He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 59


__ADS_3

“Sering-sering aja begini,” celetuk Manha disela-sela makannya.


“Kelihatan banget sih nggak modalnya. Malu dilihatin Dira, Yara, sama Vio ngapa,” ujar Emran memberi tahu.


Manha akhirnya cengegesan dengan terus menyendok makanan.


“Sebenarnya gue nggak terlalu ikhlas ini ngizinin Dira pacaran sama lo.” Perkataan Violet membuat ketiga cowok di depannya itu menatap dia, “karena gue udah janji nggak mau terlalu ikut campur sama percintaan Dira. Jadi, gue restuin, tapi awas lo kalau nyakitin sahabat gue!” Violet menggepalkan tangan ke udara.


“Lo tenang aja Dira sama gue bakal aman. Gue akan jagain dia dan nggak akan nyakitin hatinya.” Sam berbicara dengan serius.


Adira yang mendengar hanya tersenyum malu. Apa lagi saat mata dengan lingkaran hitam di tengah mata cowok itu menatap Dira. Membuat Adira menunduk dan memakan makanannya lagi.


“Apa Adira sama Abrisam jadian?” celetukkan dari orang yang baru datang ini membuat keenam orang itu mendongak untuk melihat siapa yang bicara.


“Iya, kali ini beneran no tipu-tipu,” jawab Manha dengan wajah ngeselinnya.


“Jadi ini alasan lo gantungin perasan gue abis itu ditolak?” tanya Afraz pada Adira.


“Maaf,” lirih Adira.


“Namanya juga cinta nggak tahu kapan datang dan perginya,” tambah Yara yang mencoba membantu Dira.


“Udah cari aja yang lain!” Sambar Emran yang lagi mengemut ceker ayam.


Afraz terlihat tidak suka dengan beberapa celetuk dari sahabat Sam. Ia melangkah meninggalkan kantin.


“Afraz pasti marah deh sama gue gimana ini?” tanya Adira melihat ke arah kedua temannya.


“Kejar sana! Pasti sakit hati banget,” ucap Violet menjawab Dira.


Lengan Vio disenggol Yara. Menyadarkan gadis itu kalau ada yang tersinggung mendengar perkataannya. Vio yang mengerti lekas menggigit bibir bawah dan diam.


Adira menatap Abrisam yang kebetulan sudah melihat ke arahnya.


“Aku susul nggak apa-apa? Cuma kasih pengertian dan jelasin semuanya.” takut-takut Dira meminta izin terlebih dahulu pada Sam, kekasih barunya itu.


Sam mengangguk dan Dira tersenyum melihatnya.


“Terima kasih.” cepat-cepat gadis itu meninggalkan mejanya.


“Eh, ada Naya,” Ujar Manha menyapa Kanaya yang melintas di depan meja mereka.


Naya mendekat ke meja itu. Gadis ini memperhatikan makanan yang terpampang di meja.


“Ih, kalian makan-makan nggak ngajak,” ucap gadis itu memasang wajah kecewa.


“Naya sih ke mana aja?” tanya Manha.


“Habis dari kantor guru. Biasa aku ‘kan siswi pindahan. Jadi, banyak yang harus diurus mendekati ujian ini.”


“Kalau lo mau pesan aja. Nanti gue yang bayar,” ucap Sam sebelum meneguk minumannya.


“Wah, asyik ditraktir Sam. Dalam rangka baru jadian ‘kan?” Naya tertawa geli, “tadi udah diajak sama Dira, tapi malah dipanggil guru.”


“Udah sana sikat, Nay!” seru Emran.


“Sikat!” Naya lekas berlari ke stand-stand penjual makanan.



Adira berhenti berlari saat sudah di luar kantin. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri. Saat menemukan Afraz ia tersenyum, kemudian berlari lagi agar cepat sampai di dekat laki-laki itu.


“Afraz tunggu!”


Sudah diteriaki juga cowok yang dipanggil-panggil itu tetap tidak menoleh, berhenti pun ia tidak.


“Fraz, gue bisa jelasin.” Adira menarik lengan pemuda itu dan membuatnya berhenti melangkah.

__ADS_1


“Mau ngejelasin apa lagi?” Afraz menoleh pada Dira dengan wajah yang terlihat emosi, “mau pamer kalau lo udah jadian dan berhasil balas dendam ke gue? Gue tahu lo balas dendam karena dulu perasaan lo gue acuhin ‘kan?”


