He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 13


__ADS_3

Mobil putih dengan B 435 AM menepi di depan rumah berpagar rainbow. Sudah lama sekali Abrisam tidak berkunjung ke tempat itu sejak Adira memutuskan untuk melanjutkan study-nya di luar negeri.


Sam yang sudah berpakaian rapi tidak ketinggalan mengunakan jaket denim yang mempunyai banyak logo motor membalut tubuhnya. Ia keluar dari mobil, lalu segera masuk ke perkarangan rumah Dira. Namun, Dimas serta Winda tiba-tiba saja keluar. Mereka sudah siap untuk pergi.


“Sam, kamu ke sini?” tanya Winda yang heran.


Lelaki itu tersenyum, “iya, Tante. Sudah janjian sama Kak Dimas mau antar dia wisudaan.”


“Wah, terima kasih. Kamu benar-benar cowok yang bisa diandalkan.” Puji Winda yang membuat Sam tertawa sedikit.


“Kalau begitu lulus dong jadi calon mantu?” goda Sam pada ibu dari pacarnya itu.


“Kamu ‘kan sudah resmi jadi calon mantu dari lama.” Mereka tertawa kecuali Dimas.


“Ini sampai kapan mau ngobrolnya? Dimas nanti bisa kesiangan,” ujar Dimas memberi kode.


Sam lebih tertawa menatap Dimas yang sudah kesal menunggu rupanya.


“Sorry, Kak. Namanya juga lagi usaha meluluhkan hati colon mertua.”


“Entar aja dilanjut. Sekarang kita harus ke kampus dulu,” Kata Dimas memegang baju toganya yang panjang.


“Sudah ayo, silakan lewat duluan.” Sam bergeser dan memberikan jalan untuk Winda dan Dimas menuju mobilnya terlebih dulu.


Acara wisuda itu berlangsung meriah. Sam menyasikkan itu dari jauh sendirian. Tanpa Tania atau Jodi yang biasanya mengekorinya.


Namun, Sam tiba-tiba melihat Jodi mendekat dengan membawa makanan.


“Ternyata lo di sini,” ujar Jodi yang berhasil menemui temannya itu.


“Ada apa?” Sam membuka kotak makanan yang Jodi pegang, “makan apa lo?”


“Kerak telur.” Cowok itu cepat menjauhkan makan sebelum Sam mencuilnya, “Lo di cariin Tania tuh di kelas.”


Abrisam menghela napas dan menatap ke depan, pada acara wisuda yang masih berlangsung.


“Kenapa dia nyariin gue?”


Jodi mengedikan kedua bahu dan mulut masih mengunyah, “mana gue tahu. Samperin gih!”


“Mager, mending gue di sini. Liatin Kaka Ipar gue wisuda. Gue udah janji pada Adira bakal ngewakilin dia untuk wisuda Kakaknya.”


“Kalian udah rujuk?” pertanyaan Jodi membuat Sam menoleh.


“Lo kira gue sama Adira itu suami-istri. Pakai istilah lain ngapa!”


Cowok berambut mini malis itu menepukan tangan, bemaksud membersihkan dari sisa-sisa bumbu kerak telur yang ia makan.


“Istilah itu udah cocok buat kalian. Bagaimana udah rujuk?” ulang Jodi lagi.


Sam menggeleng pelan, “belum, Jod. Chatting, SMS dan telepon nggak ada yang Adira gubris. Ini udah seminggu dari terakhir dia hubungin gue. Kalau dia yang udah ngambek memang susah untuk baikan lagi.”


Abrisam menunduk, menatap handphone di genggaman tangannya.

__ADS_1


“Chat aja terus. Nanti juga dia luluh. Cewek ‘kan maunya diperhatiin dan dingertiin.”


Sam tidak membalas lagi obrolan Jodi. Cowok itu mengirim pesan dan beberapa foto wisuda ke nomor pacarnya. Ia tahu Dira tidak mungkin membalasnya lagi. Terpenting gadis itu masih membuka pesannya.


“Sam lo dengar gue nggak sih?” tanya Jodi yang dari tadi menyimak acara di depannya.


Sedangkan Sam sibuk mengetik pesan pada Manha dan Emran. Jodi mendengus mengetahui temannya malah mengacanginya dan asyik bermain ponsel.


“Cuekin aja Aku, Bang. Dedek kuat,” ucap Jodi membuat suaranya seakan merip perempuan.


Hal ini berhasil membuat Sam mendongak, lalu tertawa karena ulahnya.


“Ngapa sih lo, Jod?” tiba-tiba ponsel di tangan Sam berbunyi. Ia lekas membuka pesannya, “gue cabut dulu ya.”


Abrisam menepuk pundak Jodi pelan, lalu segera bangkit dari duduknya. Lelaki ini bergegas pergi meninggalkan aula sebagai tempat wisuda.


“Abang... adek ikut!” Jodi berteriak dan berlari mengejar Abrisam.


•••


Abrisam sudah sampai di kantin tanpa Jodi. Cowok itu pindah haluan menjadi pergi dengan anak-anak yang lain. Kebetulan memang teman sekelas mereka juga.


Sambil melamun Sam mengaduk-aduk es teh manisnya. Ia sedang menunggu Manha dan Emran di kantin dekat fakultas Manha.


“Udah lama?” sapa Manha yang duduk di depan Sam.


Lelaki itu tersadar, lalu melihat ke sekelilingnya, “Emran mana?”


“Udah punya gebetan dia sekarang?” tanya Sam menggulir layar handphone-nya dengan tampang bosan.


