He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 35


__ADS_3

Winda terlihat sedikit kesusahan saat sudah turun dari taksi membawa begitu banyak kue.


“Pesanan kue, Bu?” tanya seorang satpam yang menyambut kedatangan Winda.


Winda mengangguk, “iya, Pak. Acaranya belum dimulai ‘kan. Maaf, saya sedikit terlambat.”


“Sini saya bantu bawa ke dalam.” Satpam itu mengambil kantung plastik yang berisi beberapa kotak kue dari tangan Winda, “Belum mulai kok, Bu. Acaranya jam sembilan.”


Wanita yang rambutnya dikuncir itu mengangguk, lalu masuk ke dalam kantor bersama satpam yang menolongnya.


Kue disiapkan dulu di dapur. Diiris kecil-kecil dan ditata ke piring. Winda sebagai pembuat kue juga harus membantu menyiapkan kue ke piring.


“Sudah selesai,” ujar Winda. Beberapa pelayan membawa kue-kue itu keluar.


“Bu Winda.” Panggilan dari seseorang membuat Winda menoleh, “Pak Tomi ingin bertemu.”


“Ada apa ya?” tanya Winda sedikit bingung. Biasanya kalau wanita itu mengantarkan pesanan kuenya ke kantor-kantor besar yang mengurus hanyalah karyawan kantor itu.


“Katanya ingin memberikan bayaran ibu.”


“Oh begitu, bisa tunjukan saya jalannya.”


“Silakan bu ikuti saya.” Karyawan itu berjalan lebih dulu.


Perempuan berblazer putih dan ber-rok senada itu berhenti di depan sebuah pintu berwarna coklat tua.


“Silakan, Bu! Pak Tomi ada di dalam.”


“Terima kasih,”balas Winda tersenyum, lalu perlahan memutar gagang pintu ke bawah.


Karyawan itu bergegas pergi saat Winda sudah masuk ke dalam ruang. Single parent itu terkesima dengan ruangan yang begitu luas. Disana tidak hanya ada meja dan kursi kerja serta lemari-lemarinya. Namun, juga ada satu set sofa dan TV yang cukup besar. Tesedia juga kamar mandi hingga tidak perlu repot keluar mencari toilet.


“Silakan duduk dulu, Win!” Tomi yang memang sudah duduk di tempatnya memprsilakan Winda untuk ikut bergabung.


Winda mengangguk, lalu menarik kursi dan duduk berhadapan dengan CEO itu.


“Terima kasih, Pak.”


“Ah, jangan panggil Pak. Bukannya waktu itu kita sudah berkenalan?”


“Tidak apa-apa, saya tidak enak kalau harus memanggil nama.”


“Biar lebih akrab saja.” Tomi memperhatikan lingkar mata milik Winda, “sepertinya kamu kurang istirahat karena pesanan saya ya?”


Seketika Winda memegang matanya, “memangnya begitu kelihatan, Pak?”


Tomi mengangguk, “iya, pasti sekarang kamu lelah sekali.”


Wanita yang duduk hanya terpisah meja saja dengan Tomi ini tertawa kecil, “saya sudah biasa, Pak.”


“Oh iya.” Tomi mengeluarkan amplop coklat dari lacinya, lalu meletakkan amplop itu di atas meja tepat di depan Winda, “itu bayaran kamu. Terima kasih sudah mau terima pesanan yang mepet ini.”


Winda mengambil amplopnya, “sama-sama, Pak. Kebetulan pesanan Pak Tomi ini adalah penolong saya. Soalnya beberapa hari ini pesanan sepi.” Ia tersenyum, kemudian menghitung uang di amplop.


“Waw, merasa terhormat sekali saya bisa menolongmu.”


“Pak, ini bayarannya terlalu banyak.” Winda meletakkan lebih uang itu di atas meja, “saya nggak bisa menerimanya.”


“Tidak-tidak, simpan saja. Saya memang sengaja melebihinya. Kamu sudah lelah sampai tidak tidur bukan? Anggap saja itu bonus dari hasil kerjamu. Kata karyawan saya kuemu enak.

__ADS_1


Masukkan kembali ke amplopnya!” Tomi menggeser uang lebih dekat ke Winda.


“Saya terima Pak. Terima kasih,” Winda tersenyum dan mengambil lagi uang yang ada di meja.


Tomi terpesona melihat senyum itu. Senyum dari bibir yang mungil itu menggingatkan pada istri pertamanya. Beberapa menit ia terfokus pada Winda.


“Kamu kerja seperti ini membantu suami atau suamimu tidak kerja?” Tomi iseng menanyai itu.


“Suami saya suda meninggal dunia sejak anak kedua saya berumur lima tahun, Pak.”


“Oh, maaf. Saya tidak tahu. Jadi membuka duka lama.”


“Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah ikhlas.” Winda berdiri dari kursinya, “kalau begitu saya permisi pulang dulu.”


Tomi tergesa-gesa untuk ikut berdiri, “iya, hati-hati Winda. Sampai rumah istirahat sebelum lingkaran hitam di matamu membuat dirimu menyeramkan.”


