He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 24


__ADS_3

Adira tersenyum berjalan masuk ke kawasan kampus kekasihnya dengan tangan membawa kotak bekal. Dira sangat bersemangat ingin menghampiri Sam yang katanya ada jam kuliah hari ini.


Di lain tempat Abrisam sedang berjalan dengan Tania memyusuri koridor kampus. Kelas baru saja selesai. Sam memutuskan untuk mendatangi Emran yang juga sedang ada mata kuliah hari. Sedangkan Tania ingin ke koperasi membeli alat tulisnya yang kurang.


“Lo masih kerja di tempat yang sama?” tanya Sam memecah kesunyian antara meraka.


Tania mengangguk, “masih, mau bagaimana lagi. Gaji di sana itu besar bisa mencukupi kebutuhan gue.”


“Ibu lo ‘kan udah nggak ada, memangnya pesiun bokap nggak cukup buat lo aja?”


“Cukup, tapi pas-pasan banget. Kalau ada gaji tambahan gue bisa nabung untuk keperluan mendesak, Sam.”


Mereka berhenti melangkah saat sudah ada di luar gedung fakultas. Tania yang berdiri di sebelah Abrisam masih terdiam.


“Pokoknya selesai kuliah lo harus berhenti kerja di sana! Berbahaya Tania. Lo ini cewek. Nanti bokap gue yang kasih lo kerjaan,” ucap Sam penuh penekanan.


Tania tertawa pelan membuat dahi Sam berkerut, bingung dengan sikap gadis itu.


“Sam!”


Belum sempat Tania membalas lagi ucapan Abrisam seseorang memanggil dan membuat kedua orang yang sedang berbincang itu menoleh.


Garis wajah Adira yang tadinya bahagia berubah sedikit sendu. Berbeda dengan Sam yang melambaikan tangan dan tersenyum melihat kedatangan pacarnya.


“Sini!” Sam mengibaskan tangan untuk memerintahkan Adira mendekat.


Dengan langkah pelan Dira berjalan mendekati Sam dan Tania.


“Tumben kamu ke sini. Ada apa?” tanya Sam menatap Adira berbinar.


Adira tidak menjawab, tetapi memperhatikan Tania yang ada di belakang Sam. Cowok itu menoleh ke belakangnya. Ia mengerti, lalu mengenalkan mereka.


“Ini Tania, Ra. Teman sekelasku.”


Tania tersenyum dan mengulurkan tangannya, “Tania.”


Dira membalas uluran itu walau cuma sekilas, “Adira, pacarnya Sam.”


“Gue udah tahu kok. Pernah lihat lo di HP dan sosmednya Sam. Ternyata lebih cantik aslinya ya. Pantes aja Sam begitu cinta sama lo,” ujar Tania dengan ramah.


“Gue juga udah tahu lo dari Kananya.”


“Kanaya yang sahabat kecil lo itu ya, Sam?” Tania mendongak menatap Sam.


Abrisam mengangguk, “yang waktu itu ke rumah.”


“Kayana bilang kalian dekat. Tolong ya jangan terlalu dekat dengan Sam!” Adira memperingati dengan ketus.

__ADS_1


“Gue sama Sam cuma teman biasa kok. Lo nggak perlu ngawatir.”


Adira mengangguk mengerti. Kemudian ia menarik Sam menjauh dari Tania.


“Ingat ya, jangan pernah dekat sama cewek lain berlebihan,” ujar Dira mengecilkan suaranya.


“Aku sama siapa aja biasa. Kamu tenang aja aku anggap Tania itu udah kayak adik. Apa lagi dia sudah yatim-piatu.”


“Adik?” Sam mengangguk saat Dira menatapnya tajam, “adik-adikan maksud kamu? Emangnya kamu buka yayasan sosial. Harus peduli sama anak yatim-piatu gitu?”


“Kamu kenapa sih nggak pernah percaya? Aku serius nggak punya perasaan apa-apa sama Tania.”


Tania dari jauh masih memperhatikan kedua orang yang berbincang serius itu.


“Apa bedanya dengan kamu yang cemburu sama Gabriel?” Adira balik bertanya.


“Jelas beda. Bukti Gabriel berani menciummu. Kata dia cuma teman, tapi kelakuannya lancang. Aku memukul dia, kamu malah marah.”


Adira melihat ke arah lain, “iya, aku akui kalau Gabriel memang kelewat batas.” Kemudian gadis ini mendongak melihat kekasihnya lagi, “tapi aku cuma nggak mau kehilangan kamu.”


Sam menarik napas panjang. Mengatur emosinya agar tidak meletup-letup.


“Kamu nggak akan kehilangan aku, tapi sikapmu jangan begini terus dong.” Sam melihat ke arah Tania, “coba kenal Tania dulu. Biar kamu tahu orangnya seperti apa.”


