He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 70


__ADS_3

Adira mengolesi rotinya dengan selai coklat favoritnya. Dimas pun sibuk menyeruput susu dari gelas yang telah disiapkan Winda.


“Ingat ya Dira, mama nggak mau kamu punya hubungan lagi sama Sam. Putuskan saja dia. Mama bisa cari ‘kan pacar yang lain kalau kamu masih ingin pacaran.” Winda berbicara sambil menyantap sarapannya, “mama nggak mau keluarga kita ada urusan lagi dengan keluarga Pak Tomi.”


Winda mengambil cangkir dan menyeruput teh hangat yang masih penuh itu.


“Oh iya satu lagi, mama sudah menyiapkan uang untuk kamu kuliah di luar negeri. Jadi, kamu tenang aja. Cita-citamu akan terwujud. Mama nggak perlu bantuan siapa pun untuk menyekolahkanmu.”


“Dimas boleh menanggapi sedikit?” tanya Dimas hati-hati.


Dahi Winda berkerut, “kamu mau ngomong apa?” tanya balik wanita itu.


“Maaf Ma, Dimas bukan membela Dira, tapi Sam dan Om Tomi itu mempunyai sifat yang berbeda. Sam pernah cerita ke Dimas kalau dia dan Om Tomi nggak punya hubungan yang baik. Jadi, masalah mama ditipu Om Tomi itu pasti tanpa sepengatahuan Sam dan ibunya.”


“Intinya kamu mau mama membolehkan Dira tetap pacaran sama Sam?”


Dimas mengangguk, “iya, Ma. Lagian mereka itu pacarannya nggak aneh-aneh. Apa salahnya sih, Ma?”


“Salahnya itu dia anak dari Tomi, si penipu itu.”


Adira sambil mengunyah rotinya hanya menyimak saja pembicaraan sang kakak dan ibunya. Hingga panggilan Winda membuat Dira tersentak.


“Dira, pokoknya mama nggak mau denger kamu deket lagi sama Sam. Inget itu!” setelahnya Winda berdiri dan meninggalkan ruang makan.


“Kamu yang sabar ya, dek.” Dimas tersenyum tipis.


“Nggak apa-apa kok, Kak.” Adira berdiri dari duduknya, lalu memasang tas ransel ke pundak, “Dira pergi duluan ya.”


“Nggak bareng kakak aja?”


Gadis itu menggeleng, “Dira mau naik angkot aja.”



Adira melepas sepatunya dan meletakkan di rak. Ia berjalan masuk ke perpustakaan dengan memeluk satu buah buku.


“Eh, Dira. Belum pulang?” tanya Afraz yang tidak sengaja berpapasan di ruangan itu.


Dira menggeleng, “mau ngembaliin buku dulu abis itu baru pulang.”


“Lo kenapa kok lemes amat? Sakit?” tanya Afraz yang melihat gadis itu seperti tidak bertenaga.


“Nggak.” Dira melepas tangan Afraz yang menyentuh pipi dan dahinya, “gue baik-baik aja.”


“Gue kira lo sakit, lemes betul.”


Adira menggeleng lagi. Kemudian pergi begitu saja mendekati penjaga perpustakaan. Afraz keluar perpustakaan lebih dulu.


“Mau pulang bareng gue?” tawar Afraz setelah selesai mengenakan sepatunya lagi.


Adira yang sedang memasang sepatunya menoleh ke samping.


“Nggak usah deh, gue pulang sendiri aja. Nggak enak sama Naya.”


“Kok nggak enak sama Naya?”


Gadis ini duduk tegak, “bukannya lo sama Naya pacaran?”


Afraz tertawa, “gosip dari mana lagi itu?”


“Gue dengernya begitu.”

__ADS_1


Cowok itu menggeleng, “gue sama Naya cuma teman. Gue denger dari Naya, Sam kecelakaan. Bener?”


Adira tertegun. Ia jadi ingat sebelum ke perpustakaan tadi Manha dan Emran mengajaknya untuk menjenguk Sam. Namun, ia terpaksa menolaknya karena mematuhi perintah Winda yang ingin mereka tidak berhubungan lagi.


“Dir, Dira...” Afraz melambaikan tangannya di depan wajah Adira, “lo nggak apa-apa?”


Gadis itu tersentak, lalu sadar dan cepat menggeleng, “maaf, gue malah melamun. Sam memang kecelakaan, tapi dia sudah membaik.”


“Lo ada masalah ya? Cerita aja sama gue. Siapa tahu bisa bantu.” Afraz sudah tidak peduli dengan pertanyaannya.


“Sedikit, tapi nggak perlu cerita deh.”


“Gue janji nggak ember. Lagian dipendem sendiri itu nggak baik.”


“Mama nggak bolehin gue pacaran lagi sama Sam.”


Alis Afraz tertaut dan dahinya berkerut, “kenapa?”


“Ini semua karena permasalahan nyokap gue sama bokapnya Sam. Mama begitu benci sama keluarga Sam sekarang,” jelas Adira yang kini mau terbuka ke Afraz.


