He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 41


__ADS_3

Kanaya menutup pintu mobilnya sedikit kuat, lalu ia jalan sambil memperhatikan mobil lain yang ada di halaman rumahnya.


Gadis itu terus melangkah masuk ke dalam rumah. Ia terkejut dengan kedatangan ayah dari Abrisam di rumahnya. Beliau sedang berbincang dengan ayah dari Naya.


“Ini anaknya, Tom.” Pria paru baya itu menunjuk Naya, “baru pulang sekolah. Kamu tahu Tom? Naya satu kelas lagi dengan Sam.”


Tomi memasang ekspresi kagetnya, “wah, sekelas terus ya kalian? Jodoh mungkin.”


Tomi tertawa dan diikuti tawa ayah Naya.


“Kebetulan aja itu, Om. Nggak mungkin jodohlah,” balas Naya yang coba menolak perkataan Tomi.


“Sini sayang, salim dulu dong sama Om Tomi! Nggak sopan berdiri di situ aja.”


Kanaya bejalan mendekat. Ia mengikuti perintah sang ayah dan menciu*m punggung tangan ayah dari teman lamanya itu.


“Sini duduk sebelah, Om!” Tomi menepuk tempat kosong di sebelahnya. Naya menurut saja.


“Anak kamu ini makin cantik aja ya. Dulu waktu SMP, main ke rumah nggak seperti ini tampilannya,” ujar Tomi yang berbincang kembali dengan ayahnya Naya.


“Anak siapa dulu? Adam. Bapaknya aja cakep.” Tomi tergelak mendengar itu, “lagi pula dulu ia kan masih anak-anak belum peduli penampilan.”


“Kamu ini masih aja selera humornya seperti dulu.” Tomi menggeleng-gelengkan kepala pelan, “benar sih, dulu masih kecil sekarang udah gadis begini.” Tomi memperhatikan Naya yang ada di sampingnya.


“Apa kata Sam saat ketemu kamu lagi?” Pertanyaan Tomi membuat Kanaya mengedipkan mata berkali-kali.


“Ya begitu, Om.” Naya tersenyum dengan dibuat-buat.


“Begitu bagaimana? Kalian masih dekat seperti dulu ‘kan? Soalnya waktu kamu pergi Sam kelihatan murung.”


“Kami deket kok, Om. Nggak banyak yang berubah dari Sam.” Kanaya terpaksa berbohong. Padahal Sam masih terlihat marah padanya.


“Bagus deh. Om itu berpikiran pengen jodohin kalian.”


Betapa terkejutnya Kanaya mendengar penuturan pria paru baya itu. Bagaimana bisa dijodohkan sedangkan Sam saja sudah punya kekasih.


“Benar itu Tomi. Kita jodohkan saja mereka agar hubungan kita ini makin erat,” tambah Adam yang setuju.


“Kanaya nggak mau ayah.” Mendengar penolakan dari putrinya Adam terkejut.


“Kenapa nggak mau?” tanya Adam.


“Sam itu udah punya pacar nggak mungkin Naya sama Sam,” ucapnya berterus terang.


“Baru pacaran ‘kan? Masih bisa putus. Sam nggak akan nolak asal kamu mau saja,” ujar Tomi menyerongkan duduknya menatap Kanaya.


“Bener kata Om Tomi, sayang. Bukannya kamu bilang dulu suka sama Sam?” tambah Adam membuat Naya bingung.


“Kata siapa, Yah? Aku nggak suka sama Sam. Aku anggap Sam sahabatku aja.”

__ADS_1


“Kata Bunda, kamu sering ceritain Sam.”


“Sering cerita bukan berarti Aku suka. Aku nggak mau dijodoh-jodohin titik!” Naya lekas bangkit dari sofa dan berlari menuju kamarnya.


“Kenapa anak itu jadi marah-marah?” Adam bingung melihat reaksi Naya yang berlebihan.


“Sudahlah, Dam. Namanya juga anak-anak. Nanti juga dia mau. Kita atur aja. Oh iya bagaimana dengan bisnismu itu?”


Adam dan Tomi lanjut berbincang di ruang tamu dengan di temanin secangkir kopi dan gorengan yang telah Wulan—ibu dari Naya—siapkan.



Adira memperhatikan Winda dan Dimas yang sedang menyantap makan malamnya. Karena Winda tidak terlalu sibuk hari ini mereka bisa makan bersama di meja makan.


Dimas yang merasa diperhatikan sejak tadi menolehkan kepalanya, “ada apa?”


Dira tersentak. Pertanyaan Dimas membuat Winda menghentikan aktifitas makannya dan menatap sang putri.


“Nggak ada apa-apa,” jawab Dira kembali melanjutkan menyantap makanan.


“Ada yang mau kamu omongin?” tanya Winda yang bisa tahu isi pikiran Adira.


Gadis itu berhenti menyendok nasi. Ia menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.


“Mau ngomong aja ribet lo,” celetuk Dimas dan kembali makan.


“Ya sudah ngomong aja sayang.” Winda tersenyum.


“Jangan ya sayang itu terlalu jauh. Lagi pula Mama nggak punya uang banyak. Kamu tahu ‘kan biaya kuliah di sana bisa berlipat-lipat dari di sini. Kampus di indonesia juga banyak yang bagus.”


