He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 22


__ADS_3

Adira dan Afraz sudah satu jam duduk di ruang tunggu. Tepatnya di depan UGD. Namun, dokter yang menangani Sam belum juga keluar.


Dira cemas ia terus menggoyangkan kedua kaki dan menatap pintu UGD yang masih tertutup.


“Lo tenang aja Dira.” Afraz menggenggam tangan gadis itu yang ada di atas paha, “gue yakin Sam pasti akan selamat dan sembuh lagi.”


Adira menatap tangannya yang tergenggam sekilas, lalu menariknya dengan pelan agar Afraz tidak tersinggung.


“Bagaimana dengan Sam? Dia nggak apa-apa?”


Kedatangan Kedua ibu tiri Sam, Adik, Manha dan Emran mengejutkan Adira serta Afraz.


Adira lekas berdiri dan mendekati Siska yang bertanya tadi.


“Sam masih ditangani dokter tante.” Mendengar itu Siska menangis.


“Kamu yang menolong Sam?” kali ini Anna yang bertanya.


Adira mengangguk sambil berkaca-kaca, “dibantu sama Afraz juga.” Ia menunjuk cowok yang masih rapi menggunakan seragam sekolah itu.


Afraz tersenyum dan mengangguk pada kedua wanita paruh baya ini.


“Ini semua salah Dira. Harusnya Dira nggak di situ. Mungkin Sam nggak akan tertusuk,” ujar Dira terisak kembali.


Siska menyeka air matanya. Ia yang berdiri di dekat Adira merangkul gadis ini. Wanita itu mengusap perlahan lengan Dira.


“Ini bukan salahmu, Nak.”


“Iya, Dira. Ini musibah bisa menimpa siapa saja. Sekarang sedang terjadi dengan Sam. Kita berdoa aja agar Sam di dalam baik-baik aja,” sambung Anna yang ikut menenangkan.


“Benar kata tante ini, Dir. Ini bukan salah lo, lo ke sana juga mau larang Sam ikut tawuran ‘kan? Harusnya yang disalahkan itu Sam. Ia membahayakan lo. Memang pantas dia berkorban untuk lo,” ucap Afraz.


“Maksud lo apa?” Emran maju dan me*remas kerah baju milik Afraz, “Kami melakukan ini juga ada alasannya.”


“Sudah-sudah, jangan berkelahi!” Anna mencoba melerai, “ini rumah sakit.”


Emran mengalah ia melepas cengkeramannya pada kerah seragam Afraz dan mundur kembali ke tempat awal ia berdiri.


Tiba-tiba dokter keluar dari ruang UGD. Siska dan Anna serta semua orang yang ada di situ maju mendekati dokter.


“Bagimana keadaan Abrisam dokter?” tanya Siska yang tampak khawatir.


“Luka di bawah pundak Abrisam sangat dalam jadi kami terpaksa menjahitnya. Sekarang Abrisam sudah melewati masa kritisnya. Tinggal tunggu ia sadar saja,” jalas dokter panjang lebar.


“Kami sudah boleh menengok Sam dokter?” tanya Anna kali ini.


“Kami pindahkan ke ruang rawat dulu ya ibu. Setelah itu keluarga boleh menengok. Saya permisi dulu.” Setelah menyampaikan itu sang dokter berlalu pergi.

__ADS_1


Adira terdiam di depan pintu kamar Sam saat melihat cowok itu terbaring dengan infus dan selang oksigen di hidungnya.


“Dir.” Afraz menepuk bahu Adira membuat gadis itu menoleh padanya, “kenapa diam aja?”


Adira mengalihkan pandangannya ke ranjang Abrisam kembali. Kedua ibu tiri, Emran dan Anna sudah ada di samping Sam.


“Ayo ke sana! Lo nggak mau liat Sam?” tanya Afraz.


Gadis ini mengangguk, lalu jalan mendekati tempat cowok pembuat onar itu berbaring. Anna memberikan tempat untuk Adira berdiri lebih dekat ke anaknya.


“Sam maafin gue. Lo juga sih ngapain ikut tawuran,” ujar Adira dengan suara bergetar.


Anna merangkul Adira, “jangan khawatir Sam pasti sebentar lagi akan sadar dan sembuh.”


Dira menoleh, lalu menatap Anna. Ia menguntai senyuman.



Adira keluar dari kamar rawat Sam. Ia mengecek ponselnya. Rencananya akan menghubungi Winda. Karena sekarang sudah mulai gelap. Adzan magrib juga sudah berkumandang.


