He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 58


__ADS_3

Winda melangkahkan kakinya menaiki anak tangga sampai di teras sebuah restoran. Ditangan kanannya terdapat beberapa kotak berisi kue pesanan pelanggannya.


Wanita itu mengambil tempat duduk di salah satu meja kosong. Orang yang akan ia temui belum terlihat batang hidungnya.


Mata Winda tidak sengaja melihat rak berisi koran dan majalah di dekat ia duduk sekarang. Tangannya mengambil salah satu majalah yang masih tampak baru. Disampul majalah itu terpampang besar wajah Tomi.


Kutipan judul di situ membahas tentang keharmonisan keluarga CEO sukses yang beristri dua.


“Katanya mereka tidak harmonis?”


Selagi berpikir-pikir tepukan di pundak membuat Winda cepat-cepat meletakkan majalah kembali ke tempatnya.


“Sedang membaca apa kamu, Winda?” tanya Tomi membenarkan jas hitamnya sebelum duduk berhadapan dengan janda anak dua ini.


“Bukan apa-apa, Pak.” Winda menggeser dua kotak bertumpuk itu ke depan pria paruh baya ini, “kue pesanan Bapak.”


“Terima kasih.” Tomi memindahkan kotak-kotak itu ke kursi kosong di sampingnya, “sudah lama saya tidak makan kuemu dan sudah lama juga kita tidak bertemu. Terakhir waktu saya ada masalah dengan Adam. Apa kabarmu sekarang?”


Winda tersenyum-senyum, “iya, Pak. Saya baik. Bagaimana hubungan bapak sama teman bapak itu?”


Tomi bersandar di kursinya. Jari-jarinya saling masuk diruas jarinya yang lain. Tangan itu ia lipat di depan perut.


“Seperti awal saya cerita Adam sudah memaafkan saya, tapi kami tidak sedekat dulu. Tidak masalah bagi saya. Ini semua kesalahan saya yang tidak bisa mendidik anak.”


“Anak bapak itu tidak dinasihati ibu-ibunya?”


“Winda, istri-istri saya itu tidak bisa untuk mengurus anak-anak saya. Mereka hanya peduli dengan diri masing-masing. Kamu tahu ‘kan keluarga saya ini berantakan. Saya juga ingin mempunyai keluarga yang harmonis.”


“Yang saya tahu keluarga Bapak harmonis.” Tomi tertawa pelan.


“Siapa yang bilang seperti itu?” Tomi sedikit gelisah karena kedoknya akan terbongkar.


“Saya baca di majalah itu, Pak.” Winda menunjuk majalah yang tidak jauh darinya. Ia mengambil majalah itu dan menunjukkannya ke hadapan pria ini, “CEO yang mempunyai istri dua dan keluarganya harmonis.”


Mata Tomi melebar. Bulir-bulir keringan timbul di pelipisnya. Otaknya bekerja keras untuk memberikan alasan yang logis.


“Ini hanya palsu, Win.” Tomi menopang dahinya dengan sebelah tangan di meja, “semua yang ada di dalam majalah cuma hasil wawancara yang tidak asli. Saya terpaksa melakukan itu Winda.” Tomi menatap wanita di depannya ini dengan tampang bengiba.


Winda mendadak bersimpati dan ikut sedih, “jadi berita di dalam majalah ini bohong?”


Tomi menegakkan kepalanya, “iya, Win. Maaf, saya jadi terlihat tidak baik di depanmu. Berbohong itu ‘kan tidak bagus, tapi saya terpaksa demi images perusahaan.”

__ADS_1


“Saya mengerti posisi Bapak. Tidak apa-apa.”


“Mau bagaimana lagi ya, Win. Istri-istri saya itu tidak sebaik yang ada di dalam majalah ini.” Tomi menunjuk-nunjuk majalah di depannya, “sebenarnya di hati saya yang terdalam ini ingin sekali memiliki keluarga yang harmonis. Mempunyai istri yang saya cintai dan mencintai saya.”


“Bapak mau menikah lagi?” Dahi Winda berkerut.


“Saya inginnya seperti itu, tapi yang kali ini yang benar-benar mencintai saya dan anak-anak saya. Wanita yang soleha, berhati baik, penyayang dan pintar memasak.” Tomi memegang salah satu tangan Winda. Wanita itu tersentak. Namun, tidak menarik tangannya. Pria ini terlalu keras menggenggam tangannya, “seperti kamu.”


