
Adira mendorong pintu sebuah restoran saat ingin masuk ke tempat itu. Siang ini ia pergi sendiri. Sebenarnya ada janji makan siang dan berbincang ringan dengan Kanaya. Karena tidak ada juga yang membuat Dira sibuk kali ini, ia menyetujuinya.
Gadis itu mengambil tempat di dekat jendela. Kanaya belum tampak batang hidungnya. Mungkin, masih terjebak macet. Dira memilih untuk memesan minum dulu sambil menunggu sahabatnya itu datang.
Baru saja melangkahkan kaki masuk ke restoran bersama sang asisten, Gabriel tidak sengaja menangkap sosok Adira yang sedang berbincang dengan seorang pelayan.
Lelaki ini merapikan jasnya sebelum melangkah mendekati wanita yang duduk sendirian itu.
“Sendirian saja?” pertanyaan dari Gabriel membuat Dira mendongakkan kepalanya, “sudah ada seminggu kita tidak bertemu. Masih bisa kamu makan di restoran setelah tidak punya pekerjaan dan suamimu juga pengangguran?”
Adira memalingkan wajahnya. Malas sekali rasanya bertemu Gabriel. Gabriel menyuruh asisten yang ada di belakang menjauh dari dirinya. Pria ini menarik satu kursi dan duduk berhadapan dengan Adira.
“Kamu tambah cantik saja. Kamu yakin tidak mau bekerja denganku lagi? Syarat jadi pacar masih berlaku loh.”
“Lebih baik kamu pergi dari hadapanku sekarang juga! Aku jijik melihat wajahmu itu.”
Lelaki ini malah tertawa, “sudah tidak punya apa-apa masih saja kamu sombong.”
“Siapa bilang? Suamiku sudah bekerja. Kami sudah ada pemasukan sekarang.”
“Kerja apa sih si Sam itu? Ngebengkel lagi?” Gabriel tertawa geli.
Dira memutar bola mata karena bosan mendengar Gabriel selalu meremehkan. Gadis ini mengaduk-aduk minumannya, lalu menyeruput sedikit dengan pipet yang tersedia.
“Setidaknya dia lebih baik darimu. Dia tidak mengadalkan kekuasaan orang tuanya untuk menjatuhkan orang lain.”
“Sebenarnya aku tidak mau menjatuhkan siapa pun, tapi kamu sendiri yang memaksa aku untuk melakukan itu. Coba kamu terima saja kalung dan cinta dariku. Mungkin, ini tidak akan terjadi.”
Dira menghela napas, “lebih baik kamu segera pergi dari sini! Aku sedang mengandung. Kalau terlalu lama berbicara denganmu bayiku bisa stres. Kata dokter, aku nggak boleh stres.”
“Kamu sedang hamil?” Gabriel mencondongkan tubuh ke depan, “mengapa kamu mengandung anak dari orang yang aku tidak suka?”
“Jadi kamu nggak mau pergi?” Adira mengalihkan pembicaraan.
“Jawab dulu pertanyaanku!”
“Ya sudah aku saja yang pergi.” Dira berdiri, lalu berjalan mendekati kasir. Ia membayar dahulu minuman yang sudah terlanjur dipesannya.
Gabriel tidak tinggal diam lelaki itu terus mengekori gadis ini.
“Aku maunya kamu memiliki anak denganku. Mengapa kamu membuatku frustasi. Aku sangat mencintaimu Adira.”
__ADS_1
Adira menoleh ke lelaki ini setelah menerima kembalian dari kasir. Ia melanjutkan langkah tanpa memedulikan Gabriel. Pria ini tidak menyerah begitu saja. Ia terus mengikuti Dira hingga keluar dari restoran.
“Adira, I love you so much. Aku mohon jadilah pacarku. Sekedar pacar.”
Perkataan Gabriel membuat Adira malu. Para penguncung restoran mentap ke arah mereka.
“Sudah cukup!” Adira berhenti dan menunjuk Gabriel, “you are crazy! Kamu sudah kehilangan akal? Aku ini sudah istri orang. Kamu cari saja wanita lain!”
“Aku tidak mencintai orang lain, Ra. Aku hanya cinta kamu.”
Adira mencoba tidak memperdulikan lagi. Ia melangkah ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi yang lewat. Namun, mobil Kanaya yang berhenti di depannya.
“Adira mau ke mana? Aku baru saja sampai.”
