He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
(season 2) Bagian 4


__ADS_3

Abrisam baru saja keluar dari kamar mandinya. Ia mengeringkan rambut menggunakan handuk. Sesekali mengibaskan rambutnya yang basah itu. Dengan celana selutut dan kaus hitam lengan pendek cowok ini melangkah mendekati meja belajarnya.


Tangannya dengan cekatan membuka resleting tas, kemudian mengambil handphone yang ia simpan di dalam. Sam berjalan lagi dan berhenti dengan duduk di pinggir ranjang tempat tidur.


Pemuda ini menghidupkan kembali ponselnya yang tadi sengaja dimatikan, takut mengganggu jam praktik di kelas.


“Adira udah tidur belum ya?” Sam melihat ke arah jam dinding yang bertengger di tembok bercat putih ini.


Baru saja dipikirkan sambungan telepon dari Adira masuk ke ponsel cowok itu. Sam menoleh ke benda pipih di tangannya.


“Panjang umur,” gumamnya, lalu mengangkat telepon itu.


“Sam, maaf tadi teleponmu nggak ke angkat,” ujar Dira yang jauh di sana. Gadis itu langsung membicarakan masalah tadi sore yang masih mengganjal di benaknya.


“Nggak ke angkat? Bukannya kamu reject teleponku? Aku kira kamu sengaja melakukan itu karena masih sibuk.”


Adira mengerutkan dahinya. Ia yang bersandar pada ranjang seketika duduk dengan tegak. Otaknya bekerja memikirkan mengapa telepon dari Sam bisa ter-reject.


“Aku aja nggak tahu kamu telepon aku. Mana bisa aku nge-reject-nya. Tadi itu aku memang sibuk kerja kelompok di Apartemen.”


Dira jadi kepikiran Gabriel. Apa cowok itu yang meng-reject telepon Sam? Padahal Gabriel sudah tahu Sam adalah pacar Dira. Sudah sering gadis ini bercerita pada teman laki-lakinya itu. Mengapa ia tidak memberi tahu kalau Sam menelepon?


Abrisam mengalungkan handuknya ke leher, “kerja kelompok sama siapa?”


“Gabriel aja.”


“Kamu bawa cowok ke Apartemenmu?” tanya Sam lagi.


Adira mengangguk walau itu tidak akan terlihat oleh Sam, “iya, Gabriel yang pernah aku ceritain itu. Baru dua kali juga dia main ke Apartemenku.”


“Sudah dua kali?” Sam mengubah posisi duduknya, “kamu nggak ada cerita ke aku.”


“Nggak penting kali, Sam. Sekedar main ke Apartemen atau rumah teman itu biasa.”


“Tapi kalian itu cewek dan cowok yang bukan muhrim berduaan di Apartemen. Itu hal yang nggak wajar Adira.”


Adira tertawa, “ini Australia, Sam. Bukan Indonesia, yang berduaan langsung digarebek. Lagian kita hanya belajar.”


“Kamu baru setahun lebih di sana saja sudah banyak perubahannya ya. Kamu menganggap berduaan di satu Apartemen itu hal biasa. Sekarang aku tahu siapa yang meng-reject teleponku.”


Mendengar suara Sam yang mengecil dan lemas Dira jadi khawatir, “kamu marah?”


“Aku bukan marah, tapi aku kecewa.” Seketika sambungan telepon terputus. Sam mematikan teleponnya begitu saja.

__ADS_1


“Sam! Sam! Dengarin aku dulu!” percuma saja Adira masih bicara dengan handphone-nya karena telepon sudah dimatikan.


Abrisam meletakkan jauh-jauh ponselnya. Ia menghela napas berkali-kali, untuk orang yang temperamental sepertinya menahan emosi sesuatu yang sangat susah. Namun, ia terus berusaha agar tidak mengamuk ketika marah pada kekasihnya. Ini berbanding terbalik ketika dia marah dengan sosok laki-laki. Maka Sam akan menghabisinya.


•••


Di meja makan sudah berkumpul keluarga Pradipta. Ada Tomi, Siska, Anna dan Yasmin. Namun, Abrisam belum kelihatan di sana.


“Sam tidak makan?” tanya Tomi pada istri-istrinya.


Anna melihat ke arah tangga, “sepertinya masih ada di kamarnya, Mas. Aku panggilkan dulu.”