Adira melihat Tania tidak suka. Tanpa berbicara apa pun gadis dengan rambut tergerai dan hanya menggunakan jepit di poninya berlalu pergi.


“Adira, kamu mau ke mana?” teriak Abrisam yang tidak digubris oleh Dira. Gadis itu terus berjalan sambil menenteng kotak bekalnya.


“Gue duluan, Tan!”


“Iya, hati-hati Sam. Jangan lupa masih ada kelas setelah ini!” balas Tania dengan berteriak pula.


Pemuda itu bergegas menggunakan helm dan mengendarai motornya untuk mengejar Adira. Ia tidak mau hubungannya terus begini. Dira terlalu takut Sam akan seperti Tomi. Padahal Sam adalah Sam bukan ayahnya.


Abrisam memberhentikan motornya di depan Adira. Gadis itu jadi berhenti melangkah karena jalannya terhadang. Lelaki ini membuka kaca helmnya.


“Jangan ngambek begitu. Maafkan aku. Aku akan mengikuti semua yang kamu mau, tapi jangan marah lagi.”


“Benar?” tanya Adira yang sudah cemberut.


Lelaki yang duduk di atas motornya itu, mengangguk. “benar.” Sam melirik kotak bekal yang kekasihnya itu bawa sejak tadi, “itu apa? Makanan buat aku?”


Adira mengikuti arah tunjuk Abrisam, “iya ini aku buat untuk kamu, tapi aku malah lihat cewek tadi. Jadi, aku tarik lagi bekal makan siang untukmu.”


Dahi Sam berkerut, lalu ia tertawa pelan. Lelaki itu mencubit gemas pipi gadis itu.


“Kalau ngambek tambah gemesin,” ujar Sam diseratai tawa.

__ADS_1


Dira menepis tangan Sam. Wajahnya masih ditekuk.


“Sudah ayo ikut aku!” ajak Abrisam menarik sebelah tangan Adira.


“Mau ke mana?”


“Cari tempat untuk makan bekalmu. Aku ‘kan sudah lama nggak makan masakan kamu. Pasti enak.”


Pujian Sam berhasil membuat kedua bibir Dira tertarik sedikit. Gadis itu tidak menjawab. Namun, tetap naik ke boncengan. Sam memberikan satu helmnya pada Dira.


“Ini helm lamaku?” ujar gadis itu sambil memasang helm ke kepalanya.


“Kamu masih ingat saat pertama membelinya?”


“Aku ingat banget.” Dira melingkarkan kedua tangannya ke perut Sam.


Setelah itu Abrisam melajukan kembali kendaraan roda duanya keluar dari area kampus.


•••


Tania baru saja ingin melanjutkan jalannya menuju koperasi. Namun, panggilan Jodi membuat langkahnya kembali tertunda.


“Ada apa?” tanya Tania pada cowok itu.


“Lihat Sam nggak?”


“Udah pergi sama pacarnya,” jawab Tania apa adanya.


“Hah? Pacarnya, Adira?” Tania mengangguk, “sejak kapan baliknya?”


Gadis yang rambutnya dikuncir kuda ini mengedikkan kedua bahu, “mana gue tahu. Lo tanya aja sendiri!”


“Kok lo sewot gitu sih?”


“Nggak, biasa aja. Kayaknya ini efek laper. Jadi, pengin telen lo.” Tania menatap malas temannya itu.


“Udahlah, mending gue ke kantin sama anak yang lain. Dari pada ngobrol sama lo, galak betul kayak nenek lampir!” Jodi bersorak dan menjauh saat mengucapkan kalimat terakhirnya.


“Sialan lo!” teriak Tania tidak terima, “sini maju kalau berani!”


Bukannya kembali saat ditantang. Jodi berlari terus menjauh dari gadis tomboy itu. Tania menghela napas dan berjalan lagi.


Perasaan memang susah untuk dibohongi. Tania cemburu saat Sam sudah tidak mengutamakan dirinya. Lelaki itu sekarang dan seterusnya mungkin memang menomor satukan pacarnya. Ia harus bisa menerima kepulangan Dira. Semua pasti berubah. Sam, sahabatnya itu perlahan pasti menjauhinya. Tania tidak boleh bergantung pada lelaki itu lagi.


Dengan terus melangkah ke tujuannya. Tania mencoba menetralkan kembali persaannya. Menghilangkan rasa cemburu dan iri walau susah untuk dilakukan.


•••

__ADS_1


NOTE:


Terima kasih untuk semua pembaca setia He is Abrisam 🙏🏻 cerita ini belum berakhir masih panjang cerita cinta Sam dan Dira.


__ADS_2