He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 72


__ADS_3

Adira memperhatikan koridor kelasnya. Ia berharap Sam datang untuk mengikuti ujian akhir ini. Namun, tidak mungkin cowok itu masih berada di rumah sakit.


“Nay, hari ini Sam juga nggak masuk?”


Kanaya menggeleng, “dengar-dengar katanya Sam ujian di rumah sakit. Ada guru yang datang ke sana.”


“Oh...” Adira membulatkan bibirnya, “lo kemarin nggak jenguk dia?”


“Nggak, ada acara, tapi dua hari yang lalu udah. Sam masih susah jalan. Lo udah video call sama dia?”


“Pas lo nyuruh itu udah. Cuma sebentar karena keburu masuk kelas.”


Naya mengangguk-anggukan kepala, “sabar, semoga bisa kayak biasa lagi kalian.”


“Amin.” Dira tersenyum tipis.


“Dir, ayo masuk! Udah ada guru tuh,” teriak Violet yang sedang mencopot sepatunya.


Kanaya dan Adira buru-buru menyusul masuk ke dalam Lab. Komputer.


Sedangkan di tempat lain, Sam juga sedang bersiap-siap dengan laptop yang sudah ada di depannya.


“Kamu sudah belajar, Sam?” tanya guru yang mengawasnya.


“Sudah, Bu.” Cowok yang memakai baju rumah sakit itu tersenyum.


“Ibu salut sama kamu. Udah banyak perubahannya.”


“Ini karena seseorang yang sudah memotifasi saya. Kalau saya juga harus punya nilai bagus walau apa yang saya inginkan nggak bisa saja dapat.” Sam tersenyum lagi, “ternyata sesekali mendengarkan tanggapan orang tentang kita itu perlu juga. Agar kita bisa lebih maju.”


“Boleh juga cara pikirmu.” Guru itu melihat arloji yang melingkar di pergelangannya, “Baiklah, karena sudah jam delapan. Ujian kita mulai.”



Tomi merapikan jasnya dan menarik napas panjang. Ia sedang berdiri di depan pintu rumah Winda. Tinggal mengetuk saja dan pemilik rumah akan membukan pintu. Namun, Tomi masih gugup untuk bertemu Winda.


Ia takut Winda susah untuk memaafkannya, tapi kalau diingat-ingat lagi dia ke situ demi anaknya, Abrisam.


Tok... tok... tok...


“Sebentar!” sorak orang dari dalam.


Pintu pun terbuka dan Tomi menyambut dengan senyuman. Namun, baru sebentar akan ditutup lagi. Pria paruh baya ini segera mengalangi pintu dengan lengan agar Winda tidak bisa menutupnya.


“Win, sebentar Win ada yang mau saya omongin.”


“Buat apa kamu ke sini lagi? Saya ‘kan sudah bilang saya nggak mau bertemu kamu lagi!” wanita itu bersikeras untuk menutup pintunya.


“Saya ke sini hanya ingin meminta maaf, Win. Izinkan Adira bertemu Sam,” ucap Tomi yang terus menahan pintu besar itu.


“Saya nggak akan biarkan Dira bertemu anaknya penipu dan playboy seperti kamu.”

__ADS_1


“Kita bisa bicara baik-baik, Win. Jangan seperti ini!”


“Kamu yang membuat saya seperti ini, Mas.”


“Oke-oke, saya minta maaf. Kasih saya kesempatan untuk menjelaskan ini Win. Setelah itu kalau kamu tetap membenci saya, silakan. Asal kamu tahu anak-anak nggak ada sangkut pautnya sama masalah kita. Mereka nggak harus jadi korban keegoisan kita. Mereka juga berhak bahagia.”


Dorongan Winda pada pintu masuk-keluar rumah itu melemah dan Tomi membuka pintunya dengan gampang sekarang.


Kedua orang itu duduk di sofa ruang tamu. Mereka hanya berdiam dan membisu tidak ada yang memulai untuk bicara lagi. Namun, tidak lama Tomi mencoba mengeluarkan suaranya.


“Maafkan saya Winda. Saya tahu kalau perlakuan saya ini salah besar. Saya sudah membohongimu tentang keluarga saya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya tidak lagi mengajakmu menikah. Karena saya sudah tobat dan akan menjadi kepala rumah tangga yang benar.”


Wanita itu masih terdiam. Tomi masih menunggu jawaban Winda.


“Bagaimana Win? Kamu memaafkan saya ‘kan? Saya tahu ini terlalu susah buatmu.”


