
Ayam jago milik tetangga berkokok keras membangunkan warga kompleks. Matahari mulai meninggi dan memancarkan cahayanya. Abrisam mengerjit dan memegang kepala yang terasa pusing. Padahal baru saja terbangun.
“Ada apa ini sama gue? Kok rasanya nggak beres.”
Ia mengubah posisi menjadi tentang. Menatap langit-langit kamarnya itu. Posisi seperti ini membuat pusing Sam sedikit berkurang. Namun, perut mendadak tak beres. Sam merasa mual dan ingin mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Lelaki ini cepat bangun dan berlari ke arah kamar mandi. Adira yang tadi pulas tertidur jadi terbangun karena suaminya itu rusuh ketika turun dari kasur. Adira tidak mendapati Sam saat menoleh ke samping.
Pandangan gadis ini tertuju pada pintu kamar mandi saat mendengar Sam muntah-muntah. Karena khawatir Dira mencoba menghampirinya. Mau masuk ke kamar mandi ternyata Sam menguncinya dari dalam.
Adira mengetuk pintu beberapa kali, “Sam, kamu nggak apa-apa?”
Tidak ada jawaban dari Sam. Lelaki itu masih sibuk mengeluarkan isi perutnya. Selang beberapa detik kemudian pintu kamar mamdi akhirnya terbuka.
Dira mengusap dahi Sam yang berkeringat, “kamu nggak apa-apa? Kita perlu ke dokter?”
Pria itu menggeleng pelan, “nggak usah. Kayaknya aku masuk angin. Aku istirahat aja di rumah. Tolong kabarkan Papi ya!”
Wanita ini mengangguk, “iya nanti aku minta izin sama Papi, tapi kamu yakin nggak perlu ke dokter? Mukamu pucat dan badanmu sedikit panas begitu.”
“Yakin, kamu nggak usah khawatir. Besok juga sembuh.” Sam berjalan pelan sambil dipapah Dira kembali berbaring di kasur.
Adira menyelimuti suaminya kembali, “aneh banget, aku yang hamil kamu yang mual-mual.”
“Kamu nggak merasa mual lagi?”
Dira menggeleng ketika Sam bertanya seperti itu. Ia mengusap-usap perut yang belum sama sekali membuncit, “aku mual cuma pertama itu. Terus dua hari ini nggak.”
“Baguslah, jadi nggak menyusahkan kamu.”
Adira tersenyum, “aku buatkan sarapan dulu. Kamu harus makan yang banyak agar tubuhmu kembali kuat.”
Wanita bergaun tidur itu mengambil kimono terlebih dulu dan memakainya. Ia lekas keluar kamar untuk membuatkan sarapan untuk sang suami.
Abrisam tertidur sebentar saat menunggu sarapan yang dibuat oleh Adira matang. Setelah setengah jam gadis itu kembali lagi dengan membawa nampan di tangan.
Dira membawakan bubur serta susu untuk Sam. Bermaksud agar lelaki itu pulih kembali tenaganya.
“Ayo bangun dulu!” Dira membantu Sam untuk duduk dan bersandar ke kepala ranjang, “minum dulu susunya!”
Baru menerima uluran gelas susu dari istrinya. Sam sudah menunjukan ekspresi tidak suka.
__ADS_1
“Huek...” Sam menutu mulut dengan telapak tangan. Ia menjauhkan gelas sussu itu, “baunya nggak enak.”
“Nggak enak bagaimana?” Adira mencoba mengendus aroma yang dikeluarkan susu hangat ini, “enak kok. Seperti biasa, ini susu yang sering kita minum ketika sarapan kok. Biasanya juga kamu suka.”
Sam menggeleng dengan masih menutup mulut.
“Ya sudah, kita makan saja ya. Nanti susunya aku ganti air putih.” Adira meletakkan susu dan mengambil mangkuk bubur.
“Huek...huekk!” Sam bergegas menuruni kasur, kemudian berlari masuk ke kamar mandi lagi.
Adira panik, ia meletakkan mangkuk bubur ke atas nakas dan mengejar Abrisam.
Gadis itu menunggu saja di depan pintu kamar mandi yang terbuka. Ia merasa kasihan dengan lelaki itu. Dira berpikiran akan menelepon dokter saja. Gadis ini mencari handphone-nya dan meminta dokter yang sering Winda hubungi dulu ketika Dira dan Dimas sakit, ke rumah segera.
