He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 16


__ADS_3

“Aaaaaa!” Adira berteriak sambil mer*emas rambutnya. Seketika ia menjadi pusat perhatian pengunjung kafe.


“Jangan teriak-teriak Dira! Nanti dikira gue sama Yara bawa orang gila ke dalam kafe,” ucap Violet


Adira memajukan bibirnya sudah seperti bebek. Matanya bergerak melihat sekitar. Orang-orang melihat ke arahnya. Kemudian ia menghela napas.


“Abis gue pusing. Kenapa harus gue pula yang dapat tugas begitu? Gue itu ‘kan nggak mau terlalu dekat sama Sam, tapi kayaknya guru-guru demen bener masangin gue sama itu cowok.”


“Udah garis hidup lo kali,” balas Yara, mengaduk minumannya.


Adira berdecak sebal, “andai ada pintu doraemon. Gue mau balik dimasa-masa nggak kenal Sam dan gue nggak akan masuk SMA Nusa Bangsa.”


“Halu lo ketinggian Adira Verbena!” sambar Violet.


“Udah sih terima aja nasib lo itu. Siapa tahu lo bisa dapat tambahan nilai. Bayangin nilai lo paling tinggi di kelas. Bisa rangking satu,” ujar Yara.


“Iya kalau berhasil. Lo tahu 'kan hukumannya tadi kata Pak Yuhdi kalau gue gagal?” Yara mengangguk sambil menyeruput minuman, “gue itu nggak yakin bisa merubah Sam. Dia ‘kan terkenal badungnya.”


“Eh kalian di sini juga?”


Mendengar suara itu ketiga siswi yang sedang berbincang ini mendongak dan menatap ke orang yang menyapa mereka.


“Afraz!” seru Adira, “duduk Fraz!” Adira memberikan satu kursi kosong yang masih tersisa.


“Mau ngopi-ngopi juga, Fraz?” tanya Yara berbasa-basi.


Afraz melepas ransel yang ada di punggungnya, “Iya, tapi nggak sengaja malah ketemu kalian. Lagi ngomongin apa? Dari tadi gue liat lagi ngobrol serius.”


Adira malah diam dengan tangan mengaduk americano ice-nya.


“Itu Dira ditugasin sama Pak Yuhdi buat ngerubah sikap Abrisam,” jelas Yara.


“Apa?” Afraz menoleh ke Adira, “Sam yang buat masalah tadi siang?”


Adira mengangguk, “iya dia, siapa lagi?”

__ADS_1


“Lo mau minum apa?” tanya Violet.


Afraz menoleh ke gadis itu, “nggak usah ntar gue pesan sendiri.”


“Nggak apa-apa, sekalian gue mau nambah.” Violet bersiap akan berdiri.


“Hot latte aja. Terima kasih.” Afraz tersenyum dan Violet mengangguk, lalu melangkah pergi.


“Terus bagaimana? Lo terima, Dir?” lanjut cowok itu bertanya lagi.


Adira mengangguk, “iya, Pak Yuhdi itu nggak bisa dibantah. Gue harus bagaimana?”


Afraz yang ditatap Adira dengan sendu. Turut merasakan prihatin pada gadis itu.


“Ya... kalau kata gue lo jalanin aja dulu. Iya ‘kan Fraz? Nanti hasilnya bagaimana pasrah aja.”


Cowok yang senang dengan olahraga berenang itu mengangguk ragu. Dalam hati ia juga tak rela melepas Adira untuk terus berdekatan dengan Abrisam.


“Gue akan membantu lo. Kalau ada apa-apa bilang sama gue.” Afraz menggenggam sebelah tangan Dira yang ada di meja.


“Ekhem!” Violet yang baru kembali membawa pesanan berdeham.


Afraz menjauhkan tangannya dari atas punggung tangan Adira.



Abrisam meletakkan nampan yang ia bawa dari dapur ke meja. Di ruang tengah itu ada kedua sahabatnya yang sedang bermain playstation.


“Diminum woi!” ujar Sam duduk di atas sofa.


Manha yang lesehan di lantai dengan Emran, menengok dan meraih gelas.


“Ini nggak ada cemilannya?” tanya Manha.


“Kebiasaan lo, dikasih hati minta ginjal,” omel Emran menoleh sekilas pada Manha.

__ADS_1


“Ini cemilannya,” timpal Siska yang datang membawa kue bolu. Ibu satu anak itu meletakkan sepiring kue ke atas meja.


Manha langsung mengambil dan memakannya.


“Terima kasih Tante yang cantik. Sam itu beruntung punya ibu seperti Tante.”


Mendengar pujian yang Manha lontarkan Siska terkekeh kecil.


“Kamu bisa aja. Terima kasih kembali.” Senyum Siska, “Tante permisi ke belakang lagi.”


Dengan mulut penuh Manha mengangguk.


“Gimana sama Adira yang harus ngerubah lo, Sam?” Abrisam yang mendengar pertanyaan Emran menghentikan pergerakan tangannya yang akan meminum es jeruk.


“Nggak gimana-mana. ‘kan dia yang ditugasin.” Setelah menjawab barulah cowok itu mendeguk minumannya.


“Lo akan berubah?”


Sam mengedikkan bahunya dan meletakkan gelas kembali, “belum tahu. Apa juga yang harus diubah? Gue nyaman jadi diri gue yang sekarang.”


“Karena lo nakal,” celetuk Manha.


“Ngaca! Lo bagaimana?” seru Sam.


“Gue udah ngaca dan gue cakep.” Manha senyum-senyum sambil memegang-megang jambul yang ada di depan kepalanya.


"Najis!" celetuk Sam memperhatikan temannya itu.


“Huh!” Sorak Emran.


Manha dihujami bantal oleh Emran. Cowok petakilan itu hanya bergeser menjauh dari Emran sambil tertawa.


“Main sama gue sini!” Sam berpindah tempat dan mengambil stik playstation yang tergeletak di atas ambal.


__ADS_1


__ADS_2