“Saya memaafkan kamu, Mas.”


“Kamu serius, Win?”


Winda mengangguk, “tapi dengan syarat kamu nggak mengulanginya. Kesempatan dari saya cuma sekali apabila kamu mengecewakan saya lagi. Nggak ada maaf lagi.”


“Saya janji Win akan benar-benar berubah. Terima kasih kamu sudah memaafkan saya. Sekarang saya lega.”


“Sama-sama, Mas. Tuhan saja mau memaafkan umatnya jika ia bertobat. Masa saya yang hanya manusia biasa nggak mau memaafkan.”


“Kamu baik sekali, Win. Almarhum suamimu beruntung bisa menikah denganmu.”


“Terus bagaimana dengan Sam dan Dira apa mereka boleh bertemu dan pacaran?” Tanya Tomi.


“Saya pikir ucapanmu benar juga, Mas. Mereka nggak salah di sini. Nggak berhak dapet hukuman seperti ini. Tentang mereka saya serahkan kepada anak-anaknya sendiri, Mas.”


Senyum Tomi mengembang “Sam pasti senang mendengar kabar ini.”


Winda ikut tersenyum, “semoga tambah cepat sembuh ya. Saya belum menjenguknya.”


“Tidak apa-apa. Anaknya sudah tambah sehat. Paling beberapa hari lagi dia pulang.”


“Oh iya, saya hampir lupa. Kamu mau minum apa, Mas?”


“Nggak usah repot-repot Win."


Wanita itu lekas berdiri dari duduknya, “nggak repot. Sebentar saya bikinkan kopi dulu.”


“Terima kasih.”


Winda mengangguk dan berjalan masuk ke dapur.



“Assalammulaikum, Dira pulang!” seru seorang gadis yang baru saja membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


“Waalaikumsalam,” jawab Dimas yang melintas masuk ke dapur.


Adira berlari menyusul sang kakak. Ia melihat Dimas yang sedang menuangkan air ke dalam gelas. Penampilan Dimas jadi perhatian utama Dira.


“Tumben rapi benar? Mau kuliah lagi?” tanya Dira.


“Udah pulang kali.” Dimas meneguk air minumnya, “gue mau pergi ke rumah sakit sama Mama. Lo mau ikut nggak?”


“Rumah sakit? Siapa yang sakit?” Dahi gadis itu berkerut.


“Kamu baru pulang? Lama banget, katanya lagi ujian. Ke mana dulu kamu?” Winda yang baru bergabung melontarkan banyak pertanyaan.


“Loh? Mama udah rapi juga.” Bukannya menjawab Dira malah heran dengan penampilan sang ibu.


“Mau ke rumah sakit. Nungguin kamu lama betul.”


“Maaf, Dira belajar bersama di rumah Yara sam Vio juga. Btw, yang sakit siapa sih?”


“Sam sayang. Kita mau jenguk dia.”


Adira terdiam. Sampai menelan air liurnya aja ia susah.


“Ini serius? Dira nggak mimpi?” Dimas mendekat dan menepuk pipi adiknya itu, “auu, Kak Dimas sakit!”


“Sakit ‘kan? Berarti bukan mimpi.” Dimas tertawa pelan.


Dira mengusap-usap sebelah pipinya dan kembali menatap Winda.


“Mama kenapa bolehin Adira ketemu Sam?”


Winda tersenyum, “bukan ketemu saja. Kalian boleh pacaran. Eits, tapi kalau menikah nanti aja kalau udah lulus kuliah.”


"Aaaaa!"


Adira berteriak kencang hingga Dimas menutup sebelah telinganya. Gadis itu berhambur memeluk Winda. Dira begitu bahagia.


Tidak tahu lagi bagaimana mengekspresikan kebahagiaannya sekarang ini. Rasanya hati ini berbunga-bunga, bahkan taman bunga pun kalah.


“Makasih mama. Dira sayang mama.” Adira mengecup sebelah pipi Winda.


“Ya sudah sana mandi dulu! Keburu malam.” Suruh Winda melepas pelukan.


“Siap!” Dira memberi hormat, “tapi mama hutang penjelasan ke Dira.”


“Nanti mama jelaskan di jalan.”


Adira mengangguk. Menoleh pada Dimas dengan senyuman, lalu melangkah menuju kamarnya.


“Adikmu gembira banget.” Winda mendekat pada anak laki-lakinya ini.


“Dimas senang juga liatnya, Ma. Dira yang murung sudah tidak ada.”

__ADS_1



__ADS_2