
Beberapa hari ini Abrisam sedang sibuk dengan usaha yang sedang dirintisnya. Alex, ketua geng motor itu juga ikut membantu mencari tempat yang cocok untuk dijadikan sebuah bengkel. Dua orang dari teman motornya juga bersedia bekeja di sana.
Usaha kecil itu berjalan sedikit tidak lancar beberapa hari ini dan sekarang Sam juga disibukkan dengan skripsinya. Mondar-mandir mencari pembimbingnya untuk konsultasi.
“Sam!” seseorang dari jarak yang cukup jauh memanggil lelaki itu.
Abrisam menghentikan motornya. Ia menoleh ke belakang. Emran dengan kedaraannya datang mendekat.
“Lo mau balik?” tanya Emran sesudah menaikan kaca helm full face-nya.
“Mau cek bengkel dulu sih. Bagaimana skripsi lo?”
Emran menghela napas. Ekspresinya berubah menjadi lesu, “masih sampai judul.”
“Hah, udah sebulan masih judul aja.”
“Mau gimana lagi. Gue ikut lo ya?” ujar Emran.
“Terserah lo aja.” Abrisam menggas motornya lagi. Mereka meninggalkan kampus menggunakan motor masing-masing.
Sampai di bengkel mereka memarkirkan motor pada tempat yang sudah disediakan. Emran terheran-heran melihat pekerja Sam malah melamun menatap kendaraan yang berlalu-lalang.
“Awas kesambet!” celetuk Emran menyadarkan kedua orang yang juga temannya itu.
“Sepi banget,” keluh Sam menarik satu kursi untuk diduduki.
“Beginilah, Sam. Dari pagi nggak ada satu pun motor yang mampir. Kalau seperti ini turus bengkel yang baru buka bisa gulung tikar,” ucap salah satu karyawan itu.
Emran menepuk paha cowok yang tadi bicara, “mulut lo kalau ngomong asal aja. Usaha teman gue nih. Jangan bilang gitu dong!”
“Sam ‘kan juga teman gue.”
Abrisam menghembuskan napas dengan kasar. Ia mengusap wajah memakai kedua telapak tangan. Ia takut saja kalau memang harus gulung tikar. Padahal sudah menggunakan tabungannya untuk modal usaha dan akan membuktikan kalau ia bisa sukses tanpa bantuan Tomi. Ternyata ini tidak semudah yang lelaki itu pikirkan.
•••
Sudah satu jam Abrisam menatap layar laptopnya. Adira dari balik pintu mengintip suaminya yang sedang sibuk ini. Ia terpikir sesuatu dan lekas pergi dari sana.
Tidak lama Adira kembali dengan membawa secangkir minuman. Wanita ini lantas masuk ke kamar dan mendekati Sam di meja kerjanya.
__ADS_1
Ketika cangkir itu diletakkan ke sebelahnya, Sam menoleh, lalu mendongakkan kepala menatap sang istri yang tersenyum padanya.
“Kamu masih suka kopi susu ‘kan?” Sam mengangguk pelan. Tangannya melingkar ke pinggang Dira, lalu menarik tubuh kecil wanita itu sampai terduduk di salah satu pahanya, “semoga secangkir kopi susu ini bisa menghilangkan lelahmu.”
Adira mengalungkan tangan ke leher Abrisam. Menatap lelaki itu sangat lekat.
“Menatap wajahmu yang tersenyum padaku aja lelahku udah hilang.” Lelaki ini menghentikan pekerjaannya sementara.
“Gombal!” Dira memukul dada Sam pelan.
“Itu bukan gombal.” Mereka saling tatap.
“Benarkah?” Wanita ini mengelus-elus dada suaminya dari luar baju dengan jari-jemari.
Abrisam mengangguk sambil mengerjap sekali. Senyuman juga tidak tertinggal ia perlihatkan. Tandanya ia sangat jujur mengutarakan itu pada sang istri.
