He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 45


__ADS_3

Ketika pintu mobil kembali terbuka Emran dan Manha merubah posisi duduknya menghadap Abrisam yang baru saja duduk kembali di jok pengemudi. Cowok itu memakai sabuk pengamannya lagi. Namun, saat ingin mengidupkan mesin mobil Manha bersuara membuat Sam menghentikan sementara aktifitasnya.


“Lo ngomongin apa aja sama Naya?” Emran hanya mengangguki pertanyaan Manha.


Sam menoleh sekilas ke belakang.


“Gue bahas perjodohan itu. Gue minta tolong sama dia agar bekerja sama menggagalkan semua rencana bokap gue.”


“Bukannya Kanaya itu cinta pertama lo. Harusnya lo senang dijodohkan sama dia. Ini kok lo malah mau dibatalin?” kali ini Emran yang bertanya.


Sam menatap ke depan. Ia terdiam sebentar. Menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya.


“Gue suka Adira. Sedangkan Kanaya udah nggak ada lagi di hati gue.” Sam melihat temannya bergantian.


Tawa Manha langsung pecah. Emran pun jadi ikut tertawa.


“Tuh ‘kan, makanya gue malas cerita sama kalian.” Abrisam membuang muka.


“Gue nggak suka cewek kayak Dira. Kerjaannya ngomel mulu. Gue pura-pura pacaran cuma buat dia nggak betah terus menyerah ngatur gue,” ucap Manha menirukan Sam saat berkata semua itu. Manha tidak berhenti tertawa.


Sam benar-benar malu rasanya ia ingin menghilang saja sekarang.


Emran sudah tidak tertawa lagi, “gue nggak nyangka lo bisa suka beneran sama Dira.”


Cowok itu menoleh ke sampingnya, “gue juga bingung. Perasaan itu datang begitu aja.”


“Kena karma lo!” sorak Manha kembali tertawa, “aduh sakit perut gue.” Ia memegangi perutnya.


“Kayaknya sih gitu.” Sam memejamkan mata dan mengengernyitkan wajah sebentar, “diam nggak lo atau mau gue matiin!” kemudian ia mengancam Manha.


Perlahan Manha berhenti tertawa, “ampun, Sam. Abis lucu banget. Orang yang tadinya benci sekarang malah suka sama yang dia benci.”


“Maka itu, benci dan suka sama orang jangan berlebihan,” tambah Emran.


“Terus kalau menurut kalian, Dira suka beneran nggak sama gue?” tanya Sam.


Manha berpikir. Namun, Emran menjawabnya lebih dulu.


“Kata lo, dia terima waktu lo ngakuin kalian pacaran.”


Sam mengangguk, “iya, tapi aneh nggak sih tiba-tiba dia mau jadi pacar gue? Padahal tadinya nolak abis-abisan.”

__ADS_1


“Semua orang bisa aja sih berubah. Mungkin, dia baru sadar kalau pacaran sama lo nggak buruk juga,” balas Emran dengan serius.


Manha mendekat, meletakkan kedua tangannya di jok depan tempat Emran dan Sam duduk, “gue sih nggak yakin 100%. Sam aja berubah perlu waktu yang lama. Masa Dira bisa berubah hitungan hari.”


“Tapi Dira itu ‘kan cewek. Cewek itu lebih sensitif perasaannya bisa aja dia berubah benaran,” ucap Emran membuat Sam makin bingung saja.


Manha bingung. Ia mengedikkan kedua bahunya, “ayo, kita jalan dulu! Makin siang nih. Nanti kita pikirin lagi atau cari tahu.


Sam mengidupkan mesin mobilnya sesuai intruksi Manha, lalu meninggalkan kafe. Kanaya yang baru kelur dari kafe itu. Melihat mobil milik Sam baru saja berjalan.



Abrisam menggigiti pena dengan duduk menghadap meja belajar. Matanya menatap buku pelajaran yang sudah ia baca sejak satu jam tadi. Namun, sudah sekali untuk menempel di otaknya.


“Ah, bosan.” Ia menghempaskan pena ke atas meja.


Sam menoleh ke samping. Ia menatap benda pipih yang tergeletak itu. Tangannya meraih bendah bercase hitam itu. Ia gulurkan berbagai arah.


“Kira-kira Dira lagi apa ya? Coba video call deh.”


Sam mengetuk layar hp pas di nomer yang tertera nama Sekertaris Resek. Sambungan terhubung tinggal menunggu gadis itu mengangkatnya. Cowok itu mengamil sebuah kaleng tempat meletakkan pensil dan penananya, menyandarkan ponsel pada kaleng itu.


