He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 8


__ADS_3

Kanaya menggigit bibir bawahnya, “lagi pada sibuk ya?”


Gadis ini juga memperhatikan meja yang berantakkan dengan beberapa kabel dan mesin. Gadis ini juga tidak mengerti.


“Lumayan, Nay. Udah lama nggak mampir. Sini duduk!” ajak Sam mengibaskan tangannya, menyuruh Kanaya untuk mendekatinya.


Naya berjalan ke dekat Sam. Mengambil posisi duduk di tengah-tengah Sam dan Tania. Karena sempit Tania bergeser sedikit.


“Aku banyak tugas, Sam.” Naya menunjuk barang-barang di depannya, “ini kalian ngerjain tugas juga ya?”


“Iya, ini tugas kelompok.” Abrisam menggeser bokongnya dan menatap Naya, “pantesan lo jarang ke sini. Gimana kuliahnya?”


Abrisam dan Kanaya memang jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Mereka juga berbeda kampus tambah sulit untuk menyamai waktu luang.


“Bagus, tapi pusing ngerjain tugas. Ini teman-temanmu?” Kanaya menunjuk Tania dan Jodi.


“Kenalin Jodi Sayudi.” Jodi mengulurkan tangannya ke depan Kanaya.


Kanaya tertawa pelan, “Kanaya. Namanya lucu.”


Gadis ini membalas uluran tangan cowok di depannya itu.


“Selain lucu, saya juga masih jomblo, neng.” Kanaya tertawa lagi dengan ucapan Jodi. Menurutnya Jodi ini sangat lucu.


“Malah promosi. Sudah-sudah, lama amat salamannya.” Abrisam memisahkan tangan Jodi dan Naya.


“Teman kamu yang satu ini benaran lucu,” ujar Kanaya pada Abrisam.


“Jangan kebanyakan di puji, Nay. Liat tuh jidatnya tambah lebar.”


Jodi refleks menyentuh jidatnya, lalu mengerutkan bibir. Sam hanya tertawa saja sehabis mengolok temannya.


“Ini siapa?” Kanaya merubah posisi duduknya menatap Tania yang sedari tadi ia punggungi.


“Tania, teman satu kelas Sam.” Naya dan Tania berjabat tangan.


“Oh... Aku Kanaya, sahabat Sam dari SMP.” Naya menarik tangannya kembali.


Tania mengangguk, “udah lama juga sahabatannya ya.”


“Iya, lumayan. Selain sahabatan sama Sam. Aku juga sahabatnya Dira, pacar Sam. Aku nggak suka sama orang yang mengangguk hubungan kedua sahabatku.”


Dahi Tania berkerut saat mendengar kalimat terakhir dari Kanaya.


“Gue tahu kok Sam punya pacar. Lo tenang aja gue nggak akan mengganggu hubungan sahabat lo,” jawan Tania yang tahu kalau Kanaya menyindirnya.


“Maaf ya, Tan.” Sam menyikut lengan Naya dan membuat gadis itu menoleh padanya, “lo ngomongnya kok gitu?” bisik Sam.


“Biarin, Aku nggak mau liat Dira sedih.” Naya menjawabnya tanpa berbisik.

__ADS_1


Gadis berambut panjang dan menggunakan jepitan di poninya itu bicara kembali dengan kedua mata memandang Tania.


“Bagus deh kalau kamu mengerti,” ucap Kanaya dengan tersenyum manis.


“Aku mau ke tempat Bunda dulu ya.” Naya menepuk paha Sam, lalu berdiri dan berlari masuk lebih dalam.


Sam tersenyum pada Tania saat sepasang mata mereka bertemu, “sorry ya, Naya memang begitu dari gue sama Adira pacaran. Protektif banget.”


Tania tersenyum, “nggak apa-apa Sam. Gue paham kok ketakutannya dia.”


“Lo kok bisa sih deket sama cewek-cewek cantik begitu?” Pertanyaan Jodi membuat Sam mengalihkan perhatiannya, “kasih gue satu yang kayak gitu. Itu Naya masih jomblo nggak?”


“Kayaknya sih jomblo. Lo yakin dia mau sama lo?”


“Yakin dong.” Jodi mengusap rambutnya yang hanya sedikit itu, “gue ‘kan tampan.”


“Najis!” umpat Tania diiringi tawanya.


•••


“Bun!” panggil Kanaya yang berdiri di sebelah Siska sambil menggerak-gerakan sebelah kakinya.


“Iya, Naya. Ada apa?” tanya Siska lembut dengan sibuk memotong kacang panjang.


