He Is Abrisam (S1-S2)

He Is Abrisam (S1-S2)
Bagian 38


__ADS_3

“Bagaimana?” tanya Adira merentangkan tangannya dan menghirup udah segar di sana.


“Kita belajar di taman?” Sam melihat sekitarnya, “apa lo nggak terganggu kebanyakan orang di sini?”


Adira menggeleng, “nggak. Gue seneng bisa lihat air mancur itu lagi.” Tunjuknya pada kolam air mancur yang menyemburkan air.


“Terserah lo deh.”


“Hm, kita belajar di sebelah mana ya?” Adira mencari-cari tempat yang nyaman untuk duduk, “di bawah pohon itu aja.” Lagi ia menunjuk.


“Ya sudah yok, keburu sore!” Sam berjalan lebih dulu.


Sampai di dekat pohon Sam memperhatikan keadaan di bawah. Penuh rumput, ia tidak mungkin membiarkan Dira duduk begitu saja.


“Mas, mbak, piknik? Mau sewa tikar?” Adira dan Abrisam menatap tukang penyewa tikar itu.


Sam memilih untuk menyewa tikar yang ditawarkan. Akhirnya mereka sudah bisa duduk sekarang di bawah pohon rindang. Lokasi pilihan Adira memang tidak salah.


“Sudah hafal?” tanya Sam.


“Sebentar.” Dira masih sibuk menghafalkan kalimat yang Sam suruh.


Setelah selesai menghafalkan tugas dari cowok itu, Dira terlihat pergi meninggalkan Sam.


Sam mengeluarkan ponselnya, lalu melihat-lihat foto Kanaya yang masih ia simpan. Fotonya dan Kanaya yang terlihat akrab dan dekat.


“Masih ada perasaan sama Naya?” pertanyaan yang tiba-tiba menelusup masuk ke indra pendengaran Sam membuat lelaki itu tersentak dan menoleh ke sumbernya.


Adira duduk di samping Sam membawa semangkuk cilok dengan dua tusukannya.


“Dimakan! Sengaja beli agak banyak biar bisa makan berdua.” Dira menusuk cilok dan menyantapnya, “lo belum jawab pertanyaan gue tadi.”


Sam mengambil tusukannya dan menyantap cilok yang Dira belikan, “pertanyaan apa?”


“Lo masih suka sama Naya?” ulang Dira.


Cowok itu melihat ke arah ponsel yang masih ia genggam. Lekas ia menyimpan benda pipih itu ke dalam saku celana.


“Suka aja nggak pernah. Gimana bisa masih suka?”


Adira berhenti makan dan menyerongkan duduknya menghadap Sam.


“Nggak perlu nutup-nutupin lagi. Naya udah banyak cerita."


Sam jadi salah tingkah. Sebenarnya ia tidak mau lagi mengungkit-ungkit masalah ini.


“Kalau lo masih suka sama Naya, jadian aja. Gue ikhlas diputusin.”


Sam menatap Dira, “lo ngomong apa! Gue emang pernah suka sama Kanaya, tapi itu dulu. Sekarang sudah berbeda. Perasaan gue udah buat orang lain.”


Kemudian Sam menatap ke depan lagi.


“Siapa? Gue?” tanya Dira.

__ADS_1


Sam menusuk ciloknya dengan tusukan yg ia pegang. Ia melihat ke arah Adira.


“Siapa lagi bego. Ya lo lah, pacar gue kan lo.” Setelahnya Sam kembali menyantap jajanan yang tinggal setengah itu, “gue habisin ya?”


Dira cuma diam, ia berpikir. Sam mengucapkan yang sebenarnya atau tidak.


“Sam ini beneran suka sama gue? Masa sih? Gue kira dia bilang begitu cuma mau bikin Afraz cemburu, tapi dia ‘kan nggak pernah nembak gue.” Dira terus berbicara dalam hatinya.



Winda buru-buru memasuki sebuah restoran. Tomi mengundangnya ke tempat itu. Wanita dengan atasan berwarna merah dan bawahan hitam itu juga tidak terlalu mengerti maksud Tomi mengundangnya ke sana. Yang Tomi bilang di telepon ia ingin berbicara serius.


“Maaf, Pak. Saya sedikit telat. Abis mengantarkan pesanan di dekat sini dulu,” ucap Winda berterus terang.


“Tidak apa-apa, Win. Silakan duduk!” balas Tomi dengan ramah dan lembut.


Winda mengangguk, lalu menarik satu kursi dan duduk berhadapan dengan pria itu.


“Ngomong-ngomong bapak ada apa panggil saya kemari? Maaf, bicara serius apa ya?” tanya Winda sangat hati-hati tidak ingin menyinggung perasaan Tomi.


“Begini, Win. Saya mau pesan kue kamu lagi.”


“Oalah, Pak.” Winda tersenyum-senyum terlihat seperti tertawa, “saya pikir mau bicara serius apa. Kenapa nggak langsung saja bicara lewat telepon. Jadi, bapak nggak perlu ke sini.”


“Saya sih nggak masalah Win untuk bertemu seperti ini atau kamu ya yang sebenarnya merasa repot datang ke sini? Maaf kalau saya mengganggu kesibukanmu.”


