
“Itu Sam!” tunjuk Alex pada cowok yang baru saja datang dan sedang memarkirkan motornya.
Tidak lama disusul dengan krdatang juga Manha dan Emran yang berboncengan.
“Sore guys!” Sam menyapa teman-teman motornya sambil berjabat tangan khas anak laki-laki.
“Ke mana aja udah lama nggak ke sini?” tanya Alex berbasa-basi.
“Sam ‘kan sudah ada pacar. Jadi, sibuk ngebucinin pacarnya,” jawab Manha yang segera duduk.
Abrisam yang duduk di sebelah Manha menyikut laki-laki itu, “bukan begitu juga.”
Manha seketika diam sehabis ditegur dan dipelototi Sam.
“Makanya mulut jangan asal jeplak!” Emran menoyor kepala Manha dan membuat cowok itu menatap sinis.
Sam ini menoleh pada Alex kembali, “jangan dengerin dia. Gue nggak ke sini sibuk belajar. ‘Kan lagi ujian.”
“Oh iya, anak SMA pada ujian ya.” Alex mengangguk-angguk.
“Emang anak kuliah nggak ujian?” tanya Manha polos.
“Ujian, tapi belum. Masih lama ‘kan tunggu semesteran dulu,” jelas Alex dan dipahami Manha.
“Nggak sabar mau jadi mahasiswa ya, Mran?” Manha menepuk bahu Emran pelan.
Emran menggeleng, “nggak juga.”
“Ih!” Manha mendorong lengan Emran, “nggak kompak banget lo sama gue.”
Alex, Sam dan yang lain yang memperhatikan tertawa pelan melihat tingkah kedua lelaki itu.
“Oh iya.” Sam mengeluarkan dompet dari saku celana abu-abunya, “sudah ngumpulin donasi? Jadi ‘kan kasih anak-anak makanan dan lain-lain.”
“Jadi kok, tapi belum gue pinta nih uangnya,” kata Alex yang ikut mengeluarkan uang dari saku.
“Ya sudah kumpulin dari sekarang aja.” Sam meletakkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
Kemudian disusul dengan yang lain hingga uang menjadi banyak.
“Gue hampir lupa ngasih tahu lo, Sam.” Alex berdiri dan mendekati sebuah laci yang ada di basecamp itu. Setelah mengambil pamflet ia kembali duduk di depan Sam, “nih, lomba balap. Hadiahnya 10 juta. Lumayan ‘kan?”
Sam menatap tajam ke arah pamflet yang diletakkan di atas meja oleh Alex. Cowok ini menyeret selembar kertas itu mendekat. Ia baca terlebih dulu tulisan yang ada di sana.
“Bisa kali ya buat bantu biaya kuliah Adira?” gumam Abrisam sambil menatap pamflet di tangannya.
“Lo bilang apa Sam?” pertanyaan Alex membuat semua orang yang ada di situ melihat ke arah Sam.
“Hah?” Kepala cowok itu kembali mendongak, “ini gue mikirin hadiahnya untuk biaya cewek gue kuliah.”
__ADS_1
“Maaf sebelumnya, cewek lo orang yang nggak mampu?” Alis Alex tertaut ia menunggu jawaban Sam lagi.
“Dia dari keluarga sederhana. Rencananya ia pengen kuliah di luar negeri. Itu cita-citanya sudah lama. Sayangnya beasiswa yang dia ajukan ke universitas nggak dapat. Tanpa beasiswa itu keluarganya nggak bisa membiayai semua kebutuhan kuliah di sana.”
“Doinya ini pinter, Lex. Sayang banget ‘kan kalau nggak jadi kuliah di luar.” Tambah Emran membuat Alex terpukau.
“Hebat juga lo bisa dapat cewek pintar.” Alex pindah duduk ke samping Sam. Ia menepuk-nepuk pelan punggung pemuda itu, “lo ikutan aja lomba ini. Hadiahnya bisa lo kasih ke doi.”
Sam menatap Alex, “oke, deh. Gue coba.”
“Yakin balapan nggak akan dimarahi Adira, Sam?” tanya Manha membuat Abrisam menoleh padanya.
“Ini kan di sirkuit bukan liar. Dira pernah bilang nggak boleh ikut balapan liar.”
“Oh pacar Sam itu Adira yang pernah ditolong di jalan waktu ke jambretan?” tanya Kino yang sedari tadi menyimak saja.
“Kok lo tahu, Kin?” tanya balik Manha.
Kino menoleh ke Manha, “waktu itu gue pulang bareng Sam. Terus ada cewek ke jambretan. Gue baca dari nama yang ada di seragamnya. Tulisannya Adira.”
“Iya yang itu,” jawab Sam tiba-tiba.