Naya menoleh pada Siska yang sedang memasak untuk makan malam itu.


“Teman Sam yang cewek itu sering ke sini ya?” tanya balik Kanaya.


“Maksudnya Tania?” Siska menatap Naya. Gadis yang seumuran dengan putranya ini hanya mengangguk, “nggak sering juga. Ada beberapa kali ke sini. Memangnya ada apa?”


“Mereka memang dekat banget?” bukannya menjawa Kanaya masih terus bertanya.


Siska yang kembali sibuk dengan bahan-bahan dapurnya ini menjawab tanpa melihat Naya, “kamu ini nanya terus kayak wartawan. Sebenarnya ada apa?”


Wanita ini menyimpan pisaunya dan memasukan sayuran yang sudah terpotong ke baskom kecil. Ia melihat ke arah Kanaya untuk mendengar jawaban gadis itu.


“Cuma nanya aja, Bun. Naya nggak mau Sam dirusak hubungannya dengan Dira gara-gara itu cewek.”


“Setahu Bunda, Tania anak yang baik. Sopan dan ramah. Sepertinya juga dia hanya sekedar berteman dengan Sam. Kamu nggak boleh suuzonan gitu sama orang. Nggak baik!”


“Maaf, Bun. Naya cuma mau mastiin.” Gadis ini memainkan jari-jari tangannya.


Siska berjalan ke dekat wastafel dengan membawa sayurannya.


“Kamu mau minum apa?” Siska sekilas menoleh ke belakang.


“Naya bikin sendiri aja deh,” jawabnya lekas mengambil gelas dan sendok.


Tidak terasa hari semakin sore. Tania dan Jodi berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


“Sampai ke temu besok di kampus, Bro.” Sam dan Jodi berjabat tangan ala lelaki.


“Iya, lo hati-hati bawa motornya! Bonceng cewek lagi,” ujar Sam dengan menunjuk Tania yang berdiri di sebelah Jodi.


“Halah, cewek jadi-jadian ini,” balas Jodi dan mendapat tabokkan dari gadis di sebelahnya, “sakit, Tan.”


“Bodo amat,” ucap Tania tidak peduli. Sedangkan Sam tertawa melihat kejadian yang begitu cepat itu.


Dari dalam Kanaya datang membawa segelas es teh yang tinggal setengah. Gadis itu langsung berbaur.


“Pada mau pulang ya?” tanya Kanaya membuat Jodi menatapnya seperti ingin menerkam.


“Iya, Nay. Ada pulpen nggak Nay?” tanya Jodi membuat Naya dan yang lainnya bingung.


“Untuk apa? Aku nggak punya pulpen. Ada sih di rumah,” jawab Naya apa adanya.


“Kalau pulpen nggak punya. Nomor whatsapp punya dong?” pertanyaan Jodi yang terakhir membuat Tania dan Sam bersorak.


“Modus lo!” Sam mengusap wajah Jodi.


Kanaya tertawa melihat kelakuan mereka.


“Udah ayo pulang!” Tania menarik tangan Jodi, “makin nggak beres lo kalau kelamaan di sini.”


“Dah...” Sam melambaikan tangannya. Dengan polosnya Naya juga ikut melambai.


“Tapi gue belum dapat nomer dia.” Jodi masih berusaha untuk balik kembali. Namun, Tania terus mendesaknya untuk pulang.


“Cepat! Pulang aja kita.”


Kanaya masih saja tertawa walau teman-teman Abrisam sudah tidak tampak lagi batang hidungnya.


“Woi, jangan ketawa terus! Lo nggak pulang?”


Naya berhenti tertawa dan menoleh pada Sam, “memangnya ini jam berapa?”


Sam melirik jam tangan yang ada di pergelangannya.


“Udah jam lima.”


“Hah?” Naya terkejut. Ia buru-buru menghabiskan es tehnya, “Aku harus pulang. Kata Bunda, nggak boleh pulang kemalaman.”


“Ya sudah, hati-hati,” pesan Sam.


Gadis ini memberikan gelasnya pada Abrisam, “titip ya. Bawa ke dalam!”


Sam melihat ke arah gelas itu. Dengan pasrah ia memegang saja gelas yang diberikan sahabat perempuannya ini.


“Bunda... Naya pamit pulang dulu!” teriak Kanaya agar terdengar oleh Siska yang ada di dalam rumah.

__ADS_1


Kemudian gadis berambut panjang yang tergerai itu berlari menghampiri sepedanya, lalu lekas meninggalkan kediaman Pradipta.


•••


__ADS_2