
Pukul tujuh pagi. Kota Jakarta sudah sibuk seperti biasanya. Sumua orang berkegiatan. Ada yang pergi bekerja dan ada juga yang bersekolah. Kendaraan padat merayap di jalanan. Sudah tidak diherankan lagi.
Namun, berbeda dengan Abrisam yang dijadwalkan masuk pukul delapan masih saja mondar-mandir di kamarnya. Ponselnya menyala dan terhubung dengan seseorang yang jauh di sana.
“Kamu lagi apa di situ sayang?” tanya Sam tanpa menatap layar handphone-nya.
Cowok dengan kaus putih dan celana denim yang ketat itu merapikan rambutnya di depan cermin.
“Aku lagi istirahat di taman kampus. Nunggu kelas berikutnya. Kamu belum berangkat juga?”
Sam menunduk sebentar, lalu menata rambutnya lagi.
“Aku masuk jam delapan. Ini baru jam tujuh kok,” jawab Sam sangat santai.
Ketika selesai ia mengambil ponselnya dan mensejajarkan dengan wajah.
“Bagaimana pacarmu ini sudah tampan ‘kan?”
Dari layar ponsel Adira melengguh. Sam malah bertanya yang tidak penting.
“Kamu itu tinggal di Jakarta loh. Pasti akan macet. Cepat pergi ke kampus!” Adira tidak menghiraukan pertanyaan Abrisam yang sebelumnya.
“Iya, aku tahu. Nanti aku akan bawa motor dengan lebih cepat,” ucap Sam meraih ransel dan jaket denimnya.
“Jangan kebut-kebut, aku nggak suka!”
“Kalau nggak ngebut nanti aku telat masuk kelas.” Sekarang Sam sudah menenteng sepatu keluar dari kamarnya.
“Salah sendiri jam segini masih di rumah. Ingat, jangan kebut-kebutan, Sam!”
Abrisam menghentikan langkahnya saat berdiri di ujung tangga paling bawah.
“Oke, aku akan patuh pada tuan putri.” Dari balik layar itu Sam bisa melihat kekasihnya tersenyum.
“Begitu dong, I miss you!”
“Miss you too.” Sam melirik Siska yang berbicara menggunakan bahasa isyarat dengan mengerakkan tubuhnya. Cowok itu mengerti maksud sang bunda, “ada waktu kita bicara lagi ya. Aku harus berangkat.”
Adira mengangguk, “iya, hati-hati.”
Sambungan telepon pun terputus. Cowok yang kerepotan dengan barang-barang bawaannya ini melangkah mendekati Siska. Wanita paru bayah itu tidak banyak perubahannya selama satu setengah tahun ini. Ia masih cantik dan anggun.
__ADS_1
“Sarapan dulu ya!” Tawar Siska yang ingin mengambilkan roti dengan selai.
Abrisam meletakkan tasnya di kursi, menyimpan ponsel ke saku dan meletakkan sepatu ke lantai, lalu memasang jaketnya terlebih dulu.
“Nggak usah, Bun!” Sam duduk, kemudian memasang sepatunya, “Sam sarapan di kampus aja nanti. Udah kesiangan banget ini.”
“Seriusan? Nanti kamu lapar.” Sam menggelengkan kepala, “ya sudah, jangan lupa beli makanan setelah di kampus. Kamu sih pergi mepet banget waktunya.”
Cowok ini kembali berdiri dan memakai ranselnya, “oke, Bundaku sayang.
Sam pergi dulu, dadah.” Anak lelaki itu mengecup pipi Siska dengan cepat, lalu berlari keluar dari rumahnya.
•••
Abrisam memarkirkan motor kesayangannya di Parkiran fakultas, kemudian berlari memasuki gedung dan menyusuri koridor hingga tiba di kelasnya.
“Maaf, Pak. Saya terlambat lagi.”
Dosen yang sedang menerangkan dan mahasiswanya seketika diam, menatap Sam. Beberapa detik kemudian semuanya tertawa. Abrisam yang kebingungan kali ini dengan sikap teman satu kelasnya dan sang dosen.
Cowok ini mengedikkan dagu pada gadis yang memakai almamater dan kebetulan duduk di depan.
Gadis itu menunjuk ke kepalanya sendiri. Bermaksud memberi kode. Sam melirik ke atas. Ia tahu sekarang penyebab teman-temannya tertawa. Cowok itu melihat ke arah Pak dosen dengan cengengesan. Ia lupa melepas helmnya.
Abrisam melepas helmnya, “maaf, Pak. Tadi saya buru-buru.”
