He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 31


__ADS_3

Pagi ini Adira bangun lebih cepat. Ia berinisiatif untuk membuat bekal sendiri. Merasa kasihan sama mama yang masih repot dengan kue-kuenya.


“Kamu nangis?” tanya Winda melihat anak perempuannya itu terus mengusap mata.


“Bawangnya pedas, Ma.” Balasan dari Dira membuat Winda tergelak.


Adira menyalakan kompor dan mulai menggoreng. Satu-satu bahan ia masukan. Hari ini ia akan membawa nasi goreng telur dadar sebagai bekal. Simple aja yang penting perut kenyang dan uang pun bisa irit.


“Ma, ada yang mau Dira tanya?” ucap Dira membuka suara lagi.


Winda yang masih mengikat-ikat kotak kue menoleh sekilas, “tanya apa?”


“Mama tahu Abrisam ‘kan?”


“Yang nganter kamu pulang tempo hari?”


Adira mengganggu sambil terus fokus ke masakannya.


“iya yang itu.”


“Terus kenapa?” Winda menyimpan kotak-kotaknya ke sudut ruangan agar tidak mengganggu jalan.


“Dira disuruh sama Pak Yuhdi, guru BK buat ngerubah sikap nakal Sam. Waktu yang di kasih itu sampai LUN, tapi sampai sekarang Sam nggak ada perubahan, Ma. Kalau Sam nggak berubah Dira akan dihukum bersihin perpustakaan selama seminggu,” terang Dira dengan sesekali menoleh ke Winda.


Winda mendekat, “yang Mama liat Sam anaknya baik. Dia ramah.”


“Mama nggak tahu aja kelakuan yang sebenarnya.”


“Hm kalau begitu cobalah bersikap lembut, perhatian, jangan marah-marah sama dia. Mama liat kemarin itu sikapmu sewot sama dia.”


“Perhatian? Lembut?” Adira bergidik. Ia beralih ke masakannya dan mematikan kompor.


“Iya, memangnya kenapa? Kalau Sam emang anaknya seperti yang kamu ceritain, nggak bisa kamu lawan dengan kekerasan juga sayang.”


Adira jadi berpikir. Hingga kedatangan Adimas membuat lamunannya buyar.


“Hmm, bau nasi goreng nih. Boleh dong minta buat sarapan?” Dimas menarik kursi yang ada di depan meja makan, lalu ia duduk.


“Ini buat bekal Dira ke sekolah. Kak Dimas kalau mau bikin aja sendiri.”


“Pelit lo!”


“Udah, Dimas nanti mama buatkan nasi gorengnya.” Winda beralih melihat Adira, “sana kamu mandi dulu biar mama yang salin ke kotak bekal.”


“Oke, Ma.” Dira berjalan keluar dapur dan saat melintasi Dimas, ia menjulurkan lidah. Sengaja mengejek kakaknya itu.


“Bersihin dulu tuh belek!”


“Gue udah mandi ya walau ke kampus siang. Emangnya lo!” teriak Dimas yang tidak diacuhkan Dira.



“Cukup sekian pembahasan kita hari ini. Tugas tadi bisa dilanjukan di rumah. Selamat siang.”


“Siang bu!” seru siswa-siswi 12 IPS 1 saat guru seni mereka keluar dari kelas.


Seketika kelas jadi berhamburan. Semuanya sibuk masing-masing. Ada yang langsung pergi ke kantin dan ada juga yang memilih tetap di kelas.


Adira membuka kotak bekalnya, lalu menutup kembali. Ia menoleh ke belakang. Sam terlihat menidurkan kepala di atas meja.


“Kantin yuk, Dir!” ajak Yara membuat Dira menoleh padanya.


“Iya, makan di kantin aja. Sekalian temanin kita.” Kali ini Violet yang mengajak.


Gadis itu kembali memperhatikan kotak bekalnya. Ia teringat ucapan sang mama tadi pagi tentang Sam.