Manha mengedikkan bahu, “mungkin, katanya sih begitu.” Ia meyeruput es teh itu.


“Hai teman-teman.” Akhirnya Emran datang juga dan langsung duduk di sebelah Sam.


“Gue BT nih,” keluh Sam tiba-tiba.


Emran menolehkan kepalanya, “kenapa? Masih berantem sama Dira?”


“Kalau dilihat-lihat dari mukanya sih begitu. Udahlah Sam jangan terlalu diambil pusing. Yang penting ‘kan lo udah usaha buat perbaiki hubungan dan minta maaf. Nanti kalau udah selesai ngambeknya dia pasti balas pesan lo,” ucap Manha yang tiba-tuba saja bijak.


“Nggak bisa gitu, Ha. Ini ngambeknya sudah terlalu lama. Kalau dia memutuskan gue gimana?”


“Bener tuh.” Emran setuju, “terus aja komunikasi walau nggak di balas, Sam. Terpenting lo nggak cuekin dia. Kalau lo ikut kata Manha bisa jadi jomblo lo."


Manha menatap Emran tajam, “gue ‘kan nggak bilang buat ngacangin Dira.”


Abrisam tertawa melihat Manha yang kesal dengan Emran.


“Kita dong!” Manha menjentikan jarinya dan mengedipkan mata pada Sam, “jangan BT-BT!”


“Dari pada malam ini lo masih BT. Gimana kalau kita ke club yang kemarin itu? Clubnya bagus dan fasilitasnya lengkap. Pertama kali ke sana udah suka gue,” kata Emran yang menatap kedua temannya bergantian.


“Boleh juga,” ucap Sam yang langsung setuju. Sebenarnya ia masih penasaran dengan cewek yang mirip Tania itu. Malam ini dia akan memastikannya lagi.

__ADS_1


“Gue ikut aja deh,” tambah Manha.


•••


Sepuluh menit lalu pengumuman baru selesai diberitahu. Penonton yang menyasikkan perlombaan memasak yang mendatangkan bintang tamu chef terkenal dari Australia itu pun sudah membubarkan diri. Acara berlangsung lancar dan sukses.


Namun, Adira duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya yang mati.


“Kamu kecewa karena kita tidak juara satu?” suara Gabriel terdengar jelas saat lelaki ini duduk di samping Dira.


Adira menoleh dan tersenyum tipis, “Tidak, jadi juara harapan saja Aku sudah bahagia. Karena itu artinya Aku sudah cukup pintar memasak.”


“Terus, mengapa kamu terlihat murung seperti itu?” tanya Gabriel lagi.


Gadis ini kembali menunduk, kemudian menatap ponselnya lagi. Ia menekan tombol on handphonenya dan menampakkan foto Sam di layar paling depan.


“Aku rindu dengan Sam.”


“Kamu nggak komunikasi sama dia?” Gabriel menatap wajah Dira dari samping.


Dira menggeleng, “sudah seminggu Aku nggak membalas pesannya. Aku sedang marah sama dia. Dia terlalu dekat dengan teman perempuannya, tapi sekarang Aku yang rindu suara, tawa, dan lelucon garing yang sering ia ucapkan. Bagaimana pun Aku tetap menyayanginya.”


Gabriel bergeming dengan mata masih menatap Dira.


“Ternyata segitu cintanya Kamu sama laki-laki itu. Padahal Aku selalu ada di sebelahmu satu tahun lebih ini,” ucap Gabriel di dalam hatinya.


“Telepon saja kalau rindu!” Adira menoleh saat temannya ini menyuruh, “tidak baik kamu terlalu lama mendiamkannya. Kalau ia bosan memperjuangkanmu bagaimana? Kamu akan menyesal saat lebih ada yang perhatian ke dia. Wanita boleh marah, boleh merajuk, tapi jangan terlalu lama dan berlebihan karena lelaki juga punya perasaan. Cepat buang rasa marahmu dan berbaikan dengan dia.”


“Begitu?” tanya Adira yang masih ragu. Gabriel menganggukan kepalanya.


Adira meraih tasnya dan lekas berdiri. Ia menunduk melihat Gabriel yang lebih rendah posisinya sekarang darinya.


“Kalau begitu Aku pulang dulu. Nanti di apartemen Aku akan menelepon Sam. Terima kasih atas saranmu.”


Gadis itu melangkah pergi dengan tangan memasang ransel ke pundaknya.


“Dira!” mendengar teriakan Gabriel, gadis ini menoleh dan memelankan langkahnya, “hadiah lomba nanti aku transfer!”


Adira mengacungkan tangan membentuk ‘oke’


Gabriel tersenyum melihat gadis yang mulai mengisi hatinya itu keluar dari gedung aula dengan senyum mengembang. Ia memang cemburu karena Adira selalu mengingat Sam. Namun, ia juga tidak bisa melihat gadis itu bersedih.


•••


NOTE:


Aku tuh suka baca komen kalian. lucu ih kalian segitu kesalnya sama Tania dan Gabriel. Oh ya, yang meminta Adira cepat pulang, maaf aku belum bisa mengabulkan. karena semuanya sudah sesuai alur. sabar aja ya:) biar lebih kerasa LDR nya wkwk.


ada yang mau berteman dengan aku di IG? Ada yang punya IG? **Follow ya: hasnah1909


Di sana aku suka upload tentang Sam dan cerita yang lain. follback dm aja**.


SAMPAI BERTEMU DI BAGIAN BERIKUTNYA 👋🏻

__ADS_1


__ADS_2