
“Adira!” Sam berlari dari dalam kelas menyusul Adira yang sudah keluar lebih dulu dengan kedua sahabatnya.
“Sam manggil lo tuh,” ucap Yara yang melihat ke belakang, lalu beralih menatap Adira yang ada sebelahnya.
“Udah cuekin aja!” Adira terus berjalan. Yara dan Violet hanya mengikuti saja.
“Pulang sama gue yok!” ajak Sam yang sudah ada di samping gadis pujaan hatinya itu.
“Pulang sana sama gebetan lo!” Gadis ini menjawab tanpa menatap Sam.
“Gebetan gue ‘kan lo? Berarti gue harus pulang sama lo dong.” Sam membenarkan tali ranselnya yang turun dari bahu.
“Bukan, nggak usah ikutin gue lagi!” Adira berbicara dengan terus berjalan keluar dari gedung sekolah.
Violet dengan kipas di tangannya terus melihat ke arah Dira dan Sam. Gadis itu terlihat ingin tahu semua masalah mereka.
“Dir.” Sam mencekal tangan Dira. Memegang pergelangan gadis itu dengan kuat hingga langkahnya terhenti, “lo kenapa sih?”
Violet dan Yara juga menghentikan langkah mereka.
“Lepasin Sam!” Adira menggerak-gerakkan tangannya. Tidak semudah itu untuk Sam melepaskannya, “lo lebih baik pulang sama Naya aja. Kalian kelihatan lebih cocok. Sekalian terusin pertunangan kalian yang batal.”
Dahi Sam berkerut. Sebenarnya dia tahu penyebab Adira marah seperti ini, “lo cemburu?”
“Nggak! Siapa juga yang cemburu. Gue cuma nggak mau pulang sama lo lagi.”
“Kalau lo nggak mau pulang sama gue berarti lo cemburu,” ucapan Abrisam membuat mata Adira melebar.
“Mana ada kayak gitu?”
“Soalnya sikap lo kayak orang cemburu. Jadi gimana mau ‘kan pulang bareng?” tanya Sam yang tersenyum lebar.
“Ya sudah gue pulang sama lo.” Adira menoleh pada kedua temannya, “maaf gue nggak jadi nebeng sama lo.”
Yara tersenyum, “nggak apa-apa.”
Dari pada dituduh terus-terusan oleh cowok di sebelahnya itu Dira memilih mengikuti maunya saja.
Abrisam memberikan kode pada Yara. Gadis dengan rambut pendek itu mengerti. Ia merangkul Violet dan menggeretnya pergi.
“Loh, Dira bagaimana?” tunjuk Vio yang menoleh ke belakang.
“Udah biarin aja mereka! Jemputan lo udah nunggu tuh.” Yara terus membawa Vio untuk mengikutinya.
Adira melihat ke arah Sam kembali. Ia berusaha melepas genggaman cowok ini.
__ADS_1
“Lepasin gue!”
“Nggak mau. Nanti lo kabur lagi.” Sam masih bersikeras dengan kemauannya.
“Gue ‘kan udah bilang bakal pulang sama lo. Gue nggak akan kabur,” ujar Dira memberi pemahaman pada Abrisam.
Dengan menelisik cowok berparas rahang yang kokoh itu memperhatikan Dira.
“Gue nggak percaya. Lo kayak mau ngibulin gue. Udah sih gue gandeng aja biar sweet.”
Dira menatap jijik Sam, “terserah lo deh. Padahal gue nggak akan ngibul kayak lo.”
“Gitu dong.” Sam tersenyum. Mereka mulai melangkah kembali dengan bergandengan.
Abrisam menepikan motornya di depan sebuah kafe bergaya minimalis yang kekinian. Disana lebih banyak pengunjung kaum milenial seperti mereka.
Mata Adira menyusuri tempat itu. Dahinya berkerut. Tangannya refleks menepuk pundak Abrisam.
“Kok kita malah ke kafe? Katanya lo mau anter gue pulang?”
Sam melepas helmnya. Merasakan pundaknya ditepuk ia menoleh ke belakang.
“Ini bukan modus lo buat ajak gue kencan 'kan?”
Sam tersenyum tipis tanpa Adira tahu. Sam lekas turun dari motornya dan menyandarkan pinggul di motor yang sudah terparkir.
“Kencan? Terlalu tinggi ekspetasi lo. Sudah ayo turun.” Sam membantu Dira melepas helmnya, “gue laper nih buruan.”
Adira mengerutkan bibirnya, “iya, iya, bawel.”
Gadis yang terlihat kesal itu terus mengikuti Sam dari belakang sampai masuk ke dalam kafe.
Sam dan Dira duduk berhadapan tidak lama pelayan datang. Mereka memesan makanan.
“Lo nggak mau makan juga?” tanya Sam.
“Nggak usah gue pesan minum aja.” Adira mengembalikan buku menu pada pelayan.
“Baik, tunggu sebentar mas, mbak.” Pelayan pun pergi meninggalkan mereka.
Adira memerhatikan sekitar kafe. Sedangkan Sam terlihat gugup dengan terus menggoyangkan kakinya di bawah meja.
“Dir!” panggil itu membuat Adira menoleh, “sebenarnya ada yang mau gue omongin.”
__ADS_1
“Apaan tanya Adira?”
“Lo mau nggak sih jadi pacar gue?” pertanyaan itu membuat Adira diam seribu bahasa, “soalnya yang kemarin belum ada jawaban.”
Dira menundukkan kepalanya. Ia meremas-remas jari di pangkuan.
“Dir, jawab dong! Gue butuh kepastian? Lo nggak bisa suka sama gue?”
Dengan perlahan kepala gadis ini terangkat. Matanya bertemu dengan mata lelaki itu.
“Gue... gue kira lo sama Naya lagi,” ucapnya takut-takut.
Sam tersenyum dan mendengus, “gue sama Naya itu berteman. Walau orang tua kita sudah tidak berhubungan baik, tapi gue sama Naya sudah janji hubungan kita tetep akan baik-baik aja. Lo cemburu ya?”
Mendapat pertanyaan itu Adira kembali menunduk.
“Nggak masalah kalau itu benar. Gue senang. Jadi, kita pacaran?”
Adira kembali mengangkat kepalanya dan meletakkan kedua tangan di atas meja.
“Kalau udah pacaran kita harus apa?” Adira menggigit bibir bawahnya. Pertanyaan bodoh macam apa yang ia ucapkan.
Sam sampai tertawa pelan mendengarkan itu. Pemuda ini menggenggam tangan Adira.
“Makasih atas kesempatan lo. Gue janji nggak akan nyakitin lo.”
“Nggak usah janji. Gue perlu bukti kalau lo bener berubah.”
“Oke, siap Bu bos.”
Adira tertawa mendengar balasan dari Abrisam yang sekarang sudah jadi kekasih sungguhannya.
Tidak lama pesanan mereka datang. Adira jadi memerhatikan spaghetti milik Abrisam.
“Mau?” tanya Sam yang mendapat anggukan malu-malu Adira.
“Sesuap aja.”
Dengan rasa kasih sayangnya Sam menyuapkan makanan itu ke mulut Adira.
“Mau pesan aja?” tawaran Sam mendapat gelengan dari Adira, “Kenapa diet?”
“Nggak juga.”
__ADS_1