara yang masih berlangsung di depan sana.


“Sekalian mau cari cemilan,” tambah Manha lekas berjalan ke depan. Emran ikut menyusulnya.


“Berduaan lagi kita.”

__ADS_1


Adira yang mendengar ucapan Abrisam hanya tersenyum manis dengan mengemut tulang ayam.



__ADS_2