“Kebetulan.” Dira membuka pintu mobil, lalu melepas paksa tangan yang digenggam gabriel, “lepaskan aku!”
“Dira jangan tinggalkan aku!”
Gadis ini lekas masuk dan menyuruh Kanaya untuk cepat menjalankan mobilnya.
Gabriel berteriak keras memanggil Adira, sudah seperti orang gila. Ia menggeram dan menjambak rambut sendiri. Asistennya datang, kemudian berusaha menenangkan bosnya itu.
•••
Adira jadi merasa tidak enak pada temannya ini. Padahal Kanaya baru sampai sudah disuruh jalan lagi.
“Nggak apa-apa, Dir. Memangnya itu siapa? Kok dia maksa-maksa kamu?” Naya melempar beberapa pertanyaan.
“Itu teman yang di Australia. Pernah gue cerita ke lo ‘kan?”
“Oh yang katamu pernah bikin Sam cemburu banget itu?” tanya Naya balik dengan masih fokus pada jalanan.
“Iya, Dia. Gabriel sekarang sangat teropsesi sama gue. Dia terus minta gue jadi pacarnya padahal ‘kan gue udah punya suami. Dia juga tahu gue nggak single lagi.”
Kanaya menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya ada orang yang seperti itu.
“Terus bagaimana?”
“Gue udah tinggalin tempat kerja yang sama dengan dia. Sekarang gue lebih milih menyerahkan pekerjaan pada Sam. Gue rasanya lebih aman.”
Naya menoleh sekilas untuk melihat wajah temannya, “Sam tahu masalah ini?”
__ADS_1
Adira menggeleng pelan, “dari awal Gabriel ke Indonesia gue nggak pernah kasih tahu Sam. Apa lagi gue kerja satu tempat sama Gabriel. Lo tahu sendiri betapa sensinya Sam sama cowok itu.”
“Kita makan di sini aja?” tanya Kanaya memelankan laju mobilnya.
“Boleh deh.”
Kanaya mulai memasukan mobil ke lahan parkiran dengan dibantu tukang parkir yang berjaga.
“Saran aku sih kamu kasih tahu soal ini. Bagaimanapun dia suamimu, harus tahu semua yang kamu hadapi. Kalau Sam tahu kamu akan lebih aman.”
“Nanti akan aku ceritakan padanya.”
•••
Abrisam sangat berbeda dari biasanya. Jas abu-abu yang melapisi kemeja putihnya membuat ia terlihat gagah dan tampat dari biasanya. Rambut juga disisir rapi dengan lebih klimis.
Pemuda itu sedang sibuk membaca dokumen-dokumen yang diberikan Tomi. Ia sedang mempelajarinya. Berharap cepat paham dengan perusahaan milik ayahnya itu.
“Agghh!”
Sam mengaruk-garuk kepala. Ia mulai merasa bosan dan tidak mengerti dengan yang dibaca. Ini bukan bakatnya. Mana Tomi meletakkan posisi untuk Sam sebagai chief operating officer di kantor itu. Pria ini merasa ini tanggung jawab yang sangat berat.
Pria itu menoleh saat pintu terketuk dari luar, “masuk saja!”
Pintu kaca yang tidak tembus pandang itu terbuka. Menampakkan seorang wanita berblazer putih dan rok di atas lutut tersenyum pada Sam.
Wanita itu melangkah masuk, “permisi, Pak. Pak Tomi mengajak anda makan siang bersama di ruangannya.”
“Baiklah, saya segera ke sana.”
Wanita yang baru tadi pagi Tomi kenalkan ke Sam itu mengangguk, lalu berpamitan meninggalkan ruangan. Wanita tadi adalah Andrea, sekretaris baru Tomi.
Abrisam menutup map yang ada di depan matanya. Berdiri sambil merapikan pakaian. Kemudian membuka pintu dan lekas melangkah ke ruangan CEO.
“Bagaimana pertama kali bekerja Sam?” tanya Tomi disela-sela menyantap makan siang mereka.
“Pusing, Pi. Sam merasa sekolah lagi. Harus belajar dari nol. Ini susah untuk Sam pahami.”
Tomi tertawa pelan, “semua butuh proses, nak. Kalau kamu tidak mengerti bisa bertanya pada Papi atau Andrea. Dia baru 6 bulan bekerja di sini, tapi ia sangat pintar.
•••
__ADS_1