Gadis ini menghela napas saat melihat ponselnya mati, “lowbat lagi.”


“Dira sudah mau pulang?” tanya Anna membuat Adira sedikit tersentak.


“Iya, tante. Takut Mama khawatir. Mana handphone Dira abis baterai.”


“Iya, Dir. Nanti pulang gue anter,” tambah Afraz yang ikut keluar bersama Siska dan Anna.


Adira mengangguk dan tersenyum. Kemudian mereka berempat berjalan ke musala rumah sakit. Sedangkan Emran dan Manha beralasan akan menjaga Sam dulu. Nanti bergantian sholatnya.


Di rumah Winda sudah berjalan bulak-balik mengkhawatirkan anak perempuannya.


“Bagaimana?” tanya Winda bertanya pada Adimas yang sedang berusaha menghubungi ponsel Dira.


“Nggak bisa dihubungi, Ma.”


“Coba terus!”


“Percuma, Ma. Kayaknya ini ponsel Dira nggak aktif,” jawab Dimas yang duduk di sofa.


Winda berhenti melangkah, “ya sudah sekarang kamu cari adikmu! Mama khawatir terjadi apa-apa sama Dira.”


“Mau cari ke mana? Mama jangan ngomong begitu. Harusnya kita doa-in yang baik-baik buat Dira. Oh iya, Dimas telepon Yara sama Vio dulu.”


“Iya, iya coba kamu telepon mereka!"


Sambil menunggu Dimas menghubungi kedua sahabat Dira. Ibu dua anak itu mondar-mandir lagi. Sesekali mengintip dari balik gorden jendela.

__ADS_1


“Kata mereka Dira sudah pulang saat pulang sekolah.”


Winda menoleh ke Dimas, “terus kenapa sampai sekarang belum datang?”


Dimas mengedikkan kedua bahunya, “kata Violet sih, tadi Dira kelihatan buru-buru keluar kelas. Mungkin ini termasuk penyebab Adira pulang telat, Ma.”


“Adira kamu di mana sih?” Winda mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Suara motor terdengar menepi di depan rumah Winda. Dimas menegakkan tubuh dan kepalanya.


“Mungkin itu Dira, Ma.”


Mendengar ucapan anak sulungnya. Winda lekas mengintip jendela terlebih dahulu, lalu membuka pintu.


“Makasih, Fraz.” Adira mengembalikan helm dan tersenyum ke Afraz.


“Sama-sama. Selamat beristirahat. Gue pamit dulu.” Cowok itu mengambil kembali helm miliknya.


Adira mengangguk dan Afraz menghilang bersama motornya.


“Adira cepat ke sini!” teriak Winda.


“******.” Umpat Dira dalam hati.


Adira berjalan takut-takut mendekati Winda. Ia tahu ia salah dan pasti akan mendapat omelan dari ibunya itu.


“Maafin Dira, Ma.” Cewek yang masih mengenakan seragam sekolah ini berhenti berjalan saat sampai di depan mamanya.


“Kamu ke mana aja sih?” Winda langsung menepuk lengan Dira kuat, “Mama khawatir tahu nggak? Lain kali itu kabarin Mama dulu kalau pulangnya telat!”


Dira menatap Winda yang meneteskan air mata. Sakit dari tepukkan tangan Winda tidak seberapa dari sakit melihat mamanya itu menangis.


“Maaf, Ma. Dira nggak akan ulangin lagi. HP Dira baterainya habis jadi nggak bisa kabarin Mama. Teman Dira tertusuk karena menyelamatkan Dira. Jadi, Dira terpaksa nganterin ke rumah sakit dulu,” jelas Dira mengusap air mata di pipi Winda.


“Tapi kamu nggak apa-apa ‘kan?” Winda memeriksa seluruh tubuh anak perempuannya itu.


“Nggak, Ma. Dira baik-baik aja.”


“Syukurlah.” Winda menarik Dira ke dalam pelukannya.


Dimas mendekat dan berhenti di belakang Winda. Tersenyum, melihat kedua wanita yang sangat berarti dalam dirinya ini terlihat manis.


“Ayo masuk dulu! Nggak enak dilihat tetangga,” ucap Dimas.


Winda melepas pelukan dan tertawa kecil sambil menghapus air matanya.


“Ayo masuk!"

__ADS_1



__ADS_2