He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 21


__ADS_3

Bel rumah sedari tadi berbunyi. Anna yang menggendong anaknya berusia 8 bulan itu buru-buru mendekati pintu.


“Iya, sebentar!”


Pintu besar itu terbuka dan nampaklah Abrisam berserta kopernya. Lelaki ini terlihat letih karena terlalu lama di perjalanan.


“Sam!” seru Anna tersenyum lebar, “kamu cepat sekali pulangnya?”


Sam tidak menjawab. Ia mengambil sebelah tangan Anna dan mencium punggung tangan wanita itu.


“Sam capek, Ma. Besok aja ya ceritanya.” Pemuda ini menggeret kopernya ke dalam rumah besar yang sudah ia tinggalkan beberapa hari.


Ketika melewati ruang tengah Abrisam berpapasan dengan Tomi, Siska dan Yasmin yang sedang berkumpul.


Tomi sedikit terkejut atas kedatangan anaknya, “Sam, kamu cepat sekali kembali? Katanya mau di sana sampai 2 minggu?”


“Nggak, Pi. Sam berubah pikiran.” Anak lelaki ini menguntai senyum, “Sam istirahat dulu ya.”


“Abang oleh-oleh untuk Yasmin nggak ada?” celetuk Yasmin di antara kebingungan orang tuanya.


“Maaf ya, Dek. Abang nggak bawa oleh-oleh.” Setelah menjawab pertanyaan sang adik. Abrisam mengangkat kopernya menaiki anak tangga menuju kamarnya.


“Yaah, padahal waktu itu Abang bilang akan bawa oleh-oleh untuk Yasmin,” keluh Yasmin dan wajah berubah sendu.


“Mungkin, abang terlalu sibuk sayang. Jadi, nggak sempat beliin oleh-oleh untuk Yasmin.” Siska mengusap-usap punggung putrinya.


“Sepertinya Sam lagi ada masalah, Mas.” Anna yang sudah ada di ruangan yang sama bicara pada suaminya.


Tomi yang memperhatikan putranya itu mengangguk, “saya pikir juga begitu. Sam saat pergi berbeda sekali dengan Sam yang sudah kembali ke rumah ini.”


“Mungkin ada masalah sama Dira, Mas.”


Anna dan Tomi bersamaan menoleh ke Siska. Mereka juga berpikir yang sama dengan wanita berhijab ini.


•••


Dari dalam toko kue Sam termenung dengan memperhatikan kendaraan yang berlalu-lalang. Tangannya tidak berhenti mengaduk minuman dingin yang esnya pun sudah mencair.


“Kenapa kamu cepat sekali pulang?” Winda datang dengan membawa nampan berisi cake pesanan Sam. Wanita itu meletakkan red velvet cake ke depan pacar anaknya, “kalian ada masalah di sana?”


Wanita paruh baya ini menarik kursi di depan anak lelaki itu. Kemudian ikut duduk. Beberapa pertanyaan ia lontar ‘kan kembali.


“Masalah apa sampai kamu memutuskan cepat pulang?”


Abrisam menatap Winda yang ada di hadapannya.


“Ada masalah sedikit, Te.”


“Apa itu? Coba ceritakan ke Tante!”


“Kemarin lusa Sam terpaksa memukuli teman laki-laki, Dira.” Winda yang mendengar mengeryitkan wajah, “dia nggak sopan sama Dira. Masa dia tiba-tiba nyium Dira sih, Te? Sam aja yang pacarnya nggak pernah.”


“Segitunya?” lelaki itu mengangguk, “lalu Dira marah sama tamannya itu?”


Sam menggelengkan kepala, “dia marah sama Sam. Karena sudah memukuli temannya. Nggak abis pikir sama Dira tinggal 2 tahun di sana aja udah berubah cara pergaulannya.”


“Kamu yang sabar. Nanti Tante coba bantu tegur dia. Lalu bagaimana reaksinya saat kamu mau pulang?”


