
Adira berdiri di depan cermin. Tangannya sedang sibuk menata rambut yang kini sudah panjang itu. Gadis itu memang sengaja memanjangkan rambutnya. Agar lebih anggun dan berbeda saja dari Dira yang dulu.
Setelah siap gadis ini mengambil sling bag-nya, lalu segera meninggalkan apartemen dan pergi ke kampus.
Tidak lama Adira sampai di kampus. Baru turun dari bus gadis itu melihat sosok Gabriel dari kejauhan. Cowok itu sedang berjalan masuk ke dalam wilayah universitas.
Dira pikir ini kesempatannya untuk bertanya. Ia harus memperjelas masalahnya ini. Dia tidak mau kalau dirinya dan Sam terus bertengkar.
Gadis ini lekas berlari sambil meneriaki teman laki-lakinya itu, “Gabriel! Gabriel!”
Akhirnya cowok itu berhenti juga dan menoleh ke belakang. Ia tersenyum pada Adira.
“Baru sampai juga?” tanya Gabriel pada gadis yang sudah berdiri di sampingnya itu.
Dira hanya mengangguk, menjawab pertanyaan Gabriel. Ia mencoba mengatur napasnya dulu. Lumayan juga lari-lari dari depan gerbang.
“Ada yang mau aku tanya padamu,” ujar Adira tanpa basa-basi.
Dahi cowok itu berkerut, “mau tanya apa?”
“Apa kamu yang meng-reject telepon Sam di ponselku kemarin?”
Gabriel berpikir, “Sam?”
“Yes, Sam, my boyfriend.”
“Oh!” Gabriel mengacungkan jari telunjuknya, “jadi yang kemarin telepon itu Sam? Sorry, aku tidak liat siapa yang telepon. Aku pikir ia mengganggu kita belajar maka itu aku tolak teleponnya.”
Dira menepuk dahinya, “Gabriel... gara-gara telepon itu ditolak Sam jadi salah paham.”
“Sorry...” Gabriel mengatupkan kedua telapak tangannya setinggi dada, “akan aku bantu jelaskan ke Sam?”
Adira menggeleng, “tidak usah, aku saja yang bicara dengan Sam. Aku takut kalau kamu ikut bicara yang ada masalah tambah panjang.”
“Oh, Oke.” Gabriel mengangguk mengerti.
Dira menyelipkan sedikit rambutnya ke belakang telinga, “ayo, masuk ke kelas.”
Cowok yang memang satu kelas dengan Adira ini mengangguk. Mereka berjalan bersamaan menuju gedung fakultas.
•••
Abrisam mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendengar suara handphone berbunyi tanda pesan masuk.
Cowok ini mengulurkan tangannya ke depan. Ia meraba ponsel yang diletakkan di atas nakas. Dengan mata terbuka setengah Sam melihat nama yang tertera dari sang pengirim. Melihat nama Adira ada di layar handphone-nya cowok ini segera mengubah posisi tidur tengkurapnya ke telentang.
Sam membuka pesan dan lekas membacanya.
Pacar Bawel
Maafin aku.
Kamu cuma salah paham, Sam. Aku sudah tanya sama Gabriel ternyata waktu nge-reject teleponmu Gabriel nggak liat dulu siapa yang telepon.
Aku juga janji nggak akan bawa cowok ke apartemen lagi. Maafin aku.
__ADS_1
Sam menghela napasnya setelah selesai membaca spam chatting dari kekasihnya. Ia tidak langsung membalasnya. Dia melihat jam yang tertera di ponsel. Baru pukul lima pagi. Ia juga jelas mendengar suara dari masjid yang masih berdoa setelah salat subuh.
Adira yang sedang mencuri-curi kesempatan bermain handphone saat dosen sedang menerangkan itu, menerima balasan dari Sam. Ia lekas membukanya.
Abrisam
Aku sudah memaafkan kamu.
Aku nggak percaya 100% pada Gabriel. Yang penting kamu nggak mengulangi kesalahan yang sama.
Dihubungan yang kita jalanin sekarang cuma kepercayaan yang membuat kita bertahan. Aku percaya sama kamu.
Senyum merekah di bibir tipis milik Dira. Akhirnya Sam memaafkannya. Gadis ini menoleh pada Gabriel yang duduk di sebelahnya. Kemudian ia segera membalasnya.
Pacar Bawel
Terima kasih.
Aku akan jaga kepercayaanmu. I love you.
Kamu pasti baru bangun ‘kan? Sudah salat? Salat dulu sana! Aku masih ada kelas. Nanti kita kabaran lagi.
Sam tersenyum-senyum mendapatkan balasan itu. Adira selalu bisa menebak apa yang sedang atau yang belum cowok itu lakukan. Abrisam yang duduk di pinggir ranjang ini, menyimpan kembali benda pipih itu ke nakas. Ia lekas berjalan ke arah kamar mandi.
•••
“Sam! Sam!”
Abrisam yang melajukan motornya masuk ke dalam kampus berhenti saat mendengar seseorang memanggilnya. Ia melihat lelaki dengan vespa mengarah padanya. Itu Adimas, kakak Adira. Mereka memang satu kampus.