“Astaga, Fraz. Gue nggak begitu! Memang waktu gue suka sama lo. Lo nggak nanggepin perasaan gue, tapi nggak ada niat gue buat balas dendam.”


Adira mendongak, menatap lelaki yang lebih tinggi darinya itu.


“Maafin gue, Fraz. Sebenarnya gue seneng lo punya perasaan yang sama kayak gue dulu. Ini yang gue tunggu. Lo bisa suka sama gue, tapi perasaan gue udah nggak untuk lo lagi. Entah bagaimana ia pindah ke Sam. Perasaan nggak bisa diatur begitu saja. Kalau gue masih memaksa untuk bersama lo hubungan kita nggak akan sehat. Sekali lagi maafin gue. Lo bisa dapetin yang lebih baik.”


Setelah berbicara panjang Adira berlari meninggalkan Afraz. Lelaki itu menatap ke pergian Adira hingga sosok itu tidak terlihat setelah berbelok masuk ke dalam kantin lagi.


“Gue ngerti, Dir. Mungkin kita dipertemukan hanya untuk menjadi teman bukan kekasih.” Cowok ini menghela napas, “gue bakal coba mengikhlaskan lo dan membuang perasaan ini.”


Diam cukup lama sambil bergumam di tempat Afraz melanjutkan lagi langkah kakinya yang sempat terhenti.



Berkali-kali ponsel yang tergeletak di atas meja rias itu berdering. Suaranya mengganggu ketenangan Winda yang sedang berbaring di atas kasur.


Akhirnya wanita itu memutuskan untuk mendekati ponselnya. Ia duduk di depan meja rias itu dan membuka satu-persatu pesan yang sudah banyak di kirim sejak tadi.


Winda menghela napas saat tahu pengirimnya. Namun, ia tetap membaca.


Pak Tomi


Selamat malam Winda.


Apa kabarmu?


Kamu sudah memikirkan permintaan saya? Saya masih menunggu jawabanmu.


Saya tidak main-main Winda untuk meminangmu.


Pak Tomi


Winda kenapa tidak di balas?


Saya tahu pasti kamu tidak bisa menjawab ini karena saya sudah menikah berkali-kali bukan?


Kamu tahu sendiri alasan saya menikah itu untuk mencari yang cocok, tapi nyatanya kedua istri saya sama saja. Winda, kalau kamu mau menikah dengan saya. Saya akan bahagiakan kamu dengan anak-anakmu. Saya tidak akan menelantarkan kalian. Apa perlu saya menceraikan kedua istri saya yang tidak berguna itu?


Mata Winda melebar saat membaca bagian terakhir dari pesannya. Ia buru-buru membalasnya.


Winda


Selamat malam Pak Tomi. Maaf sebelumnya, Pak. Saya tidak bisa menerima pinangan bapak. Bukannya saat di restoran sudah saya jawab. Jangan ceraikan istri-istri Bapak. Walau mereka punya sikap yang buruk itu tugas Bapak untuk merubahnya.


Pak Tomi


Kenapa kamu menolak saya? Kamu tidak mau jadi istri ke 4?


Saya bisa membiayai hidupmu dan anak-anakmu Winda. Bukannya katamu anak bungsumu butuh biaya banyak untuk kuliah diluar negeri? Saya bisa wujudin mimpi putrimu itu.


Seketika Winda jadi pikir tentang Adira. Bagaimana kalau Dira gagal mendapatkan beasiswanya. Putrinya itu akan batal untuk kuliah keluar negeri. Sedangkan Dira tampak sangat ingin pergi ke sana.


Winda


Saya akan coba bicara dengan anak-anak dulu ya, Pak.


Setelah membalas pesan terakhir itu wanita ini meletakkan handphone-nya ke atas meja lagi. Ia mengusap wajah dengan gusar. Tampak frustasi memikirkan nasibnya dengan anak-anaknya.



Tuk... tuk...


Ketukan dari pintu kamar membuat lelaki bernama lengkap Adimas Saputra itu menoleh. Ia berhenti sebentar menatap laptop yang sedang menyala.


Cowok itu turun dari kursinya dan berjalan mendekati pintu. Ia putar sebuah kunci yang menggantung, lalu ditariknya pintu berwarna putih itu. Terlihat seorang wanita paruh baya di baliknya.

