He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 61


__ADS_3

“Saya mau pinjam ini, Bu.”


Kanaya meletakkan beberapa buku ke atas meja penjaga perpustakaan.


“Tunggu ya, Nak. Afraz dulu dia sudah dari tadi.” Ibu penjaga itu mengambil buku yang ada di mejanya.


“Baik, Bu.” Naya menoleh ke sebelahnya. Ada Afraz yang fokus memperhatikan bukunya yang sedang di data petugas perpus.


“Kamu afraz yang suka sama Dira ‘kan?” Tunjuk Kanaya pada cowok itu.


Afraz menoleh dan mengerutkan dahinya.


“Iya, kenapa?” Cowok itu memperhatikan lagi sosok Naya di depannya, “lo sahabatnya Sam ‘kan?”


Kanaya mendongak menatap lelaki itu, “Nggak apa-apa mastiin aja. Iya aku sahabatnya Sam.”


Afraz kembali diam dan mengambil bukunya yang sudah diberikan lagi oleh penjaga perpustakaan. Giliran buku Kanaya yang di data.


“Ingat ya, jangan pernah ganggu hubungan Adira dan Abrisam!” Kanaya memperingati.


“Nggak minat jadi PHO.” Setelahnya Afraz lebih dulu meninggalkan perpustakaan.


Kanaya mendadak gelisah. Ia ingin mengejar cowok tadi. Namun, bukunya belum diberikan lagi.


“Ini bukunya. Kembalikan dengan tepat waktu agar tidak didenda.”


Kanaya cepat mengambilnya, “baik, Bu. Saya permisi.”


Gadis dengan rambut terurai itu berlari keluar perpustakaan.


“Tunggu hei!” teriak Kanaya mengambil sepatu di raknya. Ia berlari tanpa memakai sepatunya lebih dulu.


“Namamu siapa?” mendengar pertanyaan Naya. Afraz berhenti melangkah dan menoleh pada gadis ini.


“Afraz, kenapa lo ngikutin gue?” cowok ini memperhatikan Naya dari atas hingga ke bawah, “pakai dulu sepatunya.”


Kanaya menunduk melihat kaki yang hanya memakai kaos kaki.


“Oh iya.” Naya kembali mendongak, “tolong pegangin dulu!” gadis ini memberikan bukunya ke tangan Afraz.


Dahi cowok tinggi itu berkerut. Afraz tetap membantu memegangkan buku gadis yang sedang berjongkok itu sekarang.


Naya kembali berdiri setelah selesai memasang sepasang sepatunya. Ia menepuk-nepuk rok yang sedikit kotor.


“Terima kasih.” Ia mengambil bukunya di tangan Afraz.


Tanpa membalas cowok yang juga mendekap buku itu pergi begitu saja. Namun, Naya masih mengikutinya.


“Afraz, kamu benar nggak akan ganggu Adira lagi ‘kan?”


Afraz menoleh sekilas.

__ADS_1


“Nggak, gue udah mulai ngelupain Adira. Biarkan dia bersama Sam. Mungkin, ini balasan karena gue dulu cuekin perasannya.”


Kanaya tersenyum, “ternyata dia cowok baik.” Ia bergumam dalam hati.


“Lo sampai kapan mau ikutin gue?” pertanyaan Afraz menyadarkan Naya dari lamunannya.


“Emangnya kenapa?”


“Gue risih. Jangan ikutin gue lagi!” Kemudian Afraz berbelok arah dan Kanaya berhenti melangkah.


Gadis ini memperhatikan punggung tegap itu menjauh darinya.



Angin sepoi-sepoi mengelus-elus lembut pipi Adira dan menerbangkan beberapa helaian rambutnya. Gadis itu menatap keluar jendela mobil yang terbuka. Menikmati pemandangan di sepanjang jalan.


Hari ini ia berjalan-jalan bersama Abrisam dan Kakaknya, Dimas. Selama perjalanan tidak banyak ynag berbicara apa lagi Dimas yang malah sibuk dengan game online-nya. Cowok itu ngotot ingin ikut. Katanya ingin mengawasi adik sematawayangnya.


Adira berlari menuju tepian pantai setelah Sam memarkirkan mobilnya. Gadis ini tampak senang. Liburan kali ini refreshing setelah ujian kemarin yang berlangsung selama tiga hari dan sekaligus untuk bertemu lebih lama dengan Sam.


“Kita duduk di sini aja.” Sam meletakkan tasnya dan Adira ke dalam gazebo yang dia pilih.


Dimas memperhatikan gazebo-gazebo lain yang berderet di pinggir pantai itu, “iya sudah, ini strategis.”


Dimas menjatuhkan bokongnya untuk duduk di pinggir gazebo, “enak bisa langsung menatap pemandangan di depan.”