Kelas sudah kembali hening. Dosen itu menutup spidol yang ia pakai, lalu melangkah lebih dekat ke depan muridnya yang terlambat ini.
“Kenapa bisa telat?” Sam melirik ke kiri. Ia sedang memikirkan alasannya. Karena ketiduran sudah sering ia jadikan alasan, “jangan bilang kali ini kucingmu lahiran atau nenekmu nikah lagi?”
Mahasiswa di kelas itu tertawa. Namun, saat Dosen bernama Alvin ini mengangkat satu tangannya. Seketika hening kembali.
“Saya bangun kesiangan, Pak. Maaf, soalnya tadi malam di kompleks rumah saya ada maling dan saya bantu ringkus malingnya. Karena harus hubungi hansip, lalu lapor Pak RT dan terakhir ke polisi. Saya tidur jadi kemalaman. Akhirnya seperti sekarang, telat.”
“Kamu ini selalu ada saja alasannya. Ingat, kamu sudah tiga kali telat di mata pelajaran saya! Sekali lagi kamu nggak akan saya kasih masuk.”
Sam menunduk. Ia mengerti kalau kelakuannya ini selalu bikin dosen yang mengajar naik darah. Untung saja ia sedang bertemu dengan Pak Alvin yang suka bercanda.
“Baik, Pak. Maafkan saya.”
“Iya, saya maafkan. Duduk sana!”
__ADS_1
Lelaki yang menenteng helm itu mengangguk, lalu berjalan menuju tempat duduknya. Sam mengambil kursi paling depan di samping gadis beralmamater tadi.
Di kelas Abrisam ada dua perempuan dari 20 mahasiswa. Memang lebih dominan laki-laki di jurusan teknik mesin ini. Kalau kata Jodi, teman baru Sam di kelas itu. Kedua perempuan itu nyasar, tapi lumayan buat cuci mata dari pada harus melihat sesama jenis terus.
Setelah menghabiskan waktu satu jam setengah, pelajaran pun usai dan Pak Alvin memberikan pengumuman kalau minggu depan pengambilan nilai praktik.
Sam sangat senang kalau pelajaran praktik dari pada menatap papan tulis berjam-jam dan mendengarkan dosen yang bicara, membosankan.
“Lo tadi beralasan palsu lagi ‘kan?” tunjuk cewek yang tadi duduk di sebelah Sam. Kini mereka jalan bersama menyusuri koridor.
Abrisam yang masih membawa-bawa helmnya, mengangguk.
“Iya, lo benar. Gue nggak tahu lagi arus alasan apa. Udah terlalu banyak alasan.”
“Makanya, jangan keseringan terlambat!” ucap gadis bernama lengkap Tania Mahendra ini.
“Begadang main PS dulu, baru tidur.” Sam tersenyum-senyum malu.
Gadis berpenampilan tomboy itu menggelengkan kepala. Tania memang gadis yang unik. Ia lebih terlihat kelaki-lakian dari pada gender-nya yang sebenarnya. Berteman dengannya membuat Sam serasa berteman dengan lelaki.
Walau begitu Sam tetap memperlakukan Tania layaknya seorang gadis biasa.
Mereka berhenti di parkiran yang penuh dengan motor-motor. Tania menemani Sam untuk meletakkan helmnya dahulu. Setelahnya mereka melangkah lagi menuju kantin yang tidak jauh dari gedung fakultas.
“Kalian mau ke kantin ya?”
Seorang cowok dengan rambut hampir plontos itu tiba-tiba merangkul Abrisam dari belakang, membuat Sam yang sedang berjalan beriringan bersama Tania, terkejut. Cowok itu adalah Jodi. Yang Sam tahu rambut Jodi memang seperti itu dari pertama kali masuk kampus ini.
Bukan karena tidak tumbuh. Namun, pemuda itu memang sengaja terus mencukur rambutnya kalau sudah terlihat memanjang. Katanya, ia tidak pandai mengurus rambut.
“Iya,” jawab Tania singkat.
“Gue ikutlah. Laper, pengen makan somay Mas Bambang.”
“Bukannya Mas Bambang lagi pulang kampung? Istrinya ‘kan melahirkan.” Sam ikut menimpali.
“Masa sih?”
Mereka berbicang ringan selama perjalan ke tempat tujuan.
•••
__ADS_1
Note:
Bagaimana dengan bagian pertamanya? Semoga sesuai ekspetasi kalian. Jangan lupa di support, rate, like, komen, vote dan favoritkan.