__ADS_1


“Mama, ada apa?” tanya Dimas.


Bukannya menjawab Winda malah bertanya balik, “kamu sibuk nggak?”


“Nggak terlalu, Ma. Cuma ngerjain tugas yang dikumpul lusa.”


Winda mengangguk-angguk, “mama boleh masuk?”


Dahi Dimas berkerut. Ia bingung mengapa Mamanya harus berbisik-bisik seperti itu.


“Iya, masuk aja, Ma!” Dimas membukakan pintu lebih lebar lagi untuk Winda lewat.


Setelah Winda masuk dan duduk di atas kasur, cowok ini merapatkan saja pintunya tanpa ditutup dan dikunci kembali. Dimas berjalan ke arah meja belajarnya dan duduk di kursi beroda itu.


“Ada apa sih, Ma?” tanya Dimas menghadapkan tubuhnya ke sang ibu.


“Mama mau ngomong serius sama kamu.” Kali ini suara Winda biasa saja tidak seperti tadi yang berbisik.


“Apa itu?”


“Kamu setuju nggak mama nikah lagi?”


“Apa mama mau nikah lagi?” ulang Dimas dengan suara besarnya.


Winda meletakkan telunjuk di depan bibir, “sssttt, jangan keras-keras nanti adikmu dengar! Ini ‘kan belum pasti. Karena kamu anak paling tua. Jadi, Mama mau minta pendapatmu dulu.”


Refleks Dimas membekap mulutnya sendiri. Perlahan ia turun ‘kan tangannya lagi.


Adira keluar dari kamarnya dan langsung menoleh ke kamar sebelah yang sedikit terbuka pintunya.


“Tumben kamar Kak Dimas nggak di kunci?” gumam Dira.


Gadis itu melengkahkan kakinya ke depan pintu kamar Dimas. Langkahnya terhenti, matanya mengintip dari sela pintu, “ada mama.” Telinganya mendengar percakapan itu.


“Mama mau nikah sama siapa? Kayaknya nggak ada laki-laki yang lagi dekat sama Mama.”


“Mama memang belum mengenalkan dia pada kalian. Dia orangnya baik, mapan, dan sopan. Mama pikir ia bisa mengujutkan keinginan Adira kuliah di luar.”


Adira membuka pintu kamar itu lebar-lebar, “mama mau nikah lagi?”


Kedatangan Adira membuat Dimas dan Winda terkejut dan lekas menoleh le arahnya.


“Mama kok mau mengkhianati cinta Papa?” tanya Adira yang tampak sedih.


“Adira, Mama bukan mau mengkhianati cinta Papamu. Mama sangat sayang dan cinta sama Papa, tapi setelah Mama pikir-pikir lagi kalian memang membutuhkan sosok Papa yang nyata dihidup kalian.”


Gadis belasan tahun itu menggeleng, “Dira nggak butuh, Ma. Punya Mama dan Kak Dimas aja sudah cukup buat Adira.”


“Memamng apa salahnya kalau Mama nikah lagi, dek? Mama sudah lama menjanda, mungkin ini saatnya Mama punya pendamping lagi.” Dimas mencoba menasihati adiknya.


“Nggak! Papa baru nggak akan sama sayangnya dengan Papa kita, Kak. Dira nggak mau Papa digantikan!” Dira berlari keluar, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Winda menghela napas. Dimas menatap sang ibu.


“Maafin sikapnya Dira ya, Ma.”


Winda tersenyum pada putra satu-satunya itu, “nggak apa-apa sayang. Mama juga ngerti perasaan Dira.”


“Dimas setuju kalau Mama memang ingin sekali menikah lagi, tapi Dimas harus benar-benar kenal dulu dengan laki-laki itu. Dimas nggak mau kedepannya Mama disakiti.”


Wanita itu tersenyum tipis, “kalau dia ada waktu Mama akan ajak main ke rumah.”


Dimas mengangguk sambil tersenyum.


“Sudah kamu lanjutkan belajarnya!” Winda berdiri dari pinggir ranjang, “Mama mau tidur dulu.” Kemudian hilang dibalik pintu.


“Selamat malam Mama.” Dimas mengunci kamarnya kembali.

__ADS_1



__ADS_2