He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 20


__ADS_3

“Aaaa!”


Tomi berteriak sambil membanting tasnya ke meja yang ada di ruang tamu. Saat itu pukul sembilan malam. Orang-orang yang mendengarnya segera keluar. Begitu juga Sam yang sedang bermain game lewat ponselnya di kamar.


Yang lain mendekat, tapi Sam memilih melihat dari atas. Ia melipat tangan sambil memperhatikan keluarganya yang ada di bawah. Wajahnya seperti orang yang tidak bersimpati sama sekali.


“Mas, kamu kenapa?” tanya Siska yang cemas dengan suaminya. Baru pulang, tapi sudah marah-marah.


“Vania berani-beraninya menghianati saya,” ujar Tomi dengan tampak emosi.


Anna dan Siska terdiam mendengarkan dulu penjelasan suaminya. Tomi jalan beberapa langkah mendekati bufet panjang yang berjejer foto dan guci kecil dengan bunga-bunga hias.


“Dia selingkuh. Saya tidak terima!” teriak Tomi mengibaskan semua barang yang tersusun di atas bufet hingga pecah ke lantai.


Anna dan Siska terkejut atas perilaku suaminya. Sam juga sempat tersentak. Namun, ia tersenyum tipis.


“Sekarang Anda merasakan ‘kan bagaimana rasa diselingkuhi oleh kekasih sendiri,” gumam Sam.


“Mas!” Anna ingin seperti menahan suaminya. Namun, ia takut untuk melakukan itu.


“Sudahlah, Mas. Mungkin Vania bukan yang terbaik buatmu. Ikhlaskan saja,” ujar Siska dengan tenang.


“Bagaimana saya bisa mengikhlaskan wanita yang saya cintai? Kami seminggu lagi akan menikah. Undangan sudah disebar. Ia bisa-bisanya pergi dengan berondong dan mencampakkan saya.” Tomi berbicara dengan menggebu-gebu, lalu tidak lama ia berlutut ke lantai dan menutup wajahnya.


“Rasain tuh karma!” Sam tertawa pelan dan berjalan masuk ke dalam kamarnya kembali.


Bahu Tomi bergetar. Anna dan Siska memperhatikan. Mereka tahu suaminya itu sedang menangis. Seumur-umur dua wanita itu baru pertama kali melihat Tomi menangisi wanita lain.


Anna menutup mulutnya dan memutar tubuh, lalu berlari menaiki tangga. Ia meninggalkan Siska sendirian.


“Ann—“


Siska hanya bisa melihat kepergian madunya itu. Ibu satu anak ini tahu kalau Anna menangis. Ia juga merasa akan menumpahkan air matanya. Namun, demi suami tercinta Siska menahannya. Berpura-pura tegar melihat suaminya sendiri lebih mencintai orang lain.


Siska ikut berlutut di samping Tomi. Mengelus punggungnya perlahan, “Mas yang kuat ya. Ada bagusnya ini terbongkar sekarang dari pada Mas dikhianati setelah menikah.”


Tomi menjauhkan tangannya dan mendongakkan kepala. Dengan cepat ia menghapus air mata.


“Kamu tahu saya sudah memberikan apa yang dia mau, tapi balasannya hanya ini. Saya harus bilang apa pada tamu undangan?”

__ADS_1


“Aku mengerti perasaanmu, tapi masih ada aku dan Anna di sini, Mas. Kami masih bisa memberimu cinta,” lirih Siska berhenti mengelus punggung Tomi.


Tomi mengerakkan bahunya agar tangan Siska menjauh, “halah, kalian itu tidak membuat saya bergairah lagi. Lebih baik saya ke kamar saja.”


Tomi berdiri dan mengambil tas kerja yang ada di meja. Kakinya melangkah mendekati tangga. Siska masih terdiam di tempatnya dengan air mata sudah membasahi pipi mulusnya. Ia menatap punggung Tomi yang terus menjauh.



“Bokap gue nggak jadi nikah lagi cuy!” ujar Sam pada teman-temannya dengan suara yang dikecilkan.


“Seriusan?” tanya Manha.


“Baguslah, masa lo nanti punya ibu tiri seumuran,” ujar Emran menanggapi.


Sam mengangguk, “serius, sekarang buat ngerayainnya. Kalian boleh beli apa aja yang ada di kantin ini. Gue yang bayar.”


“Asyik...” sorak Manha begitu senang, “makan gratis, makan gratis. Ayo, pesan Mran!”


Manha lekas berdiri dan siap untuk melangkah. Emran pun mengangguk dan mengikuti Manha.


“Eh-eh tunggu!” Kedua lelaki itu berhenti dan menoleh.


“Pesanin gue batagor sama es jeruk. Jangan sampai ada biji jeruknya!”


Manha mengacungkan tangan berbentuk OK. Setelah itu mereka melanjutkan langkah mendekati pedagang yang berjejer di Kantin.


Adira serta kedua temannya mengambil duduk di depan Sam. Cowok itu sedikit terkejut.


“Pergi lo! Gue lagi senang. Jangan kedatangan lo buat mood gue ancur.” Usir Sam pada Adira.


“Gue mau duduk di sini kok. Ada yang mau gue tanya sama lo.”


“Tanya apa?”


“Hari ini lo nggak buat masalahkan? Soalnya gue belum dengar apa-apa sampai siang ini,” jawab Adira.


“Gue mau berbuat apa pun itu bukan urusan lo.”


“Urusan Adira dong karena Pak Yuhdi sudah menugaskannya,” sambar Violet.

__ADS_1


Sam memutar bola matanya. Menopang dagu dan menatap ke arah lain.


“Kalau bisa sampai siang lo jangan buat ulah. Gue nggak mau terseret-seret terus.”


“Suka-suka gue dong.”


Dira mengepalkan tangannya geram. Ia kesal melihat tanggapan Sam yang acuh tak acuh begitu.


“Pesanan datang!” seru Manha membawa nampan berisi banyak makanan. Begitu juga dengan Emran.


Sam duduk tegak kembali dan mengambil pesanannya dari atas nampan yang manha bawa.


“Tumben jajannya banyak bener?” tanya Violet yang diangguki Yara.


Manha dan Emran mengambil tempat duduk di samping Abrisam.


“Ditraktir Sam dong,” jawab Manha dengan senyum tak putus.


“Dalam rangka apa?” tanya Yara.


“Dalam rangka gue lagi seneng,” ucap Sam sambil mengaduk es jeruknya dan menyeruput minuman itu.


“Senang kenapa?” kali ini Adira yang bertanya.


Abrisam menatap ke Dira, “kenapa lo juga mau ditraktir? Kalian bertiga jajan sesukanya entar gue yang bayar.”


“Serius, Sam?” tanya Violet antusias.


Cowok itu mengangguk sambil mengulum senyum.


Violet berdiri dan mencolek-colek lengan Yara, “ayo kita pesan makanan.”


Yara pun segera berdiri. Kedua gadis itu berlari mendekati pedagang. Emran dan Manha terlihat senang sambil menyantap makanannya. Berbeda dengan Adira yang cengo menatap kepergian temannya.


“Lo nggak mau pesan?” ujar Sam menunjuk-nunjuk dengan garpunya.


Gadis itu menoleh lagi ke Sam, “gue bisa beli sendiri.”


Dira berdiri, lalu melangkah menyusul teman-temannya. Sam tertawa pelan dengan menutup mulutnya menggunakan punggung tangan.

__ADS_1



__ADS_2