Adira menatap laptop yang masih menyala itu. Kemudian ia menoleh pada Sam.
“Kamu masih mengerjakan skripsinya?” Sam mengangguk, “tapi ini sudah larut. Kita istirahat dulu yuk! Besok kamu masih bisa menyelesaikannya.”
Sam menengok ke arah jam dinding. Sudah pukul 11 malam dan ia kembali menatap Dira.
“Kamu duluan aja tidur. Besok ‘kan kamu harus kerja lagi. Aku mau lanjutin dulu sejam lagi. Besok harus ke bengkel.”
“Aku mau kita tidur bareng. Aku akan menunggumu.”
“Jangan nakal nanti kamu bisa sakit kalau kurang tidur. Cepat tidur sana!”
Gadis itu menggeleng sambil cemberut, “oh ya, bagaimana dengan bengkel? Apa tambah ramai?”
Seketika mulut lelaki ini membungkam. Pandangannya menunduk sendu.
“Ada apa, Sam?” tanya Adira yang merasakan suaminya bersedih.
Sam menggeleng patah-patah, “bengkel sepi, bisa jadi akan ditutup.”
Hati Adira terasa terenyuh mendengar cerita Sam. Karena dia sangat tahu perjuangan lelaki itu untuk merintis usaha mandirinya.
Adira menangkup pipi suaminya itu dan mendongakkan agar menatapnya.
__ADS_1
“Jangan pesimis begitu, Sam. Kalau bengkelmu butuh tambahan modal bilang sama aku. Aku ada tabungan untuk dana bengkelmu.”
“Aku nggak mau merepotkan kamu.”
“Hei Sam! Aku ini istri kamu. Susah senang kita hadapi bersama ya sayang. Aku tahu kamu nggak akan meminta bantuan ke Papi, tapi aku yang akan bantu kamu.”
Dira menarik Sam ke dalam pelukannya. Lelaki ini melingkarkan kedua tangannya ke pinggang gadis itu. Pelukan itu membuat Sam selalu merasa nyaman dan kembali bersemangat.
•••
“Selamat pagi sayang!” sapa Adira ketika Sam berjalan ke arah meja makan dengan wajah kusut dan rambut berantakkan.
“Pagi sayang,” balas lelaki ini sambil menguap hingga perkataannya tidak jelas.
“Ini aku udah buatkan sarapan. Kamu makan dulu sebelum pergi ke bengkel ya.” Sam mengangguk dan duduk menghadap makanan yang terhidang di meja makan, “hari ini kamu ke kampus juga nggak?”
Sam bergeming beberapa detik, lalu menggeleng lagi.
“Aku nggak ke kampus cuma cek bengkel aja. Terus pulang lagi untuk ngerjain skripsi,” jelas pemuda yang sudah menyantap nasi gorengnya.
Dira memakai tas ke pundak. Wanita ini sudah siap akan beranjak pergi.
“Aku pamit ya.” Adira mengulurkan satu tangannya, “sudah siang, takut telat bekerja. Nanti bosku marah.”
Sam memberikan tangan kanan, lalu disalami oleh Dira.
“Hati-hati ya. Pulangnya jangan malam-malam.”
Adira berdiri tegak dan menarik tangannya kembali, “seperti biasa. Aku pulang sore. Kamu habiskan ya sarapannya! Aku udah masak ini dari subuh.”
Gadis itu tertawa pelan.
“Beres sayang. Nggak ada yang tersisa. Semua aku santap.”
“Dasar perut karet.” Canda Dira, “jangan lupa cuci piringnya, oke!”
“Siap.”
Adira melangkah meninggalkan Abrisam yang masih sibuk mengabiskan sarapan yang ia buat.
__ADS_1
Sepeninggalan istrinya Sam mengerjakan tugas rumah dari mencuci piring, menyapu, mengepel, hingga mencuci dan menjemur bajunya sendiri. Kira-kira pukul 10 pagi lelaki ini sudah pergi keluar dari rumahnya menuju bengkel.
•••