He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 16


__ADS_3

Pemuda berhodie putih dan dilapisi jaket denim kebanggaannya, turun dari bus dengan mengangkat sebuah koper. Ia berdiri di halte, lalu memperhatikan sekitarnya.


Abrisam mengeluarkan handphone-nya dari weist bag yang tergantung di depan dada. Ia mengecek maps dan mencari alamat Adira. Sam tersenyum menatap ponselnya. Lelaki itu menyimpan lagi benda pipih miliknya, kemudian menggeret koper menyeberangi jalan besar.


Ia mendapatkan alamat itu setahun yang lalu dan tidak menyangka akhirnya berguna juga.


Sam terus berjalan hingga bertemu sebuah Apartemen yang ditujunya. Cukup jauh dari halte sampai menghabiskan waktu 10 menit. Ia lekas masuk ke dalam dan di lobby berpapasan dengan seorang laki-laki yang baru saja menuruni anak tangga.


“Excuse me sir. Do you know where Adira's apartment is?” tanya Sam membuat pria yang kira-kira seumuran dengannya itu menatap tajam ke arahnya.


(Permisi, tuan. Apa kamu tahu di mana apartemen Adira?)


“Excuse me sir!” Sam melambaikan tangannya sampai pemuda bule di hadapannya ini sadar.


“Sorry, sorry, can you repeat that again?” tuturnya.


(Maaf, maaf, bisa kamu ulang lagi?)


Sam menghela napas, tetapi ia tetap mengulang pertanyaannya. “Do you know where Adira’s apartment is?”


Lelaki itu mengangguk sekilas. Ia menunjuk ke atas, “you go up to the second floor. Door number 26.”


(kamu naik ke lantai dua. pintu nomor 26.)


Sam menyimak semua apa yang lelaki itu sampaikan padanya. Ia mengangguk setelahnya saat sudah paham.


“Thank you!”


Lelaki yang menjawab pertanyaan Sam ini mengangguk dan melemparkan senyum. Sam melanjutkan langkahnya lagi. Ia mengangkat koper melewati anak tangga yang cukup banyak.


Pemuda bule itu masih memperhatikan Sam sampai ia tidak melihat lagi punggung lelaki itu.


“Sepertinya itu boyfriend, Adira? Sama seperti yang ada di wallpaper handphone-nya.” Gabriel memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam jaket, “dia ingin bertemu Adira?”


Gabriel mencoba menenangkan dirinya. Ia berjalan keluar dari apartemen itu. Hari sudah semakin sore ia harus cepat sampai di rumah.


Senyuman itu terus terpancar dari wajah tampan milik Sam. Tangannya dengan semangat mengetuk pintu. Ia sudah tidak sabar untuk melihat reaksi kekasihnya. Dia sengaja tidak memberi tahu gadis itu.


“Wait!”

__ADS_1


Suara teriakan itu dapat Sam dengar secara langsung lagi sekarang. Sam benar-benar antusias dengan semua ini. Perlahan pintu terbuka dan muncul-lah sosok selama ini yang dirindukan.


“Sam?” betapa terkejutnya Dira hingga tanpa sadar bibirnya membentuk setengah lingkaran.


Adira spontan melompat ke tubuh Abrisam dan melingkarkan tangannya di leher. Cowok itu pun membalas dengan memeluk pinggang pacarnya. Sam tertawa dan memutar tubuhnya beberapa kali sebelum menurunkan Dira kembali.


Dira menurunkan kakinya lagi, lalu memindahkan tangan memeluk pinggang Sam.


“Sam, aku rindu.” Adira menatap tajam kedua mata pacarnya.


Abrisam menunduk untuk melihat Adira yang masih setinggi ketiaknya. “Aku juga rindu sama kamu. Ternyata kamu masih pendek ya.”


“Ih.” Adira memukul lengan lelaki itu hingga dia meringis, “malah ngatain. Nyebelin!”


Sam mengusap lengannya yang terkena tepukan sambil tertawa. Ia juga rindu mengganggu gadis di depannya ini.


“Ayo masuk!” Dira melangkah lebih dulu ke dalam apartemennya. Sam dari belakang mengikuti dengan menyeret koper.


Abrisam memperhatikan apartemen kecil itu. Memang hanya cukup ditinggali dua orang saja. Ukurannya begitu sempit dengan kamarnya saja, mungkin masih besar kamarnya.


Lelaki ini menjatuhkan bokongnya di sofa kecil. Sangat lelah sekali di perjalanan. Tidak lama Adira keluar dari dapur membawakan segelas es teh. Gadis ini meletakkannya di atas meja dan ia duduk di sebelah Sam.