Baru saja Anna bangkit dari duduknya. Sam sudah terlihat mengarah ke meja makan.


“Ini anaknya.” Senyum Anna dan kembali duduk.


Siska sedang sibuk mengisi makanan ke piring suaminya memperhatikan Sam sekilas-kilas.


Cowok dengan rambut belah tengah itu menarik kursi di sebelah Anna, lalu bergabung dengan keluarganya.


“Kamu kenapa, Sam?” tanya Siska memberikan piring yang sudah terisi nasi dan lauk-pauknya ke Tomi.


“Nggak apa-apa, Bun.” Sam membalik piringnya dan akan mengisikan nasi.


Tomi yang akan menyantap makananya itu mengangguk dan memperhatikan anaknya.


“Iya, kamu ada masalah?”


Sam menggeleng ketika Tomi bertanya. Ia menyibukkan diri mengambil makanan.


“Ada masalah kuliah atau asmara?” goda Papinya itu diakhir kata.


Ayah tiga anak itu memang sudah peduli pada setiap anaknya. Tomi sudah banyak berubah sejak kejadian beberapa tahun lalu. Ia benar-benar mengubah kebiasaan buruknya. Sekarang baginya keluarganyalah yang paling penting di dunia ini. Semua pencitraannya dulu sudah ia lupakan. Orang-orang juga tahu siapa Tomi dan keluarganya. Namun, pria ini tidak masalah dengan semua itu.


Sam menghela napasnya, “nggak ada apa-apa, Pi.”


“Cerita aja kali Sam. Kita ‘kan ini semua keluargamu,” ujar Siska masih mencoba memaksa Abrisam untuk bercerita.


“Berantem sama Kak Adira ya Bang?” kali ini pertanyaan datang dari Yasmin.


“Sok tau anak kecil,” balas Sam menatap adik yang ada di depannya.


Tomi mengiris kecil ayamnya, “nggak apa-apa kalau kamu belum mau cerita. Papi dan semuanya nggak maksa, tapi kami siap kapan pun untuk mendengar keluh kesahmu.”

__ADS_1


Sam tersenyum pada sang ayah. Begitu juga sebaliknya dengan Tomi.


“Siap, Pi.”


“Aduh-aduh!” Anna tiba-tiba merintih memegangi perutnya yang makin lama makin besar itu.


Sam yang ada di sebelahnya panik, “kenapa, Ma? Mau lahiran ya?”


Anna menepuk lengan Sam, “ini baru lima bulan ya kali mau lahiran.”


Wanita yang sedang mengandung itu mengatur napasnya. Tomi mendekatinya dan cemas menatap sang istri.


“Apa yang kamu rasain? Mau bawa ke rumah sakit?”


Anna menggeleng dan mendongak, “cuma kontraksi sebentar aja.”


“Kamu yakin? Kalau ada masalah bagaimana?” Tomi melontarkan pertanyaan-pertanyaan lagi.


“Nggak kok, sepertinya sudah tak apa-apa.” Anna mencoba mengontrol sakitnya.


“Mau Mbak antar ke kamar? Kamu makan di kamar aja.” Tawar Siska yang sudah berdiri dari kursinya.


“Nggak usah, Mbak. Aku masih kuat makan di sini,” jawab Anna membenarkan posisi duduknya.


“Ya sudah, tidak apa-apa. Besok kita ke rumah sakit buat kontrol kesehatan bayinya,” ujar Tomi berdiri tegak di samping Anna.


“Sam kira tadi adiknya sudah mau keluar.” Lelaki ini kembali melihat ke makanannya. Tomi juga duduk lagi di kursinya.


Kejadian beberapa detik lalu membuat semua orang cemas.


“Semoga kalau adiknya sudah lahir dia cewek. Biar bisa Yasmin ajak main boneka,” kata gadis kecil itu disela-sela kegiatan makannya.


“Jangan! Enakan juga cowok biar bisa Abang ajarin main bola.”


“Abang selalu nggak mau kalah.” Sewot Yasmin yang setiap saat disaingi oleh Kakaknya itu.


“Oh iya dong...” ledek lelaki berumur hampir 20 tahun itu.


“Bunda...” rengek Yasmin.


“Sam!” panggil Siska yang sedikit ditekan. Sedangkan cowok itu tertawa sambil menyuap nasinya lagi.


•••

__ADS_1


__ADS_2