“Dira...” terdengar suara parau dari arah kamar mandi.
Adira yang baru selesai menelepon menoleh pada suaminya. Baru berapa langkah gadis ini ingin menghampiri, Sam keburu ambruk di tempatnya berdiri. Itu membuat Adira panik dan berlari mendekatinya.
“Sam bangun!” Adira menepuk-nepuk pelan pipi suaminya, “badan kamu tambah panas. Kamu demam ya sayang.”
Adira melihat sekelilingnya, “bagimana aku mau pindahin kamu ke atas kasur? Aku nggak kuat Sam. Bangun dong!” ia masih berusaha menepuk pipi lelaki yang pingsan ini.
•••
“Sebenarnya Sam sakit apa ya, Dok? Dia mual-mual begitu kayak orang hamil. Padahal saya yang hamil aja nggak ngerasain sampai segitunya.”
“Nggak sakit.” Dahi Adira menjadi berkerut, “suhu tubuhnya juga sudah normal kembali. Kamu hamil?”
Wanita ini mengangguk saja. Dokter itu tersenyum. Dira tambah bingung dibuatnya.
“Ada kemungkinan suamimu itu mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Nggak usah khawatir ini nggak berbahaya.”
“Maksudnya apa ya, Dok? Maaf, Dira nggak terlalu mengerti tentang kedokteran.”
Dokter itu menoleh ke dalam kamar begitu pun Dira. Setelah itu ia tersenyum pada wanita yang sudah lama ia kenal ini.
“Suamimu sangat mencintaimu dan calon anak kalian hingga ia merasakan gejala hamil yang harusnya kamu yang rasakan.”
Adira menoleh lagi menatap Sam yang masih tertidur. Ia tersenyum. Lamunannya buyar saat Dokter wanita ini memberikan selembar kertas.
“Ini vitamin buat Sam. Segera ditebus ya. Mudah-mudahan ini nggak berlangsung lama.”
__ADS_1
Adira menerima kertas resep itu, “memang ada yang lama, Dok?”
“Ada, sampai bayinya lahir.”
Dira sedikit terkejut. Kalau Sam terus begitu. Akan susah untuk Dira kalau kandungannya sudah membesar.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Masih ada kerjaan di rumah sakit.”
Gadis dengan rambut terkuncir asal itu mengangguk dan tersenyum hangat. Ia mengantarkan dokter sampai keluar dari halaman rumah. Kemudian kembali masuk setelah dipastikan dokter itu pergi.
•••
Adira sudah selesai mandi. Sam juga belum membuka matanya. Ia jadi bingung ingin meninggalkan lelaki itu sedangkan dirinya harus menebus obat yang diberikan dokter.
Tiba-tiba sepasang kelopak mata Abrisam bergerak dan terbuka pelahan. Adira senang melihatnya. Karena Sam sudah terlalu lama pingsan.
“Aku kenapa?” tanya lelaki ini memegangi kepalanya.
“Kamu tadi pingsan. Aku sampai menghubungi dokter.”
“Terus kata dokter aku sakit apa?”
“Sakit karena terlalu sayang aku dan anak kita.”
Dahi Abrisam mengernyit, “memang ada penyakit seperti itu?”
Adira tertawa mendengar pertanyaan Sam. Lelaki ini tampak bingung.
“Kamu jangan bercanda. Aku masuk angin ya?”
“Aku nggak bercanda. Kata dokter begitu.” Dira bergeser duduk lebih dekat ke Sam, “memangnya kamu sangat sayang aku dan calon anak kita? Aku ingin memastikan ucapan dokter tadi.”
Abirsam mengulurkan sebelah tangan dan mengelus-elus pelan perut datar Dira, “aku sangat sayang dia. Nggak sabar menunggunya keluar.”
Kemudian Sam menaikan tangan ke wajah Dira. Berganti mengelus pipi sang istri, “dan aku sangat menyayangimu.”
Adira merasa terharu dengan ucapan romantis yang Abrisam lontarkan. Wanita ini merapatkan pipinya ke dada lelaki itu.
“Memang aku sakit itu ya? Apa benar ada penyakit seperti itu?”
Dira yang kepalanya diusap-usap oleh Sam hanya tertawa geli. Sam masih saja penasaran dengan penyakit yang ia rasakan sekarang.
__ADS_1
•••