He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 18


__ADS_3

“Berasa punya doi gitu ya si Sam. Diperhatiin turus pakai ditelepon lagi,” ujar Emran.


Abrisam sudah menceritakan apa yang dialaminya tadi pagi. Ia meletakkan gelas kopi kembali sesudah mendeguknya.


“Dih, mimpi punya doi kayak dia aja gue males.”


Manha tertawa mendengar penolakan Sam.


“Emang apa salahnya sih sama Adira? Cantik, pintar, perhatian lagi. Kalian itu cocok,” ucap Manha yang balik duduk di bangkunya setelah mencomot roti di warung Mang Suep.


“Udah deh gue malas bahas dia.” Sam kembali menyeruput kopi hangat itu.


“Sam!”


Sam menoleh dan kedua sahabatnya juga ikut menoleh bersama-sama.


“Ngapain dia ke sini, Sam?” bisik Emran.


Abrisam menggeleng, “mana gue tahu.”


Adira jalan mendekat. Di tangannya ada dasi. Ia hanya menghampiri Sam sendirian.


“Gue cariin kemana-mana tahunya nongkrong di sini.”


“Ada apa?” tanya Sam dengan alis menyatu.


Dira mengangkat tangannya yang memegang dasi, “gue beliin ini buat lo. Kurang baik apa lagi gue? Cepat berdiri! Gue pasangin.”


Cowok itu kembali menghadap ke depan, “gue nggak mau. Lagian gue nggak minta lo beliin.”


Gadis ini mendengus dan melingkarkan dasi ke leher Sam, “cepat berdiri!” Ia menarik dasi itu dan mengakibatkan Sam tercekik.


“Eh-eh gu..gue susah napas,” ujar Sam terputus-putus sambil memegangi dasi yang melilit di lehernya.


Emran dan Manha terlihat cemas dan seperti ingin membantu. Namun, Adira mengancamnya.


“Awas kalian kalau coba lepasin!”


Emran dan Manha refleks mundur sedikit dari Sam.


“Ayo, cepat berdiri!” Adira menggerak-gerakan dasinya seperti kusir yang membawa kuda.


Abrisam menyerah ia mengikuti apa kata gadis itu. Adira lebih mendekat lagi sambil tersenyum.


“Gitu dong, sini gue pasangin!”

__ADS_1


Cewek itu membenarkan dasi di leher Sam. Ia dengan cekatan memakaikan dasinya. Sam yang berhadapan dengan Dira saat ini terdiam memperhatikan paras gadis itu.


“Kalau dilihat dari dekat dia cantik juga,” ujar Sam dalam hati, "idih, gue mikir apaan sih." beberapa menit kemudian ia menggeleng pelan.


Adira menjauhkan tangannya kembali, “sudah.” Matanya menatap Sam.


“Begini ‘kan rapi,” lanjut Adira.


“Kalian tahu nggak?” Mendengar pertanyaan Manha, Adira dan Abrisam menoleh, “kalian mirip istri yang masangin suaminya dasi ketika mau berangkat kerja.”


Dira kembali menatap Sam, “ih, najis.” Gadis itu segera mundur beberapa langkah.


“Harusnya lo bersyukur kalau punya suami kayak gue. Iya nggak guys?” Sam melirik teman-temannya.


“Yoi!” ucap mereka serempak.


Sam kembali duduk di bangkunya, “udah ganteng, tinggi, romantis, banyak fans-nya lagi.”


Adira memberikan respons seperti orang yang mau muntah.


“Mau lo bayar juga gue ogah. Sudahlah, gue mau balik ke kelas. Lama-lama di sini bisa muntah beneran,” ujar Adira kemudian berbalik badan dan pergi.



Cowok itu membuang tasnya ke meja dan menjatuhkan bokong ke sofa. Ia angkat satu kaki ke atas dan bertumpu pada kaki yang satunya. Melepas perlahan tali sepatunya.


“Eh, anak Bunda udah pulang. Ayo, makan dulu! Bunda udah masak tuh.” Siska mengusap-usap punggung Sam dari belakang.


