He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 10


__ADS_3

Tania membayar ojek yang baru saja ia tumpangi. Gadis ini segera berlari ke arah gedung tempatnya berkerja. Keadaan ramai dan musik yang keras sudah biasa ia dapati. Beginilah suasana tempat Tania bekerja.


Ketika menginjakkan kaki masuk ke dalam ruangan dengan lampu warna-warni berkelip-kelip seiring musik yang dimainkan seorang DJ. Tania melihat lelaki memanggilnya dan meminta ia lekas mendekati lelaki itu.


Gadis dengan baju kaus berlapis jaket serta celana denim itu berlari menghampiri. Ia mengatur napasnya saat berhenti di depan lelaki itu.


“Sudah jam berapa ini Tania? Kamu ke mana dulu?” tanya lelaki bertuxedo hitam dengan dasi kupu-kupunya.


“Maaf, Bos. Saya harus urus ibu dulu. Ibu penyakitnya kumat lagi sampai pingsan.”


“Saya nggak peduli. Kamu masih mau bekerja di sini atau nggak? Banyak orang yang menginginkan pekerjaanmu ini.”


“Masih Bos. Saya masih mau banget kerja di sini. Jangan pecat saya! Saya butuh uang,” mohon Tania yang sudah cemas akan nasibnya.


“Baiklah, karena kamu karyawan saya yang banyak penggemarnya. Saya maafkan. Sekarang cepat ganti bajumu! Sudah banyak pengunjung menunggu.”


“Makasih Bos makasih, Bos baik banget.” Tania menggenggam tangan lelaki itu dengan berkali-kali membenturkan ke dahinya.


Pak Bos bernama Dannis ini menarik kasar tangannya, “cepat, jangan buang-buang waktu!”


Tania mengangguk, lalu berlari ke belakang. Ia lekas masuk ke ruangan ganti.


Tangan putih mulus tanpa ditutup lengan baju itu dengan cekatannya meracik segelas minuman beralkohol. Tubuh seksi berbalut dress mini tanpa lengan menjadi pandangan indah bagi pengunjung yang menunggu pesanannya di depan meja bar.


Rambut panjang bergelombang itu juga terkadang menjadi sasaran lelaki untuk diciumi. Beginilah pekerjaan Tania, menjadi seorang bartender di sebuah club malam. Mungkin, kalau hanya sekali lihat orang-orang tidak akan mengenalinya, karena Tania sangat berbeda.


Gadis ini telihat feminim, berbeda sekali dengan Tania di rumah atau di kampus. Ia melakukan ini karena sangat membutuhkan uang. Hanya di sini yang bisa menerimanya bekerja dan siangnya bisa berkuliah.


“Silakan di minum, Tuan.” Tania meletakkan segelas red wine ke atas meja bar.


Laki-laki yang pantas dijadikan ayah oleh Tania, mengelus tangan gadis itu. Ia tersenyum hangat pada Tania. Namun, Tania cepat menarik tangannya. Ia tidak nyaman dipegang-pegang oleh pria asing.


“Kamu pakai parfum apa sih cantik? Saya selalu suka dengan aromamu.”


Tania menunduk dan tidak menatap pria tua di depannya itu. Ia ingin pergi untuk mengerjakan yang lain. Namun, pembicaraan pria ini makin lancang.


“Selain jadi bartender kamu juga melayani pria di kamar?”


Tania menoleh dan menggebrak meja hingga pria tua itu terkejut, “jaga bicara Tuan ya! Belum pernah punya Tuan itu di remas sekuat meremas cucian? Mau coba?”

__ADS_1


Pria itu menelan air liurnya susah payah. Ia berdiri dan membuat Tania menurukan tangannya dari meja.


“Saya ini pengunjung di sini, kamu nggak sopan sama saya. Bagaimana bisa club sebagus ini memperkerjakan gadis seperti kamu?”


“Kalau Bapak sendiri bisa sopan sama saya dan jaga kata-kata Bapak itu. Saya akan bisa lebih sopan dan menghormati Anda.”


Dannis yang sedang mengawasi clubnya tidak sengaja melihat kegaduan itu. Ia cepat melangkah mendekati Bar.


“Kalau kamu nggak mau digoda dan disentuh jangan kerja di sini!” pengunjung itu masih saja marah-marah. Orang lain yang ada di sekitar mereka jadi menonton pertengkaran itu.


“Ada apa ini?” tanya Dannis melihat ke Tania dan Pria tua itu bergantian.


