
Tomi memasukkan uangnya ke dalam amplop besar berwarna coklat. Siska kebetulan masuk ke dalam kamar dan melihat apa yang sedang suaminya lakukan.
“Itu uang untuk apa, Mas?” tanya Siska melangkah mendekati sofa yang diduduki Tomi.
Pria itu mendongak dan melihat kedatangan istriya, “untuk ganti rugi acara kemarin yang gagal.”
“Oh, jadi mas mau menggantikan uang keluarga Naya?” Siska duduk di sebelah suaminya.
Tomi mengangguk dan melipat amplop itu, “iya, saya tidak enak pada Adam. Ini semua gara-gara anak nggak tahu diri itu. Saya terpaksa mengganti pengeluaran Adam. Semoga aja dengan begini Adam masih mau berhubungan dengan keluarga kita.”
“Mas, jangan bilang begitu! Sam itu ‘kan juga anak kamu. Dia hanya mengikuti hatinya.”
Pria itu menoleh pada istri keduanya ini, “kamu tidak usah belain Sam. Bagaimana anak itu tidak selalu melawan saya. Kalian terus membelanya.”
Siska sedikit menunduk, “maaf Mas, aku bukan membela Sam, tapi kita sebagai orang tuanya juga tidak boleh terlalu memaksakan kehendak sendiri.”
“Sudah diam saja kamu!” bentak Tomi membuat Siska tambah menunduk.
Tomi memberikan amplop berisi uang banyak itu ke tangan Siska.
“Kamu simpan itu di tas kerja saya. Besok saya akan mampir ke kantor Adam untuk memberikan uang ganti rugi.” Pria itu berdiri. Membenarkan piamanya, “saya mau tidur di kamar Anna malam ini.”
Siska mengangkat kepalanya. Melihat suaminya pergi keluar dari kamar. Walau hal ini sudah biasa Siska lakukan, berbagi suami dengan madunya. Namun, rasa sakitnya masih sama saat Anna pertama kali menginjakkan kaki ke rumah ini.
Mau gimana lagi, wanita berhijab ini harus bisa menerima takdir yang sudah tuhan tetapkan padanya.
“Permisi, Pak. Ada tamu yang mau bertemu dengan Bapak,” kata sekretaris muda yang berkerja dengan Adam.
“Suruh masuk!”
Sekretaris itu menunduk, “baik.”
Setelahnya ia keluar dan berganti masuk ke dalam ruang seorang pria paru baya seumuran dengan Adam.
“Kamu, Tomi.” Adam menutup leptopnya. Menghentikan aktifitasnya sementara, “silakan duduk!”
Tomi segera duduk berhadapan dengan pengusaha yang bergerak dibidang yang sama dengan dirinya.
“Ada apa kamu mencari saya lagi?” tanya Adam.
Tomi mengeluarkan amplop coklat besar dari dalam tas kerjanya. Ia lekas memberikannya ke hadapan Adam.
“Itu uang pertunangan anak kita yang gagal, saya kembalikan. Saya mohon kamu maafkan saya!”
Adam mengambil amplop itu dan memeriksa isinya, “sadar juga kamu untuk mengembalikan ini. Anak kamu itu malu-maluin saya tahu?”
“Maaf, sekali lagi. Saya akan mendidik Sam lebih keras lagi. Kamu memaafkan saya ‘kan? Kita bisa berteman lagi?”
__ADS_1
“Saya memaafkan kamu.”
“Kerja sama bisa kita lanjutkan lagi?”
“Maaf Tomi untuk yang satu itu saya sudah tidak bisa. Lebih baik kita tidak berkeja sama.”
“Katanya kamu sudah memaafkan saya?”
“Saya memang memaafkanmu, tapi saya sudah terlanjut kecewa dan tidak percaya lagi untuk berkerja sama denganmu.”
Tomi berdiri, “baiklah, saya pikir kamu orang yang baik. Dengan memaafkan saya, kamu mau melanjutkan semua rencana kita.”
Pria itu menendang kursi, lalu keluar dari ruangan Adam. Pria yang masih duduk di kursi kebesarannya itu mendengus dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Tomi.
Tomi berjalan pelan keluar dari lobby kantor. Tatapannya kosong, uang meliaran rupiah itu hangus bersama impiannya. Ia begitu frustasi.
Supir yang menunggu Tomi segera membukakan pintu untuknya. Namun, saat sampai di depan pintu. Pria itu merogoh poselnya. Mencari nama Winda di kontak.
“Halo Winda!” Tomi lekas masuk ke dalam dan duduk di jok belakang. Supir itu menutup pintunya lagi.
"Kita bisa bertemu siang ini?"
Tidak lama mobil pun berjalan meninggalkan kantor Adam.
