
“Jadi yang bakar bengkel itu Gabriel?” tanya ulang Adira saat Abrisam menceritakan kejadian kemarin.
Sam berjalan mendekati sang istri dengan membawa segelas susu di tangan.
“Iya, itu ulah dia dan kedua orang suruhannya. Dia sengaja bikin aku bangkrut agar kamu minta pisah dan mau bersama dia.”
“Pantas saja dia juga memecatku dari pekerjaan saat sesudah bengkel terbakar. Mungkin agar hidup kita lebih terpuruk.”
Lelaki ini mengangguk. Ia ikut duduk di dekat Dira. Menggeser gelas susu ke depan istrinya.
“Diminum dulu susunya. Biar si adek dalam perutmu dapat gizi yang cukup.”
Adira meraih gelas susu di depannya. Ia lantas memperhatikan Abrisam yang sedang mengolesi roti dengan selai.
“Kamu sudah nggak alergi bau susu lagi?” tanya Dira yang sadar sindrom Sam tambah pulih.
Pria berkemeja hitam itu menggeleng, “sepertinya sudah sembuh total.”
“Bagus dong. Kalau gitu bisa dong kabulin permintaan aku?”
Sam menghentikan aktivitas, lalu menoleh ke Dira.
“Memang kamu mau minta apa?”
__ADS_1
“Beliin aku batagor bandung.”
“Oh itu sih ngampang. Nanti aku beli sepulang kerja. Satu arah sama jalan pulangku biasanya ada yang jualan batagor keliling.”
“Nggak mau yang itu. Aku mau yang dari Bandung. Asli dari Bandung.”
Abrisam sampai ternganga mendengarnya, “astaga yang. Jakarta-Bandung lumayan loh jaraknya. Belum lagi aku harus kerja dan pulang sore. Batagor di Jakarta sama Bandung sama aja kok. Nanti aku cari deh yang bikin orang sunda asli biar berasa di Bandung.”
“Nggak mau!” Dira merengek dengan menendang-nendang kaki yang ada di bawah meja sampai tertendang kaki Sam, “aku mau yang dari Bandung asli. Ini permintaan anakmu loh!”
“Permintaan bayi kok aneh-aneh saja sih,” gumam pemuda itu.
“Kamu bilang apa?”
Adira tersenyum. Ia mengelus perut sambil berbicara pada anak yang ada di dalam, “Ayah mau beliin kamu batagor sayang. Yang sabar ya nunggunya.”
Sam hanya bisa menghela napas dan melanjutkan lagi sarapan yang sempat tertunda.
•••
Pukul sembilan malam Abrisam baru memasuki kompleks perumahannya. Akibat macet perjalanan Sam sedikit molor. Ia berharap Adira tidak marah karena pesanannya terlalu lama tiba.
Baru saja Sam memarkirkan motor dan melepas helm. Pintu rumah sudah dibukakan oleh sang istri.
__ADS_1
“Sayang, kamu lama amat sih? Anak kita udah nungguin batagornya.
“Maaf, soalnya ketika pulang dari Bandung ke sini itu macet banget.” Sam menjelaskan dengan terus jalan mendekat, “ini pesanan adeknya.”
Pria dengan tampang lelah itu memberikan kantung plastik berisi batagor asli dari Bandung. Dira terlihat senang dengan memeluk Sam dan mengucapkan terim kasih.
Mereka bersama-sama masuk ke rumah. Dira segera duduk dan membuka bungkus makanannya.
“Ambil piring dan sendok dulu dong sayang.” Sam melepas tas, lalu ikut duduk di sofa yang sama.
“Nggak usah.” Dira tersenyum pada Sam, “begini saja cukup.”
Sam memperhatikan Dira yang mengendus-endus aroma dari Batagor yang dibeli suaminya. Makanan itu sudah dingin. Sam tidak yakin kalau aromanya masih menyengat.
“Sudah nih.” Dira meletakkan batagor ke meja, “habisin sama kamu.”
Sam tidak habis pikir ternyata hanya dicium aromanya saja, “nggak di makan?”
“Memang aku pernah bilang untuk di makan?”
Ingin rasanya Sam menenggelamkan diri ke laut segitiga bermuda. Agar menghilang di sana. Abrisam sadar cara Dira mengidam ternyata lebih susah dari caranya sendiri.
Sekarang yang ia lakukan hanya mengelus dada dan berencana akan mengabiskan batagor yang dibeli dari tempat yang jauh itu.
__ADS_1
•••