Sam menurunkan tangannya yang sedari tadi memegang gelas. “Dira sempat minta maaf sama Sam dan juga melarang Sam buat pulang, tapi Sam tetap memutuskan untuk pergi dari sana.”

__ADS_1


“Maaf Sam, putri Tante sudah mengecewakanmu.”


Bagaimanapun Winda tidak enak dengan Abrisam serta keluarganya. Apa lagi semua usaha yang Winda dapatkan sekarang adalah pemberian Tomi, ayah kandung Abrisam.


Pemuda itu tersenyum, “Tante nggak perlu minta maaf. Sam dan Dira juga udah berbaikan. Cuma Sam masih butuh waktu untuk nggak diganggu Dira.”


Winda mengembuskan napas berat. Mau bagaimana lagi, Sam sudah membuat keputusan. Yang bisa Winda lakukan mendoakan mereka agar terus bersama.


Dulu Winda memang kurang suka dengan Sam. Dia terlihat nakal dan arogan. Namun, berbeda dengan sekarang. Sam yang ia kenal sudah berubah menjadi lebih baik. Ia rasa cocok sekali menjadi pasangan putrinya.


“Wei, Bro!” tiba-tiba Dimas yang baru datang memasuki toko menyapa Abrisam, “gimana liburannya? Adik gue di sana bagaimana keadaannya. Kangen-kangenan dong kalian?”


Sam membiarkan pundaknya dirangkul Dimas. Ia sampai bingung harus menjawab yang mana duluan.


“Lo nanya satu-satu dong, Kak.” Dimas tertawa pelan mendengar protes dari Sam.


“Tante tinggal dulu ya, Sam.” Winda berdiri dan mengambil napannya yang ada di atas meja.


“Ma, bikinin minum dong,” ucap Dimas menduduki kursi bekas ibunya.


“Bikin aja sendiri! Mama masih repot di belakang.” Winda menunjuk pengunjung, “lihat! Banyak orang.”


Dimas memperhatikan sekeliling toko kue kecil milik sang ibu. Setelah itu Winda melangkah pergi.


“Nih, minum aja dulu punya gue.” Sam menggeser gelas miliknya ke depan Dimas.


“Nggak usah.” Dimas mengembalikan gelas itu pada Sam, “sampai mana tadi? Ayo cerita dong!”


“Dira di Australi baik, Kak. Dia sehat dan rambutnya makin panjang. Lebih manis sekarang.”


“Cielah, udah kebayang pasti kalian di sana pacaran aja kerjanya ‘kan?” Sam tidak menjawab lelaki itu malah tertawa geli.


“Terus jalan-jalan ke mana aja sama adik gue?” Dimas menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Sedetik itu juga Dimas kembali duduk dengan tegak. Merapatkan perutnya pada pinggiran meja.


“Ngapain kalian jalan-jalan ke kantor polisi?"


Sam tersenyum miris sambil menyantap potongan cake-nya. Ia mengunyah kue sebelum menjawab pertanyaan kakak dari pacarnya itu.


Kemudian Sam menjelaskan apa yang sebelumnya ia jelaskan pada Winda. Dimas terkejut mendengar itu. Adik manisnya berubah secepat itu.


“Lo yang sabar, Bro.” Dimas menepuk beberapa kali lengan Sam, “adik gue itu cinta banget sama lo. Dia nggak mungkin milih cowok lain. Gue jamin.”


Sam mengangguk. Handphone yang ada di saku celana pemuda ini bergetar. Ia cepat mengeluarkannya dan memeriksa pesan singkat yang masuk. Setelah berkutik dengan ponselnya itu Sam berdiri, lalu menyimpan ponsel kembali.


“Gue pergi dulu ya, Kak.” Sam mengeluarkan selembar uang ratusan dari dompet.


Dimas mendongak menatap pemuda itu. “mau ke mana lo? Baru ngobrol dikit.”


