
“Sebenarnya kita mau kemana sih?” tanya Abrisam saat berjalan bersama Adira.
Gadis di sebelahnya itu menoleh, “udah lo ikutin gue aja.”
Sam memanyunkan bibirnya. Ia kelihatan imut, tapi sayang Dira tidak melihat itu. Gadis ini berhenti di depan pintu perpustakaan.
“Gue males ke sini, lo aja deh.” Sam ingin melangkah, tapi Adira menarik kerah bajunya dari belakang.
Cowok itu memegangi lehernya. Ia tercekik, “lepas gue susah napas!”
Adira tertawa pelan melihat wajah Sam memerah. Ia melepas kerah baju Sam.
“Makanya jangan pergi! Ayo, ikut gue!” rengek Dira.
“Lucu juga lo begitu,” celetuk Sam tiba-tiba. Adira mendelik dan membuang muka. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum.
Adira mencoba menetralkan dirinya kembali, lalu menatap Sam.
“Ayo masuk!” ia buru-buru melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Abrisam menyusul masuk ke dalam perpustakaan setelah melepas alas kakinya.
Ia berjalan di belakang Dira. Walau sebenarnya dia tidak suka tempat penuh buku ini. Karena Adira ia tetap masuk.
“Gue ngajak lo ke sini cari buku untuk dipelajarin. Lusakan kita udah ujian semester.” Adira berbicara dengan suara pelan menyusuri rak-rak buku.
“Emangnya lo nggak punya buku-buku itu?” tanya Sam.
“Nggak, kalau ada diperpustakaan gue nggak beli.” Dira menoleh sekilas, “gue beli buku cetak kalau nggak ada di perpus aja. kalau bisa hemat kenapa nggak.”
“Oh, begitu.” Sam mengangguk-angguk.
Adira berhenti berjalan dan meraih salah satu buku yang tersusun rapi dengan buku-buku lain.
“Lo sendiri, pasti lengkap ya buku cetaknya?” Dira mendongak menatap Sam yang lebih tinggi darinya.
Sam menggeleng, “gue cuma punya beberapa aja.”
“Gue kira karena lo berduit pasti bukunya lengkap. Tinggal ambil di toko terus bayar. Nggak kayak gue, kalau buku bekas ada, gue pilih beli yang itu dari pada yang baru. Karena hanya bayar setengah harga.”
“Gue ‘kan nggak suka baca. Itu yang gue punya karena di suruh beli aja sama guru yang ngajar. Kalau nggak balas bener.” Sam memcoba memeriksa-meriksa buku yang ada di depannya.
“Dasar pemalas.” Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dira meletakkan bukunya kembali. Kemudian mendongak, “itu buku yang gue cari.” Ia mengulurkan tangan ke atas dan mencoba meraihnya.
Sam yang merasa mengantuk saat melihat-lihat buku akhirnya memutuskan untuk meletakkan buku itu lagi. Ia menoleh ke samping dan melihat gadis mungil di sebelahnya itu melompat-lompat. Sam mencoba melihat ke atas, lalu tangannya menggapai buku yang diinginkan Adira.
“Yang ini?” ia memberikan buku itu pada Dira.
Adira mengangguk, “iya, makasih.”
__ADS_1
“Sama-sama. Makanya tumbuh. Lo pasti kurang minum susu ya?”
“Enak aja!” gadis itu menatapnya sinis.
“Dira!”
Sam dan Dira bersamaan menoleh pada seseorang yang baru saja datang. Abrisam memutar bola matanya saat mengetahui orang yang memanggil Dira itu.
“Afraz, di sini juga?” tanya Dira berbasa-basi.
Afraz mengangguk, “iya, ini lagi minjem beberapa buku.” Cowok itu menunjukkan tumpukan buku di tangannya.
“Banyak juga minjemnya,” ucap Dira setelah melihat buku itu.
Saat kedua orang itu asik mengobrol Sam lebih memilih menyibukkan dirinya membulak-balik buku.
“Karena mau ulangan gue emang pinjem lebih banyak. Lo sendiri ngapain jalan sama dia?”
Adira menoleh ke belakang, lalu tersenyum menatap Afraz kembali.
“Gue sengaja ngajak dia. Biar bisa ikut minjem buku.”
Sam meletakkan lagi buku di tangannya, “emangnya kenapa? Masalah buat lo kalau gue ke sini?” tanya Sam menatap tajam Afraz.
“Aneh aja, anak kayak lo mau ke perpustakaan. Gue juga nggak suka lo terlalu dekat dengan Adira nanti bisa bawa pengaruh buruk,” ujar Afraz yang berhasil menyelut emosi Abrisam.
