
Pagi ini Anna lagi yang ada di rumah untuk melayani suaminya. Ia mengoleskan roti dengan selai, lalu meletakkannya ke piring.
“Bagaimana kesehatan, Sam?” tanya Tomi sambil memotong rotinya.
“Sudah sehatan, Mas. Mungkin sehari atau dua hari lagi juga pulang.” Tomi mengangguk-angguk mengunyah makanan di dalam mulut.
“Mas, cobalah datang ke rumah sakit. Jenguk anakmu. Pasti ia senang, kemarin kata Mbak Siska dia nanyain kamu.” Anna berbicara hati-hati agar tidak memancing amarah suaminya.
“Itu salah dia sendiri. Ngapain coba ikut tawuran lagi. Saya sudah datang ke sekolahannya waktu itu. Memohon agar ia tetap bisa bersekolah di sana karena sudah dekat ujian kelulusan, tapi apa? Ia ulang lagi kesalahannya,” ujar Tomi berhenti menyantap makanan yang ada di hadapannya.
Anna meletakkan garpu dan pisau ke piring. Tangannya menggenggam sebelah tangan Tomi yang ada di meja.
“Datanglah sebentar, Mas.”
Tomi menatap istri mudanya itu. Ia menarik tangan yang tergenggam dan menyentuh pipi Anna.
“Baiklah, saya akan ke sana ketika jam makan siang.” Anna tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia mengelus-elus punggung tangan Tomi.
Abrisam menyaksikan acara di televisi. Benar-benar membosankan. Matanya beralih menatap Siska yang tertidur di sofa. Tampaknya sang Bunda sedang mengantuk parah.
Suara decitan dari pintu yang terbuka membuat Sam menoleh ke sumbernya. Seorang pria berdasi hitam dan berjas yang senada pula masuk ke dalam ruang rawatnya.
“Papi,” gumam Sam. Anak laki-laki itu tampak tersenyum.
Tomi menutup pintu perlahan, lalu melangkah mendekati anaknya itu. Sebelumnya ia melihat Siska yang berbaring tidur di sofa.
Pria pengusaha sukses itu tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawakan buah-buahan untuk anak sulungnya.
“Makasih Papi sudah datang.” Sam tersenyum.
“Ini permintaan Mamamu. Sebenarnya, Papi malas menengok anak nakal seperti kamu.” Senyum di bibir Sam seketika memudar, “sudah berapa kali Papi bilang? Jangan ikut tawuran. Ini yang Papi khawatirkan kamu terluka, membahayakan nyawamu dan yang paling merugikan, kamu menjelekkan nama baik Papi.”
Sam berpikir kenapa semua orang sangat penting dengan padangan orang lain? Padahal semua yang terlihat itu belum tentu sesuai kenyataannya. Yang terlihat baik bisa jadi itu hanya kebohongan. Tidak Adira atau Tomi. Mereka berdua selalu memikirkan kata orang.
“Sam terpaksa, Pi. Kami begini mengamankan sekolah.”
“Tawuran termasuk mengamankan sekolah kamu bilang?” Tomi tertawa meremehkan.
Suara Tomi yang makin meninggi volumenya membuat Siska terusik dan bangun dari tidurnya.
“Mas, kamu ada di sini?” tanya Siska merapikan hijab yang sedikit berantakan.
“Iya, saya menjenguk Sam. Kalau kamu mengantuk tidur saja,” jawabnya dengan lembut pada Siska.
Wanita itu menggeleng, “tidak apa-apa. Saya sudah tidur dari tadi, Mas.”
__ADS_1
Tomi menatap Sam kembali. Anak laki-laki itu sudah mengalihkan perhatiannya ke televisi.
“Papi nggak mau lagi dengar kamu ada masalah di sekolah. Belajar yang benar! Papi mau kamu lulus dengan nilai yang bagus. Nanti kamu akan Papi kuliahkan di fakultas binis agar bisa melanjutkan usaha Papi.
“Sam nggak mau jadi seperti Papi. Sam mau ambil teknik mesin,” bantahnya tanpa menatap sang ayah.
“Kamu kenapa tidak pernah mendengar omongan Papi?”
Sam menoleh, “apa Papi pernah mendengar omongan, Sam? Sam pernah minta kalau posisi Mami tidak boleh digantikan, tapi Papi tetap memaksa.”