Adira berlari naik mendekati Sam dan Dimas yang malah bersantai di dalam gazebo itu.


Dimas menyimpan ponselnya ke dalam tas yang ia bawa, “ayo main banana boat?”


Gadis ini menjentikkan jarinya, “nah, itu seru tuh, Kak.”


“Terus barang-barang kita gimana?” tanya Sam.


“Simpan di mobil aja dulu.” Adira mengeluarkan baju dari dalam tas itu, “tapi gue ganti pakaian dulu ya. Nggak enak mau main air pakai baju ini.”


Dimas memperhatikan adiknya, “lo juga aneh, mau ke pantai pakai baju rempong banget kayak mau kondangan.”


“Ya, ngapa sih? Kan biar cantik di lihat Sam.”


Cowok itu tertawa dan menggelengkan kepala mendengar ucapan adiknya.


“Jomblo sih. Jadi, nggak tahu ‘kan rasanya orang jatuh cinta pengen kelihatan selalu cantik.”


Dimas menepuk paha Sam membuat sang empunya menoleh padanya, “kok lo mau sih sama adik gue?”


“Dipelet, Kak.”


Adira memanyunkan bibirnya, “musrik ya pakai itu. Gue nggak pernah melet.”


Dimas dan Sam tertawa melihat ekspresi Dira.

__ADS_1


Abrisam mengulurkan tangan meraih tasnya, “gue juga mau ganti celana pendek dulu deh.”


“Kalau gitu gue juga ikut lo, Sam.” Dimas turun dari gazebonya dan berangkat menuju toilet bersama dengan Sam dan Dira.


Selesai berganti pakaian mereka segera berlari menuju wahana banana boat yang masih ada di sekitar pantai itu.


“Kalau gue jatuh ke air tolongin ya!” pesan Dira pada kedua lelaki yang bersamanya.


“Lo ‘kan bisa berenang. Lagi pula udah pakai pelampung,” ucap Dimas yang sedang memasang pelampung miliknya.


“Gue tetap takut, Kak. Ini ‘kan lebih dalam dari kolam renang.”


“Sudah, nanti aku akan jagain,” ujar Sam sambil melihat ke arah Dira.


Tiba-tiba pipi gadis itu memanas dan memerah. Ia mengulum bibirnya. Dira terlihat malu-malu.


“Ya sudah, ayo!” ajak Dimas yang berjalan duluan ke bibir pantai.


Mereka bermain mengitari laut. Tampak ketiga orang itu tersenyum senang. Saat banana boat itu terbalik Adira seketika panik. Namun, kepanikannya hilang saat Sam segera memeluknya.


“Makasih.” Senyum Dira malu-malu.


Sam mengusap wajahnya yang terkena air, “sama-sama.”


Setelah bermain banana boat mereka berganti permainan. Sam mengusulkan menaiki jet ski. Abrisam naik bersama Adira. Sedangkan Dimas mengendarai sendiri.


Adira senang bisa sedekat ini sama Sam. Kalau bisa ia ingin hari ini tidak cepat berlalu. Tidak menyangka saja ia yang sangat membenci Abrisam Pradipta akhirnya bisa sesuka ini. Kedua tangan Dira yang melingkar di pinggang Sam memeluk cowok itu sangat erat.


Dimas dan Sam menjatuhkan bokongnya di atas pasir. Mereka beristirahat dulu sesudah mencoba beberapa permainan yang tersedia di pantai itu.


Mata Sam tidak lepas menatap perempuan yang sedang bermain pasir dengan anak kecil itu. Dimas mengikuti arah pandangnya dan mengerti.


“Lo tahu kalau lo nggak cerita, kalau sebenarnya dulu kalian nggak pacaran mana gue tahu.”


Sam mengalihkan padangannya dari Adira ke Dimas, “Dira nggak pernah cerita sama Kakak?”


“Anak itu begitu tertutup,” ucap Dimas dengan mata terus memandangi adiknya.


“Memang sih. Kalau nggak dipaksa cerita dia nggak akan cerita sama sekali.”


Dimas mengalihkan pandangannya. Dengan tajam dia melihat Sam, “jagain adik gue ya. Gue percaya sama lo. Walau kata Dira lo itu bandel dulunya. Gue percaya, sama cewek pasti lo nggak akan nyakitin.”


“Gue nggak akan sia-siain kepercayaan lo, Kak.”


Dimas menepuk paha Sam sekilas, “ya sudah, makan dulu yok! Laper gue.”


Sam hanya mengangguk.


“Dira ayo makan!” teriak Dimas dari tempatnya duduk.


Adira yang sedang bermain pasir dengan anak kecil yang juga pengunjung di sana segera berdiri, “iya, Kak.”

__ADS_1



__ADS_2