“Ada apa, Kak?” tanya Sam.
“Lo sama adik gue lagi marahan?” tanya balik cowok berkemeja falanel itu.
Sam mengubah posisinya menjadi lebih santai. Ia menganggukan kepala, “tapi sekarang sudah baikkan kok.”
Dahi Dimas berkerut, “cepat amat? Padahal Dira baru curhat tadi malam. Dia sampai minta tolong gue ngomong ke lo.”
Kalau yang merajuk itu Sam memang mereka cepat berdamai, berbeda kalau ini terjadi oleh Adira. Maka Sam harus memutar otaknya untuk membuat gadis itu luluh kembali.
“Tadi pagi Dira udah memperjelas semuanya. Gue nggak mau ini berlarut-larut, Kak. Dira sudah mengakui kesalahannya aja itu sudah cukup buat gue.”
“Oh begitu, syukurlah. Dira beruntung dapat lo. Gue juga nggak khawatir ngelepas adik gue ke lo.”
Sam tersenyum, “gue yang beruntung dapat adik lo. Btw, lo ngapain ke sini? Katanya lagi skripsi?”
“Emangnya kalau lagi skripsi gue nggak boleh ke kampus?” tanya balik Dimas.
Cowok yang ditanya ini malah tertawa, “nggak juga sih.”
“Gue habis ngurus skripsi dan lo tahu? Seminggu lagi gue sidang. Terus nunggu wisuda deh.” Dimas sedikit membusungkan dada, bangga dengan dirinya sendiri.
“Wih! Selamat, Kak. Makan-makan dong.” Sam dan Dimas berjabat tangan.
“Makan aja pikiran lo. Itu gampang, habis gue lulus disidangnya ya.”
__ADS_1
Sam mengangguk, “oke, gue tunggu.”
Dimas bersiap-siap lagi ingin menjalankan vespanya, “gue balik dulu!”
“Iya, hati-hati, Kak!”
“Pasti, lo belajar yang benar. Biar nggak lama-lama di kampus ini,” ujar Dimas berpesan.
“Tenang aja, gue ‘kan pintar.” Abrisam mengedikkan kedua alisnya dan tersenyum lebar.
“Halah, sok iya benget lo.” Dimas tertawa dibuatnya.
Setelah Dimas pergi meninggalkan Sam di tempatnya. Sam pun menyusul untuk melajukan kembali motornya itu hingga ke parkiran fakultasnya.
Sambil melangkah menuju kelas Sam mengibaskan tangannya ke leher. Siang ini terasa lebih panas hingga cowok itu kegerahan. Belum lagi ia disambut dengan celotehan teman-temannya yang sudah datang.
“Bedakan terus! Dempul sampai tebal,” seru Jodi yang melihat Celsie sedang menatap cermin kecil sambil berbedak.
Celsie adalah salah dua dari perempuan yang ada di kelas itu selain Tania. Namun, bedanya Celsie masih terlihat feminim bahkan mendekati centil.
Gadis itu menoleh ke belakang, “sirik aja sih Jodi. Urus aja tuh rambut lo yang nggak pernah tumbuh!”
“Sialan!” umpat Jodi sambil mengelus kepalanya, “ini emang sengaja nggak dipanjangin bukan nggak tumbuh, bodoh.”
Celsie tidak menggubrisnya lagi. Ia melanjutkan aktifitas bermake upnya. Tania yang sudah datang dan ada di tengah-tengah mereka hanya menggelengkan kepala.
“Lo itu mau kuliah atau ke mall sih, Cel?” tanya Jodi masih saja mengganggu gadis itu.
“Kuliah terus pulangnya mampir ke mall. Udah lo diam aja deh jangan banyak omong!”
“Pantesan aja. Kayak Tania tuh kuliah dandannya simple nggak rempong kayak lo.”
Celsie berbalik lagi. Ia menatap Tania, memperhatikan dari bawah hingga ke atas, lalu bergidik.
“Tania ini dandannya kayak laki. Gue ‘kan perempuan wajar begini. Siapa tahu dengan begini, gue bisa sekalian dapat jodoh. Laki-laki itu suka cewek cantik. Nggak percaya tanya aja sama Sam. Iya ‘kan, Sam?”
Sam yang sedang memainkan handphone di tempat duduknya menoleh, “iya.”
“Tuh,” tambah Celsi lanjut merapikan penampilannya.
“Gue ‘kan juga laki kenapa nggak ditanyain?” tanya Jodi terheran-heran.
“Lo nggak normal. Lo ‘kan nggak ada pacar.”
“Mentang-mentang nggak ada pacar nggak normal begitu?”
Celsie menoleh ke Jodi dan mengedikkan kedua bahunya.
“Lo nggak normal di muka, Jod.” Celetuk Abrisam.
“Sialan lo Sam. Mentang-mentang ganteng.”
Tania menoleh ke Sam dan tertawa mendengar candaan itu. Celsie juga tertawa. Namun, sengaja dilebih-lebihkan untuk mengolok Jodi.
•••
__ADS_1