
Seorang dokter wanita masuk ke ruangan yang tidak terlalu besar. Beliau membawa sebuah amplop, lalu duduk di depan meja kerjanya. Ia duduk berhadapan dengan Abrisam dan Adira yang sedari tadi menunggu kedatangannya.
“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Sam yang sudah tidak sabar.
Dari tadi mereka juga menunggu hasil laboratorium keluar.
“Sebentar ya, Pak. Saya baca dulu.” Dokter berhijab itu membuka amplopnya. Tiba-tiba ia tersenyum, “selamat Bu, anda positif hamil. Kandungannya sudah berusia 2 minggu.”
Sam dan Dira saling melempar senyum, “aku bahagia banget sayang.”
Dira sedikit terkejut saat sang suami memeluk dirinya di depan dokter. Sedangkan dokter cantik itu ikut tersenyum melihat kebahagian dari pasiennya.
“Sam!” Dira menepuk lengan lelaki itu hingga pelukan Sam sudahi, “malu tahu.”
Sam menoleh pada Dokter wanita yang sedang menuliskan sesuatu di buku.
“Ini resep obat yang harus ibu tebus.” Dokter itu memberikan secarik dari buku yg ia punya, “tolong di jaga baik-baik kandungannya, Bu. Bapak juga bantu istrinya jangan sampai banyak pikiran. Stres nggak baik ubtuk ibu hamil.”
“Siap, Dok.” Jawab Sam yang begitu yakin.
Setelah cukup lama di dalam ruang periksa itu. Sepasang suami-istri ini meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan mereka menuju apotik.
Hampir 2 jam Dira dan Sam menunggu giliran untuk mendapatkan obat pesanannya. Setelah selesai mereka berkunjung ke toko kue milik Winda. Ini semua atas permintaan Dira. Ia ingin memberitahu kamar gembira ini ke sang ibu.
“Pelan-pelan sayang!” seru Sam saat Dira berlari kecil masuk ke toko. Pria itu membuntuti dari belakang.
“Mama!” panggil Dira dengan senyum yang tak luntur, “ada yang mau Dira kasih tahu nih.”
Winda keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi kue yang baru saja selesai di panggang. Sam yang sudah ada di dekat istrinya berdiri tidak jauh dari tempat Dira berpijak.
“Dira ada kabar gembira,” ucap Dira sudah tidak sabar menceritakan semuanya.
Wanita dengan rambut dicepol itu meletakkan nampan di atas etalase, “pasti kamu naik gaji ya?”
Dira langsung murung, “bukan itu, kalau soal kerjaan Dira udah dipecat, Ma.”
“Kok bisa?” Winda belum tahu soal banyak musibah yang menimpah rumah tangga anaknya.
“Ada masalah sama pemilik restorannya. Sudah, itu nanti saja Dira ceritakan. Sekarang Dira mau kasih Mama kabar bahagia.”
“Apa itu?”
__ADS_1
“Mama mau jadi nenek.”
Dahi Winda berkerut. Beberapa detik tidak ada reasksi dari wanita itu, “maksudnya kamu hamil?”
“Iya, Ma. Tadi Dira sama Sam ke rumah sakit buat periksa. Kata Dokter, usia kandungan Dira udah 2 minggu.”
Senyum pun mengembang di bibir Winda. Ibu dua anak itu keluar dari dalam ruangan yang dibatasi etalase dan meja itu. Ia memeluk putrinya dengan wajah berseri-seri.
“Selama ya, sayang. Mama jadi ikut senang.” Winda mengusap-usap punggung Dira, “sebentar lagi Mama jadi nenek.”
Dira tertawa kecil melihat reaksi yang ditunjukan oleh orang tua tunggalnya. Senang sekali rasanya bisa melihat sang ibu tersenyum setulus itu.
Gadis ini menoleh pada Sam. Pria itu membalas dengan tersenyum padanya.
“Ugh, cucu nenek.” Winda mengelus-elus perut Dira yang masih datar, “baik-baik ya di sana. Jangan menyusahkan mamamu kalau mau sesuatu.”
“Si baby bukan manggil Dira mama, Ma.”
“Terus?”
“Bunda.” Dira tersenyum hingga menunjukkan deretan giginya, “Dira maunya di panggil Bunda.”