“Diminum dulu! Kamu pasti capek ‘kan?” Adira menatap Sam yang sudah bersandar di sofa, “kamu ke sini kok nggak ada ngabarin aku dulu? Untung nggak nyasar kamu.”


Adira berpikir, makasud cowok yang disebut Sam itu Gabriel atau bukan ya? Untung Gabriel tidak lama-lama mampir ke apartemen. Kalau Sam melihat itu ‘kan bisa kacau.


Cowok ini memperhatikan Dira yang tidak menggubrisnya lagi. Ia memiringkan sedikit kepala. “Kamu lagi mikirin apa?”


Dira tersentak, ia menatap wajah Sam yang tepat di depannya. Gadis ini tersenyum dan menggeleng.


“Nggak ada.” Adira membenarkan posisi duduknya, “Mamaku bagaimana kabarnya?”


Abrisam menarik kepalanya kembali.


“Tante Winda dan Kak Dimas baik. Toko kue Mamamu itu makin dikenal orang. Dengar-dengar Kak Dimas juga sudah kerja.”


“Alhamdulillah, ini juga berkat Om Tomi. Mama punya toko kue impiannya.” Adira tersenyum pada Sam.


“Berkat Tante Winda juga sih. Kuenya enak-enak kalau nggak mana ada yang mau beli.”

__ADS_1


Gadis ini tertawa, “Iya juga.”


Mereka menghabiskan waktu untuk mengobrol dan melepas rindu. Silih berganti melempar tawa. Tidak lepas dengan Sam yang juga sering menjaili Dira.


•••


Adira keluar dari kamarnya membawakan selimut dan bantal ke ruang tamu. Ia meletakkan barang bawaannya ke sofa.


“Kamu tidur di sini aja nggak apa-apa ‘kan Sam?” Dira merasa tidak enak, “soalnya kamar aku kecil. Ranjang cuma muat satu orang. Dari pada tidur di lantai mending tidur di sofa ‘kan?”


Sam tersenyum, “Nggak masalah. Aku di sini aja.” Ia mengambil bantal dan selimut itu.


“Tapi sofanya juga nggak cukup buat ukuran kamu,” ucap Adira terlihat sedih.


Lelaki ini memperhatikan sofa yang ia duduki. Memang ukurannya tidak menampung seluruh tubuhnya. Namun, ia tidak ingin membuat Adira terlalu memikirkan ini. Sam tetap tersenyum. Laki-laki ini berdiri, lalu melangkah mendekati kekasihnya.


“Udah nggak apa-apa.” Sam menangkup pipi yang sedikit chubby itu, “nanti aku muat-muatin.”


Adira yang pipinya tertangkup ini mendongak menatap Sam yang sangat tinggi darinya.


“Kamu kayaknya tambah tinggi. Leherku rasa mau patah kalau terus melihat kamu seperti ini.” Perkataan Adira berhasil membuat Sam tertawa geli.


Cowok ini menurunkan tangannya. Menyelipkan antara ketiak Dira, lalu mengangkat tubuh pacarnya itu. Gadis itu melingkarkan kedua kakinya di pinggang Sam dan memeluk leher pemuda itu.


Sam menggendong Dira di depan tubuhnya. Sekarang wajah mereka sejajar bisa saling pandang.


“Kalau begini lehermu nggak akan patah.”


Adira tersenyum dan mengangguk, “Iya, akhirnya aku bisa dimanja lagi sama kamu.”


Abrisam tersenyum. Dira merapatkan tubuhnya ke Sam dan memeluk leher lelaki itu lebih erat. Sam mengelus-elus punggung Dira yang membuat gadis itu makin nyaman dengannya.


Sam berjalan ke arah kamar Adira. Masuk ke dalamnya dan membaringkan gadis itu ke kasurnya.


“Sekarang kamu istirahat ya!” Sam mengambil selimut yang ada di bawah kaki Dira, lalu menyelimuti gadis itu hingga ke dada. “besok kita jalan-jalan.”


“Taman hiburan?” Dira mengacungkan jari telunjuknya.


Sam tersenyum dan mengangguk. Setelah selesai menyelimuti Dira, cowok ini keluar dari kamar dan tidak lupa menutup pintunya.

__ADS_1


Abrisam menoleh ke belakang. Menatap pintu coklat itu dan tersenyum. Setelahnya ia kembali ke sofa untuk segera beristirahat.


•••


__ADS_2