Kalau Sam dan Dira putus. Dira jomblo dong? Jomblo artinya bebas bukan milik siapa pun. Masih ada kesempatan nih buat gue deketin Dira lagi. Siapa tahu dia bisa suka lagi sama gue, kata Afraz di dalam hatinya.


“Sambar ya. Semoga permasalahan kalian cepat selesai.” Cowok itu mengusap-usap pundak Adira.


“Makasih.”


“Kalau gitu lo harus pulang sama gue. Kali ini gue maksa!” afraz berdiri lebih dulu, “ayo jangan sedih lagi.” Ia menarik salah satu lengan Dira.


“Cepat keburu sore!”


Adira tertawa dibuatnya, “iya-iya."


"Lo kok bisa di perpus?"


"Jam kosong, dari pada bosan di kelas. Gue milih baca buku di sana."


Adira mengangguk. Sambil berjalan menuju parkiran mereka berbincang ringan.



“Kapan ya Sam akan sadar?” tanya Siska yang duduk di samping brankar anaknya itu.


Anna yang sedang duduk di sofa sambil mengupas buah mendongak, “sabar, Mbak. Yang penting sekarang Sam sudah melewati masa kritisnya.”


“Selamat sore!” sapaan Dari Manha yang masuk ke ruang rawat bersama Emran membuat Anna dan Siska serempak menoleh.


“Eh, kalian. Makasih udah rajin datang ke sini,” ucap Siska disertai senyumnya.


“Itu harus, Tante. Kita berdua ‘kan sahabatnya Sam. Susah senang harus sama-sama.” Emran memegang ujung brankar, “bagaimana keadaan Sam udah sadar?”


Wanita berhijab itu mnggeleng pelan, “belum, tapi kata dokter keadaannya sudah membaik. Alat pendeteksi jantungnya juga sudah di lepas.”


“Syukur deh. Ada perkembangnnya.” Emran menatap ke arah Sam yang masih terpejam.


“A-adi-ra... dira...” tiba-tiba Sam mengeluarkan suara padahal matanya masih tertutup.


“Tante Sam sadar,” ujar Manha bersemangat.


Senyum dari bibir Siska merekah. Anna juga buru-buru mendekat untuk melihat putranya.


“Sam ini mama, Nak!” Anna menggenggam sebelah tangan anak laki-lakinya itu.

__ADS_1


“Di... ra...”


“Dia manggil Dira, “ucap Anna menatap Siska.


“Kita panggil dokter dulu.” Siska menekan bel yang tersedia. Fungsinya untuk memanggil perawat dan dokter rumah sakit itu.


Emran dan Manha pindah duduk di sofa sambil menikmati buah yang Anna kupas tadi. Sedangkan kedua ibu itu memperhatikan dokter yang sedang memeriksa Sam.


“Bagaimana dok?” tanya Siska.


“Tidak apa-apa, Bu. Malah tubuh Sam semakin membaik. Kalau bisa pertemukan dia dengan Dira. Siapa tahu orang yang bernama Dira bisa memabantu pemulihan Sam.”


“Baik, Dok. Nanti saya usahakan mendatangkan Dira kemari.”


Dokter mengangguk, lalu keluar ruangan bersama satu suster yang mengekorinya.


“Coba kamu telepon Dira, Ann.”


Anna mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya yang ada di dalam tas.


Sedangkan di lain tempat. Adira baru saja tiba di rumahnya setelah diantar oleh Afraz.


“Makasih, Fraz.” Dira mengembalikan helm yang ia pakai.


“Sama-sama. Lain kali pulang bareng juga nggak apa.”


“Nggak enaklah gue ngerepotin lo mulu.” Gadis ini membenarkan tali ranselnya yang turun.


“Nggak ngerepotin kok. Ya sudah gue balik ya, bye. Sampai bertemu besok.”


“Bye!” Adira melambaikan tangannya.


Setelah Afraz hilang dari pandangan gadis itu ia segera membuka pagar dan masuk ke hamalaman rumah. Sudah ada vespa Dimas yang terparkir di sana.


Tiba-tiba handphone gadis ini berbunyi. Ia menghentikan langkah dan segera mengambilnya yang ada di saku tas.


“Tante Anna?” gumam Dira, lalu menggeser ikon hijau di layar, “halo, Tan!”


“...”


“Baik, Dira sekarang juga ke sana.”


Adira mematikan ponselnya dan menyimpan kembali ke dalam tas. Baru saja akan keluar dari halaman rumahnya lagi. Suara Winda terdengar memanggil.


“Mau ke mana lagi kamu, Dira?”


Dira menggigit bibir bawahnya dan memutar tubuh perlahan untuk menatap Winda.


“Dira mau ke rumah sakit, Ma.”


“Masuk!”


“Sebentar aja, Ma.” Dira memasang wajah mengibanya.


“Kata Mama masuk ke rumah!” bentak Winda menunjuk pintu.


Dengan langkah berat Adira mematuhi ucapan ibunya. Takut-takut ia melintasi Winda. Kemudian masuk ke dalam rumah.


“Mama dari tadi ngawasin kamu ya. Baru pulang udah mau kelayapan lagi.”


__ADS_1


__ADS_2