
Pagi ini gendang telinga Sam bukan diperdengarkan bunyi kokok ayam atau pun alarm dari jam weker-nya. Namun, suara anak kembar dan suara sang istri yang meneriakinya.
“Sam itu diamkan dulu Ataya sama Atalanya! Aku masih mandi,” teriak Adira dari dalam kamar mandi.
Pria ini menggeliat, lalu memeluk guling dan kembali memejamkan mata. Tangis dari bayi kembar itu tidak dia hiraukan.
Dira mencoba membuka pintu kamar mandinya. Ia melihat sang suami masih saja berbaring di ranjang.
“Sam!”
Seketika kedua kelopak mata lelaki ini terbuka. Ia segera duduk dan mengucek mata.
“Sabar dong, sayang. Masih mengumpulkan nyawa nih.”
“Sampai kapan mau sabarnya? Itu anak-anakmu menangis. Tolongin dulu, rambutku masih penuh busa ini.”
Sam menatap Adira yang hanya menggunakan handuk dan kepala berbusa sampo. Lelaki itu mengangguk dan bergeser perlahan ke tepi ranjang.
“Kalau menangis anakmu. Coba kalau lagi mengemaskan anakku,” gumam Sam di atas kasur.
“Kamu bilang apa?”
Lelaki itu cepat menggeleng.
“Mama kapan datang sih?” tanya Abrisam yang menggaruk-garuk kepala sambil berjalan menghampiri box bayi.
“Seperti biasa jam sembilan. Kamu sendiri tahu Mama itu buka toko kue dulu. Sudah jangan banyak protes kamu. Lagian ini hari sabtu. Dari pada kamu rebahan terus mending ngurusin anak.”
Adira menutup pintu kamar mandi dan akan melanjutkan mandinya yang sempat tertunda.
“Kemarin aku habis lembur ngantuk banget, Yang. Belum lagi disuruh jagain bayi ini malam-malam menggantikan kamu.”
Sam membungkam tangisan itu dengan botol susu. Namun, anak laki-laki Sam yang diberi nama Atala ini tidak ingin meminum susu formulanya.
Si kembar memang dibiasakan minum susu formula selain asi. Karena asi yang Dira hasilkan kurang banyak.
“Itu risiko jadi Ayah. Kamu jangan mau enaknya aja dong. Harus bantuin aku.” Sahut Adira sambil menaikkan nada bicaranya.
“Iya, ini aku selalu bantu.” Sam membuka popok Atala. Ayah muda ini sudah mengerti kalau anaknya tidak ingin minum susu harus periksa popoknya. Seperti instruksi Adira beberapa minggu ini, “Yang... Tala poop!”
“Cebokin dong!”
“Bagaimana mau ceboknya? Kamu aja di dalam kamar mandi. Lagi pula aku takut kalau salah pegang.”
Lelaki ini masih tidak berani untuk menggendong anaknya. Takut salah urat katanya.
“Tunggu sebentar! Aku pakai baju dulu.”
•••
__ADS_1
Abrisam keluar dari kamar mandi sambil mengosok kepala dengan handuk. Akhirnya, bisa membersihkan diri sesudah membantu Dira mengurus anak mereka. Adira tiba-tiba masuk untuk mengambil botol susu yang ada di atas nakas.
“Mama sudah datang?” tanya Sam membuat Dira menoleh.
“Sudah, lagi main-main sama si kembar.”
Winda setiap hari memang berkunjung ke rumah Dira untuk membantu dan mengajarkan anaknya mengurus bayi. Maklum, Adira tidak berpengalaman. Namun, setelah beberapa minggu belajar, ibu muda itu sudah sedikit-banyak bisa.
“Ada sarapan apa?” tanya Sam setelahnya.
“Nasi goreng dan telur dadar kesukaanmu. Nanti aku siapkan ya.” Adira menunjukan kedua botol susu, “aku mau bersihin botol ini dulu.”
Dira melangkah keluar dari kamar lebih dulu. Setelah lima menit Sam menyusul dengan rambut yang telah rapi dan tubuh wangi. Ia melihat sang istri sudah menghidangkan sarapan untuknya.
“Nasi goreng telur dadar dan kopi hitam sudah siap. Silakan di makan,” ucap Adira disertai senyuman.
“Terima kasih istriku.” Sam balik tersenyum dan lekas duduk.
“Sama-sama suamiku.”
“Temani aku makan bisa?” tanya Sam sambil mendongak menatap Dira.
Dira mengangguk, baru saja akan duduk di sebelah suaminya tangisan Ataya terdengar dan disusul teriakan Winda.
“Dira anakmu haus. Kasih asi dulu!”