Sisa liburan Adira abiskan bersama Abrisam. Semenjak mereka sudah baikan. Mereka bertambah dekat. Sekarang waktunya kembali ke sekolah. Detik-detik mendekati kelulusan makin dekat.
“Makasih udah mau jemput gue. Lumayan hemat ongkos,” ujar Adira sambil cekikikan.
“Enak aja, ini nggak gratis ya.” Sam menyusun helm-helmnya dengan benar, lalu memasukan kunci motor ke dalam saku.
“Sama teman sendiri lo perhitungan,” omel Adira memasang wajah sebalnya.
Sam tertawa pelan dan meletakkan satu tangannya di pundak gadis itu, “gue bercanda kali. Lo nggak perlu bayar pakai uang. Lo cukup bayar pakai cinta.”
“Dih, apaan sih?” Adira memukul lengan Sam. Perkataan Sam membuat pipinya bersemu kemerah-merahan.
“Pipi lo ngapa kayak tomat busuk gitu, Dir?” tujuk Sam ke arah pipi Dira.
Gadis itu mendongak menatap Sam, “hah? Merah?” ia cepat menutupi pipinya.
Sam hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Dira. Setelah tahu dan malu. Dira memilih melarikan diri dari hadapan Sam. Ia masuk ke dalam sekolah lebih dulu.
“Dira kok gue ditinggal?” teriak Abrisam yang diacuhkan Adira.
Dira terus berlari sambil menutupi pipinya dengan kedua tangan. Matanya sesekali melihat ke belakang. Memastikan Sam tidak menyusulnya. Ia malu kalau bertemu cowok itu dengan keadaan begini.
“Aduh!” seseorang merintih saat Adira tidak sengaja menabraknya.
__ADS_1
Dira menurunkan kedua tangannya, “Maaf.” Ia mendongak, “Afraz.”
“Oh lo, Dir. Gue kira siapa yang nabrak,” kata Afraz tidak marah sama sekali.
“Maaf, gue nggak sengaja,” ucap Adira mengulang permohonan maafnya.
“Iya, nggak pa-pa. Lo kenapa lari-lari?” Afraz mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya, “padahal masih pagi gini.”
“Itu tadi...”
Ucapan Adira terpotong karena kedatangan Abrisam.
“Ah... ah...” Sam mengatur napasnya yang ngos-ngosan, “cepat juga lari lo.”
Afraz bingung melihat mereka berdua, “kalian berangkat bareng?”
Sam yang memegang kedua lututnya, berdiri tegak dan menatap tajam Afraz.
“Iya, emangnya kenapa? Ada masalah?” tanya Sam yang agak nyolot.
“Bukannya lo udah tunangan? Kenapa masih dekat cewek lain? Kalian juga sedang bermusuhan ‘kan?” banyak pertanyaan yang Afaz lontarkan.
Dengan tenang Sam mencoba menjawab semuanya, “pertama, emangnya orang udah tunangan nggak boleh berteman dengan cewek lain? Lagi pula pertunangan gue batal kok. Kedua, kita sudah baikan. Nggak baik juga marahan lama-lama bukan?”
Afraz mendengarkan semua jawaban yang diselipkan pertanyaan-pertanyaan juga oleh cowok itu. Namun, pandangan Afraz beralih pada Adira yang hanya diam.
“Apa gue nggak ada kesempatan lagi?” gumam Afraz dalam hatinya.
“Yah, dia malah bengong.” Sam menghela napas. Ia menoleh ke sebelahnya, “ayo kita pergi aja!” cowok ini menggandeng tangan Adira untuk meninggalkan tempat itu.
“Duluan, Fraz!” pamit dari Adira membuat Afraz tersadar. Cowok itu berbalik menghadap ke belakang. Melihat kedua punggung yang menjauh itu.
Di jalan menuju kelas Sam memberi wejangan untuk gadis yang tangannya masih ia gandeng ini.
“Inget ya lo jangan terlalu dekat sama Afraz!”
“Kenapa? Dia ‘kan teman gue dari SMP sama aja kayak lo sama Naya.”
Abrisam menghentikan langkahnya. Otomatis Adira ikut menghentikan langkah kakinya. Padahal sedikit lagi sampai di ruang kelas mereka.
“Gue cemburu.”
Mendengar pengakuan dari cowok di hadapannya ini membuat Adira menjadi canggung. Ia cepat-cepat menarik tangannya yang tergandeng.
“Apaan banget sih lo.” Adira meninju pelan lengan Sam.
“Gue nggak bercanda.”
Seketika Adira terdiam menatap Abrisam. Saat kedua temannya memanggil dan melambaikan tangan dari jendela, Adira cepat-cepat meninggalkan Sam untuk masuk ke kelas lebih dulu.
__ADS_1