He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 42


__ADS_3

Motor berhenti berjalan saat lampu lalu lintas berubah warna menjadi merah. Kendaraan lain juga ikut menunggu lampu lalu lintas berubah hijau.


Sepanjang jalan Adira masih kepikiran keputusan mamanya semalam. Sampai pagi ini aja mamanya masih terlihat cuek dan seperti mengabaikan Dira. Sam yang memperhatikan gadis itu dari spion mencoba bertanya.


“Lo kenapa? Dari tadi gue liatin cemberut aja. Ada masalah?”


Adira menoleh ke Sam, “nggak ada apa-apa.”


“Lo jangan bohong sama gue. Mentang-mentang kita baru deket gue bisa lo bohongin gitu?”


“Iya, iya, gue cerita. Mama nggak ngizinin gue kuliah di luar negeri,” ucap Dira berkata apa adanya.


“Kenapa? Masalah biaya?” tanya Sam.


Adira tidak menjawab lagi karena lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Gadis itu menyuruh Sam segera menjalankan kembali motornya.


“Udah hijau tuh.” Tepuknya pada bahu Abrisam.


“Pegangan! Takut lo jatuh. Gue nggak tanggung jawab.”


“Nggak mau!”teriak Dira karena klakson kendaraan di belakang mereka terus berbunyi, “buruan jalan kita bisa dimarahin orang.”


“Nggak mau sebelum lo peluk pinggang gue.”


Adira berdecak saat lelaki itu tidak memperdulikan orang lain. Ia benar-benar tidak bergerak sedangkan sudah banyak orang yang mengomel di belakang mereka.


“Oke.” Dira mengalah dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sam.


Akhirnya Sam melajukan motornya lagi. Walau sudah dapat caci maki dari pengendara lain.


“Kalau mau pacaran jangan di lampu merah, dek. Selain nggak modal ngegangguk jalanan aja.” Teriak salah satu pengendara yang mengendarai motornya di sebelah Sam. Setelah bicara seperti itu ia melajukan motornya lebih cepat.


Adira memiringkan kepalanya di sebelah kiri bahu Sam, “gara-gara lo noh kita kena omel sama orang-orang.”


“Lo juga salah. Kenapa nggak pegangan aja tadi.”


Karena kesal Dira melepas pelukannya pada pinggang Sam.


“Kok di lepas?” tanya Sam yang berteriak. Suaranya tersapu angin dan tertelan suara kendaraan lain.


Dira tidak menjawab dia hanya diam sampai masuk gerbang sekolah. Gadis yang ada diboncengan itu refleks memeluk Sam saat cowok ini mengerem motornya mendadak.


“Lo sengaja ya?” tanya Adira sambil memukul bahu Sam.

__ADS_1


“Nggak!” Sam menoleh ke belakang denga kaca helm yang terbuka, “gara-gara anak ini nih.” Ia melihat ke depan kembali sambil menunjuk Kanaya.


“Naya?” gumam Adira yang hanya terdengar oleh Abrisam.


“Maafin gue. Tadi nggak fokus jalannya.” Gadis dengan jepit rambut pink itu menunduk-nundukan kepalanya.


“Iya, nggak apa-apa, Nay. Lain kali hati-hati.”


Mendengar ucapan Dira, Sam nggak terima ia langsung mencecar gadis berambut panjang itu.


“Apanya yang nggak apa-apa? Untung aja gue masih bisa ngerem. Kalau nggak bisa ketabrak dia. Terus gue kana tuntut gara-gara nabrak anak orang. Jalan itu pakai mata dong.”


“Sam sudah, lo keterlaluan sekarang.” Dira balik memarahi cowok di depannya itu.


“Sam ada benarnya kok, Dir. Maaf sekali lagi.” Kanaya menepi memberikan jalan. Sam kembali melajukan motornya dengan pelan karena parkiran sudah kelihatan.


Adira turun dari boncengan saat motor dengan warna yang didominasi oranye itu berhenti. Ia melepas helmnya dan mengembalikan pada Sam.


“Lain kali jangan kasar gitulah sama Kanaya. Kasihan, dia kelihatannya gadis yang lembut. Kalian juga dulu punya hubungan yang dekat kan? Jadi, kembalilah seperti dulu.” Sam mendengarkan saja ucapan Adira sambil melepas helmnya.