Sam berjalan menjauh dari banyaknya orang. Ia memilih berdiri di depan kaca besar sambil memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang dari dalam toko.
“Halo, Pak! Apa ada perkembangan?” tanya Abrisam kepada orang yang tersambung di telepon.
Sam mengangguk-angguk menyimak keterangan dari orang yang meneleponnya.
“Baik, Pak. Saya segera ke lokasi. 15 menit lagi saya sampai di sana.” Pria itu memutuskan sambungan telepon, lalu menyimpan benda pipih itu kembali ke saku.
Ia berjalan menghampiri Dira yang kini duduk manis di salah satu meja. Winda tidak terlihat lagi bersamanya. Wanita itu sedang melayani pengunjung yang memesan kue.
“Sayang, kamu di sini dulu. Aku ada urusan.”
Adira mendongak menatap suaminya, “urusan apa?”
“Itu tadi Polisi yang menangani kasus kebakaran bengkelku menelepon. Katanya, ia menemukan sebuah bukti di lokasi. Jadi, kamu mau cek dulu perkembangannya. Siapa tahu ketahuan yang bakal bengkelku.”
“Ya sudah, semoga kasus ini cepat selesai ya. Biar kamu juga lega dan orang jahat itu mendapatkan balasan setimpal.”
“Iya, amin. Makasih sayang supportnya.” Sam mengecup pipi Dira, “aku pergi dulu. Assalamulaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam, hati-hati sayang!”
Winda yang baru datang kembali, menarik salah satu kursi dan duduk berdekatan dengan Dira.
“Sam mau ke mana?”
“Mau ke bengkel. Katanya, polisi menemukan sesuatu di lokasi bengkel Sam yang kebakaran itu.”
“Bengkel Sam kebakaran?”
Adira mengangguk dan mulai menceritakan kejadian yang sedang menimpah keluarga kecilnya selama ini.
•••
Abrisam memarkirkan motor terlebih dahulu sebelum menemui kepala polisi.
“Bagaimana Pak?” tanya Abrisam saat polisi itu sedang menunggu anggotanya memeriksa bengkel.
“Eh, Pak Sam. Sepertinya ini memang sengaja di bakar. Menurut warga yang melihat api membesar pada pukul setengah enam pagi. Jadi, orang itu datang sangat pagi. Mungkin, bisa jadi saat waktu subuh. Dia sengaja agar aksinya nggak ada yang melihat.” Polisi itu merogoh saku. Ia memberikan sebuah cicin terbungkus plastik, “ini barang yang kami temukan”
Sam mengambil cicin itu dari tangan sang polisi, “kalau dilihat dari bentuknya. Ini cincin pria, Pak.”
“Benar sekali, Pak Sam. Cincin itu jatuh di depan bengkel. Bisa jadi ini milik si pelaku.” Sam memberikan kembali cincin itu, “kami akan menyelidiki sidik jari yang menempel di cincin ini.”
“Iya, Pak. Semua saya serahkan kepada kepolisian. Semoga secepatnya saya bisa tahu siapa yang berani membakar bengkel ini.”
“Lopor komandan.” Ucapan tegas dari bawahan polisi yang mengobrol bersama Sam itu. Membuat kedua pria ini menoleh, “kami sudah memeriksa semua sisi bengkel. Kami menemukan jerigen minyak dibuang di tempukan semak-semak yang ada di belakang ruko.”
“Bawa jerigen itu sebagai bukti. Beritahu yang lain kalau kita akan kembali ke kantor!”
“Siap Komandan!” polisi itu berlalu pergi setelah menyampaikan informasi yang ia dapat.
“Maaf, Pak Sam. Kami masih ada tugas yang lain. Sejauh ini bengkel telah selesai kami periksa. Secepatnya saya akan kabarkan kembali hasil penyelidikan ini. Saya dan rekan-rekan pamit dulu.”
Abrisam dan polisi itu berjabat tangan.
“Terima kasih, Pak. Saya tunggu kabarnya.”
Sam mengantarkan kepergian polisi-polisi itu. Ia senang sedikit lagi akan mengetahui orang jahat yang tega membakat tempat usahanya ini. Lelaki ini lekas naik lagi ke atas motor, menggunakan helm, dan mengendarai motor itu kembali ke toko mertuanya untuk menjemput Adira.
•••
__ADS_1