“Kalian duluan aja ke kantin.” Adira berdiri dari kursinya.


“Terus lo mau makan di mana?” tanya Violet.

__ADS_1


Adira tersenyum dan melangkah ke barisan meja Abrisam. Ia tidak menjawab pertanyaan teman sebangkunya itu.


“Sam!”


Panggilan Dira membuat cowok yang sedang mager itu mengangkat kepalanya.


“Apa?”


“Gue bawa bekal lagi. Kali ini masakan gue. Mau nggak makan sama-sama?” Gadis ini menunjukkan kotak bekal yang ia pegang.


Yara dan Violet masih memperhatikan pergerakan sahabatnya itu.


Dahi Sam berkerut, kali ini otaknya yang dipenuhi pertanyaan. Dira masih setia tersenyum ke arahnya.


“Gue nggak lapar. Lo makan sama teman-teman lo yang rempong itu aja.” Sam kembali menjatuhkan kepalanya di meja.


“Sam... ayo... gue nggak terima penolakan.” Dira menarik-narik salah satu tangan cowok ini, “masa lo nolak diajak makan bersama sama pacar sendiri?”


Sam mengangkat kepalanya lagi. Ia terkejut mendengar Adira dengan sendirinya mengaku sebagai pacar Sam.


“Mau kan? Ayo!” Dira menarik kuat tangan cowok yang masih terbengong-bengong itu.


Abrisam mengikuti saja mau Adira kali ini. Mereka keluar dari kelas dengan tangan Sam yang dituntun oleh Adira.


“Si Dira kenapa?” tanya Violet merasa aneh dengan temannya.


Yara menggelengkan pelan kepalanya, “gue juga nggak tahu. Sepertinya mereka memang jadian.”


Adira membawa Abrisam ke rooftop. Disini suasananya enak, sejuk dan sepi. Cocok buat menyendiri atau berduaan seperti mereka.


Dira menjatuhkan bokong pada sofa reot yang busanya sudah banyak keluar-luar. Sedangkan Sam duduk di sebelahnya.


“Lo sehatkan?” tanya Sam.


Adira menghentikan pergerakan tangannya saat membuka tutup kotak bekal.


Ia tertawa pelan, “sehat dong. Pertanyaan lo aneh-aneh aja.”


Dira meletakkan tutup kotak bekalnya di meja.


“Memangnya kenapa? Kata lo kemarin kita pacaran. Sebagai pacar kalau ngajak pacarnya makan bareng itu biasa ‘kan?”


Sam hanya diam memperhatikan gadis di sebelahnya itu. Ia sedikit curiga. Tidak mungkin seseorang berubah hanya dalam satu malam.


“Nih cobain!” Adira memberikan kotak bekalnya.


Sam mendorong kotak itu kembali ke Dira, “itu punya lo, lebih baik lo yang makan duluan.”


Dira menggeleng, “gue mau pacar gue makan duluan masakan gue. Gue suapin ya?”


Alis Sam tertaut, “apa yang lo rencanain?”


Gadis yang sedang bersiap akan menyuapkan makanan pada cowok di sebelahnya ini, menoleh.


“Rencana apa Sam?” Adira tertawa kembali, “sudah nih, buka mulutnya! Aaaaa...” Dira mengulurkan sendok ke depan mulut Sam.


Awalnya cowok ini tetap diam, lalu perlahan membuka mulut dan menyantap makanan yang Dira berikan padanya.


“Pinter.” Dira tersenyum dan kembali fokus ke kotak bekal miliknya.


Sam terus memperhatikannya. Saat gadis itu menoleh dengan cepat Sam membuang muka.


“Enak nggak?”


“Biasa aja,” jawab Sam yang berbeda dengan perasaan yang sebenarnya.


Adira mencibir, “kalau enak bilang aja kali. Oh iya, Sam. Lo sebenarnya punya cita-cita nggak sih?”