“Waktu itu kamu masih kecil. Papi pikir kamu butuh ibu untuk merawatmu.”
“Bukannya nenek bisa mengasuh Sam. Sebelum Papi menikah juga nenek yang mengurus Sam. Bagaimana dengan Vania? Yang Papi ngotot ingin menikahinya. Padahal Sam sudah besar. Sudah ada dua ibu. Papi mau beralasan apa lagi?”
Tomi merapikan jasnya dan menghela napas, “kamu ini memang paling suka menentang Papi. Sudahlah, Papi masih banyak pekerjaan di kantor. Papi permisi dulu.”
Pria itu memutar tubuhnya, lalu menatap Siska yang duduk diam di sofa.
“Saya pergi dulu, Siska.” Setelah itu ia melangkah keluar dari ruang rawat.
“Iya, Mas. Hati-hati di jalan.” Wanita itu menatap Sam. Sam pun begitu padanya.
“Maaf Bunda bukannya Sam menolak adanya Bunda dan Mama. Kalian baik dengan Sam. Sam bersyukur karena dihadirkan kalian di dalam hidup Sam.”
Wanita yang memang mudah meneteskan air mata itu menangis. Tangannya mengusap-usap punggung Abrisam.
“Bunda tahu Sam memang sempat menolak keras kedatangan Bunda, tapi Bunda sangat mengerti perasaan Sam saat itu.”
Sam membalas pelukan ibu tirinya, “makasih Bunda atas pengertiannya. Sam sayang Bunda.”
Siska tersenyum lebar dan masih memeluk anak tirinya.
“Adira!”
Gadis yang sedang mengintip dari kaca pintu itu tersentak dan menoleh ke belakang.
“Eh, Tante.” Dira cengengesan saat ketahuan ada di depan ruang rawat Abrisam.
“Mau jenguk Sam?” tanya Siska dengan tangan memegang keresek.
“Iya, Tante. Dira sengaja pulang sekolah ke sini dulu, tapi takut mau ketemu Sam.”
Siska tertawa geli, “kenapa harus takut? Sam udah jinak.”
__ADS_1
“Ih, Tante.”
“Sudah ayo ikut Tante masuk!" Siska membuka pintu dan masuk duluan, “Sam, ini ada Adira.”
Dira masuk dengan malu-malu. Mata Sam langsung fokus padanya.
“Oh iya, Dira hari ini Sam udah bisa pulang,” ujar Siska tersenyum pada Adira, “Ini tadi abis ngambil obat untuk Sam.” Ia menunjukkan keresek yang tadi dibawanya.
“Wah, bisa sekolah lagi dong.” Adira mendekati ranjang Sam.
“Lo ngeledek?” tanya Sam, “gue diskors seminggu dan masih ada 2 hari lagi. Gue belum bisa ke sekolah.”
“Oh, maaf."
Siska sibuk membereskan pakaian milik Sam ke dalam tas.
“Tante mau Dira bantu?” tanya Adira yang sedari tadi memperhatikan wanita itu.
“Nggak usah, ini sudah mau selesai.” Balas Siska tanpa menatap ke Dira.
“Mending lo bantuin gue. Ambilin sepatu itu dong!” tunjuk Sam yang duduk di pinggir ranjang.
Adira menatap sinis, “eh yang luka itu punggung lo bukan kaki lo. Bisa kali ambil sendiri.”
Sam yang sudah rapi dan tidak memakai infus lagi menjawab, “kalau mau bantuin orang itu jangan nanggung-nanggung.”
Cewek ini mendengus. Ia dengan menurut mengambilkan sepatu milik Sam dan meletakkannya di atas kasur.
Abrisam dengan cepat memindahkan sepatunya, “kotor bodoh!”
“Bodo.”
Setelah selesai bersiap-siap Sam, Siksa dan Dira berjalan keluar dari rumah sakit.
“Tadi Adira ke sini naik apa?” tanya Siska.
“Angkot, Tante.”
“Kita naik taksi aja, Bun. Sam nggak mau naik angkot.”
Dira yang mendengar penuturan teman sekalasnya itu terlihat tidak suka.
“Iya, ayo kita tunggu taksi di sana!” Siska menunjuk gerbang rumah sakit yang terbuka.
__ADS_1