“Pantesan waktu itu lo natap dia beda, Sam. Ternyata sudah ada benih-benih cinta.” Kino tertawa setelah bicara.
“Bisa aja lo.”
“Jadi lo tetap ikut ‘kan Sam?” Alex bersuara kembali, “anak Manjal. Dua orang ikut. Gue sama Ardi.” Tunjuk Alex pada Ardi yang duduk di belakang.
Abrisam mengangguk mantap.
Angin yang cukup kuat menerbangkan beberapa helaian rambut wanita paruh baya yang duduk di balkon sebuah restoran. Cuaca yang sedikit mendung membuatnya khawatir akan tidak kedatangan orang yang sedari tadi ia tunggu.
“Maaf saya terlambat. Kamu sudah lama?” ujar seorang pria berdasi yang berdiri di depan meja wanita itu.
Winda mendongak dan tersenyum tipis, “nggak apa-apa, Pak. Saya baru sepuluh menit ada di sini. Silakan duduk.”
Tomi menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Winda.
“Tadi saat kamu menelepon saya masih ada di ruang rapat. Terpaksa selesaikan dulu meeting-nya.” Pria itu merapikan jas yang ia kenakan.
“Saya jadi nggak enak menganggu kesibukan Bapak.”
“Oh nggak.” Tomi mengerakan tangannya ke kiri dan kanan di depan dada, “kamu nggak sama sekali mengganggu. Meeting itu juga sudah mau selesai ketika kamu menghubungi saya.”
“Syukurlah.” Winda tersenyum tipis.
“Ngomong-ngomong, ada apa kamu ingin bertemu saya? Saya nggak merasa memesan kue atau saya yang lupa?”
__ADS_1
Winda membenarkan posisi duduknya, “nggak, Bapak emang nggak memesan kue kepada saya. Saya mengajak Bapak untuk ketemuan karena ada yang ingin saya bicarakan.”
“Apa itu? Tampaknya serius sekali.”
Winda menarik napas terlebih dulu, “sebelumnya saya ingin bertanya dulu. Apakah tawaran Bapak yang waktu itu masih berlaku?”
Dahi Tomi berkerut. Namun, perlahan senyumnya mengembang.
“Maksudmu tawaran menjadi istri saya?”
Winda mengangguk sambil menunduk malu.
“Tentu Winda. Bagaimana? Kamu sudah bertanya pada anak-anakmu? Kamu mau menikah dengan saya? Saya sangat mencintai kamu Winda.”
Wanita yang ahli memasak itu mengangkat kepalanya lagi. Menatap Tomi yang ada di depannya.
“Saya belum bisa jawab, Pak. Anak sulung saya meminta bertemu dulu dengan Bapak. Apa Bapak bisa berkunjung ke rumah saya?”
Tomi mengangguk dengan penuh semangat, “saya bisa. Weekend ini saya main ke rumahmu. Saya yakin anak-anakmu suka dengan saya. Saya sangat mencintai anak-anak.”
“Baik, saya akan memberi tahu anak-anak agar mereka tidak pergi ke mana-mana saat weekend.”
Tomi meraih sebelah tangan Winda yang ada dimeja. Ia genggam dengan penuh kasih sayang. Wanita itu hanya melihat saja perlakuan lelaki itu tanpa membantahnya.
“Terima kasih Winda kamu sudah memberi saya kesempatan.”
“Tapi bagaimana dengan kedua istri Bapak kalau kita menikah?”
“Mereka berdua mana peduli dengan itu. Keduanya hanya memikirkan uang. Kalau saya tetap memenuhi kebutuhan mereka, mereka tidak akan protes.
“Setelah kita menikah Bapak mau ‘kan membantu anak bungsu saya untuk kuliah di luar negeri? Dia pengen banget melanjutkan pendidikan di sana. Sayangnya beasiswa tidak dia dapat.”
“Tenang sayang, anakmu juga anak-anakku. Saya akan bertanggung jawab atas kebutuhan kalian semua. Saya akan memberikan yang terbaik.” Tomi mengelus-elus punggung tangan Winda dengan ibu jarinya.
“Terima Kasih, Pak.”
“Jangan panggil, Pak lagi dong. Panggil saya, mas. Agar lebih santai dan dekat.” Senyum Tomi.
“Iya, M-mas.” Kata Winda yang gugup.
Tomi menarik tangannya yang menggenggam tangan wanita itu. Ia menoleh ke samping. Gerimis mulai turun membasahi bumi.
“Hujan.” Toleh Tomi ke arah Winda, “bagaimana kalau kita makan dulu? Saya teraktir.”
“Bukannya Bap—eh Mas selalu teraktir saya?”
“Oh iya ya?” Tomi tertawa cukup keras. Winda ikut tertawa dibuatnya.
Setelah tawa mereda ia memanggil pelayan dan memesan makanan.
__ADS_1