“Tutup mulut sampah lo itu!” bentak Afraz, “gue temanan udah lama sama Adira. Jadi, sebagai teman gue nggak mau Dira jadi nggak bener gara-gara deket sama lo.”
“Wah... lo ngajak ngelut banget ya.” Sam menaikkan tangan seragamnya, “sini lo maju!”
“Udah-udah ini perpustakaan. Jangan berantem di sini!” Adira mencoba menenghkan.
“Kalau gitu ayo kita berantem di luar aja.” Ajak Abrisam yang mendapat pelototan dari Adira.
“Sam! Nggak boleh berkelahi lagi!”
Abrisam terdiam, ia merapikan kembali lengan bajunya, “iya nggak.”
Afraz memperhatikan mereka. Ia agak aneh dengan Sam yang menurut pada Dira.
“Lo udah punya ini?” Adira menunjukkan buku yang sedari tadi ia pegang. Cowok yang ditanyanya itu hanya menggeleng.
“Ambil lagi satu,” lanjutnya.
Sam meraih satu buku yang sama dengan Dira.
“Kita dulu ya, Fraz.” Pamit gadis itu pada Afraz yang tidak bersuara lagi. Walau di wajahnya masih terlihat jelas kekesalan.
“Ayo!” Adira menarik tangan Sam untuk menjauh dari sana. Ia tidak mau Sam membuat kekacauan. apa lagi di perpustakaan.
__ADS_1
Tomi tersenyum-senyum saat melihat foto Winda dari ponselnya. Ia mendapat foto ini tidak mudah. Menyuruh karyawannya untuk diam-diam memotret janda beranak dua itu.
Istri keduanya, Siska. Memperhatikan Tomi sedari tadi. Wanita itu tetap keluar masuk dapur sambil sesekali melihat ke arah ruang tengah. Tempat suaminya itu duduk.
“Sam pulang!”
Mendengar suara dari anaknya, Tomi segera menyimpan ponsel itu ke dalam saku.
Sam terus melangkah tanpa menyapa sang papi. Tomi yang perlu berbicara dengan anak itu lekas memanggilnya.
“Sam tunggu sebentar!” teriakan itu membuat langkah anak berseragam sekolah yang sudah tak rapi itu berhenti.
“Sini dulu ada yang mau papi omongin ke kamu.”
Sam berbalik dan melangkah turun dari anak tangga yang sudah ia naiki. Ia berjalan malas ke arah Tomi.
“Ada apa, Pi?”
“Duduk dulu!” suruh Tomi yang melihat anaknya masih berdiri di depannya.
Laki-laki ini menghela napas, kemudian duduk di sofa, langsung berhadapan dengan sang ayah.
“Papi kemarin bertemu dengan Adam, ayahnya Kanaya. Masih ingat ‘kan? Sam hanya mengangguk dan berdeham.
“Nah, kami berniat akan menjodohkan kamu dan Naya. Kamu setuju?”
Sam yang tadinya malas melihat ayah kandungnya ini lekas menoleh dan menatap tajam mata pria itu.
“Kenapa tiba-tiba sekali?”
“Memangnya kenapa? Papi kira kamu akan senang. Papi liat dulu kamu murung ditinggal Naya. Jadi, Papi simpulkan kalau kalian sangat dekat. Kalau dijodohkan bukannya tidak masalah.”
“Papi pikir perasaan Sam ini mainan? Sam tidak mau dijodohkan dengan Naya. Sam sudah punya gadis yang Sam suka, Pi.” Tolaknya dengn tegas.
“Sudahlah, lupakan saja gadis itu. Kalau kamu menikah dengan Naya. Papi dan Om Adam bisa bergabung dalam perusahaan. Naya juga sudah jelas bebet-bobotnya. Apa lagi yang kamu cari?”
“Sudah cukup, Pi! Cukup cita-cita Sam saja yang papi atur soal pasangan biar Sam sendiri yang memilih. Pilihan Sam juga nggak salah.”
Setelah berbicara itu Sam berdiri. Kemudian melangkah pergi.
“Sam kenapa kamu selalu menentang keputusan Papi? Padahal Papi seperti ini demi kamu.” Teriak Tomi sambil menunjuk-nunjuk.
Sedangkan Sam terus melangkah menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Siska menguping dari balik tembok. Ia kasihan sama Sam yang selalu dipaksa Tomi mengikuti keinginan pria itu. Baginya anak tirinya ini juga berhak memutuskan kemauannya. Karena Siska percaya kalau Sam itu anak yang baik.
__ADS_1