He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 19


__ADS_3

Adira memiringkan sedikit kepalanya untuk menatap wajah Abrisam. Cowok itu nampak tegang dengan mata memperhatikan ke depan. Sedangkan Gabriel, cowok itu lagi bersiap-siap untuk bermain. Mereka sudah sampai di atas tebing tinggi.


Gadis itu jadi teringat betapa takutnya Sam saat naik bianglala. Tidak mungkin kalau dia harus bermain ini. Ini terlalu ekstrim buat lelaki itu. Bagaimana kalau dia pingsan atau terjadi hal yang tidak diinginkan? Dira tidak bisa diam begitu saja.


“Udah ayo turun aja!” Dira menarik sebelah lengan Sam.


“Tapi?” belum sempat gadis itu menjawab pertanyaan Sam, Gabriel sudah menyambar duluan.


“Tidak jadi lompatnya?” tanya lelaki yang sedang memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.


Adira melemaskan pegangannya di lengan Sam. Ia menatap kesal ke cowok bule ini.


“Aku marah ya sama kamu! Kamu ‘kan tahu kalau Sam takut ketinggian, kenapa malah diajak main jumping point?” pertanyaan yang keluar dari mulut Dira cukup tinggi volumenya.


Gabriel mengedikkan kedua bahunya, “aku tidak tahu. Maaf, sepertinya aku lupa.”


Dira mendengus dan menarik kembali lengan pacarnya. “Ayo kita turun aja!”


Sebelum mengikuti Adira, Sam menoleh ke Gabriel, lalu berjalan pergi. Pasrah saat tangannya ditarik gadis itu.


Abrisam sih senang, karena ini Adira jadi bertengkar dengan Gabriel. Dia jadi tidak khawatir Dira tak akan selalu dengan teman laki-lakinya itu.


Adira yang memainkan pasir di pinggir pantai ini melihat ke arah Sam yang duduk tidak jauh dari tempatnya bermain.


“Kenapa senyum-senyum begitu?” tanya Dira dengan suara agak dikeraskan, karena terlalu banyak orang di pantai itu.


“Senang aja memandangi ciptaan tuhan yang paling cantik.”


Adira merauk pasir di depannya, “Gombal!” ia melemparkan ke arah Sam.


Pasir berhasil menggenai Sam dan masuk ke mata lelaki itu. “Aduh, Dira!” Sam berteriak sambil mengucek mata yang kemasukan butiran pasir.


“Sorry-sorry, Sam.” Adira bangkit dan lekas mendekati pacarnya itu, “mana-mana coba aku liat.”


Sam memdekatkan wajahnya. Memberi izin untuk Adira membantu membersihkan kotoran yang masuk pada matanya itu. Selagi Dira meniup mata Sam, Gabriel datang dan membuat gadis itu menekuk mukanya.


“Dira sorry.”


Adira mendongak. Mengetahui siapa yang berbicara di dekatnya ia lantas berdiri. Sam pun ikut berdiri.


“Maaf Sam, aku lupa kalau kamu takut ketinggian padahal Dira sudah banyak bercerita tentangmu.”


Sam tidak langsung mengiyakan begitu cepat. Ia memperhatikan saja untuk meyakinkan dirinya sendiri lelaki itu ikhlas atau tidak meminta maaf padanya.

__ADS_1


“Perbuatanmu itu ceroboh. Bagaimana kalau Sam kenapa-napa setelah main itu?” tanya Adira yang masih tampak emosi.


“Iya aku paham. Sekarang aku menyesal.”


“Aku tergantung Sam saja.” Dira menyerahkannya pada Abrisam.


Sam tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Gabriel untuk beberapa kali. “Udah gue maafkan, Bro. Nggak masalah.”


Gabriel pun ikut tersenyum, “Terima kasih.”


Abrisam mengangguk saja.


•••


Sekarang mereka bertiga ada di sebuah restoran di dekat pantai. Ketiganya sedang menyantap makan siang dengan berbincang ringan.


“Besok kita ke perpustakaan kota bagaimana?” usul Gabriel.


Adira menelan makanan yang ada di mulutnya, lalu menjawab, “maaf, El. Sepertinya aku nggak bisa. Selama Sam di sini aku mau fokus dulu padanya. Lain kali kita mengerjakan tugas bersama.”


Sam menoleh, “nggak apa-apa kali kalau kalian mau ngerjain tugas, tapi aku ikut ya.”


“Kamu serius, Sam? Bukannya kamu nggak suka perpustakaan?” Dira meyakinkan cowok yang sedang menyeruput minumannya itu.


“Kamu udah nggak sabar pengen aku pulang?” tanya Adira lagi.


