
“Abang... Bang Sam!” Yasmin berlari-lari masuk ke ruang tengah. Di sana ada Abrisam dan Tomi yang sedang kompak bermain playstation.
Sam menoleh sekilas, lalu asyik kembali pada televisi besar di depannya.
“HP Abang bunyi nih. Dari Kak Dira,” ucap Yasmin mengulurkan kedua tangan kecilnya yang memegang ponsel ukuran 5 inci itu ke depan saudara laki-lakinya.
Sam menoleh dan melepas stik playstation yang ada di tangannya. Ia mengambil benda pipih itu dari tangan sang adik.
“Sam angkat telepon dulu ya, Pa. Nanti kita lanjut lagi.” Pemuda itu bergegas pergi. Ia berjalan keluar dari rumahnya.
“Yaah, Sam tanggung ini!” teriakan Tomi tidak diacuhkan cowok itu.
“Main sama Yasmin aja, Pa.” Gadis kecil itu menempati posisi Sam tadi. Ia memegang stik game-nya.
“Mamangnya Yasmin bisa?” tanya Tomi menatap putrinya seperti menggoda.
Yasmin menepuk dadanya pelan, “bisa dong. Udah lulus jadi muridnya abang.”
Tomi tertawa dan mengacak rambut anaknya itu. Ia fokus kembali ke televisi.
“Ayo kita main, tapi pilih game yang mudah saja ya,” ujar Tomi tersenyum sekilas pada Yasmin. Gadis itu menggangguk dan melempar senyum termanisnya.
Abrisam menjatuhkan bokongnya di teras rumah. Sekalian menikmati angin malam yang memang lebih dingin dari biasanya. Cuaca juga agak mendung. Namun, belum ada niat hujan akan turun.
“Halo sayang!” sapa Sam sambil tersenyum.
“Kenapa sih tadi kamu matiin teleponku?” Adira tanpa basa-basi memberikan pertanyaan yang dari sore mengganjal hatinya.
“Oh itu, maaf. Tadi aku harus membantu pembayaran ibunya Tania. Kasihan dia uangnya kurang,” jelas cowok ini dengan tenang.
“Tania lagi. Cewek itu selalu aja ada di dekatmu. Kayaknya benar kata Kanaya, Aku harus waspada sama cewek namanya Tania ini.” Dira mulai membalas dengan nada bicara agak naik.
Sam tertawa pelan, “Aku pernah jelaskan ke kamu bukan? Kalau aku ke Tania itu hanya sekedar teman. Kebetulan dia teman sekelasku dan perlu dibantu.”
“Bukannya kita juga awalnya teman sekelas? Dekat karena tugas yang diberikan guru. Akhirnya Kamu dan Aku jatuh cinta. Bisa jadi ‘kan kalau ini terulang lagi?”
Abrisam bergeming.
__ADS_1
“Aku cuma minta kamu nggak terlalu dekat dengan dia seperti Kamu suruh Aku jaga jarak dengan Gabriel. Jangan cuma Aku yang berjuang, sedangkan kamu memberi jalan pada orang lain untuk masuk ke hatimu.” Suara Adira terdengar tercekat-cekat.
“Kamu nangis?” tanya Sam yang menyadari itu, “jangan menangis Dira karena aku tidak bisa menghapus air matamu.”
Di tempatnya Adira mengusap pipi yang sudah dijatuhi air mata. Segitu cinta dan sayangnya Dira pada kekasihnya. Tidak ingin kehilangan Sam yang sudah bertahun-tahun mengisi hatinya.
“Aku nggak nangis. Tolong yakin Aku kalau Kamu dan papamu itu berbeda!”
“Jadi, ini kamu nuduh Aku bakal mainin cewek? Bakal kayak Papa dulu yang berhubungan dengan banyak cewek? Aku nggak seperti itu Dira!”
“Aku nggak bermaksud menyamaimu dengan Om Tomi, tapi Aku takut itu terjadi.”
Sam berdiri dari duduknya dan berjalan ke sisi yang lain.
“Harus berapa kali aku bilang? Kalau Tania itu hanya temanku. Kita dekat hanya sebagai teman. Berbeda dengan kedekatan kita dulu.”
“Mungkin kamu menganggapnya begitu. Bagaimana dengan Tania? Apa kamu tahu isi hatinya?”