“Anda manager-nya?” Dannis mengangguk, “beri tahu pada pegawai Anda agar sopan ke customer. Saya jadi malas berkunjung lagi ke sini.”


Dannis menunduk-nunduk, “maafkan atas ketidak sopanan bartender Saya, Pak. Saya mohon jangan pindah club, Pak. Saya akan menggeratiskan satu hari ini minuman dan hiburan untuk Bapak sebagai permohonan maaf.”


Pria ini merapihkan jas berwarna biru dongker yang dipakainya, “baiklah, saya maafkan. Saya mau dilayani bartender lain.”


“Terima kasih, Pak.” Dannis menunjuk, “Bapak bisa ke meja di ujung sana.”


Pria tua itu akhirnya pergi. Orang-orang yang menyasikkan juga sudah bubar dan kembali pada kegiatan mereka.


“Maaf, Bos. Habisnya Bapak itu ucapannya nggak sopan. Saya ‘kan bukan wanita penghibur. Saya nggak suka ada orang bilang begitu.”


Manager yang masih tampak muda itu menghela napasnya.


“Kamu sudah buat Saya rugi hari ini. Gajimu saya potong!”


“Bos jangan potong gaji saya! Bos!” teriakan Tania tidak digubris oleh pemuda itu. Dannis terus berjalan menjauh dari bar.


•••


Adira membaca pengumuman di mading ada lomba memasak berpasangan. Satu minggu lagi akan dilaksanakan. Namun, Adira bingung akan mengajak siapa sebagai partner-nya.


Sedangkan di kampus ini teman akrabnya hanya Gabriel. Padahal ia sedang berusaha tidak terlalu dekat dengan cowok itu demi menjaga perasaan Sam.


“Kamu mau ikut lomba ini?”


Suara berat itu mengejutkan Adira. Ia lekas menoleh ke sebelahnya, lalu menghela napas dan mengusap dadanya.

__ADS_1


“Kamu buat kaget aja.”


Gabriel tertawa, “maaf kalau Aku buat kamu terkejut.”


“No problem.” Adira menatap papan yang dipenuhi lembaran pengumuman dan karya seni lain, “Aku memang ingin ikut. Hitung-hitung menguji kemampuan, tapi Aku tidak punya partner.”


“Bagaimana kalau denganku saja?” tawaran Gabriel berhasil membuat Adira menatapnya tajam.


“Kau mau?”


Cowok itu mengangguk cepat, “sangat, Aku sangat ingin menjadi partner-mu di lomba itu. Kita pasti menang.”


Adira tersenyum ragu, “akan kupikirkan dulu. Aku harus meminta persetujuan Sam.”


“Untuk apa? Pacarmu itu pasti setuju. Ini demi karirmu ke depan juga bukan? Lihat!” Gabriel menunjuk hadiah yang diberikan kalau berhasil memenangkan lomba, “kita akan dipromosikan untuk menjadi seorang chef.”


“Hadiahnya memang bagus,” ujar gadis itu menatap pengumuman.


“Ayo kita daftar sekarang. Kamu punya peluang besar akan menjadi chef setelah lulus kuliah.” Gabriel menarik lengan Dira, “sebelum batas pendaftarannya habis.”


Dira menahan tubuhnya, “Aku telepon Sam dulu.”


Gabriel melepas genggaman dipergelangan Adira, “baiklah, silakan kamu telepon dulu.”


Adira mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Ia mencari nomor Abrisam dan menunggu panggilan itu tersambung. Namun, Sam tidak kunjung mengangkatnya. Padahal nomornya tersambung. Dan akhirnya hanya operator yang menjawab.


Gadis ini mencobanya berkali-kali, tapi hasilnya sama saja. Dira melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan sebelah kirinya. Baru pukul setengah dua belas. Ia pikir Sam pasti masih ada kelas jam segini.


“Tidak diangkat.” Adira menyimpan kembali benda pipih itu.


“Kamu bisa menghubungi dia setelah kita mendaftar. Aku yakin dia setuju dengan ini. Bukannya ini bagus untukmu?”


Perkataan Gabriel berputar-putar di kepala Dira. Gadis itu pun mengangguk. Ucapan cowok di depannya ini ada benarnya juga. Mendaftar lebih cepat itu lebih baik.


“Ayo, kita daftar!”


Gabriel tersenyum dan mengangguk. Mereka bersamaan berjalan menuju tempat pendaftaran.


•••

__ADS_1


__ADS_2