Sam melepas satu-persatu sepatunya, “bentar, Bun. Sam ganti baju dulu ya.”


Siska mengangguk. Wanita berhijab itu melihat ke depan Sam. Ia berhenti mengusap punggung anak laki-lakinya itu.


“Perasaan tadi pagi kamu nggak pakai dasi, kok sekarang pakai sih? Apa Bunda yang salah lihat?”


Sam menurunkan kakinya setelah sepasang sepatu itu terlepas. Perlahan tangannya menyentuh dasi itu dan kepalanya menunduk.


“Ini tadi teman Sam yang beliin.”


“Baik juga temanmu itu. Namanya siapa?”


“Bunda!” Siska menoleh ketika sang putri memanggil, “adik Yasmin manggil tuh. Bunda samperin dulu ya. Kamu cepat ganti bajunya terus makan.”


Setelah memberi pesan seperti itu Siska berlalu pergi. Sam seperti tidak memedulikannya.


Ia sibuk memperhatikan dasinya. Memandang dasi itu, bayang-bayang Adira terlintas di pikirannya. Sosok gadis itu yang sedang memasang dasi padanya tadi pagi muncul begitu saja, seperti film yang diputar ulang.

__ADS_1


Tanpa sadar Sam menarik kedua ujung bibirnya untuk tersenyum.


“Dih, apaan sih!” Sam menggeleng kuat, “kenapa gue jadi mikirin itu cewek. Nggak bener nih.”


Sam segera melepas dasi yang melingkar di lehernya. Sesudah itu cowok ini memungut sepatu dan tasnya, lalu pergi menuju kamar yang ada di lantai dua.


Baru sampai di kamar ponsel Abrisam yang ada di dalam saku celananya berdering. Sam meletakkan semua yang ia pegang saat itu. Ia lekas mengeluarkan ponselnya dan menggeser ikon hijau di layar.


“Ada apa?”


“Lo udah di rumah ‘kan? Lo nggak main-main dulu ‘kan? Gue mau video call biar gue tahu lo ada di mana.”


“Apa urusannya sama lo kalau gue nggak di rumah? Gue mulai terganggu ya kalau begini. Udah cukup nggak usah peduliin gue lagi kayak dulu.” Sam lekas mematikan panggilan dari Dira itu.


Baru saja Sam akan meletakkan benda pipih itu. Namun, ia berdering lagi. Kali ini Adira meminta video call.


Sam membiarkan saja ponselnya berdering di meja. Sedangkan dia sibuk berganti pakaian.


Namun, nampaknya Adira tidak semudah itu untuk menyerah. Ia terus menelepon Sam. Akhirnya lelaki itu kalah dan mengambil lagi handphone-nya.


“Kalau nggak gangguin hidup gue hidup lo nggak tenang ya?” tanya Sam lewat video call-nya.


“Aaaaa!”


Dari seberang sana Adira menjerit dan menutup matanya, “lo ngapain telanjang?”


Sam menunduk melihat tubuhnya. Ia menjauhkan lagi ponselnya, “gue cuma nggak pakai baju doang. Noh, masih pakai celana. Salah siapa gue lagi ganti pakaian diteleponin mulu?"


Perlahan Adira menjauhkan tangannya dari mata. Ia cemberut, kemudian memperhatikan sekeliling Sam.


“Lo di rumah?”


“Nggak gue lagi di sawah, macul.”


Seketika Adira tertawa pelan mendengar lawakan garing dari temannya itu.


“Huh, bohong. Itu kelihatannya di kamar.”


“Iya, gue di kamar. Udah puaskan sekarang? Gue langsung pulang nggak main kayak tuduhan lo. Sudah ya, bye!”


Sam berbicara cepat, lalu lekas memutuskan sambungan telepon sepihak.


“Resek!” ujar Sam mendekatkan ponselnya ke mulut. Kemudian ia meletakkan benda pipih itu di meja kembali.


__ADS_1


__ADS_2