Cowok tinggi ini mengangguk, “banget. Kalau bisa pulang sekarang, aku udah ajak kamu pulang dari tadi. Bahkan kemarin.”


Adira tertawa mendengar penuturan kekasihnya. Sedangkan Gabriel memperhatikan dengan pikiran yang terus bekerja.


“aku tidak mau kamu pulang!” ujar Gabriel di dalam hatinya.


“El, kamu melamun?” Adira yang merasa dari tadi di tatap temannya itu bersuara dan menggoyangkan sebelah tangan di depan wajah Gabriel.


Cowok ini tersadar, lalu menggeleng. Ia melanjutkan menghabiskan makanannya yang tinggal setengah porsi.


•••


Setelah bersenang-senang di pantai keesokan harinya ketiga remaja ini sudah ada di perpustakaan kota. Jaraknya dari apartemen Adira memakan waktu tempuh 20 menit. Cukup lama. Namun, perpustakaan besar itu tidak membuat Sam bosan.


Dira mengulurkan tangannya untuk mengambil buku yang ada di rak paling atas. Namun, tidak sampai. Sam dengan inisiatifnya mengangkat tubuh mungil gadis ini.


“Sam!” pekik Dira terkejut atas perlakuan kekasihnya. Sam menyuruh gadis itu mengambil sendiri buku yang ia inginkan.

__ADS_1


Abrisam tertawa setelah menurunkan Adira kembali memijak lantai. Gadis yang rambut panjangnya sengaja digerai itu juga tertawa dibuatnya. Ia memukulkan buku di tangan pada perut Sam.


“Aku tinggal ke sana ya?” tunjuk Sam pada tempat yang ingin ia datangin.


Dira mengangguk, “nanti ketemuan di meja sana ya!” gadis itu menunjuk meja kosong di depan sana.


Sam menoleh ke belakangnya, lalu menganggukkan kepala. Cowok itu berjalan santai menuju tempat yang tadi ia tunjuk. Dira memperhatikan punggung Sam yang terus menjauh.


Dira membuka buku yang ia pegang. Memastikan kalau itu buku yang ia cari. Baru saja ingin melangkah menuju tempat duduknya tiba-tiba Gabriel memblokir jalan gadis ini.


“Ada apa, El?” Adira mendongak sedikit pada teman laki-lakinya itu.


“Ada yang ingin aku bicarakan,” jawaban Gabriel membuat kening Dira berkerut.


“Ya sudah, bicara aja! Kayaknya serius betul.”


“Kamu mau pulang ke Indonesia?” tanya Gabriel.


“Iya, tapi itu setelah lulus dan jadi sarjana.”


“Tidak bisa kalau tetap di sini?” pertanyaan cowok bule ini membuat Adira tambah bingung. Baru kali ini juga Gabriel menanyakan tentang kepulangan Dira pada negara asalnya.


“Kamu kenapa tanya seperti—“


“Jawab!”


Gabriel cepat memotong pertanyaan Adira.


“Aku pasti pulang setelah lulus. Semua keluargaku ada di Indonesia. Aku izin ke sini hanya untuk menuntut ilmu. Membuat mereka semua bangga akan prestasiku.”


“Jangan pulang! Tetaplah di sini denganku.”


Adira tertawa pelan, “itu tidak mungkin Gabriel.” Dira menepuk-nepuk lengan pemuda itu, “kamu tenang saja aku tidak akan melupakanmu sebagai sahabatku selama di sini!”


Abrisam mengintip dari sela-sela buku yang tersusun di rak tinggi. Ia penasaran dengan pembicaraan kedua orang yang ada di balik rak ini.


Adira dan Abrisam sama-sama terkejut saat tiba-tiba saja Gabriel menyambar pipi Dira. Pemuda itu mencium pipi gadis di hadapannya. Sam menatap ke depan, sebelah tangannya menggepal, dan wajah mengeras. Ia marah.


Secara cepat Sam sudah ada di belakang Gabriel. Ia menarik kerah hoodie yang lelaki itu pakai. Satu hantaman kuat mendarat di pipi Gabriel hingga tersungkur ke lantai. Adira benar-benar terkejut dengan aksi yang begitu cepat ini.


“Cari mati lo sama gue? Berani-beraninya cium pacar gue!” Sam memberikan pukulan terus-menerus pada Gabriel.


Berangsur-angsur pengunjung perpustakaan berkumpul. Adira berteriak untuk Sam menyudahi perkelahiannya. Anehnya, Gabriel tidak melawan walaupun ia bisa melakukan itu.

__ADS_1


•••


__ADS_2