“Iya, Ma! Dira segera ke sana.” Wanita ini mengusap kepala Sam, “aku ke anak-anak dulu ya. Kamu makan sendiri aja.”
Sam akhirnya mengangguk pasrah, “iya, cepat kasih dia susu.”
Adira mengangguk, lalu pergi dari sana. Abrisam menyantap sarapan sendirian di ruang makan.
•••
“Lucu banget sih. Jadi, pengin punya anak juga,” celetuk Kanaya yang memperhatikan Atala dan Ataya di stroller mereka.
“Makanya nikah sama Emran. Biar bisa punya anak juga,” balas Dira disertai tawa kecilnya.
“Emran nggak mau, Dir.” Kanaya memajukan sedikit bibirnya.
“Bukan nggak mau, tapi belum siap. Aku ‘kan baru kerja. Uang tabungan belum banyak. Sabar sedikit, aku nggak sekaya Abrisam,” jelas Emran membela dirinya.
“Benar juga sih. Nikah itu harus siap lahir dan batin dulu. Karena kita nggak tahu ke depannya bagaimana,” tambah Adira.
“Assalammualaikum!”
Salam seorang di depan pintu membuat tiga orang di dalam menoleh bersamaan.
“Waalaikumsalam,” balas mereka serentak.
__ADS_1
“Ini orangnya, panjang umur,” ujar Emran menunjuk Abrisam yang baru datang sepulang bekerja.
Sam melepas sepatu yang dia kenakan, “kalian ngomongin gue ya?”
“Iya sedikit,” jawab Kanaya jujur.
“Mana Manha? Katanya, mau ke sini juga bareng kalian?” Sam dan Emran bersalaman ala lelaki. Setelah itu berjabat tangan dengan Naya sekilas dan kemudian duduk di sebelah Adira.
“Dia demam dari semalam. Tadi aja nggak ngajar. Dia cuma titip salam aja ke kalian,” jelas Emran.
“Waalaikumsalam, kasihan juga. Padahal sudah lama nggak bertemu.” Sam memperhatikan kedua sahabatnya, “kalian sudah menikah?”
“Belumlah, kalau nikah ngundang lo kali,” balas Emran.
“Oh iya juga.” Sam tertawa atas kebodohannya sediri.
“Kamu itu.” Adira menepuk lengan sang suami, “jangan malu-maluin aku deh.”
“Maaf, banyak yang dipikirikan,” ujar Sam yang sudah berhenti tertawa.
“Mikirin apa? Oh iya bengkel itu sudah siap buat usaha lagi?” tanya Emran menatap serius ke arah temannya ini.
Pasalnya, Abrisam memang merenovasi bengkel yang terbakar setelah mengumpulkan gaji selama dia bekerja di perusahan properti itu. Ia tetap ingin merintis usaha sendiri dari bawah dan sukses seperti sang ayah, suatu saat nanti.
“Sudah, kemungkinan lusa sudah bisa beroperasi seperti dulu. Gue serahkan pada Rio sebagai leader-nya. Kami juga merekrut karyawan baru untuk bengkel.”
“Wah!” Emran bertepuk tangan, “sukses ya.”
Kanaya yang bermain dengan si kembar sesekali menyimak saja pembicaraan kedua lelaki itu.
Adira juga ikut memperhatikan dan menyimak obrolan lelaki di depannya ini. Namun ia lebih fokus ke Sam. Dira sangat bersyukur atas limpahan rahmat yang dia dapat. Mendapat suami seperti Sam adalah kado terindah selama hidup. Abrisam tetap Abrisam tidak sama dengan orang tuanya. Selama ini itu yang Adira takutkan. Sam seperti Tomi. Namun, semua itu Sam tepis dengan pembuktiannya terhadap sang istri.
Tiba-tiba ponsel Adira yang ada di meja berdering.
“Dari Mama,” ucapnya pada Sam sebelum menekan icon hijau di layar.
“Cepat diangkat!” Adira mengangguk setelah Sam memerintahkannya.
“Halo, Ma!”
[...]
“Apa Kak Dimas mau menikah?” Adira tampak terkejut mendengar kabar yang menggembirakan ini. Yang lainnya juga sempat tersentak.
Selama ini tidak mempunyai kekasih. Namun, secara mendadak mengabarkan ingin menikah. Hal ini yang membuat semuanya jadi bertanya-tanya.
“Iya, nanti Dira dan Sam ke rumah.” Adira mematikan sambungan telepon.
Wanita ini mengedikkan kedua bahu dengan menatap para sahabat dan suaminya sambil tersenyum.
__ADS_1
Selesai~
•••