“Oh, tidak apa-apa, Pak. Kebetulan sudah selesai pekerjaan membuat kuenya. Saya punya waktu buat datang ke sini. Ini buktinya saya datang.”


“Bapak mau pesan kue apa? Berapa kotak?” Winda membuja tasnya dan mengambil note untuk mencatat pesanan, “mau saya catat biar nggak lupa. Untuk acara kantor lagi, Pak?"


“Bukan, saya nggak akan pesan sebanyak itu. Saya ingin kue bolu kukus pandannya, dadar gulung dan Bronis. Masing-masing satu kotak saja."


Winda mencatatnya, “kalau saya boleh tahu ini dalam rangka apa mesan kue sampai tiga kotak, Pak?”


“Waduh, saya harus alasan apa ya? Saya pesan kue ‘kan agar bisa ketemu dengannya. Ayo Tomi berpikir.” Pria itu bergelut dengan pikiran dan hatinya.


“Pak kok diam saja?” tanya Winda membuat lamunan Tomi buyar. Pria itu kembali sadar.


“Hah, tidak.” Tomi menggeleng sambil tersenyum kaku.


“Sakit, Pak?”


“Tidak Winda, saya sehat-sehat saja.”


“Saya pikir bapak sakit. Syukurlah, kalau sehat. Pertanyaan saya belum bapak jawab loh.”


“Saya pesan untuk pribadi. Di rumah ‘kan banyak orang.”


Winda mengangguk-angguk, “untuk anak-anak dan istri ya, Pak.”


Berusaha terlihat ramah, Tomi hanya tertawa canggung, “iya.”


“Kamu punya anak berapa Win?” tanya Tomi berusaha mengulur waktu agar wanita itu tidak cepat pergi.

__ADS_1


“Saya punya dua orang anak, Pak. Yang tua laki-laki masih kuliah dan si bungsu perempuan kelas tiga SMA.”


“Sama dengan saya. Saya juga punya dua anak. Yang besar juga kelas tiga SMA seperti anak bungsumu, tapi si bungsu saya masih SD.”


“Oh mereka seumuran, Pak. Lain kali boleh kita berkumpul bersama, Pak.”


“Kayak nggak bisa, Win.” Tomi memasang wajah sedihnya. Membuat Winda jadi tidak enak.


“Ada apa, Pak? Kenapa tidak bisa?”


“Saya ini sudah menikah tiga kali. Istri pertama saya meninggal dunia. Dua istri saya yang lain orangnya pada nggak bener. Mereka tidak bisa menghargai suaminya. Dipikiran mereka hanya harta dan harta.”


“Astagfirullah, seperti itu amat kelakuan istri, bapak.” Winda mengelus dadanya tidak percaya akan kisah sedih hidup Tomi.


“Bagitulah adanya, Win. Mereka mana mau ikut suaminya menghadiri acara ini dan itu. Rumah saja tidak beres.”


“Saya turut bersimpati, Pak. Yang sabar saja menghadapi istri seperti itu.” Tomi mengangguk dalam hatinya begitu senang karena Winda percaya pada ceritanya.


Wanita yang sudah lama merintis usaha ketring kue ini memang jarang menyaksikan acara TV dan mengetahui Tomi lebih dalam dari majalah atau siaran apa pun. Maka dari itu mudah saja ia mempercayai pria berakal bulus itu.


“Kamu sendiri tidak niat menikah lagi?”


Winda tertawa malu-malu, “saya nggak kepikiran ke sana, Pak. Pikiran saya cuma mengurus anak-anak dengan benar. Memberikan mereka pendidikan dan hidup yang layak. Sukur-sukur saya bisa menguliahkan si sulung.”


“Kalau kamu menikah ‘kan ada yang menanggung biaya hidup kamu dan anak-anak. Kamu tidak perlu berdagang kue. Apa lagi kalau mendapat pria mapan.”


“Sampai saat ini saya belum ingin menikah, Pak.”


“Oh seperti itu, tapi kalau ada pria mapan yang ingin meminangmu. Apa kamu mau Winda?”


Winda tertawa dan membuat Tomi mengerutkan dahinya.


“Siapa sih Pak pria mapan yang mau menikahi janda dua anak seperti saya?”


“Kita tidak tahu jodoh kapan datang ‘kan?”


“Saya hanya berserah diri kepada allah, Pak. Kalau pria itu sayang pada anak-anak saya dan memang jodohnya. Saya mungkin menikah lagi.”


Tomi mengangguk-anggukan kepala. Winda melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Saya masih banyak pekerjaan. Saya izin pamit, Pak.” Winda berdiri dari kursinya.


“Tapi kamu belum pesan minum dan makan.” Tomi ikut berdiri.


“Tidak usah saya masih kenyang. Kuenya besok saya antar ke kantor?”


“Iya, ke kantor saja.”


“Baiklah, saya permisi.” Setelah itu Winda berlalu pergi.


Tomi hanya bisa memandangi Winda dari tempatnya duduk. Wanita yang sudah tak muda itu masih terlihat menawan di matanya. Ia merasa jatug cinta lagi dan tidak sakit hati ditinggal oleh Vania saat sudah bertemu Winda.


__ADS_1


__ADS_2