“Gue aneh deh sama lo. Biasanya cewek lain cemburu kalau pacarnya lebih akrab sama sahabat cewek. Ini malah lo sendiri yang nyuruh gue deket sama Kanaya.”


“Eeee itu...” Dira mengusap-usap tenguknya dan menatap ke sepatu. Tidak lama ia kembali bersikap biasa, “kan cuma teman. Gue bukan cewek cemburuan kali. Terlalu posesif juga nggak bagus ‘kan?”


“Bener sih.” Sam mengangguk-angguk.


Adira mengehela napas, lalu menoleh ke belakang sekilas. Dari jauh ia melihat Kanaya yang baru memasuki koridor.


“Gue duluan ya. Sampai ketemu di kelas sayang.” Kemudian gadis itu berlari meninggalkan Sam yang mematung setelah mendengar kata sayang.


“Dia manggil gue sayang?” jantung cowok itu jadi berdetak tidak karuan, “gue nggak mimpi 'kan?"


“Aw!” Sam merintih saat merasa sakit pada pipinya yang ia tampar sendiri. Sekarang dia yakin ini nyata.



Sedari tadi Kanaya memperhatikan Sam yang sedang membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Ia ingin bertanya apa Sam sudah tahu niat dari ayahnya yang akan menjodohkan mereka. Namun, Naya takut kalau sebenernya Sam belum tahu apa-apa.


“Sam!”


Kanaya memberanikan diri untuk memanggil lelaki yang duduk sendirian di kursinya. Sedangkan di sebelah kosong. Tidak ada yang berani menemani Abrisam.


Cowok itu menoleh, “Apa?” tanyanya sedikit nyolot.

__ADS_1


“Kamu udah tahu?” tanya balik Naya yang menggantung.


Sam mengerutkan dahi dan menarik resleting ranselnya. Ia menoleh ke gadis yang ada di sampingnya.


“Tahu apaan?”


Naya menghela napas, sepertinya Sam belum tahu apa-apa. Sementara masih aman sampai Tomi benar-benar menyampaikan niatnya itu pada sang anak.


“Woi apa? Malah melamun.”


Kanaya tersentak dan kembali ke alam sadarnya. Ia cepat menggeleng, “nggak jadi.”


“Aneh lo!”


“Sam, temenin gue yok!” ajak Adira dari seberang meja.


Cowok itu mengalihkan perhatiannya ke Adira, “ke mana?”


“Udah ikut gue aja dulu. Lo pasti suka,” jawab Adira tersenyum mencurigakan.


Sam mengangguk, lalu bangkit dari duduknya. Ia melangkah mendekati Adira. Naya dari tempat duduknya memperhatikan sepasang kekasih itu.


“Sampai detik ini sebenarnya Aku masih menyukaimu, Sam. Sepertinya kamu nggak. Cintamu udah pindah ke Dira. Ini semua salahku. Kamu berhak memilih ke bahagianmu yang lain. Aku nggak boleh egois.” Naya menggeleng-gelengkan kepala sambil membatin.


“Dia kenapa sih?” tanya Violet yang berdiri di samping mejanya tidak sengaja melihat Naya.


Yara yang sedang duduk, berdiri dan keluar dari mejanya.


“Dia siapa?”


“Tuh.” Violet memunjuk dengan memajukan bbibirnya, “tadi gue liat geleng-geleng sendiri.


Yara mengedikkan bahunya, tanda ia juga tidak tahu.


“Mungkin lagi ada yang dipikirin. Sudah ayo!”


Yara dan Violet yang sudah baikkan itu berjalan keluar kelas untuk ke kantin. Untung saja saat Yara dan Dira meminta maaf padanya Violet lekas memaafkan. Walau sampai sekarang gadis ini masih menuntut jawaban dari Dira. Mengapa ia mau jadi pacar Sam?



A/N


yaampun gue minta di vote sama kalian dong buat cerita ini 😭 butuh penyemangat gaes. Like dan komennya juga ya.

__ADS_1


makasih udah baca cerita gue yang masih dalam tahap belajar ini.


__ADS_2