Adira terlihat lesu dan cemberut. Ternyata keputusan mamanya belum berubah.


“Kuliah di kampus gue aja sih,” ujar Dimas dengan mulut yang masih mengunyah.


“Nah, tuh bener Kak Dimas. Kalau kamu satu kampus sama Kakak ‘kan ada yang ngawasin.” Winda mengangkat gelas, lalu mendeguk airnya setelah berbicara.


“Kalau soal biaya kuliah ‘kan ada beasiswa, Ma. Dira akan dapetin itu.”


Winda meletakkan gelas kembali. Piringnya sudah tampak kosong, “terus biaya hidupmu di sana? Bayar tempat tinggal dan lain-lainnya? Mama takut tidak bisa memberikan itu sayang. Mama juga nggak bisa jauh darimu.”


“Mama jangan khawatir Dira bisa jaga diri. Dira ‘kan sudah besar, Ma. Nanti juga Dira akan kuliah sambil kerja agar mama tidak terlalu berat membiayai Dira.”


“Kamu ini keras kepala sekali. Terserah kamu saja. Kalau kamu bisa dapat beasiswa itu silakan pergi.” Winda bangkit dari kursinya dan melangkah keluar dari dapur.


“Mama marah tuh.” Dimas merapikan sendok dan garpu yang ia gunakan, “percuma lo sekolah jauh kalau nggak dapat restu Mama. Lebih baik nurut aja.”


Dimas merapikan piring-piring yang telah kosong. Ia berdiri dan berucap, “hari ini giliran lo yang cuci piring.”


Setelah itu ia juga berlalu meninggalkan meja makan. Tinggal Adira sendiri di sana dengan makanan yang masih tinggal setengah porsi.

__ADS_1


Gadis itu terdiam, menatap kulkas yang ada di depannya. Ia sedang memikirkan perkataan sang kakak. Ada benarnya juga, percuma kalau Winda tidak merestui dirinya menempuh pendidikan di luar. Ilmu yang Dira dapat bisa percuma saja atau lebih buruknya akan terjadi sesuatu mengerikan di sana kalau dia masih memaksa pergi.



Abrisam menepikan motornya saat sampai di depan rumah Adira. Dimas yang saat itu sedang mencuci motor, mendongakan kepala. Melihat dari mana sumber bunyi motor itu.


“Lo lagi. Mau jemput adek gue?” tanya Dimas dengan suara dikeraskan.


Sam melepas helmnya terlebih dulu, “iya, Kak. Adiranya ada?”


“Ada di dalam.” Dimas menjenjangkan lehernya dan menoleh ke pintu rumah, “Dira ada yang nyariin lo nih!” cowok itu berteriak kencang.


Sam yang menunggu di atas motornya hanya mengernyitkan dahi sambil menunggu sosok Dira muncul dari balik pintu.


“Apaan sih Kak teriak-teriak?” Adira akhirnya keluar dari rumah. Ia tampak sudah siap akan berangkat ke sekolah.


“Itu ada pacar lo.” Dimas menunjuk dengan dagu. Lelaki yang sudah masuk kuliah semester lima itu melanjutkan kegiatan mencuci motornya.


Adira melihat ke arah pagar. Sam tersenyum padanya.


“Sam?” gadis ini segera berlari kecil menghapiri Abrisam.


“Tumben lo berangkat pagi?” tanya Adira yang sudah berdiri di samping motor.


“Kan gue mau jemput lo.”


“Sebenarnya nggak usah dijemput. Gue bisa naik angkot.”


“Nggak apa-apa kali sebagai pacar yang baik gue jemput pacarnya untuk berangkat bareng.”


Adira memutar bola matanya, “gombal aja lo terus.”


“Sampai lo baper terus klepek-klepek sama gue ya?” Sam tertawa pelan dan memasang helm ke kepala.


“Emangnya ikan yang kehabisan air, klepek-klepek?” Dira melipir ke belakang dan naik ke boncengan.


Cowok itu menoleh ke belakang, “siapa yang nyuruh lo naik?”


“Lo bilang sendiri mau jemput gue. Udah deh jangan bercanda lagi.” Adira menepuk pundak Sam, “buruan jalan!”


Sam tertawa lagi. Ia senang sekali menjaili gadis itu.


“Pakai helmnya dulu!” Cowok itu mengulurkan helmnya yang sengaja dibelikan hanya untuk Adira yang memakainya.


Adira menerima helm pemberian Sam dan mengunakannya. Lelaki yang terlihat rapi dan memakai dasi itu mengidupkan mesin motornya.


“Kak, Dira berangkat!” teriak Dira berpamitan pada Dimas.


Dimas berhenti mengelap motornya, “iya hati-hati kalian. Jagain adek gue, bro!”

__ADS_1


Sam mengacungkan ibu jarinya ke atas, lalu motor pun mulai berjalan meninggalkan perkarangan rumah Dira.


Adira tersenyum memperhatikan Sam dari kaca spion. Gadis ini senang makin ke sini Sam makin banyak perubahan. Nampaknya, ia akan berhasil merubah biang onar SMA Nusa Bangsa ini.


__ADS_2