Lelaki ini menghela napasnya dan melihat sekelilingnya sebelum bicara lagi.
“Pegang omonganku. Kalau Aku nggak akan menghianatimu.”
Setelah itu telepon pun mati. Sam menatap layar ponselnya yang sudah berubah menjadi layar walpeper kembali.
“Apaan sih? Tadi nuduh sekarang matiin gitu aja. Susah banget ngertiin cewek.” Sam mengacak rambutnya karena kesal.
•••
Cuaca hari ini cukup sejuk dengan matahari yang tidak menyengat dan angin sayup-sayup melambaikan daun di pepohonan. Kasih tersenyum saat turun dari angkutan kota dan menatap rumah sederhana di depannya.
Akhirnya setelah lima hari dirawat di rumah sakit ibu tunggal satu anak ini diperbolehkan pulang. Tania membimbing sang ibu melewati pagar bobrok yang berkarat itu, lalu melangkah menuju teras rumah.
Kasih menatap pohon-pohon kecil yang ada di sekitar halaman rumahnya. Ia rindu akan suasana ini. Tania membuka dahulu pintu rumahnya. Kemudian menuntun Kasih lagi untuk masuk.
“Ibu kangen banget sama suasana rumah kita. Di rumah sakit begitu membosankan,” ujar Kasih yang kini akan masuk ke kamarnya.
“Makanya ibu sehat-sehat terus ya. Agar kita nggak ke rumah sakit lagi.” Tania membantu Kasih untuk berbaring di kasur.
__ADS_1
“Ibu akan sehat terus, Nak. Ibu nggak mau ngerepotin kamu.” Kasih tersenyum pada putrinya yang sedang menyelimuti tubuhnya, “oh iya, temanmu yang namanya Abrisam itu nggak pernah kelihatan lagi?”
Tania menjatuhkan bokongnya ke pinggir ranjang. Ia duduk berjarak dengan Kasih. Karena penyakit ibunya ini gampang menular.
“Tania juga bingung, Bu. Di kampus Sam jarang kelihatan. Dia kayak jaga jarak sama Tania. Mungkin, sedang sibuk kali ya. Jadi dia nggak ada waktu untuk main sama Tania.”
Kasih mengulurkan tangannya dan menggenggam sebelah tangan Tania yang ada di atas kasur.
“Kamu sedih?”
Gadis itu menggeleng, “nggak, Bu. Untuk apa Tania sedih?”
“Karena anak laki-laki itu menjauhi kamu. Kamu suka sama dia?”
Gadis yang ditanya ini tersenyum malu, “ibu apaan sih? Tania paham Sam nggak mungkin ngejauhin Tania gitu aja. Tania juga nggak ada salah. Mungkin, memang sibuk, Bu.”
Kasih menarik tangannya kembali. Tidur telentang menatap langit-langit kamar yang banyak bercak air hujan itu.
“Sam itu anak yang baik. Dia perhatian sampai mau membayarkan biaya rumah sakit ibu.” Kasih menatap anaknya lagi, “katamu, dia juga sering membantumu ‘kan?”
Tania menganggukkan kepalanya.
“Kalau kamu sama dia. Ibu setuju,” sambung Kasih disertai senyuman.
“Ibu... mana mau Sam sama Tania. Lagi pula Sam itu sudah punya pacar. Pacarnya pintar, sekolah di luar negeri.”
“Kalau Sam nggak ada pacar pasti kamu mau ‘kan?”
Pertanyaan sang ibu membuat Tania membuang muka dan menggigit bibir bawahnya. Pipinya sedikit bersemu merah.
“Tapi nggak mungkin, Bu. Sam sangat mencintai pacarnya. Rasa suka Tania nggak mungkin bisa dibalas Sam. Tania nggak mau ganggu hubungan orang,” ucapnya tanpa menatap Kasih.
Tania menatap ibunya lagi sambil tersenyum, “sudah nggak usah bahas Sam lagi. Ibu makan dulu ya? Tania buatkan.”
Kasih mengangguk dan tersenyum pula. Tania pun bergegas berdiri, lalu melangkah keluar dari kamar ibunya.
“Kasihan kamu, nak. Hidupmu dari kecil sudah susah dan sekarang juga belum bisa mendapatkan kebahagianmu.”
__ADS_1
•••