He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 47


__ADS_3

Sejak kejadian kemarin Abrisam banyak menghindari Adira. Ketika jam istirahat pun ia memilih berkumpul di kelas kedua sahabatnya.


“Oh gitu ceritanya.” Manha mengangguk-angguk saat paham semua yang Sam jelaskan.


“Bukannya kalian sama aja. Awalnya juga lo pura-pura jadiin dia pacar biar nggak betah dekat lo ‘kan,” ucap Emran mengingatkan.


Sam bersandar di dinding, “gue sadar gue juga salah, tapi kalau Dira nggak bersikap manis dan pura-pura juga balas cinta gue. Gue nggak akan terjebak sama perasaan ini.”


“Lo yakin suka Dira setelah ia menjadi manis?” tanya Manha.


Emran menjentikkan jarinya ke arah Manha, “dia benar. Lo suka Dira ketika dia udah berubah?”


Cowok itu terdiam, ia bertanya pada dirinya sendiri. Sebenarnya ia juga nggak mengerti dengan perasaannya sendiri.


“Kalian berdua kok jadi belain dia? Lo berdua itu teman gue atau bukan?” Sam jadi memarahi kedua sahabatnya.


“Gue nggak ada belain siapa-siapa. Cuma mau buka mata lo aja. Kalau lo lebih baik berdamai sama Dira. Karena keputusan lo buat lanjutin perjodohan itu nggak baik Sam,” ujar Emran yang lagi-lagi membuat Sam bingung.


Manha mengangguk membenarkan ucapan Emran. Beberapa orang yang ada di sekitar mereka juga menoleh karena suara Emran agak membentak Sam.


“Lo bilang, nggak suka lagi sama Naya, tapi karena lo lagi marah lo lanjutin perjodohan ini. Lo nggak mikirin perasaan Naya?” lanjut Emran dengan suara yang dikecilkan.


“Berarti Naya jadi pelampiasan. Jangan gitu Sam. Kasihan Naya, dia ‘kan teman lama lo.” Manha menasihati.



Adira duduk lesahan dengan kedua sahabatnya di depan kelas. Banyak juga yang seperti mereka di sekitar situ. Dira membaca bukunya sambil mengunyah snack yang sebelumnya ia beli di kantin.


Tiba-tiba Afraz datang dan duduk di sebelahnya. Adira menoleh dan bergeser sedikit karena Afraz terlalu rapat dengannya.


“Ada apa?”


Afraz menggeleng, “nggak apa-apa. Cuma mau main aja bosen di kelas sendiri.”


Adira mengangguk paham. Ia kembali menunduk membaca bukunya.


“Katanya kamu sama Sam itu pacaran pura-pura ya?” tanya Afraz membuat Adira mendongak kembali.

__ADS_1


“tahu dari mana lo?”


Afraz memajukan bibirnya menunjuk Violet, “dari Vio.” Dira menoleh pada Vio dan kebetulan Vio tersenyum padanya.


“ember,” gumam Dira tidak jelas.


“Hah? Apa?”


Adira menggeleng cepat, “nggak, lo salah dengar kali.”


“Berarti sekarang lo jomblo dong. Pertanyaan gue waktu itu masih berlaku loh. Lo tinggal jawab iya aja.”


Adira menelan ludahnya susah payah. Bel sekolah yang berbunyi nyaring membuatnya lega.


“Udah bel tuh. Sana balik ke kelas lo!” usir Dira pada Afraz yang masih terdiam di sebelahnya.


“Jawab dulu. Lo mau ‘kan jadi pacar gue?”


Mulut Adira terbuka sedikit, tapi suara tidak ia keluar juga. Sam yang mendekati pintu kelas melirik sekilas kepada Dira dan Afraz.


“Sam,” lirih Dira segera berdiri. Berlari mendekati cowok itu dan melupakan Afraz.


“Please, Sam maafin gue. Gue tahu gue salah. Gue nggak akan ngulanginnya lagi. Gue mau kita masih bisa dekat seperti sebelumnya.” Gadis ini terus memohon sampai tidak memerdulikan teman-temannya yang menjadikan mereka pusat perhatian.


“Dira ngapain sih lo mahon-mohon begitu?” tanya Violet yang nada bicaranya sedikit jutek.


“Biarin, lo diem aja! Ini gue emang salah. Orang salah harus minta maaf.” Violet akhirnya menutup mulut.


Berbeda dengan Yara yang cuma memperhatikan tanpa ikut campur. Sedangkan Afraz yang melihat kejadian itu segera pergi.


“Sam gue mohon maafin gue. Kita juga belum putus ‘kan?”


Abrisam menarik tangannya, “kita nggak pernah jadian. Nggak ada yang nembak atau yang menerima. Lebih baik lo jauh-jauh dari gue!”


“Sam...” lirih Adira merasa sedih mendengar perkataan Sam.


“Ada apa ini rame-rame?” tanya pengawas yang baru datang.

__ADS_1


Siswa dan siswi itu memberi jalan dan tidak.mengerubung lagi.


“Nggak ada apa-apa, Pak. Cepat buka pintunya Pak. Saya sudah nggak sabar ingin mengerjakan soal.”


“Wow.” Guru itu melihat Sam dengan terpukau, “tumben sekali kamu.”


Setelah pintu di buka oleh pengawas yang berjaga dijam itu. Sam masuk lebih dulu ke dalam kelas dan setelah itu disusul dengan yang lain. Adira masih merasa sedih karena Sam masih bersikap dingin padanya. Ia jadi rindu hangat dan perhatian Sam dengan dirinya.



Adira menoleh ke kanan dan ke kiri mencari angutan kota untuk pulang. Ia baru saja bermain ke rumah Violet tanpa Yara. Karena temannya yang satu itu sedang ada urusan keluarga. Maka dari itu sehabis ujian selesai ia langsung berpamitan pulang.


Jam menunjukan pukul lima sore. Sedikit susah mencari angkot dijam segitu di daerah ini. Jarang ada kendaraan umum yang lewat.


Adira menghela napasnya, “udah jam segini lagi.” Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan.


“Minta jemput Kak Dimas aja kali ya?” Dira melepas ranselnya dan mengambil handphone yang ada di dalam.


Ia memasang kembali ransel itu ke pundaknya. Setelah itu mencari nomer Dimas di kontak. Adira tidak tahu dari belakang ada seseorang mengawasinya. Wajahnya seram dan pakaiannya seperti pereman.


Baru saja Dira ingin mengklik nomer Dimas ponselnya ditarik oleh orang tadi.


Dira menoleh ke arah pria yang tidak ia kenal itu, “jambret!”


Tidak pikir panjang sambil berteriak terus-menerus Dira mengejar pria itu. Pikirannya sekarang ia harus dapat handphone-nya kembali.


“Woi kembaliin HP gue!” teriak Dira yang terus berlari.


Tidak ada satu orang pun yang menolongnya karena jalanan terlihat sepi. Sedangkan kendaraan yang berlalu lalang terlihat acuh.


Akhirnya ia berhasil mendapatkan ujung jaket denim si penjambret. Namun, pria itu menghempaskan tangan Adira hingga gadis itu tersungkur di aspal.


“Aduh...” ringisnya merasakan siku dan lutut yang perih.


Adira mendongak dan menatap pria menyeramkan di depannya itu menodongkan pisau.


“Kalau lo masih nekat ngejar gue. Gue nggak segan-segan lukain lo!”

__ADS_1


Mata Dira membulat melihat pisau dan mendengar amcaman si penjambret.


__ADS_2