“Ada janji sama teman-teman. Udah lama nggak bertemu mereka.” Sam meletakkan uangnya di meja, “titip untuk Tante Winda.”


“Halah, baru nggak bertemu beberapa hari doang kalian. Kayak nggak bertemu sebulan.”


Sam tersenyum, “Tante, Sam pamit!” teriak lelaki itu membuat pengunjung lain menoleh padanya.


Ia menepuk pundak Dimas sebanyak dua kali, lalu melangkah pergi keluar dari toko.


•••

__ADS_1


Adira berjalan cepat menyusuri taman kota. Matanya menyapu seluruh taman untuk mencari sosok yang ingin ia temui.


Iris hitam milik gadis ini berhenti di arah air mancur yang menjadi titik pusat taman. Ia lekas berjalan ke sana.


“Gabriel!”


Pemuda yang sedang duduk di tepi kolam dan bermain air dengan seorang anak kecil itu, menoleh. Ia lantas berdiri melihat orang yang dia tunggu telah datang.


“Hi Adira! Ada apa kamu ingin bertemu denganku?”


Luka dan lebam di wajah lelaki itu tampak sudah memudar. Karena kejadian beberapa hari lalu Dira dan Gabriel baru ini bertemu lagi. Gadis ini ingin menanyakan alasan Gabriel tiba-tiba menciumnya.


“Ada yang ingin aku bicarakan. Kita cari tempat duduk.”


“Oh ya, ayo!”


Pemuda itu berjalan lebih dulu ke arah kursi yang tidak jauh diletakkan. Adira mengekorinya saja tanpa banyak bicara.


“Kamu mau bicara apa?”


Dira menarik napas panjang sebelum memulai semuanya. Ia yang duduk di sebelah lelaki itu mencoba menatapnya.


“Mengapa kamu menciumku di perpustakaan?”


Gabriel terlihat terkejut saat mengetahui pertanyaan teman sekelasnya ini. Ia juga tampak gugup dan salah tingkah.


“Kenapa? Ayo jawab!”


“Kamu benar mau tahu jawabannya?”


“Aku ke sini memang untuk mengetahui itu.”


“I love you.”


Jawabannya memang singkat, hanya tiga kata, tetapi berhasil membuat Adira mematung.


“Alasan dari semua itu karena aku cinta kamu.” Gabriel menyerongkan duduk. Ia genggam kedua tangan Dira, “aku tidak ingin kamu pergi dari kota ini.”


Adira menarik tanganya yang tergenggam. Ia menatap ke kolam air mancur. Masih seperti mimpi rasanya semua ini.


“Aku sudah punya kekasih, El. Kau tidak seharusnya menyukaiku!” Adira menghela napas, “aku pikir pertemanan kita ini murni. Kamu sudah mengecewakan aku.”


Gabriel menggeser duduknya lebih dekat ke Adira. “maafkan aku, perasaan ini datang begitu saja. Aku sangat cemburu saat Sam ada di sini. Aku pikir itu bisa mengusir dia dari tempat ini.”


Gadis itu menoleh dan menatap cowok bule ini sambil menggelengkan kepala, tampak tidak percaya atas pemikiran dan tindakan Gabriel.


“Kamu berhasil membuat dia pergi dan juga marah kepadaku. Aku menyesal terlalu membelamu. Gara-gara kejadian itu Sam marah kepadaku.”


“Maafkan aku, Dira!”


Dira menggeser duduknya, “sudahlah, aku tidak ingin bertemu kamu lagi. Sebelum kamu menghilangkan perasaan itu.”


“Adira jangan begitu!”


Dira berdiri, memegang tali sling bag-nya, lalu menatap ke depan.


“Aku pulang dulu.”


Gabriel lekas berdiri. Menatap Dira yang bersiap pergi.

__ADS_1


“Adira!” teriakan Gabriel tidak gadis ini hiraukan. Ia terus berjalan menuju luar taman.


•••


__ADS_2