Tidak lama Adira muncul di balik layar. Gadis terlihat ada di dalam kamar.


“Ini gue belajar.” Sam mengangkat bukunya yang ada di meja untuk menunjukan pada Adira.


“Tumben sekarang nggak perlu diomelin dulu baru belajar?”


Sam mendekatkan wajahnya di depan layar hingga Dira yang memundurkan kepalanya, “serba salah sama lo. Gue nggak belajar dimarahin, udah belajar tanpa disuruh juga dicurigain. Kalau deket udah gue ***** lo.”


Adira menutup mulutnya, lalu menggepalkan tangan di depan layar.


“Mau gue bogem?”


Sam kembali duduk dengan tegak sambil tertawa.


“Ampun kanjeng ratu.” Ia mengatupkan kedua tangan di depan dada sambil menunduk-nundukan kepala, seperti orang menyembah.


“Ngejek lo? Udah sana belajar lagi! Gue matiin ya video call-nya?” Adira mengulurkan satu tangannya ke depan untuk menggeser ikon merah di layar handphone.


“Jangan-jangan!” Adira mengudungkan niatnya, “gue mau ditemenin lo belajarnya. Jadi, kalau ada yanh nggak gue ngerti langsung bisa nanya. Mau ‘kan?”

__ADS_1


Padahal itu cuma modus Abrisam agar dapat melihat Dira lebih lama lagi.


“Oke, awas kalau masih main-main. Cepat baca buku lo!”


Adira kembali menundukan kepalanya. Handphone-nya ia biarkan bersandar dengan kotak pensil. Ia fokus memembaca buku. Sedangkan Abrisam malah menatapnya.


Cowok itu memperhatikan setiap inci wajah Dira. Walau cuma bisa melihat dari samping wajah itu berhasil membuat Sam senyum-senyum sendiri.


Adira yang merasa diperhatikan menoleh. Ia melihat Sam yang melamun menatapnya.


“Woi, Sam!” teriakanya berhasil menyadarkan cowok itu, “malah bengong. Baca buku lo!”


“Hah?” Sam berusaha mengumpulkan kesadarannya, “iya-iya ini gue baca.”


Ia mematuhi perintah cewek manis yang sedang membuatnya berbunga-bunga itu. Baru lima menit membaca. Ia malah menguap lebar, tapi tidak ditutup.


“Udah nguap aja lo. Ayo, baca lagi! Masih jam delapan ini.” Mendengar suara Adira yang memarahinya Sam menoleh. Ternyata gadis itu mengawasinya dengan ketat.


“Iya-iya.” Baru melihat tulisan di buku Sam kembali menatap layar ponsel, “Dir, ada yang mau gue tanya.”


Adira yang baru saja fokus lagi ke bukunya kembali menoleh, “ada yang lo nggak ngerti?”


“Iya, ada yang nggak gue ngerti.” Sam mengangguk cepat, “gue masih nggak ngerti, lo ini suka sama gue benaran atau nggak? Soalnya aneh lo mau aja jadi pacar gue.”


Ditanya seperti itu Adira jadi kelabakan. Matanya jadi melihat ke berbagai agar. Tengkuknya juga ia usap-usap. Terus tiba-tiba ketawa nggak jelas.


“hahaha iya gue suka benaran-lah. Pertanyaan lo aneh-aneh aja. Gue kira mau nanya pelajaran.”


Dahi Abrisam berkerut melihat reaksi Adira, “lo nggak bohong?”


Dira terdiam, sebenarnya ia juga bingung dengan perasaannya sendiri. Satu sisi ia masih beharap akan cintanya Afraz. Cinta monyetnya yang cuma hayalan. Namun, berjalannya waktu impian ditembak Afraz terkabul. Walau terpaksa di tolak demi merubah Abrisam. Disatu sisi lagi, Kalau Adira berkata jujur pada Sam. Ia juga takut akan kehilangan pemuda itu. Apa lagi sekarang dia sudah banyak perubahan. Dira nggak mau Sam balik seperti dulu.


Adira menggeleng dan tersenyum, “nggak dong. Masa gue bohongin lo.


“Makasih,” lirih Sam menatap tajam ke layar ponsel.


“Untuk?”


“Untuk cinta lo ke gue. Nggak nyangka bisa pacaran sama seorang Adira Verbena si pemenang olimpiade dan murid kesayangan guru-guru.”


“Lebay lo. Udah jangan banyak bacot! Belajar atau gue matiin nih video call?”

__ADS_1


“Iya-iya.”



__ADS_2