Winda tertawa pelan, “baiklah, Pak.”


Kemudian wanita berpakaian sederhana. Namun, masih terlihat anggun itu keluar dari ruangan Tomi.


“Ternyata dia janda.” Kedua ujung bibir Tomi tertarik membuat bibirnya membentuk setengah lingkaran.



“Ayo ke kantin!” ajak Yara bangun dari kursinya.


“Bentar,” balas Violet yang masih sibuk memasukan alat tulisnya ke dalam tas.


Adira berdiri sambil bersandar di tembok menunggu Violet memberikan jalan untuk dia keluar dari temat duduknya.


“Buruan nanti keburu masuk!” ujar Yara tidak sabar.


“Ya sudah jangan bacot terus gue laper nih.” Dira mendorong Violet untuk memberinya jalan keluar.


Gadis yang di dorong itu hampir saja jatuh kalau tidak berpengangan pada meja.


“Ih, Dira.” Adira hanya tertawa mendengar protesan dari temannya itu.


Ketiga gadis itu berjalan keluar dari kelas. Abrisam yang masih duduk di kursinya berlari menyusul Dira. Hingga tidak menggubris panggilan dari Kanaya.


“Dira-Dira!” teriakan dari Sam membuat ketiga gadis itu menoleh bersamaan.


“Mau apa lo?” tanya Violet yang pindah berdiri di depan Dira. Bermaksud melindungi sahabatnya ini.


“Gue cuma mau ngajak Dira makan bareng lagi.”


“Tapi gue nggak bawa bekal lagi, Sam.” Balas Dira.


Sam mendekat dan mengambil tangan Dira, “nggak apa-apa. Gue traktir makan.” Lalu cowok itu lekas memarik tangan Dira dan melangkah sambil menggandeng tangan gadis itu.


Violet terlihat sewot saat Adira dengan pasrah mengikuti mau Abrisam.


“Makin hari Dira makin jarang sama kita.” Yara memperhatikan kedua orang yang menjauh itu.


“Ini gara-gara pacaran sama Sam,” tambah Violet.


Yara menoleh ke sebelahnya, dimana ada Vio, “menurut gue walau pacarannya sama Afraz, Dira pasti juga jarang punya waktu untuk kita.”


“Masih mending sama Afraz dari pada sama Sam.”

__ADS_1


“Udahlah, ngomel mulu lo.” Yara merangkul pundak Vio, “ayo kita ke kantin berdua aja.”


Mereka melanjutkan langkah.



Adira terlihat risih berada di warung Mang Suep yang banyak lelaki itu. Memang warung belakang lebih di dominasi siswa dan sekarang hanya Dira-lah yang perempuan di sana.


Kalau masih pagi begini. Ada somay yang mangkal dan Mang Suep juga menjual nasi uduk. Dua piring berisi makanan yang sama datang ke depan Sam dan Dira.


“Terima kasih, Mang.”


Adira memperhatikan Sam yang berbicara pada Mang Suep. Cowok itu kemudian menoleh ke Dira.


“Sudah makan! Ngapain malah ngeliatin gue?” tanya Sam membuat lamunan Dira buyar.


“Gue risih Sam. Banyak cowok.” Dira merapatkan duduknya ke arah Abrisam.


Sam langsung mengedarkan matanya ke sekeliling.


“Lo-lo pada mata jangan jelalatan!” tunjuk Sam pada siswa-siswa yang sedari tadi memperhatikan Dira.


Sam menoleh ke sampingnya. Ada Emran yang sedang makan sambil sesekali mengobrol dengan Manha.


“Bro.” Sam menepuk pundak Emran, “lepas jaket lo!”


Dengan menurut tanpa menanya Emran melepas jaket denim yang ia gunakan, lalu memberikannya ke tangan Abrisam.


Sam melebarkan jaket itu. Kemudian menutup paha Adira yang masih tersingkap sedikit itu.


Emran dan Manha memperhatikan temannya yang sedang bersikap gentleman.


“Oh... so sweet...” seru Manha.


Adira dan Sam menoleh bersamaan dan Dira berucap tersipu malu, “apa sih?”


Sedangkan Sam hanya tertawa pelan, lalu menarik piringnya mendekat.


“Makan!” Sam menunjuk piring milik Dira dengan dagunya.


Dira mengangguk dan mulai menyendok makanannya.


“Oh iya Sam. Kanaya itu siapa lo?” tanya Adira disela-sela makan mereka.


Abrisam menghentikan menyuap makanannya, “dulu gue sama dia di SMP itu satu sekolah dan satu kelas kayak kita ini.”


Adira menggangguk-anggukan kepala, “pantesan kelihatan akrab.”


“Kenapa lo cemburu ya?”


Pertanyaan Sam berhasil membuat Adira tersedak.


“Huk... huk... huk!”


“Hat-hati dong.” Sam mengambil gelas yang berisi es teh manis di meja dan memberikannya ke Dira, “minum dulu.”


Adira lekas menyeruput minumnya.


__ADS_1


__ADS_2