“Punya.”

__ADS_1


Adira mengunyah makanan yang ada di mulutnya, “apa?”


“Jadi pembalap.”


Adira tertawa pelan hingga nasi yang ada di mulutnya keluar sedikit.


“Kok lo ketawa sih?” tanya Sam yang menoleh ke Dira.


“Emang lo bisa balapan?”


“Bisa. Gue juga pengen kuliah di fakultas teknik mesin. Bisa punya bengkel sendiri. Sukses dibidang balapan dan bisa gelar perlombaan balap yang megah.”


Adira mengangguk-angguk mendengar perkataan Sam.


“Kalau mau terwujud harus rajin belajar. Terus jangan nakal lagi.”


“Untuk apa? Gue nggak akan bisa ngujutin itu walau apa yang lo bilang gue lakuin.”


“Kenapa nggak?”


“Bokap nggak setuju gua masuk fakultas teknik mesin. Dia nyuruh gue ke bisnis agar bisa lanjutin usahanya.”


Adira terdiam menatap lelaki yang tertegun di depannya itu. Ia kira karena Sam mempunyai uang lebih dibanding dirinya. Cowok itu akan lebih mudah mengujutkan cita-citanya. Namun, ia tidak mendapat dukungan dari sang ayah.


“Udah jangan sedih-sedih ini makan lagi.” Sam terkejut saat tiba-tiba gadis itu menyuapinya lagi.


“Pelan-pelan dong!”


“Sorry, sorry.” Dira membersihkan baju seragam Abrisam yang terkena tumpahan nasi.


Adira menghentikan pergerakan tangannya dan mendongak melihat Abrisam. Cowok itu menatapnya. Dengan cepat Adira kembali menjauh.


“Lo juga pasti punya cita-cita ‘kan?” tanya Sam bertanya balik agar suasana tidak canggung.


“Punya dong, tapi cita-cita tinggallah cita-cita. Cuma bisa dibayangkan nggak bisa diwujudkan.”


“Kenapa? Lo ‘kan pintar. Rajin, disiplin dan pernah menang olimpiade.”


“Itu aja nggak cukup.” Adira tersenyum, “cita-cita gue terlalu tinggi nyokap nggak akan bisa biayainnya.”


“Emangnya apa cita-cita lo?”


“Kuliah di luar negeri ngambil jurusan tata boga. Gue pengen jadi chafe handal dan terkenal.”


“Pantesan masakan lo enak. Memang cita-cita lo ke situ ya.”


“Nah, ngaku juga ‘kan lo kalau masakan gue enak.” Tunjuk Adira menggunakan sendok ke arah Sam.


Abrisam mendelik. Ia keceplosan mengucapkan masakan Dira enak.


“Iya memang enak.”


Gadis itu tersenyum mendengar ucapan yang keluar langsung dari mulut cowok pembuat onar ini.


“Walau masakan gue enak juga nggak akan bisa kuliah ke sana. Terus gue juga nggak pasih bahasa inggris kayak lo.”


Dira membiarkan rambutnya yang tergerai itu sesekali diterbangkan angin.


“Kalau soal biaya sekarang ‘kan ada beasiswa. Nah, kalau bahasa nanti gue yang ngajarin. Setiap pulang sekolah lo temuin gue di warung Mang Suep. Kita belajar di sana selama satu jam setiap hari. Bagaimana?”


“Lo serius mau ngajarin gue?”


Abrisam mengangguk, “serius. Cukup gue yang nggak bisa ngujutin apa yang gue mau. Lo harus bisa ngujutin cita-cita lo.”


Adira tersenyum lagi, “makasih Sam.”


Dira refleks memeluk Sam. Yang dipeluk hanya diam mematung. Adira yang sadar atas tindakkannya segera menjauh.


“Maaf, terlalu senang.”

__ADS_1


“Nggak apa-apa.”



__ADS_2