Winda terkejut untuk kedua kalinya. Buru-buru menarik tangannya dengan kasar hingga Tomi terpaksa melepasnya.


“Bapak ini bilang apa?” tanya Winda sambil menundukan kepalanya karena malu.


“Kamu tidak mau ‘kah menikah dengan saya Winda? Kehidupanmu dan anak-anakmu tidak akan kekurangan. Saya akan menyayangi kedua anakmu juga.”


Winda berdiri, “maaf saya masih ada urusan, Pak.”


Tomi ikut berdiri, “tapi Win, kamu belum jawab pertanyaan saya? Saya sungguh-sungguh Winda.”


Wanita paruh baya itu menoleh untuk menatap Tomi.


“Saya tidak bisa.” Setelahnya Winda buru-buru berrlari menjauhi pria ini.”



“Lo serius?” tanya Emran menyemburkan asap rokok dari mulutnya.


Abrisam mengibaskan tangan di depan wajah. Kemudian ia berdeham dan mengangguk.


“Pantesan lo nggak mau ngerokok lagi. Takut kena marah sama Adira ya?” ledek Manha yang ikut diketawai Emran.


“Belum apa-apa udah bucin lo!”


“Jaga bacot lo itu sebelum tonjokan gue ini melayang.” Sam menggepalkan tangannya dan menghantamkan denga telapak tangan sebelahnya.


Manha merangkul pundak Sam dan menepuk-nepuk bahunya, “santai, bro! Kita cuma bercanda.”


Sam menurunkan tangannya dan bersandar pada wastafel, “gue bukan bucin. Cuma yang dibilang Dira itu ada benarnya. Dari pada nanti gue sakit lebih baik ikutin saran dia. Kalian berdua juga harus berhenti merokok!”


Manha mendengar itu menyemburkan asap rokoknya dengan lemas. Ia menurunkan tangannya kembali dari pundak Sam.


“Susah, asam mulut kalau seharian nggak ngerokok,” ucap Emran memberi alasan.

__ADS_1


“Lo pikir sekarang gue nggak gitu?” Sam mengangkat sebelah alisnya, “sekarang aja rasanya nggak enak lidah gue, tapi gue tahan aja.”


“Salut gue sama sahabat kita yang satu ini, Ha. Bisa berubah jadi lebih baik begini.” Emran terus memuji sedangkan Manha masih asik dengan putung rokok yang tinggal sedikit.


Tiba-tiba handphone Abrisam berbunyi dari dalam saku celananya. Ia segera merogoh dan mengambil ponsel itu. Setelah melihat siapa nama di layar ponselnya itu Sam lekas mengangkatnya.


“Halo kenapa, Dir?”


“Lo di mana?”


“Kamar mandi.”


“Lo ngerokok lagi ya?”


Suara keras Adira membuat Sam menjauhkan ponsel dari telinganya. Kemudiam setelah aman ia coba mendekatkan ke telinga lagi.


“Nggak, cuma Manha sama Emran yang ngerokok. Sumpah gue nggak.” Sam mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke udara.


Emran dan Manha yang menyimak ikut tertawa.


“Terus lo ngapain di situ?”


“Nggak ngapa-ngapain.”


“Heran gue betah banget di kamar mandi. Gue cuma mau kasih tahu kalau teman-teman gue minta teraktiran kita. Lo kesini dong! Ikut makan sekalian bayarin.” terdengar suara Adira yang malu-malu diakhir kalimatnya.


“Iya gue ke sana.”


“Gue ada di depan kantin. Sampai ketemu sayang.”


Setelah itu sambungan telepon mati. Sam menyimpan benda pipih itu kembali ke dalam saku celana abu-abunya.


“Kalian mau ikut makan-makan nggak?” tanya Abrisam menoleh ke kiri dan kanannya.


“Diteraktir?” tanya Manha.


Sam mengangguk, “matiin dulu rokoknya dan cuci mulut lo pada! Gue nggak mau bau rokok ke cium sama Adira.”


Abrisam berjalan lebih dulu keluar dari kamar mandi. Dengan tergesah-gesah Manha dan Emran mematikan rokoknya dan mencuci mulut di wastafel.


__ADS_1


__ADS_2